Hari ketiga tanpa Kanata di rumah Menteng, Miyu sudah hafal bunyi tiap sudut lantai kayu, termasuk yang berderit pukul tiga pagi ketika Aya menyelinap ke kamarnya hanya untuk memastikan ia masih bernapas. Selasa kemarin ia menerima selembar foto dari Kanata, halaman buku tua yang diterangi lampu kertas, tanpa keterangan apa pun selain satu kalimat: Sudah selesai. Aku ceritakan setelah pulang.
Ia menatap foto itu sampai layar ponselnya meredup sendiri. Kejadian yang tersimpan di dalamnya tidak sempat ia lihat.
***
Rumah induk keluarga Saionji berbau cendana dan tinta basah. Di ruang tatami yang cukup luas untuk lima puluh orang, hanya tujuh yang duduk bersimpuh, dan dua di antaranya, lelaki dan perempuan berusia sangat tua dalam kimono kelabu, menatap Kanata seperti menatap kontrak yang belum ditandatangani. Di antara mereka terbuka sebuah buku silsilah setebal bantal, halamannya menguning di tepi, dan halaman terakhirnya masih putih.
Santa menunggu di koridor luar, karena bukan keluarga. Sebelum masuk Kanata sempat melihatnya berdiri dengan tangan terlipat di dada dan ponsel dimatikan, sebagai pernyataan sikap. Omamori itu sudah terikat di pergelangan tangan kiri Kanata, bukan di ransel. Ia ingin merasakannya.
Hosho duduk di ujung, bertongkat, tak bicara.
“Kau datang sendirian,” kata perempuan tua itu dalam bahasa Jepang. Suaranya kering dan tenang, seperti kertas yang dilipat. “Sesuai syarat. Tetapi aku tetap bertanya. Kau datang karena memilih perempuan ini, atau karena menanggung akibat?”
Kanata mengambil kuas yang disodorkan. Jemarinya tidak gemetar, dan ia sendiri terkejut. “Mungkin kedua-duanya benar di awal,” katanya. “Tetapi sekarang saya memilihnya. Saya memilihnya tiap pagi, termasuk pagi ketika dia tidak mau memilih saya.”
“Dia perempuan asing.”
“Dia berbicara dengan kesopanan bahasa kakeknya, bahasa yang bahkan saya tidak seluruhnya paham,” sahut Kanata, dan lelaki tua itu mendengus, tak yakin apakah harus tersinggung. “Dia menolak seluruh harta yang Hosho tawarkan. Orang yang mengejar harta tidak menolak.”
Hosho menatap lantai, rahangnya bergerak sedikit.
Kanata menggoreskan kuas ke tinta, lalu ke kertas, perlahan, satu per satu: Kouzuki Agatha Miyu. Istri. Ia berhenti sebentar. Di baris bawahnya ia menulis: Putri. Dan ia membiarkan ruang kosong di sebelahnya, sebesar nama yang belum diputuskan.
“Anak itu belum bernama,” kata lelaki tua itu.
“Ibunya sedang menunggu wajahnya,” jawab Kanata.
Hening lama. Seekor burung berkicau di halaman dan terdengar terlalu keras. Lalu Hosho mengetukkan tongkat sekali ke lantai.
“Sudah,” katanya. “Tulisan itu sah. Siapa pun yang keberatan boleh mengatakannya sekarang, di depan semua orang, atau diam selamanya.” Tidak ada yang bicara. Ia menoleh kepada Kanata dengan alis tebal yang tidak pernah berubah. “Pulang, bodoh. Istrimu menunggu.”
***
Rabu malam, pukul sembilan kurang sepuluh, Miyu sedang duduk di sofa dengan kaki di atas bantal ketika perutnya mengeras.
Sore tadi Kanata mengirim pesan dari bandara Tokyo: penerbangan tertunda dua jam karena lalu lintas di landasan, ia akan tiba lebih lambat, Miyu tidak boleh menunggu sampai larut. Miyu membalas dengan stiker kucing tidur, dan Aya mengancam akan menyita ponselnya kalau ia mulai mengecek posisi pesawat tiap lima menit.
Ini bukan seperti latihan yang pernah ia rasakan. Ini seperti ikat pinggang yang ditarik dari dalam, dari tulang belakang sampai ke bawah pusar, lalu berhenti, lalu menghilang. Ia memegang lengan sofa, menahan napas, dan menunggu.
“Mi?” Aya mendongak dari bukunya. “Muka lo aneh.”
“Nana.” Suara Miyu nyaris datar. “Stopwatch.”
Nana, yang sedang membaca di kursi seberang, melempar bukunya, dan dalam dua detik sudah memegang ponsel dengan jari di layar. Lima belas menit berikutnya mereka bertiga duduk dalam keheningan tegang sampai perut itu mengeras lagi.
“Tujuh menit,” kata Nana. “Lalu enam menit. Gue panggil sopirnya.”
“Belum.” Miyu menarik napas panjang sampai hitungan empat. “Aku... belum yakin.”
