Ruang Perdana di lantai tujuh, tempat Miyu dulu terbaring demam tiga puluh sembilan setengah derajat dan menolak percaya bahwa ada orang yang menanggung biayanya tanpa menagih, kini penuh balon, bunga, dan bunyi tangis bayi tiga hari umurnya.
“Sssh,” kata Kanata, berdiri di sisi boks akrilik dengan satu tangan terulur. “Sssh. Ayah di sini.”
Bayi itu, yang beratnya tiga kilo dua ratus gram dan sudah memiliki pendapat tentang hampir segalanya, menolak berhenti.
“Dia lapar,” kata Miyu dari tempat tidur, menahan senyum.
“Dia baru makan dua puluh menit lalu.”
“Dia bayi, Kanata. Bayi lapar tiap dua jam.”
“Kata buku nomor tiga tiap tiga jam.”
“Bukunya belum pernah bertemu dia.” Miyu mengulurkan tangan. “Sini.”
Ia menyerahkan bayi itu dengan hati-hati yang sudah ia latih dua hari penuh, dan Miyu membuka jubahnya dengan gerakan yang kini ia kuasai. Tangis itu berhenti seketika. Keheningan sesudahnya terasa seperti hadiah. Kanata duduk di tepi ranjang dan memandang dua orang itu tanpa mengatakan apa pun, dan Miyu tahu persis kenapa ia tidak berkata apa-apa. Ada hal yang jika dikatakan akan hilang separuhnya.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Aya masuk lebih dulu dengan keranjang buah yang hampir menutupi wajahnya, diikuti Nana yang membawa tas jinjing besar berisi entah apa.
“Kami piket pagi,” lapor Nana. “Gimana tidur lo, Mi?”
“Tiga potong. Masing-masing satu jam.”
“Bagus, itu normal. Dan lo, Kanata?”
“Satu jam lima puluh menit di sofa.”
“Itu kurang.” Nana mengeluarkan dua bantal leher dari tasnya. “Satu buat lo. Satu buat Miyu. Jangan debat.”
Sepuluh menit kemudian, kamar itu sudah penuh. Ira menjerit di ambang pintu hingga seorang perawat menoleh dari lorong. “Itu dia! Itu dia, Agatha! Dia mirip, dia mirip, gue bilang apa, dia mirip dua-duanya!” Reno berdiri di belakangnya dengan tangan di saku dan senyum yang sangat tipis, nyaris tak kentara.
“Selamat, Tha,” kata Reno.
“Makasih, No.”
“Tuan Jepang,” kata Reno kepada Kanata, dengan sedikit mengangguk.
“Reno.”
“Dia kelihatan keras kepala.”
“Itu ibunya,” kata Kanata.
“Ya.” Reno menatap bayi di dada Miyu sebentar lagi, lalu berdeham. “Pak Rudi nitip salam. Dia, Pak Edo, Anggara, sama Dokter Devan nunggu di lorong. Mereka nggak mau masuk bareng-bareng, takut kalian kewalahan.”
“Suruh masuk,” kata Miyu.
“Sudah gue suruh. Mereka malu.”
Ira meraih tangan Miyu dan menciumnya dengan air mata yang menetes ke seprai. “Gue yang jadi tante pertama, ya? Nana, lo harus ngalah.”
“Gue pengacara. Gue otomatis tante.”
“Itu nggak ada di hukum mana pun.”
“Gue tulis di undang-undang sendiri.”
Ponsel Aya bergetar. Layarnya menampilkan wajah Mikan dari Tokyo, rambutnya digulung asal, matanya sembap. “Sepupu Kecil!” serunya, sangat keras. “Kalau kau menamainya dengan nama aneh, aku akan memprotes langsung di rumah sakit!”
“Mikan,” kata Kanata.
“Ya?”
“Kita belum menamainya.”
“Oh.” Jeda sejenak. “Baiklah. Lanjutkan.” Dan ia memutus panggilan, dengan tawa yang masih terdengar sampai layar gelap.
Di ambang pintu, Santa muncul diam-diam, ponsel di tangan, wajah serius. “Capricorn,” bisiknya, sangat pelan. “Hari ini, rumah penuh.”
“Santa,” kata Kanata. “Kau tidak perlu membacanya lagi.”
“Aku tahu. Hanya ingin kau tahu bahwa ia benar.”
***
Hosho tiba pukul tiga sore.
Ia tidak membawa karangan bunga. Ia membawa tongkat dan topi fedora yang ia lepas begitu masuk. Sopirnya menunggu di lorong. Seluruh kamar yang tadi riuh mendadak hening, seperti ruang kelas ketika kepala sekolah masuk, dan hanya si kecil yang tak peduli sama sekali dan terus menggeliat.
“Kakek,” kata Miyu.
