Pukul tujuh pagi. Di dalam penthouse Artha Tower.
Keheningan pagi itu pecah bukan oleh sinar matahari, tapi oleh dering notifikasi yang tak berhenti berbunyi. Ding. Ding. Ding. Suara itu terdengar seperti alarm bahaya yang menjerit di telinga Winda. Ratusan pesan masuk—dari media sosial, email kerja, bahkan nomor-nomor tak dikenal yang mengirim ancaman vulgar.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih ponselnya dari meja nakas. Layarnya langsung dipenuhi berita utama yang menyala merah, seolah darah tumpah di atas kaca:
SKANDAL BESAR ARTHA GLOBAL: REHAN AL-FARISI TERLIBAT KASUS PEMBUNUHAN MISTERIUS 5 TAHUN LALU?
SAKSI BISA MENGATAKAN: REHAN MEMERINTAHKAN PEMBAKARAN GUDANG PESAING YANG MENEWASKAN 3 ORANG.
POLISI MULAI MENELUSURI KEMBALI TRAGEDI TANJUNG PRIOK YANG DULUNYA DITUTUP RAPAT.
Darah Winda terasa berhenti mengalir. Napasnya tercekat. Ia membuka salah satu artikel, dan di sana terlihat foto lama Rehan yang agak buram—sedang keluar dari mobil di lokasi kebakaran lima tahun silam. Wajah muda Rehan terlihat lelah, matanya kosong. Di bagian bawahnya ada keterangan dari saksi anonim yang menuduh Rehan sebagai dalang kejadian itu. Saksi yang wajahnya sengaja disembunyikan, tapi suaranya terdengar familiar—suara yang pernah Winda dengar dalam rekaman interogasi Adrian.
Artikel itu juga menyebutkan bahwa Haji Al-Farisi, ayah Rehan, sudah menyerahkan bukti-bukti baru kepada kepolisian dan meminta agar putranya diproses secara hukum. Bukan sebagai ayah yang khawatir. Tapi sebagai whistleblower yang rela mengorbankan anak kandungnya demi "kebenaran".
"Rehan..." gumam Winda pelan, suaranya tercekat. Kata itu terasa seperti pasir di mulutnya.
Ia menoleh ke sisi tempat tidur. Tempat tidur Rehan kosong. Seprai di sana masih terasa hangat, tapi pria itu sudah pergi. Perginya bukan untuk bekerja. Tapi untuk menghadapi badai yang diciptakan ayahnya sendiri.
Winda segera bangun, memakai jubah mandi sutra hitam—gaun perang yang sama dengan malam Gala—and bergegas menuju ruang kerja Rehan di ujung lorong. Pintunya terkunci, tapi Winda tahu kode darurat yang pernah diberikan Rehan padanya dengan bisikan: "Jika dunia runtuh, pintu ini akan selalu terbuka untukmu." Jari-jarinya bergerak cepat, dan pintu terbuka dengan desis halus.
Di dalam ruangan yang remang-remang, hanya diterangi cahaya layar komputer besar, Rehan duduk mematung. Jasnya masih dikenakan, tapi kancing kerahnya sudah terbuka dan tergeletak di lantai. Dasinya longgar. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong menatap siaran langsung konferensi pers kepolisian yang terpampang di layar. Di layar itu, seorang pejabat polisi sedang berbicara serius tentang "bukti baru" dan "kesaksian kredibel".
"Rehan..." panggil Winda pelan. Suaranya bergetar, tapi kakinya mantap melangkah.
Rehan tidak menoleh. Tangannya menggenggam gelas kristal di atas meja hingga retak, dan darah segar mulai menetes dari telapak tangannya, menetes ke atas dokumen-dokumen legal yang berserakan. Tapi ia sama sekali tidak merasakannya. Rasa sakit fisik tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit di dadanya.
"Mereka berhasil," ucapnya datar, suaranya hampa seperti robot yang kehabisan baterai. "Ayahku... dia menggunakan kasus lama ini. Kasus yang dulu ditutup karena dianggap tidak ada bukti. Tapi dia menemukan saksi palsu. Dan media... mereka haus sensasi. Mereka tidak peduli mana yang benar, selama ada berita besar yang bisa menjual koran."
Winda melangkah mendekat dengan hati-hati. Ia tidak langsung memeluk. Ia memberi ruang bagi Rehan untuk merasakan sakitnya. Karena sakit itu nyata. Dan valid.
"Apakah itu benar, Rehan?" tanyanya lembut, tapi tegas. "Apakah kamu terlibat dalam kebakaran itu?"
Pertanyaan yang berani. Berani karena Winda tahu jawabannya mungkin pahit. Tapi dia perlu mendengar dari mulut Rehan sendiri. Bukan dari artikel. Bukan dari ayah Rehan. Tapi dari pria yang dicintainya.
Baru kemudian Rehan menoleh. Matanya berkaca-kaca, dipenuhi rasa sakit yang mendalam—bukan karena takut dipenjara, tapi karena dikhianati oleh darah dagingnya sendiri. Pengkhianatan yang lebih menyakitkan dari peluru manapun.
