Tawaran Pak Damar masih tergeletak di atas meja rapat ketika Arman menyadari, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia dan Nadia tidak berada di sisi yang sama.
Surel dari Garda itu rapi seperti biasa: akuisisi sebagian saham, satu kursi di dewan untuk perwakilan Garda, dan dana ekspansi nasional yang angkanya membuat ruko kecil mereka terasa makin sempit. Bukan akuisisi penuh seperti yang dulu ditawarkan Pak Wira. Garda mengaku ingin "berjalan bersama, bukan menelan". Dan kalimat itulah yang menahan Arman untuk tidak langsung menolaknya seperti dulu.
"Coba kita pikir dingin," kata Arman, menutup laptop di ruang rapat yang sebenarnya cuma meja panjang bekas kantin. "Ekspansi nasional, Nad. Dengan uang sendiri, kita butuh tiga tahun buat masuk sepuluh provinsi. Dengan ini, mungkin setahun. Itu artinya ribuan pedagang lagi yang nggak rugi. Bukankah itu yang kita mau dari awal?"
Nadia melipat tangan. Rambutnya diikat asal seperti biasa, tapi ada garis lelah baru di wajahnya. "Kita mau bantu pedagang. Bukan jadi cabang Garda."
"Mereka bilang kita tetap pegang kendali produk."
"Mereka bilang." Nadia menekankan dua kata itu. "Pak Wira juga dulu bilang dia nggak akan nyentuh harga, Man. Kamu masih inget halaman tujuh?"
Arman menahan diri. Itu pukulan yang tidak adil, dan Nadia tahu, tapi ia melemparkannya juga. "Garda bukan Pak Wira."
"Aku nggak bilang mereka jahat." Nadia menarik napas, mencoba menurunkan nada. "Aku bilang mereka besar. Dan yang besar itu, walaupun nggak jahat, selalu nelan yang kecil pelan-pelan. Bukan karena niat. Karena ukuran. Begitu mereka pegang saham, prioritas mereka prioritas kita. Tiap rapat dewan, kita harus jawab ke orang yang ngukur kita pakai grafik, bukan pakai wajah Pak Haji."
Reza, yang duduk di sudut pura-pura sibuk dengan kodenya, mengangkat kepala sebentar lalu kembali menunduk. Sinta, di seberang, jelas-jelas memasang telinga sambil mengetik laporan komunitas. Mereka tahu ini bukan rapat biasa. Selama ini Arman dan Nadia bisa berdebat soal warna tombol atau urutan fitur sampai subuh, tapi selalu berakhir di tempat yang sama. Kali ini, untuk pertama kalinya, keduanya tampak berdiri di tepi jurang yang berbeda.
"Nad," kata Arman, suaranya pelan tapi keras kepala, "aku capek main aman. Tiap kita main aman, kita kecil terus, dan tiap kita kecil, ada pedagang di luar sana yang masih rugi karena belum kena Stok Pintar. Aku nggak mau idealisme kita jadi alasan buat nggak tumbuh."
"Dan aku nggak mau ambisi kita jadi alasan buat ngulang kesalahan." Nadia menatapnya lurus. "Aku bukan mau main aman, Man. Aku mau main bener. Itu beda."
Hening yang turun di antara mereka berbeda dari hening-hening sebelumnya. Bukan hening lelah yang nyaman, bukan hening dua orang yang sefrekuensi. Ini hening dua orang yang baru sadar bahwa mereka tidak selalu satu kepala.
Arman memungut ponselnya, membuka kembali angka di surel Garda. Ia tahu Nadia benar tentang banyak hal. Tapi ia juga tahu sesuatu yang tidak ia katakan: bahwa sebagian dari keinginannya ini bukan soal pedagang, melainkan soal dirinya. Soal anak kos 3x4 yang dulu ditertawakan, yang ingin sekali membuktikan ia bisa besar tanpa harus mengemis. Pengakuan itu malu untuk diucapkan, jadi ia menelannya.
"Kita nggak harus mutusin hari ini," kata Arman akhirnya.
"Kita juga nggak harus mutusin sendiri-sendiri," balas Nadia. "Keputusan dibagi dua. Itu syaratku dari hari pertama di Kafe Tanduk. Inget?"
"Aku inget." Arman menatapnya. "Tapi keputusan dibagi dua artinya kita dua-duanya harus yakin. Sekarang kamu yakin nggak, aku yakin iya. Terus gimana?"
Nadia tidak menjawab. Ia memungut tasnya, menyampirkannya ke bahu. "Aku perlu udara," katanya, dan untuk sesaat Arman teringat malam bertahun-tahun lalu di kos sempit, ketika kalimat yang sama mendahului pintu yang dibanting.
Tapi Nadia tidak membanting apa pun kali ini. Ia hanya keluar pelan, melewati Reza yang menunduk dan Sinta yang menahan napas, dan menutup pintu ruko dengan hati-hati. Justru kehati-hatian itu yang membuat Arman merasa lebih cemas daripada kalau pintu itu dibanting.
Reza akhirnya angkat bicara, suaranya canggung. "Mas, saya lanjutin deploy yang tadi atau...?"
"Lanjut aja, Za," kata Arman, menatap pintu yang baru saja tertutup. Di luar, ia bisa melihat siluet Nadia berdiri di trotoar, memunggungi kaca, memandang jalan. Untuk pertama kalinya sejak mereka berhenti jadi musuh, ada jarak di antara mereka yang tidak bisa ia jangkau dengan satu langkah.
Ia membuka buku catatan lusuhnya, yang sekarang selalu ia bawa di tas. Mulai dari nol. Bantu warung kecil jangan rugi. Tulisan itu tidak berkata apa-apa soal seberapa besar mereka harus tumbuh. Dan untuk pertama kalinya, Arman tidak yakin tulisan itu memihak siapa.