Pukul delapan malam. Di ruang makan utama penthouse Artha Tower.
Suasana malam itu terasa hening, meski meja panjang sudah terisi hidangan mewah yang disiapkan koki pribadi Rehan. Lilin-lilin besar menyala redup, membiaskan cahaya lembut di sekeliling ruangan—cahaya yang seharusnya hangat, tapi malam ini terasa seperti lilin pemakaman bagi kedamaian mereka.
Winda tampak tidak berselera. Ia memotong daging di piringnya dengan gerakan lambat, pikirannya melayang entah ke mana. Tangannya gemetar halus, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan yang tak bisa ia ucapkan. Ketakutan bahwa kebahagiaannya tonight hanyalah ilusi sesaat sebelum badai menghancurkan segalanya.
Rehan duduk di seberangnya, menatap lekat. Ia paham ada sesuatu yang mengganggu ketenangan wanita itu. Bukan hanya soal undangan pernikahan paksa tadi siang. Tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih primal. Sesuatu yang menyentuh inti identitas Winda sebagai anak desa.
"Ayahmu menelpon," ucapnya tiba-tiba, suaranya tenang namun penuh kewaspadaan. Tenang yang bukan ketidakpedulian, tapi kendali. Kendali seorang pria yang refuse to panic in front of the woman he loves.
Garpu di tangan Winda berhenti bergerak, lalu berbunyi pelan saat menyentuh piring porselen. Suara logam beradu dengan keramik yang terdengar seperti lonceng bahaya di keheningan ruangan. "Ayah saya? Dari desa?"
Rehan mengangguk perlahan. Ia meletakkan sendoknya, lalu berjalan mengelilingi meja hingga berdiri tepat di belakang kursi Winda. Langkahnya sunyi, tapi kehadirannya memenuhi ruangan. Tangannya menyentuh bahu wanita itu, memberikan kehangatan yang menenangkan—tapi juga grounding. Mengingatkan Winda bahwa dia tidak sendirian. Bahwa ada benteng di belakangnya.
"Ya. Beliau dihubungi sore tadi. Suaranya... panik, dan juga marah."
Winda menoleh, matanya melebar kaget. Kaget bukan karena kaget biasa, tapi karena realization bahwa musuh mereka tidak main-main. Mereka tidak menyerang Rehan lewat bisnis atau media. Mereka menyerang Winda lewat hal yang paling sacred baginya: keluarganya.
"Apa yang terjadi, Rehan?" tanyanya, suaranya bergetar. Getaran yang bukan kelemahan, tapi empati. Empati pada ayah yang pasti sedang ketakutan di desa sana.
Rehan menghela napas panjang, lalu membungkuk dan mencium ubun-ubun kepala Winda sebelum menjawab. Ciuman yang bukan sekadar kasih sayang, tapi sumpah. Sumpah bahwa dia akan memperbaiki apa yang rusak.
"Ayahmu dikunjungi dua orang pria bersenjata. Mereka mengaku sebagai utusan keluarga Al-Farisi. Menyerahkan amplop berisi uang tunai—satu miliar rupiah. Dan juga sebuah surat."
Detak jantung Winda terasa berhenti sejenak. Satu miliar. Angka yang bagi orang desa adalah kekayaan seumur hidup. Bagi keluarga Al-Farisi, itu hanya uang receh untuk membeli kehendak.
"Satu miliar...?" bisiknya, suaranya hampir hilang.
"Benar." Rehan menjawab tegas, tidak menyembunyikan fakta pahit itu. "Surat itu berisi ultimatum: jika kamu mau memutuskan hubungan denganku dan pulang ke desa untuk menikah dengan putra kepala desa, uang itu akan menjadi milik keluargamu. Tapi jika kamu menolak..."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah kasar. Menelan amarah yang mendidih di dadanya. Amarah pada ayahnya yang menggunakan cara-cara kotor seperti preman pasar, bukan sebagai patriarch yang beradab.
"...mereka mengancam akan merebut tanah sawah yang menjadi sumber kehidupan mereka selama puluhan tahun dengan dokumen palsu, dan memenjarakan ayahmu atas tuduhan penipuan tanah."
Winda merasa kepalanya berputar. Dunia serasa runtuh. Tanah warisan yang sudah dijaga turun-temurun, kuburan leluhur, tempat ia belajar berjalan—semua dijadikan sandera. Ayah yang jujur dan tidak paham seluk-beluk hukum modern—dijadikan target empuk.
"Itu kejam," bisiknya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Air mata yang bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk ayahnya. Untuk ketidakberdayaan orang-orang yang dicintainya di hadapan kekuasaan absolut. "Mereka tahu persis apa yang bisa menyakiti kami. Mereka tahu tanah itu nyawa kami."
