“Maaf,” ujar perawat dari ambang pintu, “kalau sudah selesai, ruangannya akan dipakai pasien berikutnya.”
Suara itu memecah keheningan seperti sendok yang jatuh di lantai marmer. Miyu terlonjak, buru-buru menurunkan kaus yang tersingkap, dan menghindari mata Kanata dengan kegigihan orang yang belajar berenang di arus. Kanata sendiri hanya berdiri dengan tangan kaku di sisi tubuh, tidak bergerak, seperti robot yang kehilangan perintah berikutnya.
“Saya tunggu di lobi,” katanya akhirnya, dengan suara yang terdengar seperti dipinjam dari orang lain.
Ia keluar. Pintu menutup. Miyu menarik napas dalam-dalam dan menyadari tangannya gemetar.
Dokter Raina, yang sedang membereskan alat, mengangkat satu alis tanpa menoleh. “Bahasa Jepang, ya, Bu Agatha?”
“Saya… pernah belajar sedikit, Dok.”
“Sedikit sekali, kelihatannya,” sahut Dokter Raina, dan senyumnya terlalu pengertian untuk dilawan.
Di lorong, Kanata berjalan sepuluh langkah, lalu berhenti dan menyandarkan dahi ke dinding yang dingin, sama sekali tidak peduli kalau ada yang melihat.
Ia mengerti. Satu kata itu sudah cukup. Dou itashimashite, sama-sama, jawaban yang tidak akan keluar dari mulut orang yang tidak paham apa yang baru saja ia dengar. Dan seluruh minggu-minggu itu berjajar di kepalanya seperti kartu yang dibuka satu per satu: Santa di ruang rawat, yang berdebat dengannya dalam bahasa Jepang tentang apakah ia terlalu dekat dengan wanita bersuami. Aku menghormati Nona Agatha dan suaminya, begitu ia sendiri mengatakannya. Dan di kafe, Santa yang berbisik, Kau menyukainya, bukan? Dan jawabannya sendiri, satu kata, Diamlah.
Semua itu terjadi di depan Miyu.
Kanata menutup wajah dengan satu tangan dan mengerang pelan, hampir tanpa suara.
Dua menit kemudian Miyu muncul di lobi dengan tas di bahu dan wajah semerah kepiting rebus. Nana berdiri di sisinya, memegang map, menatap mereka bergantian dengan curiga.
“Ada apa?” tanya Nana. “Kalian berdua seperti baru lihat hantu.”
“Bukan apa-apa,” jawab Miyu cepat.
“Bukan apa-apa,” ulang Kanata, bersamaan.
Nana menyipitkan mata. “Itu baru namanya ada apa.”
“Tuan Saionji,” kata Miyu, suaranya pelan. “Besok. Boleh kita bicara besok? Di rumah saya. Hanya kita.”
Nana membuka mulut untuk bertanya, melirik wajah sahabatnya, dan menutupnya kembali. “Gue antar lo pulang sekarang,” ucapnya. “Dan besok gue tidak datang. Percayakan.”
***
Hari Minggu turun dengan langit mendung tapi tidak hujan. Miyu menyeduh teh di dapur kecilnya sejak pukul satu, memakai teko tanah liat yang diwariskan kakeknya, dan baru berhenti mengatur letak cangkir di nampan ketika bel pintu berbunyi pukul dua lebih dua menit.
Kanata berdiri di teras dengan kemeja putih tanpa jas, tanpa dasi, tangan membawa sebuah kantong kertas kecil. Ia terlihat jauh lebih muda daripada biasanya, dan juga jauh lebih gugup.
“Saya membawa jahe manisan,” katanya. “Kalau Anda masih…” Ia berhenti. “Kalau kamu masih suka.”
Miyu terdiam dengan tangan di gagang pintu. “Kamu?”
“Maaf.” Wajah Kanata menegang. “Itu keluar sendiri. Saya… Anda pasti keberatan.”
“Tidak,” ujar Miyu, sebelum sempat berpikir. “Masuklah. Saya sudah menyiapkan teh.”
Mereka duduk di teras, di dua kursi rotan berhadapan dengan meja kecil di antaranya. Miyu menuang teh dengan gerak yang diajarkan kakeknya, pelan, dari ketinggian tertentu, tidak meneteskan setetes pun. Kanata memperhatikan tangannya tanpa berkata apa-apa.
“Saya akan mulai,” kata Miyu, menaruh teko. “Karena kalau tidak sekarang, saya tidak akan berani. Saya mengerti semua yang kalian katakan dalam bahasa Jepang sejak di rumah sakit. Semuanya. Sejak awal.”
Kanata memejamkan mata.
“Saya tidak sengaja berpura-pura. Awalnya saya tidak tahu harus bilang apa, lalu terasa terlambat, lalu makin terasa tidak mungkin.” Miyu menatap uap yang naik dari cangkirnya. “Saya mendengar kamu bilang kepada Santa bahwa kamu menghormati saya dan suami saya. Saya waktu itu tidak punya suami, dan saya hampir tertawa. Saya juga mendengar yang di kafe. Waktu Santa berbisik.”
