Pintu belakang Anomali terbuka sebelum Kanata sempat mengetuk, dan yang berdiri di ambangnya adalah Reno, dengan celemek hitam dan ekspresi yang tidak berubah sejak Kanata mengenalnya.
“Anda datang sepuluh menit lebih awal,” ujar Reno.
“Saya khawatir macet.” Kanata menggenggam kunci mobilnya. “Saya tidak ingin Miyu menunggu.”
Reno menatap nama itu keluar dari mulutnya, Miyu tanpa Nona, tanpa Agatha, dan ia tidak berkomentar. Ia hanya melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya, pelan, sampai bunyi klik terdengar. Gang kecil di belakang kafe berbau kopi basi dan sabun cuci piring. Sebuah kucing oranye menatap mereka dari atas tong sampah dengan bosan.
“Saya tidak banyak bicara,” kata Reno. “Jadi dengarkan.”
“Saya mendengar.”
“Beberapa pekan lalu saya membelikan Miyu mawar merah. Ia bilang itu salah beli.” Reno mengatakannya datar, seperti membaca resep. “Itu tidak salah beli. Saya hanya tidak punya hak untuk mempertahankannya. Saya tidak menyesal. Saya cuma ingin Anda tahu bahwa ada orang di tempat ini yang akan memperhatikan kalau ada yang menyakitinya.”
Kanata tidak menyela. Ada sesuatu pada cara Reno berdiri, bahu rata, tangan di sisi tubuh, yang mengingatkannya pada penjaga gerbang di tempat-tempat tua: tidak mengancam, hanya menetapkan batas.
“Kalau Anda berniat setengah-setengah, jangan,” lanjut Reno. “Sekarang. Sebelum lebih banyak orang terlibat.”
“Saya tidak punya niat setengah-setengah,” jawab Kanata, dan ia mendengar sendiri betapa tenang suaranya, jauh lebih tenang dari perasaannya. “Saya tidak pandai melakukan sesuatu dengan cara itu. Entah apa pun yang terjadi, saya akan ada di sini.”
Reno memandangnya lama. Kucing oranye di tong sampah menguap.
“Baik,” kata Reno akhirnya.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih. Buktikan.” Reno meraih gagang pintu. “Dan kalau ia bilang cukup, berhenti. Saya sudah lihat orang baik yang tidak tahu kapan berhenti.”
Pintu belakang terbuka. Dari balik dapur terdengar jeritan memekakkan, panjang, bernada sangat tinggi, disusul benda logam jatuh.
“Itu Ira,” ujar Reno tanpa terkejut. “Gudang.”
***
Di gudang kecil di samping dapur, Ira berdiri dengan punggung menempel rak tepung, memegang selembar coaster karton seperti memegang surat dari kerajaan. Kakinya masih berjinjit setelah lompat-lompat, dan di lantai di dekatnya sebuah panci terguling.
“Ira, ada apa?” Miyu menjenguk dari pintu, masih mengenakan celemek, dengan tas tergantung di bahu.
“Tha. Tha. Baca.” Ira menyodorkan coaster itu dengan kedua tangan gemetar.
Tulisan tangan rapi dengan tinta biru, goresan hati-hati seperti resep dokter yang berusaha dibuat terbaca.
Ira, kalau Sabtu ini kamu tidak sibuk, boleh saya traktir makan malam? Saya tidak pandai bicara, tapi kopimu enak. A.
“Itu di bawah gelasnya,” bisik Ira. “Gelas Dokter Anggara. Gue baru ngelap meja dan…” Ia menutup mulut dengan telapak tangan, matanya berair. “Dia tahu gue bisa bicara dan dia tetap mau.”
“Tentu saja dia mau,” kata Miyu sambil memeluknya. “Lo sudah ngomong “Kopi susu biasa, Dok” dan dunia belum runtuh.”
“Dunia gue runtuh, Tha. Dunia gue runtuh ke arah yang bagus.”
“Pergi bales.” Miyu melepaskan pelukan. “Sekarang. Sebelum lo berubah pikiran.”
“Kata siapa gue mau berubah pikiran?” Ira menyeka pipi dan berlari keluar, meninggalkan tepung berhamburan di rak.
Pukul tiga lewat dua menit, Miyu keluar lewat pintu belakang dengan tas dan dua puluh persen sisa tenaganya. Kanata sudah menunggu di sebelah mobil, dan tanpa banyak kata membukakan pintu penumpang. Apotek di dekat rumah sakit penuh orang berseragam dan bau obat batuk. Miyu menyerahkan resep, menunggu dipanggil, dan Kanata berdiri satu langkah di belakangnya membaca label vitamin di rak seolah itu dokumen kontrak.
“Atas nama Ibu Agatha,” panggil apoteker. Perempuan paruh baya itu menatap mereka bergantian sambil menyerahkan kantong putih. “Suaminya ikut menemani, ya. Ini diminum sesudah makan, jangan lupa.”
Miyu membuka mulut untuk meralat, tetapi Kanata sudah menoleh kepadanya dengan pertanyaan tanpa suara di wajahnya: boleh? Miyu mengangguk kecil.
“Saya ayah dari anaknya,” kata Kanata kepada apoteker, sopan dan jelas. “Terima kasih, Bu.”
