Pada usianya yang kesepuluh pekan, Himari sudah menemukan jam bangun favoritnya, dan itu persis jam yang paling tidak disukai ibunya.
Pukul lima lewat lima puluh, Minggu pagi, tangis kecil yang melengking menembus tidur Miyu seperti jarum menembus kain. Ia mengerang dan menarik selimut sampai ke dagu. Cahaya kelabu merembes dari sela tirai kamar Menteng, dan di luar jendela pohon kecapi masih basah oleh embun semalam.
“Dia lapar,” gumam Miyu, dengan mata terpejam.
“Dia sudah dua kali lapar sejak pukul empat.”
“Kamu yang hitung?”
“Aku mencatat.” Suara Kanata terdengar dekat dan agak serak, dari sisi tempat tidur yang sudah kosong. Miyu membuka satu mata. Kanata berdiri di dekat boks yang kini dipindahkan ke samping ranjang, mengenakan kaus kusut dan celana tidur, dengan Himari di lengannya yang ia ayun lembut dengan gerakan mantap hasil latihan sepuluh pekan. Rambut hitam bayi itu sudah menebal, menempel di dahi yang berkerut marah.
“Aku sudah mencoba semuanya,” lapor Kanata. “Dot, bedong, lagu, ayunan, dan lampu redup. Dia mau satu hal saja.”
“Aku.”
“Kamu.” Ia tersenyum, wajah lelaki yang tak lagi malu mengakui kekalahan. “Maaf membangunkanmu.”
“Bukan kamu yang membangunkan.” Miyu bangkit setengah duduk, menyibak rambut pirangnya yang kusut dan mengulurkan kedua tangan. “Alarm-ku sekarang lima kilo, nggak punya tombol snooze, dan tidak bisa disogok.”
“Kamu tidak pernah bilang mau menyogoknya.”
“Aku sudah mencoba semalam. Dia menolak.”
Kanata menyerahkan Himari dengan hati-hati. Tangisan itu reda begitu bayi itu merapat ke dada ibunya, berganti bunyi kecil yang rakus, dan keheningan yang menyusul terasa seperti yang pernah Miyu bayangkan sebagai surga: sempit, hangat, dan berbau susu. Kanata duduk di tepi ranjang dan menatap keduanya. Tidak ada yang bicara.
Di dinding seberang, di bawah cahaya yang pelan-pelan menjadi keemasan, bingkai foto kayu jati itu menangkap sinar pertama: seorang gadis berkepang, seorang pria berjas dokter, seorang perempuan berkacamata yang menaruh dagu di bahu mereka.
“Pagi, Ma,” bisik Miyu. “Pagi, Pa. Pagi, Kek.” Ia menunduk menatap kepala kecil di dadanya. “Aku nggak sendirian lagi.”
Kanata tidak bertanya apa yang ia katakan. Ia mengulurkan tangan, berhenti sedikit di atas rambut Miyu, dan menunggu. Miyu menggerakkan dagu sedikit. Tangan itu mendarat, hangat dan ringan, dan mereka tetap begitu sampai matahari naik setengah jengkal.
***
Pukul tujuh, bel gerbang berbunyi dua kali, lalu tiga kali, lalu terus-menerus, seperti orang yang menekannya dengan seluruh telapak tangan.
“Itu Nana,” kata Kanata, tanpa menoleh dari wajan.
“Dan Aya,” kata Miyu, dari kursi di ujung meja makan. “Aya tidak pernah menekan bel lebih dari dua kali.”
Pintu depan terbuka dengan kunci cadangan yang diberikan Miyu pada pekan keempat, dan tak lama kemudian Nana muncul di ambang ruang makan dengan dua kantong plastik besar dan wajah orang yang sudah memutuskan akan meledak.
“Agatha Miyu Kouzuki!”
“Gue udah bangun, Na.”
“Gue tahu lo udah bangun, tapi gue tetap harus teriak. Itu tradisi.” Nana menaruh kantong-kantong itu di meja dengan bunyi berat. “Lo nggak bisa tidur lebih dari lima jam? Kata buku apa pun, ibu baru harus...”
“Alarm gue lima kilo, Na. Lo bukan lagi alarm gue.”
“Gue mantan alarm.” Nana menatap bayi di pangkuan Miyu, dan wajahnya yang galak runtuh dalam satu detik. “Aduh. Aduh, Himari, sini sama Tante. Tante bawa nasi padang, tapi bagian kamu cuma baunya.”
“Dia belum bisa makan nasi padang,” kata Kanata.
