Koper Kanata berdiri di lorong rumah Menteng sejak Sabtu sore, dan tiap orang yang lewat memperlakukannya seperti tamu yang tidak boleh ditanyai kapan pulang.
Lima hari sudah lewat sejak kontrol pekan tiga puluh lima. Minggu petang itu, Aya dan Nana datang dengan dua tas ransel, tiga bantal, satu pelampung leher entah untuk apa, dan sekantong besar jajanan pasar. Nana langsung masuk ke dapur dan menyalakan stopwatch di ponselnya.
“Serah terima,” katanya. “Dari sekarang sampai Rabu malam, rumah ini wilayah gue dan Aya.”
“Sejak kapan rumah ini wilayahmu?” tanya Kanata, dari ambang pintu.
“Sejak lo mau pergi.” Nana menunjuk koper. “Isinya sudah dicek? Paspor, undangan, jas, obat sakit kepala, kabel pengisi daya, dan sapu tangan buat nangis, karena gue yakin lo bakal nangis di bandara.”
“Aku tidak menangis.”
“Gue bertaruh sama Santa. Seratus ribu.”
“Santa menang atau kalah?”
“Dia bilang lo nangis di pesawat. Gue bilang di bandara. Dua-duanya bisa menang.”
Makan malam berlangsung ribut dan hangat. Aya menceritakan tunangannya yang gugup memilih seragam keluarga untuk acara pernikahan nanti, Nana menirukan jaksa muda yang pamit sambil membawa kue stroberi, dan Kanata, yang biasanya tidak memerlukan alasan untuk diam, mendengarkan semuanya dengan wajah seseorang yang sedang menghafal suara-suara rumah. Miyu memperhatikannya dari seberang meja. Ia melihat Kanata menyuap dua kali dari piring yang sama sebelum sadar piringnya sudah kosong.
Di tengah makan, Aya mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menyodorkannya ke Kanata. “Jadwal piket kami. Gue sama Nana bagi dua: Nana pegang telepon, gue pegang Miyu. Kalau malam, siapa pun yang pegang Miyu tidur di kamar sebelah, pintu nggak ditutup.”
Kanata membaca kertas itu dengan ketelitian yang biasa ia berikan pada kontrak. “Terima kasih.”
“Jangan terima kasih. Lo juga keluarga.” Aya mengucapkannya sambil mengunyah, seperti hal biasa, lalu terdiam ketika sadar apa yang baru ia katakan. Matanya berkaca. “Aduh. Gue nggak niat mellow.”
“Aku juga tidak,” kata Kanata, dan menunduk ke piringnya dengan cepat. Nana menyodorkan sapu tangan tanpa menoleh, dan kali ini entah untuk siapa.
Pukul sembilan Aya dan Nana menutup pintu kamar tamu dengan keras, dan terlalu keras, supaya terdengar bahwa mereka memberi privasi.
***
Teras belakang berbau tanah basah. Hujan kecil turun sore tadi, dan pohon kecapi meneteskan sisa air ke atap seng gudang di sudut halaman. Kanata duduk di kursi rotan, siku di lutut, sementara Miyu berdiri di depannya dengan tangan tersembunyi di balik punggung.
“Kamu menyembunyikan sesuatu,” kata Kanata.
“Kamu bilang jangan bertanya.”
“Aku tidak bertanya. Aku mengamati.”
“Duduk yang benar, kalau begitu.” Miyu mengeluarkan kotak kayu kecil dari belakang punggungnya, membukanya, dan mengangkat sebuah kantong brokat berwarna biru tua dengan tali merah yang kini sudah dijahit rapi. “Ini omamori. Dari kakekku. Aku menemukannya di dasar peti.”
Kanata menegakkan punggung. “Omamori.”
“Kakekku memberikannya kepada ayahku saat ayahku pindah kuliah ke kota lain. Ayahku memberikannya kepadaku waktu aku kelas empat, sebelum...” Ia menelan ludah. “Sebelum semuanya. Aku menyimpannya di dasar peti karena aku tidak sanggup memandangnya.”
Ia melangkah mendekat dan berlutut pelan di depan kursi, perutnya menahan di antara lutut mereka. Kanata sudah akan melarang, tetapi tatapan Miyu menahan kalimat itu.
“Pesan kakek sama tiap kali ia memberikannya,” kata Miyu. “Ia bilang omamori ini bukan untuk meminta keberuntungan. Orang yang membawanya hanya perlu ingat satu hal: ada yang menunggunya pulang.”
Kanata mengambil kantong itu dari tangannya dengan dua tangan, persis seperti ia menerima cangkir dari Hosho. Brokat itu hangat oleh genggaman Miyu. Ia membaliknya dan melihat sulaman benang emas yang sudah pudar, dan di sudut bawahnya, jahitan baru dengan benang merah yang sedikit miring.
“Kamu menjahit ulang talinya.”
