“Itu,” kata Santa dari kursi depan, dengan suara orang yang sedang menahan diri untuk tidak berteriak, “adalah gaun yang paling tepat yang pernah kulihat dipakai siapa pun. Kanata, katakan sesuatu.”
“Aku sudah mengatakannya.”
“Kau mengatakan “Selamat malam” dan “Maaf, saya lupa sedang berbicara”. Itu bukan pujian.”
“Itu pujian dalam bahasaku.”
Miyu duduk di bangku belakang dengan tas kecil di pangkuan dan menahan tawa sampai pipinya sakit. Kanata duduk di sampingnya, bukan di depan, dengan jarak satu telapak tangan di antara bahu mereka. Ia menatap lurus ke jalan di luar, tetapi telinganya merah.
“Gaunnya bagus,” ujarnya akhirnya, pelan, tanpa menoleh. “Warnanya sama dengan langit sebelum hujan. Saya tidak tahu warna itu punya nama. Sekarang saya tahu.”
“Namanya biru kelabu,” sahut Miyu.
“Saya akan mengingatnya.”
“Dua puluh menit lagi kamu lupa.”
“Dua puluh menit lagi saya akan mengulang kata itu lima kali.” Kanata akhirnya menoleh, dan sesuatu di matanya melunak. “Terima kasih sudah membeli sendiri. Saya akan belajar.”
Mobil berhenti di lampu merah. Miyu meremas tali tasnya. “Kalau saya merasa pusing atau ingin pergi, saya akan memegang telinga kiri. Itu kode kita.”
“Kode kita,” ulang Kanata. “Santa, kau dengar?”
“Telinga kiri,” sahut Santa tanpa menoleh. “Aku akan memutus aliran listrik gedungnya kalau perlu.”
“Jangan,” kata Miyu dan Kanata bersamaan, dan Santa terbahak sendirian.
***
Ballroom kecil hotel di Sudirman itu dihiasi bunga putih dan lampu hangat, dengan sekitar tujuh puluh tamu yang berbicara pelan di sekitar meja-meja bundar. Di dinding belakang terpasang foto besar sebuah rak kayu dengan botol-botol bening dan tulisan Seiko Sai dalam huruf emas. Pelayan lalu-lalang membawa nampan kecil berisi kue dan jus. Tidak ada gelas anggur. Miyu menyadarinya, dan menyadari juga bahwa itu bukan kebetulan.
Hosho menunggu di dekat pintu masuk, bersetelan abu-abu gelap dengan tongkat di tangan kanan. Di sampingnya, dalam gaun hijau tua yang jatuh sempurna dari bahu ke lantai, berdiri Christine. Rambut cokelat kemerahannya disanggul rendah. Ia tersenyum ketika melihat mereka, dan senyum itu begitu natural sehingga Miyu hampir lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang menerima dirinya dengan hati-hati.
“Selamat malam, Kanata. Selamat malam, Nona Agatha.” Christine mengulurkan tangan. “Gaun yang tepat.”
“Terima kasih, Nona Christine.”
Hosho memperhatikan gaun itu dari bahu sampai ujung lengan, lalu menyentuh ujung rajutan dengan satu jari. “Rajutan musim lalu,” ujarnya dalam bahasa Indonesia, seperti ahli kain. “Bukan koleksi yang dikirim ke acara ini.”
“Betul, Tuan Hosho. Saya membelinya kemarin.”
“Dengan uangmu sendiri.”
“Ya.”
Hosho tidak mengatakan apa-apa. Matanya bergerak dari gaun ke wajah Miyu, lalu ke wajah Kanata yang berdiri tegak seperti prajurit. Ia mengetukkan ujung tongkatnya satu kali ke lantai, dan Miyu mengartikan bunyi kecil itu sebagai sesuatu antara penghakiman dan pengakuan.
“Masuklah,” katanya.
Nama di meja utama tertata rapi di atas kartu putih: Saionji Hosho di tengah, Hanakomachi Christine di sisi kirinya, dan di sisi kanan Hosho, dua kursi berjajar untuk Saionji Kanata dan Agatha Miyu Kouzuki. Revindo, yang berdiri gugup di dekat meja, menggeser kursi untuk Miyu dengan sangat hati-hati.
“Maaf, Nona. Perubahan menit terakhir.”
“Tidak apa-apa, Pak Revindo. Terima kasih.”
Makan malam berlangsung hampir dua jam, dan dalam dua jam itu Miyu belajar bahwa ada dua jenis keheningan di meja yang sama. Yang pertama datang dari Hosho, yang makan pelan dan menjawab sapaan tamu dengan sepatah kata, dan keheningannya terasa seperti bendungan. Yang kedua dari Christine, yang tertawa pada waktu yang tepat dan bertanya pada Miyu hal-hal yang ramah: apakah ia suka gedung ini, apakah ia sudah mencoba pudingnya, apakah bayinya aktif di malam hari. Setiap pertanyaan terlalu pas untuk dicurigai, dan terlalu pas untuk tidak dicurigai.
