Ruang sidang itu tidak megah seperti yang dibayangkan Arman. Catnya kusam, kipas angin di langit-langit berputar malas, dan kursi pengunjung berderit setiap kali ada yang bergeser. Tapi di ruangan sederhana inilah, untuk pertama kalinya sejak gugatan datang, Arman merasa tanah di bawah kakinya tidak sepenuhnya pasir.
Pengacara StokJaya datang berjas mahal, tiga orang, dengan map tebal dan rasa percaya diri yang tampak dari cara mereka menata pena di meja. Pak Gunawan datang sendiri, map yang lebih tipis, tapi di dalamnya tersimpan dua hal yang tidak mereka punya: arsip server lama yang dipulihkan Reza, dan seorang saksi.
Bukti server itu yang pertama dibuka. Reza, gugup tapi runtut, menjelaskan bagaimana ia memulihkan arsip dari server tua yang hampir dibuang—server kecil yang dulu dibeli Arman dari hasil menjual motornya. Di dalamnya ada catatan waktu yang tidak bisa dipalsukan: setiap versi `stokpintar_core` tercatat tanggal pembuatannya, jauh sebelum StokJaya ada. Pak Gunawan menampilkan jejak itu di layar, baris demi baris, tanggal demi tanggal.
"Yang Mulia," kata Pak Gunawan tenang, "penggugat mengklaim mesin ini milik mereka lebih dulu. Tapi catatan teknis ini menunjukkan kode inti sudah ada dan dikembangkan oleh klien kami berbulan-bulan sebelum perusahaan penggugat berdiri. Tidak ada yang bisa memiliki sesuatu yang belum ada."
Pengacara StokJaya tampak tidak goyah. "Catatan digital bisa dimanipulasi, Yang Mulia. Tanggal bisa diubah."
Pak Gunawan tersenyum tipis. "Benar. Maka kami tidak hanya membawa catatan. Kami membawa orang yang tahu persis bagaimana kode itu berpindah tangan."
Lalu Bayu dipanggil.
Arman menahan napas saat melihat mantan sahabatnya berjalan ke depan, langkahnya pelan, bahunya membungkuk seperti memikul beban yang tak terlihat. Di kursi saksi, di bawah sumpah, Bayu berbicara dengan suara yang awalnya gemetar lalu pelan-pelan mengeras menjadi sesuatu yang menyerupai keberanian.
Ia menceritakan semuanya. Tawaran dari orang yang mengaku asisten Pak Wira. Malam ketika ia mengunduh file itu dari akun sendiri. Flashdisk yang berpindah tangan di parkiran mal. Uang muka yang ditransfer hari itu juga. Ia bahkan menyebut tanggal, nama yang ia catat, dan jumlah yang ia terima. Setiap kalimatnya adalah pisau yang ia tusukkan ke dirinya sendiri.
Wajah para pengacara StokJaya berubah. Yang tadinya tenang mulai berbisik gugup satu sama lain. Salah satu dari mereka bangkit untuk menyanggah, tapi pertanyaannya justru membuat Bayu mengulang dengan lebih jelas, lebih rinci, lebih telanjang.
"Saudara saksi," kata pengacara itu akhirnya, putus asa, "Anda sadar Anda mengaku melakukan tindak pidana?"
Bayu menatapnya. "Iya, Pak. Saya sadar. Saya nyolong kode itu, dan saya jual. Saya nggak nyalahin siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Tapi yang nyuruh, yang bayar, yang nyimpen kodenya sekarang—itu mereka."
Ruang sidang sunyi. Bahkan kipas angin di langit-langit terdengar lebih keras dari biasanya.
Gugatan StokJaya runtuh hari itu, lapis demi lapis. Hakim menunda untuk putusan, tapi setiap orang di ruangan tahu arahnya. Cerita yang mereka bangun—bahwa Stok Pintar pencuri—hancur oleh kesaksian orang yang justru mencuri untuk mereka.
Tapi ketika Arman keluar dari ruang sidang, lega itu tidak utuh. Pak Gunawan berjalan di sampingnya, wajahnya tidak sepenuhnya puas.
"Kita menang melawan gugatannya," kata Pak Gunawan pelan. "Tapi Mas perlu tahu satu hal. Sepanjang persidangan, nama Pak Wira tidak pernah muncul dalam dokumen mana pun. Yang dituduh Bayu cuma 'orang yang mengaku asisten'. Tidak ada kontrak tertulis, tidak ada transfer dari rekening pribadi Pak Wira, tidak ada satu pun jejak yang mengikat langsung ke dia."
Arman berhenti melangkah. "Maksud Pak Gunawan?"
"Maksud saya," kata Pak Gunawan, menatapnya lurus, "Pak Wira memutus setiap benang sebelum benang itu sampai ke tangannya. StokJaya kalah. Tapi Pak Wira sendiri—dia berdiri bersih di atas reruntuhan, dan tangannya tidak kotor sedikit pun di mata hukum."
Di seberang halaman pengadilan, Arman melihat sebuah mobil hitam mengkilap meninggalkan area parkir dengan tenang. Ia tidak bisa melihat siapa di dalamnya. Tapi ia tahu, di suatu tempat, seseorang sedang tersenyum hangat seperti biasa, dan sama sekali tidak tergores.