"Saya memang ada di sana, Winda. Itu jujur." Suaranya serak. "Tapi saya tidak membakar gudang itu. Saya datang untuk memadamkan api. Pemilik pesaing ayah saya, Pak Hartono, memang bangkrut karena kesalahan manajemennya sendiri. Gudangnya terbakar karena korsleting listrik. Tapi Ayah... dia melihat kesempatan. Dia menuduh saya agar bisa mengajukan klaim asuransi, dan saya dijadikan kambing hitam untuk menutupi korupsi dana itu."
Rehan berdiri dan berjalan menghampiri jendela. Punggungnya terlihat rapuh. Rapuh bukan karena lemah. Tapi karena beban lima tahun kesunyian akhirnya runtuh.
"Saya diam selama lima tahun. Saya menerima tuduhan itu dalam hati agar nama baik keluarga Al-Farisi tetap terjaga. Saya mengira Ayah punya rasa hormat. Tapi ternyata dia lebih memilih uang daripada anak kandungnya sendiri. Dia lebih memilih kebohongan daripada keadilan. Dan sekarang... dia menggunakan kebohongan itu untuk menghancurkan saya tepat saat saya paling bahagia."
Winda merasakan perih di dadanya. Rehan bukan penjahat—dia adalah korban. Korban dari tradisi keluarga yang kejam dan ayah yang mementingkan gengsi lebih dari segalanya. Pria yang rela mengorbankan kebahagiaannya demi nama keluarga, tapi keluarga itu justru mengorbankannya demi uang.
Langkah kakinya mantap. Ia berjalan mendekat, lalu memeluk pinggang Rehan dari belakang. Pipi ia tempelkan di punggung pria itu yang kaku. Membiarkan kehangatan tubuhnya meresap ke dalam tulang Rehan.
"Saya percaya padamu, Rehan," bisiknya tegas. Tegas yang bukan naivety, tapi keyakinan. Keyakinan yang dibangun dari ribuan momen kebersamaan. "Saya tahu siapa dirimu. Kamu bukan pembunuh. Kamu adalah pria yang terlalu baik untuk keluargamu sendiri. Dan itulah sebabnya mereka bisa menyakitimu—karena kamu punya hati. Hati yang tidak mereka miliki."
Rehan menunduk, dan air mata akhirnya jatuh membasahi lantai marmer. Air mata yang tidak pernah keluar sejak ia berusia sepuluh tahun. Ia berbalik, lalu memeluk Winda erat sekali, seolah wanita itu adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa di dunia yang runtuh ini. Pelukan yang bukan untuk mencari kenyamanan. Tapi untuk mengingat bahwa dia masih hidup. Masih dicintai. Masih punya alasan untuk bertarung.
"Dewan direksi sudah memanggil rapat darurat," ucapnya parau, napasnya masih tersengal-sengal. "Mereka ingin memberhentikan saya dari jabatan CEO. Nilai saham anjlok empat puluh persen dalam dua jam. Bank-bank mulai menarik pinjaman. Dalam dua puluh empat jam, Artha Global bisa saja bangkrut. Dan aku... aku bisa dipenjara seumur hidup."
Winda melepaskan pelukan, lalu menatap mata Rehan dengan sorot tajam dan penuh tekad. Sorot mata yang bukan milik asisten. Tapi milik partner. Partner yang siap berperang.
"Maka kita lawan," katanya mantap. Mantap yang bukan keberanian buta, tapi strategi. "Jangan menyerah, Rehan. Jika kamu menyerah sekarang, pengorbananmu selama lima tahun akan sia-sia. Ayahmu yang menang. Kebohongan yang menang. Dan kamu akan kehilangan segalanya—termasuk aku."
Rehan menatapnya, ada keraguan di matanya. Keraguan seorang pria yang sudah kalah terlalu banyak kali. "Tapi bagaimana caranya? Semua bukti fisik sudah dimusnahkan Ayah bertahun-tahun lalu. Dia pikir dia sudah menang."
Winda tersenyum tipis—senyum seorang wanita yang tahu letak kelemahan musuhnya. Senyum yang mengatakan: Dia lupa satu hal.
"Ayahmu mungkin bisa menghancurkan bukti fisik," lanjutnya, suaranya tenang dan terukur. "Tapi dia lupa satu hal: di era digital ini, jejak tidak pernah hilang sepenuhnya. Server email, catatan transaksi bank luar negeri, rekaman CCTV dari gedung-gedung lama... semuanya masih tersimpan di awan atau salinan cadangan yang mungkin luput dari perhatiannya. Dia pikir teknologi itu mainan. Tapi bagi kita, itu senjata."
Winda meraih tablet di atas meja kerja. Jarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang menakjubkan.