“Kau menyukainya, bukan,” kata Kanata, lirih, tanpa membuka mata. Ia menyebutnya dalam bahasa Indonesia, seperti membacakan kesaksian terhadap dirinya sendiri.
“Dan kamu bilang, “Diamlah”.”
“Itu bukan jawaban.”
“Saya tahu. Itu sebabnya saya tidak menagih jawabannya.” Miyu menyembunyikan senyum di balik cangkir. “Setidaknya tidak sekarang.”
Kanata akhirnya membuka mata. Wajahnya merah dari leher sampai telinga, dan ia menutupnya lagi dengan satu telapak tangan. Miyu menahan tawa sampai bahunya bergetar.
“Itu tidak lucu,” gumam Kanata dari balik tangannya.
“Sedikit lucu.”
“Sangat memalukan.”
“Itu juga benar.” Miyu menatapnya. “Kamu mau menanyakan sesuatu tentang yang kamu bicarakan dengan Santa? Saya mendengar banyak.”
“Banyak sekali yang ingin saya tanyakan padamu,” jawab Kanata. “Tapi satu per satu, dan bukan hari ini.”
“Setuju.” Tawa Miyu mereda, digantikan sesuatu yang lebih lembut. “Kakek saya yang mengajari. Dari pihak ayah, keluarga Kouzuki, keturunan Jepang. Orang tua saya meninggal ketika saya sepuluh tahun, dan sejak itu hanya kakek yang tersisa. Ia mengajari saya bahasa ibunya setiap sore, sambil menyeduh teh dengan cara ini.” Ia mengangkat cangkir. “Katanya, bahasa yang tidak dipakai akan mati seperti keluarga yang tidak pernah berkumpul. Jadi saya memakainya, sendirian, di kamar.”
Kanata menurunkan tangannya perlahan. Ia tidak lagi terlihat malu. Ia terlihat seperti seseorang yang baru menerima sesuatu yang jauh lebih berharga dari yang pernah ia sadari.
“Katakan sesuatu,” pinta Kanata. “Dalam bahasa Jepang. Sekarang saya tahu kamu bisa, saya ingin mendengarnya tanpa pura-pura.”
Miyu menimbang, lalu berkata pelan, “Daijoubu.”
Hanya satu kata, tetapi ucapannya lembut, bulat, seperti teh yang dituang dari ketinggian yang benar. Kanata mendengarkan seolah itu kalimat panjang.
“Kakekmu guru yang baik,” ujarnya.
“Ia akan senang kamu bilang begitu.”
“Kouzuki,” ucapnya. “Itu nama belakangmu.”
“Ya.”
“Saya tidak pernah menghubungkannya dengan bahasa Jepang. Saya kira itu hanya… nama.”
“Ia hanya nama bagi banyak orang. Bagi saya itu semua yang tersisa.”
Mereka minum dalam diam. Di luar, rintik hujan pertama jatuh di atap seng, kecil dan tak terburu-buru.
“Boleh saya bertanya satu hal, bukan tentang Santa?” kata Kanata setelah cangkir kedua.
“Silakan.”
“Waktu Dokter Raina memutar rekaman detak jantung itu, kamu mengatakan sesuatu pelan sekali. Saya tidak menangkapnya.”
Miyu terdiam. Jemarinya menyusuri tepi cangkir. “Saya bilang, “Hai, kamu di situ rupanya”,” ujarnya. “Dalam bahasa Jepang. Kata kakek, kalau ingin menyapa seseorang yang belum pernah kita temui, sapalah dengan bahasa yang paling kita percaya.”
Kanata tidak menjawab segera. Ia menatap perut Miyu, lalu ke cangkirnya, lalu ke hujan.
“Boleh saya ikut menyapa,” katanya akhirnya, “kalau suatu hari kamu mengizinkan saya dekat?”
“Boleh. Tapi bukan hari ini juga.”
“Bukan hari ini,” sepakat Kanata. Ia tersenyum, sangat tipis, dan Miyu menyadari ia baru saja melihat senyum itu untuk pertama kalinya tanpa ada kepura-puraan di baliknya.
“Satu hal lagi,” kata Miyu. “Kalau kita akan jadi orang tua bersama, rasanya aneh kalau saya terus memanggil kamu Tuan Saionji. Seperti dua orang di ruang rapat. Saya mau memanggil kamu Kanata. Dan kamu boleh memanggil saya Miyu.”
“Miyu,” ujar Kanata, mencoba. Nama itu terdengar berbeda di mulutnya, lebih pendek, lebih jujur. “Saya dan kamu.”
“Saya dan kamu,” ulang Kanata. “Baik.”
“Kanata,” kata Miyu, dan keduanya diam sebentar karena aneh, canggung, sekaligus entah bagaimana benar.
Kanata merogoh saku kemejanya. Dari sana ia mengeluarkan cetakan kecil abu-abu yang terlipat dua, yang tadi ia pindahkan dari jas supaya tidak tertinggal, lalu membuka dompetnya, dompet hitam tipis yang selalu terisi kartu nama, dan menyelipkan gambar itu di belakang deretan kartu, di tempat yang sama dengan kartu miliknya sendiri.
“Di sini,” ujarnya. “Supaya selalu ada yang menemani.”