Warung mie depan kampus lama nyaris tidak berubah dalam dua tahun. Bangku kayu yang sama, lampu neon yang berkedip di salah satu ujungnya, dan bau bawang goreng yang menempel di udara. Arman datang bersama Nadia dan Pak Gunawan, pengacara muda yang dihubungkan Bu Linda kepada mereka. Pak Gunawan membawa map dan perekam suara kecil, wajahnya tenang tapi matanya awas.
Bayu sudah duduk di pojok ketika mereka tiba. Ia lebih kurus dari yang Arman ingat, dengan lingkar hitam di bawah mata dan kemeja yang sudah lusuh di kerahnya. Begitu melihat Arman, ia berdiri canggung, lalu tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya.
"Man," katanya parau.
Arman tidak menjabat tangan itu. Ia hanya mengangguk dan duduk. Nadia duduk di sebelahnya, menatap Bayu dengan tatapan yang tidak ramah tapi tidak juga benci—tatapan orang yang sedang menimbang.
Pak Gunawan yang memecah kebekuan. "Mas Bayu, saya pengacara mereka. Sebelum kita mulai, saya perlu Mas paham: apa pun yang Mas katakan di sini, kalau nanti jadi kesaksian resmi, konsekuensinya nyata. Mas bisa dituntut balik. Nama Mas akan ada di dokumen pengadilan. Saya tidak mau Mas memutuskan ini dengan setengah hati lalu mundur di tengah jalan. Itu lebih berbahaya buat semua orang."
Bayu mengangguk pelan. Ia memutar gelas teh di depannya tanpa meminumnya. "Saya ngerti, Pak." Ia menarik napas. "Dua tahun lalu, orangnya Pak Wira datang ke saya. Bukan Pak Wira langsung—asistennya, namanya saya catat. Mereka tau istri saya baru lahiran, tau saya butuh uang. Mereka nawarin gaji tetap, bonus, asal saya bawa apa yang saya tau dari Stok Pintar. Mereka bilang terang-terangan: mereka mau mesin intinya."
Pak Gunawan menyalakan perekam, setelah memberi isyarat dan Bayu mengangguk setuju. "Lanjut."
"Saya unduh file `stokpintar_core` dari server, dini hari, pakai akun saya sendiri. Saya kasih ke mereka lewat flashdisk, di parkiran sebuah mal. Mereka transfer uang muka hari itu juga." Bayu menunduk, suaranya makin pelan. "Jadi waktu sekarang mereka bilang StokJaya yang punya kodenya duluan—itu bohong. Saya yang bawa kode itu ke mereka. Dari Arman. Saya saksinya. Saya pelakunya."
Ruangan kecil itu hening. Hanya suara wajan dari dapur warung dan neon yang berkedip. Arman menatap mantan sahabatnya, dan di dadanya bergulat dua hal yang tidak bisa berdamai: rasa sakit lama yang belum sembuh, dan sesuatu yang menyerupai—ia benci mengakuinya—rasa kasihan.
"Kamu sadar," kata Nadia akhirnya, suaranya tajam tapi terkendali, "kalau kamu bersaksi begini, Pak Wira nggak akan diam. Dia bisa pecat kamu. Dia bisa bikin hidup kamu susah. Istri kamu, anak kamu—mereka ikut kena."
Bayu mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya matanya tidak menghindar. "Saya udah mikirin itu tiap malam, Mbak. Tapi saya kasih anak saya susu dari uang hasil ngejual temen saya sendiri. Tiap saya beliin dia sesuatu, saya inget mukanya Arman waktu tau saya pergi." Suaranya pecah sedikit. "Saya nggak bisa hidup kayak gitu terus. Lebih baik saya susah tapi bisa natap anak saya."
Pak Gunawan menulis sesuatu di mapnya, lalu menatap Arman. "Keputusan ada di Mas Arman dan Mbak Nadia. Kesaksian ini bisa menyelamatkan kasus kalian. Tapi saya tidak bisa menjamin keselamatan Mas Bayu. Yang bisa saya lakukan cuma memastikan kesaksiannya sah, terdokumentasi, dan dia tidak sendirian menghadapinya."
Arman menatap teh di hadapan Bayu yang masih utuh, uapnya sudah lama hilang. Ia teringat halaman pertama buku catatannya. Mulai dari nol. Ia juga teringat klausul halaman tujuh yang dulu nyaris menjebaknya—betapa orang bisa menyembunyikan kail di balik madu. Bayu menawarkan kebalikannya: madu yang pahit, kebenaran yang merugikan diri sendiri.
"Kamu mau jadi saksi resmi," kata Arman pelan, "di pengadilan. Di bawah sumpah. Walaupun itu berarti kamu yang hancur duluan."
Bayu menatapnya. "Iya, Man. Itu satu-satunya cara saya bisa bayar utang saya ke kamu. Bukan utang uang. Utang yang lain."
Arman menoleh ke Nadia. Nadia menatapnya lama, lalu mengangguk samar—keputusan dibagi dua, dan kali ini mereka satu suara. Arman berbalik ke Pak Gunawan.
"Siapkan kesaksiannya," katanya. "Resmi. Lengkap. Dan Pak—" ia berhenti, menelan sesuatu di tenggorokannya, "—pastikan dia nggak sendirian."