“Pasal lima. Kalau takut, katakan hari itu juga.”
Miyu menatap Nana, lalu Aya, yang sudah berdiri memegang tas persalinan karena ia mengambilnya dari lemari sepuluh detik lalu.
“Aku takut,” katanya.
“Bagus. Berangkat.”
Di mobil, ketika sopir melaju pelan melewati Cik Ditiro yang lengang, Miyu mengeluarkan ponsel dengan jari berkeringat dan mengetik satu pesan: Kontraksi mulai. Pelan-pelan. Jangan panik. Kamu di udara, aku di sini. Ia mengirimnya, lalu menatap tanda kecil di bawah pesan: Terkirim. Belum dibaca. Menurut aplikasi pelacak, pesawat Kanata baru saja lepas landas dari Tokyo dan akan mendarat pukul setengah enam pagi.
Hampir delapan jam.
“Dia bakal tahu begitu mendarat,” kata Aya, memegang tangannya.
“Aku tahu.”
“Dia janji nelepon.”
“Aku tahu.” Ia menyandarkan kepala ke kaca dan membiarkan lampu jalan menyapu wajahnya satu demi satu. “Aku cuma nggak mau ngelahirin sebelum dia tahu.”
“Itu bukan pilihan lo, Mi. Itu pilihan bayinya.”
Miyu tertawa pendek, dan tawanya berubah menjadi desis ketika kontraksi berikutnya datang.
***
Ruang bersalin RSU Bunda bercat putih dan hijau pucat, dan di dindingnya tergantung lukisan pantai yang menurut Miyu keterlaluan optimis. Dokter Raina datang dalam sepuluh menit dengan jaket di atas piyama yang belum sempat ia ganti, memeriksa, lalu berkata, “Pembukaan tiga. Masih jauh, tetapi kita tidak pulang.”
Di sampingnya berdiri Dokter Devan dengan seragam hijau dan kopi di tangan.
“Agatha,” katanya, datar tetapi hangat. “Saya jaga malam ini. Kalau ada apa-apa, saya di sini, bukan di ujung lorong.”
“Dokter tidak tidur?”
“Saya sudah mencoba. Semesta tidak mengizinkan.” Ia meletakkan kopinya dan memeriksa monitor. “Detak bayi bagus. Kondisi Anda bagus. Tugas Anda cuma satu: bernapas.”
“Gampang.”
“Itu yang dikatakan semua orang di jam pertama.”
Perutnya mengeras lagi, kali ini lebih lama dan lebih dalam, dan Miyu mencengkeram pagar tempat tidur sampai buku jarinya putih. Ia menghitung seperti diajarkan bidan: tarik empat, hembus enam. Angka-angka itu tumpang tindih di kepalanya. Wajah Kanata melintas, lalu lorong putih, lalu pintu.
“Na.”
“Gue di sini.” Nana sudah memegang tangan kirinya, Aya tangan kanannya.
“Gue takut.”
“Gue tahu.” Nana menatapnya tanpa berkedip, tanpa lelucon, dan itu lebih menenangkan daripada seribu lelucon. “Lo boleh takut. Tapi lo nggak sendirian. Itu bedanya mimpi sama kenyataan.”
“Dok,” kata Miyu, setelah napasnya kembali. “Bisa ditahan sampai pagi? Suami saya mendarat setengah enam.”
Dokter Raina duduk di tepi tempat tidur dan menjawab dengan kejujuran yang sudah menjadi kebiasaannya. “Saya tidak punya tombol jeda, Bu Agatha. Tetapi ini anak pertama, pembukaan tiga, dan kontraksinya baru empat menit sekali. Biasanya prosesnya panjang, bisa sampai siang. Itu bukan janji, hanya kemungkinan terbesar.”
“Berapa lama itu panjang?”
“Dua belas jam. Atau lebih.”
“Dia tiba delapan jam lagi.”
“Maka kemungkinan besar ia sempat.” Dokter itu tersenyum. “Dan kalau bayinya tidak sabar, ada Nona Kinara, Nona Aya, dan dua dokter yang sudah bangun. Ibu tidak akan menunggu sendirian.”
Aya mengeluarkan sebungkus permen jahe dari saku, hadiah dari Kanata yang tinggal tiga butir. “Nih. Katanya bagus buat mual.”
“Gue nggak mual.”
“Tetap makan. Ini perintah Kanata.”
Miyu menerimanya dan, di tengah semua itu, tersenyum kecil untuk lelaki yang bahkan dari udara masih mengatur hidupnya.
Dokter Raina mengatur infus, memeriksa catatan, dan keluar sebentar untuk berbicara dengan perawat. Dari balik tirai Miyu mendengar mereka berbisik tentang jarak kontraksi. Ia menutup mata. Dalam gelap di balik kelopak matanya, lorong itu muncul lagi, tetapi kali ini pintunya terbuka separuh, dan di celahnya ada cahaya.
Perutnya menegang lagi, empat menit sejak yang tadi. Di layar ponsel di meja samping, di bawah pesan yang sama, tanda kecil itu belum berubah.