"Saya akan menghubungi tim ahli forensik digital terbaik yang pernah bekerja sama dengan saya saat menangani proyek di Timur Tengah. Tim yang tidak bisa dibeli oleh uang Al-Farisi. Kita butuh akses ke server pribadi Ayahmu—atau setidaknya ke server pengacaranya. Jika kita bisa menemukan satu saja surat atau dokumen yang membuktikan Ayahmu melakukan penipuan asuransi dan menyuap saksi, kita bisa membalikkan keadaan. Bukan hanya membersihkan namamu. Tapi menghancurkannya."
Rehan menatapnya dengan pandangan tak percaya. Tak percaya bukan karena ragu pada kemampuan Winda. Tapi karena kagum pada keberaniannya. "Kamu rela mempertaruhkan karirmu? Namamu? Jika kita gagal, kamu akan dicap sebagai bagian dari konspirasi pembunuh. Sebagai wanita yang memanipulasi CEO."
Winda menggeleng tegas. Gelengan yang bukan penolakan, tapi afirmasi. Afirmasi cinta yang sejati.
"Cinta bukan soal untung rugi, Rehan. Cinta adalah tentang siapa yang berdiri di sampingmu saat seluruh dunia memunggungimu. Dan saya memilih untuk tetap di sini, berdiri di sampingmu. Bukan karena saya terpaksa. Tapi karena saya mau. Karena kamu worth every risk."
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Rehan—senyum yang penuh harapan meski lemah. Harapan yang datang bukan dari kemenangan bisnis. Tapi dari wanita di hadapannya. Ia mencium kening Winda. Ciuman yang bukan gairah. Tapi terima kasih. Terima kasih karena telah menjadi cahaya di tengah kegelapan.
"Baiklah," katanya. Suaranya kembali menemukan kekuatannya. Kekuatan yang datang dari cinta. "Kita lakukan bersama. Tapi ingat, Winda... bersiaplah. Perang ini akan sangat kotor. Ayahku tidak akan ragu menyerang reputasimu juga. Dia akan menggunakan segala cara."
"Biarkan dia mencoba," balas Winda dingin. Dingin yang bukan kekejaman, tapi fokus. Fokus pada tujuan. "Karena kali ini, dia tidak hanya berhadapan dengan Rehan Al-Farisi. Dia berhadapan dengan kita berdua. Dan kita tidak akan kalah."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Dina, asisten pribadi Rehan, masuk dengan wajah pucat pasi. Wajah yang bukan karena lelah. Tapi karena horor.
"Tuan Rehan! Nona Winda! Berita buruk!" Suaranya bergetar. "Haji Al-Farisi baru saja merilis wawancara eksklusif di televisi nasional. Di sana... dia memperlihatkan foto-foto lama Nona Winda saat masih kuliah. Foto-foto privat yang seharusnya tidak ada yang punya. Dan dia menuduh Nona Winda sebagai w*************a yang menggunakan ilmu hitam untuk memikat Tuan Rehan dan menghancurkan keluarga Al-Farisi!"
Winda tertegun sejenak. Darahnya terasa mendidih. Bukan karena marah. Tapi karena realization bahwa musuh mereka tidak punya batas. Tidak punya moral. Tidak punya rasa malu. Ini bukan lagi soal bisnis. Ini adalah serangan pribadi yang kejam. Serangan yang dirancang untuk menghancurkan harga diri Winda sebagai wanita.
Rehan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyala diliputi kemarahan yang membara. Kemarahan yang bukan pada Winda. Tapi pada ayah yang berani menyentuh wanita yang dicintainya dengan cara serendah itu.
"Cukup," geramnya. Suaranya rendah, tapi terdengar seperti auman singa yang terluka. "Dia sudah melangkah terlalu jauh. Dia sudah melanggar garis yang tidak boleh dilanggar."
Rehan menoleh ke arah Winda, wajahnya keras namun penuh perlindungan. Perlindungan yang bukan posesif. Tapi loyal.
"Siapkan tim IT, Winda. Kita tidak akan bertahan. Kita tidak akan defensif. Kita akan menyerang balik. Malam ini juga, kita hancurkan nama baiknya selamanya. Bukan dengan fitnah. Tapi dengan kebenaran. Kebenaran yang sudah lama ia kubur."
Winda mengangguk mantap, air matanya sudah kering dan berganti dengan tekad baja. Tekad yang bukan dendam. Tapi keadilan. Keadilan untuk Rehan. Keadilan untuk dirinya sendiri. Keadilan untuk semua korban patriarki yang dibungkam.
"Siap, Tuan," jawabnya. Panggilan "Tuan" kali ini bukan hierarki. Tapi kode. Kode bahwa mereka adalah satu tim. Satu jiwa. Satu tujuan.
Dan di luar sana, Haji Al-Farisi mungkin berpikir dia sudah menang. Tapi dia tidak tahu bahwa dengan menyerang Winda, dia baru saja membangunkan monster yang paling berbahaya: cinta yang terluka. Dan cinta yang terluka tidak akan berhenti sampai musuh hancur lebur.
Perang baru saja memasuki babak paling gelap. Tapi di dalam ruangan itu, dua pasang mata saling bertemu—dan berjanji: Kita akan keluar dari ini. Bersama. Atau tidak sama sekali.