Rumah di Menteng itu punya jendela yang menghadap pohon kecapi, dan Miyu belum memaafkan dirinya sendiri karena menyukainya. Enam hari sudah lewat sejak keran Santa meledak, dan semua orang di ruang tamu Aya tahu soal itu karena Nana menceritakannya dengan nada jahat. Bagian sepuluh menit itu sayangnya benar: Miyu memang berdiri di tengah kamar kosong berlantai kayu hangat, membayangkan boks bayi di bawah jendela, lalu buru-buru bilang “lumayan” sebelum suaranya ikut bergetar.
“Dia bilang cuma mau lihat,” lapor Nana kepada seisi ruangan, menancapkan sedotan ke gelas jus. “Terus dia berdiri di tengah kamar bayi sepuluh menit tanpa bergerak. Terus dia bilang “lumayan”. Lumayan! Lo tahu kan artinya?”
“Artinya jatuh cinta,” sahut Aya, dari balik tumpukan balon kuning yang sedang ia ikat satu per satu.
“Gue nggak jatuh cinta sama rumah,” protes Miyu dari kursi rotan di pojok. Perutnya, hampir dua puluh sembilan pekan, memaksanya duduk dengan kaki diganjal bantal. “Gue jatuh cinta sama jendelanya doang.”
“Lo bilang jendelanya menghadap pohon kecapi.”
“Ya, itu poin pentingnya, Na.”
Ruang tamu Aya hari itu dipenuhi kertas krep, kue stroberi berlapis krim, dan spanduk yang ditulis tangan: SELAMAT DATANG, DEK. Di dekat jendela, Ira dan Anggara berdiri berdampingan dengan jarak yang sengaja dibuat tak sengaja. Ira sudah tiga kali menyentuh lengan Anggara dalam lima menit, dan setiap kali ia menjerit pelan, “Maaf, Dok, tangan gue licin,” dan Anggara menjawab, “Tidak apa-apa,” dengan wajah paling puas di dunia.
“Tha!” seru Ira begitu melihat Miyu menoleh. “Selimut lo dari gue sampai nggak? Kemarin gue titip ke Aya.”
“Belum dibuka. Katanya nunggu lo.”
“Sini, sini, sini.” Ira menyerbu dengan bungkusan kardus dan menyodorkannya ke pangkuan Miyu. “Gue rajut sendiri. Tiga minggu. Jari gue sampai kapalan. Anggara bilang bagus.”
“Aku bilang rapi,” koreksi Anggara, lembut.
“Itu sama aja.”
Miyu membuka kertas pembungkusnya. Selimut kuning pucat itu terlipat tebal, pinggirannya bergelombang seperti ombak, dan salah satu sudutnya jelas lebih besar daripada tiga lainnya. Di tengah, dengan benang putih, tersulam nama yang sudah dipakai Ira untuk memanggil bayi itu sejak USG: Si Mungil.
“Ini sudutnya... kreatif,” kata Miyu hati-hati.
“Itu sengaja!”
“Bukan sengaja,” bisik Anggara, dan Ira menyikut perutnya dengan tulus.
Hidung Miyu sudah panas. Ia memeluk selimut itu ke dada. “Makasih, Ra. Beneran. Ini yang paling cantik.”
“Jangan nangis dulu! Acaranya baru mulai!”
Pintu depan terbuka tepat pada saat itu. Kanata masuk bersama Santa, dan di belakang mereka dua pria berseragam kurir mengangkat sesuatu besar yang dibungkus selimut kain putih. Ruangan mendadak sunyi.
“Aku tidak tahu harus membawa apa,” kata Kanata, berdiri kaku di ambang pintu seperti anak yang baru datang ke pesta ulang tahun orang yang tidak ia kenal. “Jadi aku memesan sesuatu.”
“Dia memesannya waktu Miyu belum mau membalas satu pesan pun,” bisik Santa kepada Aya, cukup keras untuk didengar semua orang. “Dia memesan boks bayi untuk perempuan yang tidak mau bicara dengannya!”
“Santa.”
“Maaf.”
Kain itu ditarik. Di bawahnya berdiri sebuah boks bayi dari kayu jati terang, bulat di sudut-sudutnya, dengan kaki-kaki yang membentuk huruf X. Di bagian kepala boks, seseorang telah mengukir setangkai daun teh dengan tiga helai tipis, begitu halus sehingga cahaya lampu menyelinap di antaranya.
Miyu berhenti bernapas.
“Daun tehnya...”
“Boksnya sudah kupesan sejak lama. Ukirannya baru kutambahkan pekan ini, persis seperti gambar kecil di halaman pertama buku catatan kakekmu,” jelas Kanata. “Aku memotretnya saat kamu mengambil air. Maaf, itu salah. Pasal empat. Aku mengaku sekarang.”
“Lo sudah mengaku di depan semua orang!” seru Nana.
“Itu cara terbaik agar aku tidak mengulanginya.”
Aya menutup mulut dengan dua tangan. Ira, yang sudah tak sanggup lagi, mulai menangis tanpa suara sambil memeluk lengan Anggara. Dan dari layar laptop di meja kopi, tempat sebuah panggilan video sudah menyala sejak tadi, terdengar suara yang mereka semua kenal.