“Dia belum bisa makan, tapi dia bisa nyium baunya. Itu bonding.”
Aya muncul di belakangnya, sedikit terengah, dengan kantong besar lain di bahu. “Maaf berisik. Nana nyetir kayak lagi dikejar polisi.”
“Gue nyetir normal.”
“Lo nyetir normal buat orang yang nggak punya rem.”
Mereka berebut. Nana lebih dulu mengulurkan lengan, tetapi Aya, yang jauh lebih sabar, meraih bayi itu dengan satu gerakan yang halus. Nana mengeluh keras. Aya menempelkan hidung ke pipi Himari, lalu menutup mata, dan bahunya bergetar ketika ia tertawa pelan.
“Dia bau sabun bayi,” bisik Aya. “Dan sedikit bau Kanata.”
“Bau aku?” tanya Kanata.
“Bau teh pahit. Semua orang yang tinggal di rumah ini bau teh pahit.”
“Itu kehormatan,” kata Miyu.
“Gue mau gantian,” kata Nana.
“Giliran lo habis tiga menit.”
“Dua menit.”
“Tiga.”
Kanata, yang berdiri di samping kompor dengan sodet di tangan, menatap perdebatan itu dan tersenyum tanpa suara. Telur dadar di wajannya telah berubah bentuk menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara geometris.
“Pasal empat,” katanya, hati-hati. “Aku memasak sarapan di hari libur.”
Tiga perempuan itu menoleh serempak.
“Taruh,” kata Nana.
“Aku bisa...”
“Taruh, Kanata. Telur lo tragedi, dan itu sudah terdokumentasi.” Ia mengangkat kantong plastik. “Nasi padang. Dari tempat dekat TPU. Gue antre empat puluh menit.”
Kanata memandang telurnya, lalu mematikan kompor dengan wajah sangat bermartabat.
***
Mereka makan di meja panjang di ruang makan yang disinari matahari pagi, empat orang dewasa dan satu bayi, daun pisang terbentang di tengah dengan rendang, sambal hijau, daun singkong, telur balado, dan gulai yang menguarkan aroma seperti rumah. Himari tertidur kembali di boks kecil di ujung meja, kepalannya terangkat di sisi wajah.
Mereka makan dengan tangan, tanpa sendok, tanpa kata. Nana mengambilkan lauk untuk Aya, Aya menyisihkan sambal untuk Nana yang tak tahan pedas. Miyu duduk di sisi Kanata dan membasuh jarinya di mangkuk air jeruk nipis, lalu mengangkat tangannya untuk mengambil nasi.
Kanata sudah lebih dulu menggumpalkan nasi dengan sedikit rendang, rapi, sebesar ujung ibu jari, dan menyodorkannya ke mulut Miyu.
“Buka.”
“Aku bisa sendiri.”
“Aku tahu. Tapi buka.”
Miyu membuka mulut. Rasa rendang dan nasi hangat memenuhi lidahnya, pedas, gurih, rasa yang sama persis dengan rasa di atap Sudirman dulu. Ia mengunyah pelan. Nana dan Aya pura-pura sibuk dengan piring masing-masing, dan pura-pura mereka sangat buruk.
“Enak?” tanya Kanata.
“Enak.” Miyu menelan, dan matanya basah tanpa ia sempat mencegahnya. Ia menyapu pandangan ke meja itu, ke Nana yang menahan tawa, ke Aya yang sudah menangis, ke boks kecil di ujung, ke tangan Kanata yang masih terulur dengan sisa nasi, ke foto-foto yang mengintip dari ruang sebelah.
Ia menarik napas.
“Koishiteru,” katanya, pelan, kepada mereka semua. Kepada orang-orang yang pernah menjemputnya di hari terburuk dan masih berdiri di sana sekarang, kepada lelaki yang pulang, kepada bayi kecil yang tidur, kepada gadis berkepang di foto yang akhirnya berhenti sendirian. “Aku mencintai kalian.”
Tidak ada yang menjawab dengan kata. Aya terisak tanpa suara. Nana, untuk sekali itu, tidak membuat lelucon. Kanata menggenggam tangan Miyu di atas daun pisang yang masih hangat. Dari boks di ujung meja, Himari menggeliat, merengek sebentar karena bermimpi tentang sesuatu yang hanya diketahui para bayi, lalu menangis, nyaring, marah, dan sangat hidup.
“Alarm,” kata Miyu, tertawa di antara air mata.
Dan seluruh meja ikut tertawa.
TAMAT