“Miyu.” Hosho berdiri di kaki tempat tidur, menatap bundel kecil di lengan Miyu. “Aku tidak akan berlama-lama. Aku datang dari bandara langsung ke sini. Aku bau pesawat.”
“Kata orang, itu bau yang bagus,” sahut Kanata.
“Diam, Kanata.” Hosho menggerakkan tongkatnya. “Boleh aku menggendongnya?”
Pertanyaan itu mengejutkan semua orang, termasuk Hosho sendiri, tampaknya. Miyu menatapnya lama, lalu tersenyum.
“Tentu, Kakek.”
Ia menyerahkan bayi itu dengan dua tangan. Hosho menerimanya dengan caranya sendiri, kaku, siku ditekuk, seperti memegang porselen tua yang paling berharga di dunia, dan bayi itu, tanpa peringatan, berhenti bergerak dan membuka mata. Hanya sebentar, lalu menutupnya kembali.
“Dia menatapku,” kata Hosho.
“Dia memang begitu,” kata Kanata. “Menatap orang yang dia anggap harus dikenal.”
“Dia mirip ibunya.” Hosho tidak mengangkat mata dari bayi itu. “Hidungnya, dan caranya mengerutkan dahi. Siapa namanya?”
Ruangan menahan napas. Kanata menoleh pada Miyu, dan Miyu, yang sejak dua pekan lalu menyimpan secarik kertas di tas persalinan, menarik napas panjang.
“Himari,” katanya.
“Miyu?” tanya Kanata, pelan.
“Aku sudah melihat wajahnya.” Ia menatap bayi itu, lalu suaminya. “Dia Himari. Cahaya hari. Kamu benar. Kalau ada yang bercahaya di hari baru, sekarang itu dia.”
Mata Kanata berkaca. Ia tidak menyembunyikannya sama sekali.
Hosho memejamkan mata sejenak. “Himari,” ulangnya, sangat rendah, dalam bahasa Jepang. “Nama yang baik. Ada ruang kosong di buku itu. Aku akan membawakan tintanya sendiri.” Ia membuka mata. “Aku akan menuliskannya dengan tanganku.”
Tidak ada yang menjawab. Nana menyeka mata dengan cepat, Aya terisak terang-terangan, dan di pojok ruangan Ira, Reno, Santa semua menunduk memandang lantai pada saat yang sama.
***
Menjelang magrib, ketika kamar kembali sunyi dan Himari tertidur di boks, Miyu mengeluarkan sesuatu dari laci meja samping tempat tidur. Sebuah amplop kecil berwarna cokelat muda, tipis, dengan logo Haru Media di sudut kiri atas.
Kanata duduk di kursi sebelah ranjang, setengah tertidur.
“Kanata.”
“Ya?”
“Buka matamu.”
Ia membuka mata. Miyu menaruh amplop itu di meja bayi, di sebelah boks, di antara botol minum dan sebuah kain flanel. Ia mendorongnya satu inci ke arah Kanata.
“Honor pertamaku,” katanya. “Dari cerpen pertama yang kuterjemahkan untuk Haru Media. Emily mengantarnya kemarin lewat Aya. Nominalnya kecil.”
Kanata memandang amplop itu, lalu Miyu. Napasnya terhenti sebentar, seperti ia sedang mengingat percakapan lama di ruangan yang sama. “Miyu. Kamu tidak perlu...”
“Dengarkan dulu.” Suaranya tenang, jernih. “Dulu, di ruangan ini, aku minta rincian tagihan dan menawarkan cicilan. Kamu bilang kamu tidak menyimpan buku utang. Aku bilang aku tidak mau berutang. Dan kamu bilang bila suatu hari aku ingin memberi sesuatu, aku boleh memilih caranya sendiri.”
“Aku ingat.”
“Ini caranya.” Ia menarik napas. “Ini bukan untuk membayar apa-apa. Aku tahu tidak ada angka yang bisa membayar. Ini cuma... aku memberi. Dari tanganku, bukan dari rasa takut. Untuk anakku, untuk rumah kita, untuk satu hal kecil yang kuhasilkan sendiri.”
Kanata mengulurkan kedua tangannya. Ia mengambil amplop itu dengan dua tangan, persis seperti ia menerima cangkir dari Hosho, dan menunduk hormat sampai dahinya hampir menyentuh pinggiran ranjang.
“Aku terima,” katanya. “Dan aku akan menyimpannya di tempat yang tidak akan kubuka.”
“Kamu boleh membukanya.”
“Aku tahu. Tapi aku mau menyimpannya.”
Miyu menatap Himari yang tidur dengan kepalan mungil terangkat di sisi wajah, lalu menatap Kanata yang masih memegang amplop dengan dua tangan seperti benda suci. Di jendela, langit Menteng berubah jingga, kemudian ungu.
“Aku mau pulang,” bisik Miyu. “Kita bertiga.”