Surel itu datang di pagi yang biasa, di antara puluhan email keluhan pedagang dan tagihan server. Tapi nama pengirimnya membuat Arman berhenti mengunyah rotinya. Garda. Perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara. Dan di bawahnya, satu nama yang sudah lama tidak ia dengar: Pak Damar.
Mereka pernah bertemu Garda berbulan-bulan lalu, di awal setelah cerita viral mereka. Saat itu Pak Damar menawarkan kemitraan distribusi dengan syarat berbagi data pengguna—syarat yang Arman tolak, karena akan mengkhianati janji "milik pedagang selamanya". Pak Damar saat itu hanya tersenyum dan berkata "pintu kami selalu terbuka". Kalimat itu kini kembali, dalam bentuk undangan baru.
"Mereka mau ketemu lagi," kata Arman, memutar laptop agar Nadia bisa membaca. "Tapi kali ini beda. Baca."
Nadia membaca, dan alisnya naik. Tawaran kali ini tidak lagi soal sekadar distribusi. Garda menawarkan akuisisi sebagian—membeli porsi saham Stok Pintar, memberi mereka kursi di dewan Garda, dan menyuntikkan dana besar untuk ekspansi ke seluruh negeri, bahkan ke negara tetangga. Angka yang disebut membuat ruangan terasa berputar, seperti dulu di lantai dua puluh kantor Pak Wira.
"Mereka liat kita menang lawan StokJaya," kata Nadia pelan. "Mereka liat pengguna kita melonjak. Sekarang mereka mau masuk pas kita lagi naik daun."
Arman bersandar di kursinya. Ada perbedaan besar antara tawaran ini dan tawaran Pak Wira dulu. Garda bukan penjebak. Mereka raksasa yang efisien, yang ingin tumbuh dengan membeli yang menjanjikan. Tidak ada klausul halaman tujuh, setidaknya belum—Pak Gunawan harus membaca semuanya dulu, baris demi baris. Tapi godaannya sama besarnya: skala. Dengan dana dan jaringan Garda, Stok Pintar bisa menjangkau jutaan pedagang dalam setahun, bukan ribuan dalam beberapa tahun. Mimpi yang dulu terasa mustahil bisa terwujud dalam satu tanda tangan.
"Kamu mikirin apa?" tanya Nadia, mengawasi wajahnya.
"Aku mikirin," kata Arman jujur, "berapa banyak pedagang yang bisa kita bantu kalau kita gede sepuluh kali lipat. Berapa banyak warung yang nggak akan tutup. Ibu-ibu kayak ibuku, yang mungkin bisa kita selamatin lebih cepat." Ia berhenti. "Tapi aku juga mikirin, apa yang kita kasih sebagai gantinya. Kursi dewan, sebagian saham, sebagian kendali. Kita pernah belajar mahal soal nyerahin kendali, Nad."
Nadia mengangguk, tapi wajahnya tidak setegas biasanya. "Tapi Garda bukan Pak Wira. Mereka nggak ngincer ngehancurin kita. Mereka cuma... mau efisien. Mau gede. Mungkin kita bisa naik di punggung mereka tanpa kehilangan jiwa kita. Mungkin."
Itu pertama kalinya, sejak lama, Arman mendengar Nadia mengatakan "mungkin" pada tawaran besar—dan itu membuatnya sedikit gentar. Selama ini Nadia selalu menjadi yang paling waspada, yang paling cepat mencium kail di balik madu. Kalau bahkan Nadia mulai goyah, berarti godaan ini berbeda. Lebih halus. Lebih bersih. Dan justru karena itu, lebih berbahaya.
"Kita nggak bilang iya, dan kita nggak bilang nggak," kata Arman akhirnya. "Kita datang, kita dengar, kita pelajari. Kita bawa Pak Gunawan. Kita baca tiap baris. Kita nggak diburu-buru kayak dulu." Ia menatap Nadia. "Tapi sebelum itu, aku mau kita sepakat satu hal. Apa pun yang kita putusin nanti, kita putusin berdua. Bukan karena angkanya gede. Tapi karena kita masih inget kenapa kita mulai."
Nadia menatapnya lama, dan ketegangan di antara mereka—ketegangan yang belum mereka sadari mulai tumbuh—mengendur sejenak. "Berdua," katanya pelan. "Selalu."
Tapi malam itu, saat Arman membalas surel Garda untuk menyetujui pertemuan, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Bukan firasat buruk seperti dulu pada Pak Wira. Tapi sesuatu yang lebih rumit—godaan yang masuk akal, yang menjanjikan kebaikan lebih besar, dan justru karena itu, mulai membuat ia dan Nadia, untuk pertama kalinya sejak lama, melihat ke arah yang sedikit berbeda.