Kamis siang, Kanata datang ke Anomali lebih awal dari biasanya dan memesan hal yang sama persis: carbonara, teh seduh, tanpa gula. Ketika Miyu mengantarkan nampan ke meja enam, ia menyadari bahwa Kanata belum menyentuh ponselnya sama sekali. Itu jarang. Biasanya ponsel itu bergetar tiap tiga menit dan dijawab dengan kening berkerut.
“Kamu tidak sibuk?”
“Sangat sibuk.” Kanata mendorong cangkir ke tengah meja. “Tetapi ada yang lebih penting. Duduklah sebentar, kalau Pak Rudi mengizinkan.”
Miyu melirik ke arah ruang kerja. Pak Rudi, yang sedang berdiri di ambang dengan buku catatan, melambaikan satu tangan seperti orang mengusir lalat. Itu artinya boleh.
“Besok malam,” kata Kanata, setelah Miyu duduk di kursi seberang, “soft-launch toko di Sudirman. Tamunya terbatas. Mitra, wartawan pilihan, beberapa keluarga. Saya ingin kamu hadir sebagai tamu pribadi saya.”
“Tamu pribadi.”
“Bukan teman kantor, bukan tamu perusahaan.” Ia memandang cangkir. “Saya ingin kamu hadir sebagai kamu.”
Miyu belum sempat menjawab ketika ponsel Kanata akhirnya bergetar. Ia menatap layarnya, mengerutkan dahi, lalu menjawab dalam bahasa Indonesia sambil sedikit memiringkan badan. “Revindo.”
Miyu tidak bermaksud menguping. Tetapi ponsel itu di tangan Kanata sedekat meja yang sempit, dan suara Revindo di ujung sana tegang dan jernih.
“Tuan Saionji, ada perubahan susunan tempat duduk. Tuan Hosho meminta Nona Hanakomachi ditempatkan di meja utama, tepat di sisi kanan Anda.”
“Di sisi kanan saya.”
“Beliau yang menyebutkan sendiri, Tuan.”
Kanata tidak segera menjawab. Rahangnya bergerak sekali, dan ketika ia berbicara, suaranya turun hingga hanya Miyu yang bisa mendengarnya, sedingin kaca. “Susun ulang. Nona Agatha Miyu Kouzuki duduk di sisi kanan saya. Nona Hanakomachi boleh di sisi kiri, atau di mana pun yang paling dekat dengan Hosho. Itu perintah.”
“Baik, Tuan. Tetapi Tuan Hosho—”
“Saya yang menentukan tamu pribadi saya duduk di mana.” Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Miyu memegang gelas airnya dengan kedua tangan. Kanata mengangkat mata, menatap wajahnya, dan baru menyadari ia sudah mengatakannya di depan orangnya.
“Maaf. Seharusnya saya bertanya lebih dulu.”
“Tidak apa-apa.” Suara Miyu tipis. “Hanya, saya akan duduk di sampingmu, di meja utama, di depan Hosho dan Christine dan semua mitra dan wartawan.”
“Kamu tidak harus.”
“Saya tahu.” Ia menarik napas. “Saya akan datang.”
***
Pukul empat sore, sebuah kantong pakaian panjang berwarna hitam dengan logo SAIO bersulam emas tergantung di pintu lemari rumah kontrakan Miyu. Kurir yang mengantarnya sudah pergi. Di dalamnya, setelah diperiksa Aya dengan tangan gemetar, terdapat sebuah gaun hijau lumut dari bahan sutra, longgar di perut, dengan kartu kecil bertuliskan tangan Kanata.
Untuk besok. Kalau tidak cocok, katakan; saya akan mengganti. S. K.
“Ya Tuhan,” bisik Aya. “Ini gila. Gue bahkan nggak berani menyentuhnya.”
Nana, yang bersandar di meja makan dengan lengan terlipat, mengamati kantong itu seperti saksi yang belum menentukan sikap. “Bagus. Ukurannya pas. Warnanya sesuai mata lo. Dan itu gratis.” Ia menatap Miyu. “Lo nggak suka.”
Miyu duduk di tepi sofa. Ia menyentuh kain gaun itu dengan satu jari. Sutranya dingin dan sangat halus, jenis yang tidak pernah ia beli seumur hidup. “Gue suka,” ujarnya pelan. “Itu masalahnya.”
“Karena?”
“Karena kalau gue pakai, malam itu gue akan jadi perempuan yang dipakaikan sesuatu, di depan orang-orang yang sedang menimbang gue. Dari ujung kepala sampai kaki.” Ia menggeleng. “Dia nggak bermaksud begitu. Gue tahu. Tapi tiap kali ada yang memberikan sesuatu dengan ukuran sempurna, gue ingat orang-orang yang dulu memberikan sesuatu dengan harga.”