Rehan memutar kursi Winda agar berhadapan dengannya. Gerakan yang cepat tapi lembut. Ia berlutut di lantai marmer, sehingga posisinya sejajar dengan mata Winda. Berlutut bukan tanda kalah. Tapi tanda penghormatan tertinggi. Penghormatan pada wanita yang sedang ia lindungi. Tatapannya penuh ketulusan, amarah yang tertahan, dan juga rasa sayang yang dalam—sayang yang rela membakar dunia demi senyum wanita di hadapannya.
"Dengar aku, Winda." Suaranya rendah, berat, dan mutlak. "Ini bukan soal uang. Ini cuma soal kendali. Ayahku ingin membuktikan bahwa hatimu bisa dibeli, bahwa cinta kita lemah jika dihadapkan pada masalah ekonomi. Ia ingin merendahkanmu, membuatmu merasa kecil, membuatmu menyerah."
Rehan menggenggam tangan Winda yang terasa dingin erat-erat. Genggaman yang mentransfer kekuatan. Kekuatan dari pria yang tidak pernah kalah.
"Tapi dia salah. Besar. Karena aku sudah mengurus semuanya."
Winda mengerutkan kening, bingung. Bingung bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak mengerti bagaimana Rehan bisa bergerak secepat itu. "Mengurus apa? Bagaimana mungkin..."
Rehan tersenyum tipis. Senyum yang bukan arogansi, tapi kebanggaan. Kebanggaan pada sistem perlindungan yang telah ia bangun jauh-jauh hari. Sistem yang tidak bergantung pada goodwill ayahnya, tapi pada loyalitas timnya sendiri.
"Sore tadi, saat kau masih di kantor, tim hukum Artha Global sudah terbang ke desamu. Mereka sudah bertemu ayahmu sebelum utusan Ayah datang."
Winda membelalakkan mata.
"Uang satu miliar itu ditolak mentah-mentah—bahkan dilempar kembali ke wajah kedua utusan itu oleh ayahmu sendiri." Rehan meniru nada suara ayah Winda dengan penuh hormat. "'Anakku bukan barang dagangan yang bisa dibeli. Dan tanah leluhurku bukan jaminan utang.'"
Air mata Winda akhirnya jatuh membasahi pipinya. Tapi kali ini, air mata bangga. Bangga pada ayahnya yang teguh. Bangga pada akarnya yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apapun.
"Dan tim hukumku," lanjut Rehan, suaranya semakin lembut, "sudah memeriksa dan mengamankan sertifikat tanah keluargamu. Semua dokumen sudah diverifikasi, didigitalisasi, dan dilindungi secara hukum oleh firma terbaik di Jakarta. Tidak ada seorang pun—termasuk Haji Al-Farisi—yang bisa menyentuhnya sedikit pun. Selain itu, aku sudah mengirim pengawal pribadi bersenjata lengkap untuk menjaga rumah orang tuamu 24 jam. Mereka aman, Winda. Selamanya."
Winda menangis lega. Beban berat yang selama ini terasa menekan dadanya perlahan terangkat. Rehan tidak hanya melindungi dirinya, tapi juga harga diri dan masa depan orang-orang yang dicintainya. Dia tidak meminta Winda memilih antara cinta dan keluarga. Dia memastikan Winda bisa memiliki keduanya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Rehan?" tanyanya dengan suara serak karena haru. "Ini terlalu banyak... Kau bahkan belum resmi..."
Rehan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut beludru biru tua yang terlihat elegan. Warna biru yang sama dengan gaun pertama yang ia kenakan saat Gala Malam. Simbol bahwa momen ini adalah kelanjutan dari janji itu.
Napas Winda tertahan. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya sakit.
Rehan membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terbaring sebuah cincin emas putih dengan berlian tunggal berbentuk buah pir yang besar dan jernih. Bukan berlian berbentuk hati yang klise. Tapi bentuk pir—unik, langka, dan sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Sama seperti cinta mereka. Cahaya lilin memantul di permukaannya, menciptakan kilauan yang lembut namun memukau. Kilauan yang bukan kemewahan, tapi kebenaran.
"Winda Lestari," ucap Rehan, suaranya rendah dan penuh perasaan. Perasaan yang tidak bisa dipalsukan. "Aku tidak meminta izin ayahku untuk melamarmu. Karena kamu bukanlah harta warisan yang butuh persetujuan patriarki. Kamu bukan aset yang perlu divalidasi oleh dewan direksi. Kamu adalah pilihan hatiku. Pilihan jiwaku sendiri. Dan aku tidak butuh restu siapa pun untuk mencintai wanita yang sudah menyelamatkan nyawaku."
Rehan mengangkat cincin itu perlahan. Tangannya stabil, meski hatinya berdebar lebih kencang dari Winda.
"Aku tahu hidup bersamaku tidak akan pernah mudah. Akan selalu ada bahaya, fitnah, tekanan keluarga, dan serangan seperti yang kita rasakan hari ini. Aku tidak bisa menjanjikan kehidupan yang damai dan biasa-biasa saja."
Matanya menatap lurus ke dalam mata Winda. Tatapan yang telanjang. Tanpa topeng CEO. Tanpa armor patriark. Hanya Rehan. Pria yang mencintainya.
