Pukul sembilan pagi, lima hari sesudah baby shower di rumah Aya, ponsel Miyu berdering dengan nama yang sudah lama tidak muncul di layarnya: Pak Ghani Haru Media.
Miyu sedang duduk di meja makan rumah kontrakan dengan sepiring bubur ayam yang separuh habis dan selimut kuning bersudut miring di bahunya. Ia menatap layar itu tiga deringan penuh. Pada deringan keempat ia mengangkatnya dengan tangan yang mendadak dingin.
“Halo, Pak Ghani.”
“Miyu.” Suara itu sama seperti yang ia ingat: berat, lambat, sedikit serak karena kebanyakan rapat. “Maaf saya baru menelepon sekarang. Saya sudah menunda ini lebih lama daripada yang pantas.”
“Tidak apa-apa, Pak.”
“Itu keliru, Miyu,” koreksi Pak Ghani. “Saya memecat Anda dan enam orang lain di hari yang buruk, dengan cara yang buruk, dan saya tidak pernah meminta maaf secara langsung. Saya minta maaf.”
Miyu mengerjap. Bubur di depannya mulai mendingin, tetapi ia tidak ingat bagaimana cara menggerakkan sendok. “Saya sudah memaafkan Bapak sejak lama. Bapak sendiri hampir tidak punya pilihan.”
“Anda terlalu baik.” Terdengar suara kertas dibalik. “Dengar. Dua judul lama kami dicetak ulang dan terjual habis bulan ini. Seorang distributor di luar kota memesan seluruh stok. Kami belum aman, tetapi kami bernapas. Dan Bu Ita menemukan berkas proyek Anda di arsip bersama, yang Anda kirim malam itu untuk ditinjau.”
Dada Miyu terasa sesak dengan cara yang menyenangkan. “Proyek sastra dua bahasa itu?”
“Bu Ita membacanya tiga kali. Katanya ia tidak menemukan satu pun yang perlu diubah.” Pak Ghani berdeham. “Kami ingin menerbitkannya. Dan kami ingin Anda yang menerjemahkan dan menyunting naskah pertamanya. Sebelas cerpen. Dari rumah, dengan tenggat yang bisa disesuaikan. Saya dengar Anda sedang menantikan anak pertama Anda. Selamat. Undangannya sudah sampai di meja saya.”
Miyu tertawa pendek, lalu menutup mulut dengan punggung tangan karena suaranya pecah. “Terima kasih, Pak.”
“Jangan terima kasih dulu. Pikirkan, bicarakan dengan suami Anda, jawab saya kapan saja. Tetapi saya ingin Anda tahu sesuatu.” Jeda panjang. “Proyek itu ada karena Anda. Bukan karena kebaikan hati saya.”
Setelah sambungan terputus, Miyu duduk lama di dapur yang sunyi. Keran sudah tidak menetes karena pemilik rumah, setelah kabar tentang pipa yang menyemprot langit-langit, akhirnya datang sendiri dan mengganti seluruh pipanya dengan wajah orang yang takut digugat. Ia mengusap perutnya yang bergerak pelan, seperti membalas.
“Kita dipanggil kerja,” bisiknya. “Kamu dengar?”
***
Pukul dua belas, Anomali tengah ramai-ramainya. Miyu, yang hampir tujuh pekan tidak lagi mengenakan celemek di sana, melangkah masuk lewat pintu depan seperti tamu, dan seluruh kafe seolah menoleh sekaligus.
“THA!” Ira melambaikan nampan seperti bendera. “Meja enam udah gue siapin! Ada dua orang yang nyariin lo sejak tadi!”
Di meja enam, dua sosok yang sangat ia kenal sudah duduk bersebelahan dengan sebuah kardus besar di antara mereka. Emily melambai dengan seluruh lengannya, sementara Rei, yang rambutnya kini dipotong lebih pendek, hanya mengangkat tangan sedikit dan tersenyum canggung.
“Lo gemuk,” seru Emily, begitu Miyu duduk.
“Lo mau gue lempar pakai kardus itu?”
“Maksud gue gemuk yang bagus! Gemuk yang... bayi!” Emily menutup wajahnya. “Rei, tolong, bilang sesuatu yang bukan salah.”
“Selamat, Miyu,” kata Rei, dan itu cukup.
Emily menepuk kardus. “Ini naskah pertamanya. Bu Ita nitip. Sebelas cerpen dari penulis-penulis yang dulu kita bahas sampai pagi di ruang rapat. Yang di tumpukan paling atas itu yang paling lo sayang, Rei bilang.”
Miyu membuka tutup kardus dan menemukan tumpukan kertas bersampul plastik bening. Halaman paling atas bertuliskan judul asli dalam huruf Jepang yang ia kenal betul, dan di bawahnya ada nama editor penanggung jawab yang ditulis tangan: Agatha Miyu Kouzuki.
Tangannya gemetar di tepi kertas.