“Kau bahkan tidak mengajakku bicara soal desainnya!” Mikan memenuhi layar dengan wajah kesal yang seluruhnya main-main. Ia berbicara dalam bahasa Jepang, dan Miyu, sambil menyeka mata, menjawabnya dalam bahasa yang sama. “Sepupu Kecil, kau memilih kayu tanpa bertanya padaku? Aku mengirimkan kereta dorong yang harganya lebih mahal dari mobil Ira, dan kau memilih kayu?”
“Kereta dorongmu masih di bea cukai,” sahut Kanata, dalam bahasa yang sama, tanpa ekspresi.
“Itu bukan salahku.”
“Itu sepenuhnya salahmu.”
Ruangan tertawa. Reno, yang baru tiba dan berdiri di dekat pintu dengan tangan terlipat, ikut mengangkat sudut bibir sedikit, lalu menyerahkan kotak kecil ke tangan Miyu tanpa kata. Isinya sepasang kaus kaki bayi sebesar jempol dengan gambar cangkir kopi di tiap telapaknya.
“Buat dia,” ujar Reno. “Biar tahu sejak awal.”
“Reno, ini...”
“Gue cuma bisa lima menit. Barista pengganti nggak bisa bedain flat white sama latte.” Ia melirik Kanata. “Jaga dia.”
“Selalu,” sahut Kanata. Reno mengangguk sekali, lalu pergi, dan Miyu tahu itu pelukan paling panjang yang pernah diberikan lelaki itu.
Game pertama adalah tebak lingkar perut dengan pita ukur. Santa menebak terlalu kecil dan, sebagai hukuman, harus memakai topi kertas berbentuk dot selama sisa acara. Nana menebak nyaris tepat, dan mengumumkan kemenangannya dengan cara yang sama seperti ia mengumumkan putusan hakim.
“Anda menang karena Anda sering memeluknya,” protes Santa.
“Gue menang karena gue pengacara. Gue terbiasa mengukur bukti.”
“Itu bukan bukti. Itu perut.”
“Perut yang tidak berbohong,” kata Nana, penuh martabat, dan Aya terbahak sampai harus berpegangan pada rak.
Di dekat dapur, Anggara berdiri di samping Kanata dengan secangkir teh. Ia tidak banyak bicara, tetapi sorot matanya mengikuti Ira yang sedang mengajari Santa cara memakai topi kertas dengan benar.
“Saya senang melihat dia tertawa, Tuan Saionji,” ujarnya pelan. “Dia sering menahan diri di kafe.”
“Panggil saya Kanata saja, Dokter.”
“Kalau begitu panggil saya Anggara.”
Mereka bersulang dengan cangkir teh, dan itu cukup.
Beberapa saat kemudian, setelah kue stroberi habis dan Mikan tertidur di layar karena kantor pusat sedang mengamuk di sebelahnya, Miyu duduk sendirian di sofa dengan selimut Ira di pangkuan dan boks kayu berdiri di depannya. Daun teh itu menatapnya balik.
Dadanya mulai sesak, pelan-pelan, dari bawah.
Pesta ini seharusnya diadakan ibunya. Seharusnya ibunya yang menyiapkan kue, ibunya yang memilih nama, ibunya yang menertawakan sudut selimut yang miring. Seharusnya ada perempuan berkacamata dari foto Anyer yang meletakkan dagu di bahunya dan berkata, kamu pasti bisa.
“Mi?” Nana duduk di sampingnya, tanpa suara.
“Gue baik-baik aja.”
“Gue tahu. Gue di sini juga bukan karena lo nggak baik.”
Air mata Miyu jatuh begitu saja, tak bisa ditahan, membasahi kuning pucat selimut. Aya datang dari sisi lain, lalu Ira, lalu ruangan senyap dan hangat seperti tubuh orang yang menahan napas bersama-sama.
“Boleh gue minta satu hal?” tanya Miyu, parau.
“Apa pun,” jawab Kanata, yang sudah berdiri di depannya tanpa ia sadari.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto itu: gadis delapan tahun, pria berjas dokter, perempuan berkacamata, laut yang terlalu cerah. “Foto ini. Aku mau dipasang di kamar bayi. Biar dia tahu dari mana datangnya mata hijaunya.”
“Dipasang di dinding yang terkena sinar pagi,” sahut Kanata, tanpa jeda. “Dengan bingkai kayu yang sama dengan boksnya.”
Semua orang mengangguk. Ira mengusap hidung dengan punggung tangan. Santa mengangkat topi kertasnya sebagai tanda hormat. Kanata berjongkok di depan layar ponsel Miyu, sangat dekat, seperti sedang bicara pada dua orang yang duduk di seberang meja.
“Terima kasih sudah membesarkannya,” katanya pelan. “Saya akan menjaga dia dan anak kami. Saya berjanji.”
Miyu menutup wajahnya, tertawa dan menangis sekaligus. Nana menyodorkan tisu dengan tangan gemetar.
Ponsel di tangan Miyu bergetar, dan sebuah pesan muncul di atas foto itu.
Emily: Miyu, Pak Ghani mau nelepon lo hari Senin. Gue nggak boleh bilang apa-apa. Jadi gue nggak bilang apa-apa.
Emily: Tapi lo harus angkat.