"Tapi aku berjanji, selama napas ini masih ada, aku akan menjadi perisaimu. Aku akan menjadi pedang yang melindungimu. Dan aku akan menjadi rumah tempatmu selalu pulang—bukan rumah fisik, tapi rumah di mana kau diterima apa adanya."
"Maukah kamu menikah denganku, Winda? Bukan sekadar sebagai karyawan, bukan sekadar 'milikku', tapi sebagai pasangan hidup yang setara. Sebagai Nyonya Rehan Al-Farisi yang sah di mata Tuhan dan negara—dan yang lebih penting, di mata hatiku sendiri?"
Hening menyelimuti ruangan itu. Hening yang sakral. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah detak jantung Winda yang berdebar kencang, dan napas Rehan yang tertahan menunggu jawaban.
Winda menatap cincin itu, lalu kembali menatap wajah pria di hadapannya. Di sana ia melihat ketulusan, rasa hormat, dan cinta yang tidak mengenal batas—sesuatu yang jarang ditemukan di dunia pebisnis yang keras dan penuh kepalsuan. Cinta yang tidak menuntut, tapi memberi. Cinta yang tidak menguasai, tapi membebaskan.
Ia mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar. Bukan karena ragu. Tapi karena overwhelmed oleh besarnya cinta yang ditawarkan padanya.
"Ya," bisiknya jelas, meski air mata masih mengalir bebas. Air mata kebahagiaan yang murni. "Aku mau, Rehan. Aku mau menjadi istrimu. Dalam suka maupun duka. Dalam kaya maupun miskin. Dalam aman maupun berbahaya. Aku mau berjuang bersamamu, melawan siapapun, termasuk ayahmu sendiri."
Rehan tersenyum lebar—senyum paling bahagia yang pernah dilihat Winda. Senyum yang meremukkan semua topeng dinginnya. Dengan gerakan lembut dan reverent, ia menyelipkan cincin itu ke jari manis Winda. Pas. Sempurna. Seolah cincin itu memang dibuat untuk jari itu, dan wanita itu memang dibuat untuk hatinya.
Ia berdiri, lalu menarik Winda ke dalam pelukan eratnya dan mengangkatnya sedikit hingga ujung kakinya menyentuh lantai. Pelukan yang bukan kepemilikan, tapi penyatuan. Penyatuan dua jiwa yang finalmente menemukan rumahnya masing-masing.
"Terima kasih," bisiknya di telinga wanita itu, suaranya bergetar. "Kamu baru saja membuatku menjadi pria paling beruntung di seluruh dunia. Lebih beruntung dari** seluruh imperium Artha Global."
Mereka berciuman lama di tengah ruangan makan yang mewah itu—ciuman yang penuh janji, harapan, dan cinta yang akhirnya diakui sepenuhnya. Ciuman yang menyegel perjanjian suci di tengah medan perang.
Namun di luar jendela penthouse, di kegelapan malam kota Jakarta, kontras dengan kehangatan di dalam, sebuah mobil hitam tanpa plat nomor terparkir tersembunyi di balik bayangan gedung tetangga. Mesin mati. Lampu mati. Hanya siluet pria tua di dalamnya yang terlihat samar.
Di dalamnya, Haji Al-Farisi duduk dengan tongkat kayu eboni di pangkuan. Ia menatap tajam ke arah jendela yang diterangi cahaya hangat. Tatapannya sedingin es, setajam pisau. Ia tidak marah. Ia tidak panik. Ia justru tersenyum tipis—senyum predator yang melihat mangsanya lengah sesaat.
Haji Al-Farisi belum kalah. Serangan ke desa tadi hanyalah pancingan. Umpan untuk membuat Rehan lengah, merasa menang, merasa aman.
Ia hanya sedang mengumpulkan amunisi untuk serangan terakhir. Dan kali ini, sasarannya bukan lagi Winda maupun Rehan secara langsung. Sasarannya adalah fondasi yang membuat Rehan berani melawan: legitimasinya.
Sasarannya adalah rahasia terbesar yang selama sepuluh tahun terakhir disembunyikan Rehan dengan rapat. Rahasia tentang kematian ibu Rehan. Rahasia tentang asal-usul dana awal Artha Global. Rahasia yang jika terbongkar, bukan hanya akan menghancurkan reputasi Rehan, tapi juga memenjarakannya seumur hidup dan menghancurkan seluruh imperium Artha Global sekaligus.
Haji Al-Farisi mengetuk tongkatnya sekali ke dashboard mobil. Suara ketukan itu terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis.
"Permainan baru saja dimulai, Anakku," gumamnya pada kaca jendela yang gelap. "Mari kita lihat apakah cintamu cukup kuat untuk menahan beban dosamu sendiri."
Mobil hitam itu perlahan mundur, menghilang ke dalam kegelapan Jakarta, meninggalkan penthouse yang terang benderang—terang yang kini terasa rapuh, seolah bisa padam kapan saja oleh angin kebenaran yang akan datang.