“Gue pikir ini karena gue mau nikah sama...” Ia berhenti. “Maksud gue, karena orang-orang tahu gue sama siapa.”
Emily dan Rei bertukar pandang. Wajah Emily mengeras. “Miyu. Pak Ghani baru tahu soal Saionji-Saionjian itu dari undangan lo minggu lalu. Beliau udah nungguin berkas proyek lo sejak Bu Ita nemuin file-nya di server tiga minggu yang lalu. Sebelum ada yang tahu lo hamil, sebelum ada yang kenal siapa suami lo.”
“Bu Ita bilang,” sambung Rei pelan, “dia nggak tahu kita bakal diundang ke pernikahanmu. Dia cuma tahu naskahmu yang paling rapi.”
Napas Miyu tersendat. Ia merasakan sesuatu mengendur dari dalam, sesuatu yang ia kira sudah lama hilang: rasa takut bahwa semua yang baik dalam hidupnya diberikan karena belas kasihan atau karena tagihan yang menunggu dibayar.
“Masih ada satu hal,” kata Emily. “Beliau bilang tenggatnya bisa lewat kelahiran. Beliau bilang bayi itu lebih penting.”
“Dia bilang begitu?”
“Dengan wajah paling kaku sedunia.”
Miyu tertawa sampai air matanya menetes. Ira, yang sedang membawa dua teh tawar, menyelinap ke sisi meja dan meletakkan satu di depan Rei tanpa suara, lalu satu di depan Emily, lalu memeluk kepala Miyu dari belakang sambil berbisik, “Gue bilang apa, Tha. Dunia nggak akan lupa lo.”
Dari balik konter, Pak Rudi mengangkat cangkir ke arah mereka dari kejauhan, tanda yang hanya ia berikan pada hari-hari yang menurutnya layak dirayakan. Tak lama Pak Edo muncul membawa sepiring puding kecil, meletakkannya di depan Miyu, dan berkata, “Garamnya sudah pas,” lalu kembali ke dapur tanpa menunggu pujian.
Miyu menyendok puding itu dan menyadari betapa ia merindukan rasa ini. Rasa tempat yang menerimanya apa adanya, sebelum dan sesudah semua kejadian.
Pintu kafe berdenting. Kanata melangkah masuk dengan jas disampirkan di lengan dan dasi yang sudah longgar, wajahnya mencari-cari sampai menemukan meja enam. Matanya bergeser dari Miyu ke kardus ke Emily ke Rei, dan ke wajah Miyu lagi, yang basah dan berseri-seri sekaligus.
“Aku pikir kamu tidak ada di rumah,” katanya, mendekat. “Santa bilang kamu keluar. Dia benar.”
“Dia selalu benar kalau menyangkut hal yang tidak penting.” Miyu menunjuk kursi di sebelahnya. “Duduk. Ini Emily dan Rei, dari Haru Media. Ini Kanata.”
“Saya sudah mengenal nama kalian,” kata Kanata, berjabat tangan dengan keduanya, dan mereka menerimanya seperti orang yang baru disalami presiden. “Miyu menyebut kalian sebagai orang-orang yang diam-diam menyelundupkan kopi ke ruang rapat.”
“Kami bukan penyelundup, Tuan Saionji,” bantah Emily, merah padam. “Itu tradisi.”
“Tradisi yang bagus.”
Miyu menceritakan telepon Pak Ghani dalam satu napas, kardus, Bu Ita, sebelas cerpen, tenggat yang boleh melewati hari lahir. Kanata mendengarkan dengan siku di meja dan dagu bertumpu pada kepalan, matanya tidak lepas dari wajahnya, sampai ia selesai dan menarik napas.
“Kamu mau menerimanya?” tanyanya.
“Aku takut,” aku Miyu. “Bagaimana kalau mereka menawarkan ini karena...”
“Kamu dipilih karena kerjamu.” Kanata mengatakannya datar dan jelas, seperti membacakan fakta. “Aku tidak ada di ruangan ketika Bu Ita membaca naskahmu tiga kali. Tidak ada satu orang pun di Haru Media yang membutuhkan apa pun dariku. Itu bukan keberuntungan, Miyu. Itu kamu.”
Emily menahan isak dengan telapak tangan. Rei menunduk cepat-cepat ke teh tawarnya.
Miyu menatap kardus itu, lalu cincin di jarinya, lalu wajah lelaki di sampingnya. Sesuatu di dadanya akhirnya menemukan tempat duduk.
“Aku mau menerimanya,” katanya, tegas. “Aku mau mengerjakannya sambil menunggu dia lahir.”
“Dengan syarat,” kata Kanata.
“Apa lagi?”
“Kamu berhenti saat lelah, dan aku yang membawakan tehnya.”
“Itu syarat yang bisa kuterima.”
Ponsel Kanata bergetar di meja. Ia melirik layar, dan wajahnya yang tadi lembut perlahan menegang. “Mori,” gumamnya. “Ia minta bertemu Minggu. Katanya ada kabar soal para tetua.”