Pada hidangan kedua, Christine membungkuk sedikit ke arah Hosho dan berkata dalam bahasa Jepang, pelan, seolah kepada lilin di tengah meja, “Anak itu terlihat sehat, Hosho. Perempuan itu juga kuat. Aku tidak mengira.”
“Diamlah, Christine,” sahut Hosho, juga dalam bahasa Jepang, tanpa mengangkat sumpit. “Dia mengerti setiap kata yang kita ucapkan.”
Christine berhenti sesaat. Matanya berkedip, lalu bergeser ke arah Miyu, dan Miyu, yang sedang memotong buah dengan sangat tenang, tersenyum kecil tanpa mengangkat wajah dan melanjutkan memotong.
“Maaf,” kata Christine akhirnya, dalam bahasa Indonesia. “Aku lupa bahwa kita berada di Jakarta.”
“Tidak apa-apa, Nona Christine.”
Ketika hidangan utama datang, Hosho memperhatikan piring Miyu yang masih hampir utuh. “Kau tidak menyentuh dagingnya.”
“Dokter menganjurkan daging matang sempurna, Tuan Hosho. Yang ini masih agak merah di tengah.”
Hosho menatap piring itu, lalu menjentikkan satu jari kepada pelayan yang berdiri di dekat tiang. Dalam bahasa Jepang yang cepat dan rendah, ia menyuruh pelayan itu membawa piring Miyu kembali ke dapur dan menggantinya dengan yang matang betul. Pelayan itu membungkuk dalam-dalam dan hampir berlari. Kanata menahan sesuatu di sudut bibirnya, dan Miyu, untuk beberapa detik, tidak tahu harus berterima kasih atau takut.
“Terima kasih, Tuan.”
“Aku tidak melakukannya untukmu,” kata Hosho. “Aku melakukannya untuk anak itu.” Tetapi ia tidak menatap siapa pun saat mengatakannya.
Pak Dali dan Pak Indra datang menyalami Miyu dengan hangat. Pak Dali bahkan membawa buku catatan kecil dan menunjukkan sketsa bangku panjang dekat pintu masuk. “Ide Nona sudah masuk ke pemasangan Selasa,” ujarnya bangga. Seorang direktur perempuan paruh baya dari mitra ritel bertanya apakah Miyu bekerja di bidang desain. “Saya dulu penerjemah,” jawab Miyu, “sekarang saya pelayan kafe. Tetapi saya suka melihat orang duduk.”
“Mengapa duduk?”
“Karena orang yang duduk berarti percaya tempat itu aman.”
Direktur itu tersenyum lebar. Di sampingnya Kanata menunduk membersihkan sendoknya, meskipun sendok itu sudah bersih.
***
Pukul sembilan, Miyu keluar ke teras samping untuk mencari udara. Lampu taman menerangi jalan setapak berbatu kecil, dan di kejauhan terdengar tawa tamu yang bercampur dengan denting alat makan. Ia menarik napas panjang. Tujuh belas pekan, dan perutnya mulai terasa seperti sebuah beban yang bukan lagi bisa ia sembunyikan.
“Boleh saya menemani?”
Kanata muncul di ambang pintu kaca. Ia tidak mendekat sebelum Miyu mengangguk.
Mereka berjalan pelan menuruni dua anak tangga rendah. Di anak tangga kedua, ujung sepatu Miyu menyangkut di tepi batu yang miring. Tubuhnya oleng ke depan. Sebelum ia sempat berteriak, tangan Kanata sudah menahan sikunya, cepat dan mantap, dan menariknya kembali sampai ia berdiri tegak.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak. Hanya… tangga.” Miyu tertawa gugup. “Maaf.”
“Jangan minta maaf kepada tangga.”
Kilatan putih menyambar dari balik rumpun palem di sisi taman. Sekali. Dua kali. Kanata menegang. Ia menoleh dan melihat bayangan seorang lelaki membawa kamera, membungkuk, bergerak cepat ke arah pagar samping.
“Hei,” serunya, tetapi lelaki itu sudah menghilang.
“Fotografer lepas,” ujar suara dari belakang mereka.
Christine berdiri di puncak tangga, sendirian, dengan satu tangan di pagar. Cahaya lampu menyinari sisi wajahnya. Ia tampak tenang, dan sedikit lelah, seperti orang yang baru melihat sesuatu yang sudah ia perkirakan.
“Biasanya ada satu dua yang menyusup,” lanjutnya. “Hosho sudah menyuruh orang memeriksa.”
“Terima kasih,” ujar Kanata dingin.
“Aku tidak melakukan apa-apa.” Christine tersenyum tipis dan turun satu anak tangga. Pandangannya beralih ke Miyu. “Nona Agatha, Anda baik-baik saja?”
“Ya, Nona. Terima kasih.”
“Syukurlah.” Ia berhenti tepat satu anak tangga di atas Miyu, dan suaranya dilunakkan, hampir seperti bisikan. “Datanglah minum teh denganku hari Minggu. Berdua saja.”