“Dengan benang Aya. Jangan perhatikan simpulnya. Itu simpul orang yang tidak pernah belajar menjahit.”
“Simpulnya bagus.”
“Bohong.”
“Aku sedang belajar tidak berbohong, jadi sebut saja simpulnya jujur.” Kanata menutup tangannya di atas jimat itu, lalu mengalihkan matanya ke Miyu dengan wajah yang tidak lagi menghitung apa pun. “Miyu. Boleh aku bilang sesuatu?”
“Boleh.”
“Koishiteru.”
Hujan kecil menetes dari pohon. Jauh, di luar pagar, seekor kucing mengeong sekali dan terdiam.
“Kali ini bukan karena atap atau sunset,” lanjut Kanata, dalam bahasa Jepang, dengan suara yang bergetar di bagian paling tidak terduga. “Aku mengucapkannya karena aku ingin kamu menyimpannya di sana, di tempat kamu menyimpan lorong dan pintu itu. Kalau kamu bermimpi lagi, kata ini lebih dulu sampai daripada aku.”
Miyu menunduk. Dagunya bergetar. “Aku tahu.”
“Aku tahu kamu tahu. Aku hanya ingin kamu mendengarnya dua kali.”
“Pulang,” katanya akhirnya, sangat pelan. “Itu jawabanku. Bukan karena aku tidak mau mengatakan yang lain. Aku simpan kata itu untuk waktu yang tepat. Sekarang aku cuma mau bilang pulang.”
“Aku pulang.”
“Dan nyalakan ponselmu begitu roda pesawat menyentuh landasan.”
“Begitu roda menyentuh landasan.” Ia mengangkat kantong itu dan menggantungkannya pada tali ransel kecil di sampingnya. “Dan aku akan menelepon begitu transit juga, kalau ada transit.”
“Tidak ada transit, Kanata. Penerbanganmu langsung.”
“Maka dua kali. Begitu mendarat, dan sebelum lepas landas.”
Mereka tertawa, dan tawa itu sebagian terdengar seperti tangis.
***
Senin pagi, pukul lima kurang sepuluh, langit di atas Menteng masih biru gelap. Mobil hitam yang dipakai Santa berhenti di depan gerbang dengan lampu depan menyala. Miyu berdiri di teras depan dengan jubah tidur dan syal Aya, di sampingnya Aya dan Nana berdiri tanpa suara, tangan mereka berpegangan di balik punggung Miyu seperti dua pagar.
Santa turun lebih dulu. Ia membuka pintu belakang, mengangkat koper dengan satu tangan, dan memberi isyarat memutar kunci di mulutnya.
“Lo nggak baca ramalan hari ini?” tanya Nana.
“Saya mematikan aplikasinya,” jawab Santa, dengan martabat seseorang yang melakukan pengorbanan besar.
Kanata mendekat. Ia berhenti satu langkah dari Miyu, mengulurkan tangan, dan menunggu. Miyu meletakkan telapak tangannya di atas tangan itu. Tidak ada kata. Hanya tiga detik, genggaman yang bertukar hangat.
Lalu ia masuk ke mobil. Pintu menutup. Jendela belakang turun separuh, dan Miyu bisa melihat wajahnya di dalam gelap, tersenyum kecil, kantong brokat tergantung di tali ranselnya seperti bintang merah kecil.
Mobil bergerak pelan, berbelok di tikungan, dan lampu belakangnya menghilang di antara pohon-pohon. Miyu tetap berdiri sampai bunyi mesin habis ditelan pagi. Tidak ada yang bicara. Aya mengeratkan syal di bahunya, dan Nana menekan tombol stopwatch di ponselnya sampai berbunyi, tanda protokol resmi dimulai.
“Teh,” kata Aya akhirnya, suaranya serak. “Gue bikinin. Gue nggak tahu caranya, tapi gue bikinin.”
Mereka bertiga duduk di dapur dalam cahaya biru yang pelan-pelan menjadi kelabu. Aya menyeduh teh dengan air yang terlalu panas dan daun yang terlalu banyak, dan hasilnya sepahit obat. Miyu menyesapnya, menyesapnya lagi, dan tidak berkomentar sama sekali.
“Enak?” tanya Aya.
“Pahit.”
“Maaf.”
“Kayak punya Kanata.” Miyu tersenyum, dan senyum itu cukup lebar untuk membuat Nana menyingkirkan pandangan ke jendela. “Terusin aja. Gue lagi belajar suka yang pahit.”
Nana mendengus, menutup mata sebentar, lalu bersandar pada punggung kursi. “Tujuh jam lagi dia mendarat dan kasih kabar. Nol alasan buat panik.”
“Lo masih pegang stopwatch,” kata Aya.
“Buat jaga-jaga.”
Ponsel Miyu bergetar di saku jubah. Layarnya menyala di atas meja, di antara tiga cangkir teh pahit.
Kanata: Aku di sini.