Apoteker itu tersenyum lebih lebar. Miyu membayar vitamin dengan uangnya sendiri, mengabaikan tangan Kanata yang setengah terulur, dan Kanata menarik tangannya kembali tanpa protes.
Barulah di dalam mobil, ketika mesin dinyalakan dan AC mulai berdesis, Kanata mengambil sebuah map tipis dari kursi belakang dan menyodorkannya.
“Ini untuk kamu.”
Miyu membukanya. Kop surat sebuah perusahaan asuransi, dan di bawahnya kalimat-kalimat padat yang ia lewati: perlindungan persalinan, perawatan bayi hingga satu tahun, kamar kelas premium, dokter pilihan. Di pojok bawah ada namanya, Agatha Miyu Kouzuki, dan di sebelahnya tanda tangan Kanata sebagai pemegang polis.
“Kamu membelinya tanpa bertanya,” ujar Miyu pelan.
“Saya pikir itu bagian dari butir satu. Biaya medis.”
“Memang. Tapi cara kamu melakukannya…” Miyu menutup map itu perlahan. “Kamu menandatangani atas nama saya sebelum saya melihatnya. Itu bukan membantu, Kanata. Itu memutuskan.”
Kanata terdiam, kedua tangannya di setir.
“Santa pernah bilang saya bergerak terlalu cepat,” ujar Kanata pelan. “Saya kira ia hanya mengomel. Saya tidak bermaksud…”
“Saya tahu kamu tidak bermaksud.” Suara Miyu pecah sedikit dan ia menunduk. “Justru itu yang menakutkan. Kamu orang baik yang tidak sadar kalau kebaikanmu bisa menjadi tali. Satu per satu. Kamar rumah sakit. Biskuit. Sekarang asuransi. Saya tidak keberatan kamu membantu. Saya keberatan tidak ditanya dulu, seolah jawaban saya sudah ketahuan sebelum saya sempat membuka mulut.”
“Itu bukan tali.” Kanata menoleh ke arahnya. Ada sesuatu di wajahnya yang jarang terlihat: bukan tersinggung, bukan membela diri, tetapi bingung dengan cara orang yang baru diberi tahu bahwa air yang ia kira jernih ternyata memantulkan sesuatu yang lain. “Saya tidak tahu cara lain. Kamu bilang jadilah ayahnya. Dalam kepala saya, seorang ayah menyiapkan hal-hal seperti ini.”
“Seorang ayah bertanya dulu.” Miyu mengangkat wajah, dan matanya basah tapi tegas. “Dan kalau saya bilang ya, ia tidak menganggap ya itu hutang.”
Hening beberapa detik. Di luar jendela, seorang pengendara motor membunyikan klakson tak sabar.
“Saya mengerti,” kata Kanata. “Kamu benar. Saya seharusnya bertanya.”
“Saya tidak bilang kamu harus membatalkannya.” Miyu membuka map itu lagi dan membaca angka di bawah. “Asuransinya bagus. Saya akan memakainya. Tapi saya mau membayar separuh premi dari gaji saya setiap bulan. Bukan karena saya tidak percaya kamu, tapi karena saya mau punya bagian dari ini yang benar-benar saya putuskan sendiri.”
“Itu tidak perlu.”
“Itu perlu, buat saya.”
Kanata menatap map di tangannya, lalu Miyu, lalu map itu lagi. Ia menarik napas panjang, dan Miyu bisa melihat betapa ia berusaha keras memilih kata yang tepat. “Baik. Separuh. Dari gaji kamu, setiap bulan, dengan caramu.”
“Dengan cara saya.”
“Saya akan menerimanya sebagai… bukan pembayaran. Sebagai pilihan.”
Miyu mengangguk, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya, meski matanya masih memerah. Tetapi ketika mobil mulai bergerak dan Kanata mengurus persimpangan dengan hati-hati, Miyu menatap map di pangkuannya dan merasakan sesuatu yang tidak sepenuhnya reda. Separuh premi. Terdengar adil. Terdengar seperti jalan tengah, tetapi masih ada angka di sana, dan angka punya kebiasaan menagih.
“Kalau suatu hari saya kembali memutuskan sendiri tanpa bertanya,” kata Kanata di lampu merah, “bilang saja. Keras-keras. Saya tidak tersinggung.”
“Saya akan bilang. Mungkin dengan membanting pintu.”
“Pintu mobil ini mahal.”
“Kalau begitu saya akan bilang sebelum pintunya.”
Ponsel Kanata bergetar di dasbor. Layarnya menyala dengan satu nama, dan di bawahnya potongan pesan dalam huruf Jepang: Mikan.
Kanata hendak membalik ponsel itu, tetapi Miyu sudah membacanya. Satu baris saja, dan ia tidak sempat berpura-pura tidak mengerti: Minggu pukul sebelas aku telepon. Video. Aku ingin melihat perempuan yang membuatmu memperpanjang dinas.
Lampu berubah hijau. Kanata tidak menginjak gas.
“Saya akan menolaknya,” ujarnya pelan. “Sekarang juga.”
“Jangan.” Miyu menutup map di pangkuannya dan memandang lurus ke depan, ke jalan yang panjang dan penuh lampu belakang mobil. “Jangan jawab dulu. Tanyakan padaku, Kanata. Kamu baru saja berjanji.”
Klakson di belakang mereka meraung. Kanata menginjak pedal, dan keduanya tidak berkata apa pun sampai mobil melewati dua persimpangan lagi.