Aya dan Nana saling memandang. Tidak ada yang mengucapkan nama teman kuliah lama itu.
“Jadi?” tanya Nana lembut.
“Jadi gue mau pakai gaun yang gue beli sendiri.”
***
Toko SAIO di sebuah pusat belanja pukul lima sore dipenuhi pegawai kantoran yang baru pulang dan dua remaja yang tertawa terlalu keras. Ira, yang mengenakan jaket di atas seragamnya karena langsung menyusul dari kafe, sudah mengubrak-abrik rak gaun rajut seperti penemu harta karun.
“Tha! Yang ini! Warna burgundi!”
“Terlalu tua.”
“Yang ini kalau begitu. Navy.”
“Terlalu serius.”
“Yang ini?”
Miyu menatap gaun di tangan Ira. Rajutan halus berwarna biru kelabu lembut, potongan lurus dengan lengan tiga perempat dan pita tipis di bawah dada yang akan jatuh longgar di atas perutnya. Harganya seperti tiga hari gaji penuh. Ia menarik napas, lalu mengambil gaun itu dari tangan Ira dengan hati-hati.
“Gue coba.”
Seorang pramuniaga muda mengantar mereka ke ruang pas, menyebutkan ukuran dan bertanya acara apa yang akan dihadiri. Miyu ragu sebentar. “Makan malam. Tamu pribadi seseorang.”
“Wah, spesial ya, Kak. Kami punya sepatu yang cocok kalau mau.”
“Sepatu saya sudah ada,” sahut Miyu cepat, lalu menambahkan, “Terima kasih.”
Ira, dari belakang rak, berbisik cukup keras untuk didengar seluruh toko, “Itu orang yang punya toko ini, tahu nggak?”
“Ira!”
“Gue cuma bilang.” Ira mengangkat dua tangan. “Gue nggak bilang siapa.”
Ruang pas itu sempit, dan Aya serta Nana berdiri berdesakan di depan tirai seperti dua pengawal yang tidak diundang. Ketika tirai bergeser, Aya berseru sebelum sempat menahan diri.
“Mi.”
“Apa?”
“Nggak ada. Gue cuma… keluarkan.” Aya menyeka sudut mata. “Lo cantik.”
Nana tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat satu ibu jari, lalu menatap langit-langit untuk menahan sesuatu.
Miyu membayar di kasir dengan uang tunai dari amplop gajinya sendiri. Jumlah yang keluar membuat dadanya terasa ringan sekaligus sakit, seperti orang yang baru melompat dari tebing kecil. Ia menerima kantong kertas berlogo SAIO dengan dua tangan dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam seminggu terakhir: bahwa ia adalah orang yang memutuskan.
Ponselnya bergetar di saku.
Kanata: Gaun dari saya sudah terkirim. Apakah kamu menyukainya?
Miyu: Sangat bagus. Tapi saya tidak akan memakainya. Saya akan memakai yang saya beli sendiri. Saya mau kamu lihat besok, bukan sekarang.
Layar diam cukup lama sampai Kanata menaruh ponselnya dan mengambilnya lagi.
Kanata: Saya mengerti. Dan saya bangga.
***
Jumat pukul enam kurang sepuluh, Aya berdiri di belakang Miyu di depan cermin lemari dan menancapkan jepit rambut terakhir dengan hati-hati, seperti pemadam kebakaran menjinakkan sesuatu. Rambut pirang Miyu dikepang longgar ke samping, tanpa hiasan selain sehelai pita dari sisa kain gaun. Gaun biru kelabu itu jatuh tenang di atas perutnya.
“Kalau mau menangis, tahan sampai ada di mobil,” kata Nana dari ambang pintu. “Maskara lo mahal.”
“Maskara gue tiga belas ribu.”
“Mahal itu relatif.”
Bel pintu berbunyi. Aya menarik napas, membuka pintu depan, dan mundur satu langkah untuk memberi jalan. Miyu melangkah ke teras dengan sepatu flat hitam satu-satunya yang layak, dan lampu jalan baru saja menyala.
Mobil hitam itu terparkir di depan pagar. Kanata berdiri di sisinya dengan setelan hitam dan dasi abu-abu, satu tangan sudah memegang pegangan pintu belakang yang terbuka. Ia sedang bicara dengan Santa lewat jendela depan. Kalimatnya terputus di tengah.
Miyu berhenti di anak tangga terakhir. “Selamat malam.”
Kanata tidak menjawab. Tangannya masih di pegangan pintu, matanya tidak bergerak dari wajahnya, dan di jendela depan Santa perlahan menurunkan ponselnya dengan mulut setengah terbuka.
“Kanata?” panggil Miyu.
“Ya,” ujar Kanata, akhirnya, dengan suara yang nyaris tidak ia kenali sendiri. “Maaf. Saya lupa sedang berbicara.”