Bug itu ditemukan Reza pada Selasa malam, dan ia tidak tidur sampai subuh memastikannya. Ketika Arman datang ke ruko pagi-pagi, Reza sudah di sana, mata merah, dikelilingi cangkir kopi kosong, dan wajahnya pucat oleh sesuatu yang lebih dari sekadar kurang tidur.
"Mas," katanya tanpa basa-basi, "ada masalah di mesin prediksinya. Serius."
Arman menaruh tasnya, jantungnya langsung berpacu. "Masalah gimana?"
Reza memutar layar. Ia menunjukkan deretan data, lalu sebuah grafik. "Mesin ringan kita yang jalan di HP murah—biar cepet, kita pangkas banyak perhitungan, kan? Nah, di kebanyakan kasus hasilnya oke, cuma meleset dikit, masih wajar. Tapi saya nemu pola: buat pedagang yang jualannya musiman banget—yang ramenya cuma pas hari tertentu, kayak penjual yang laku keras pas gajian atau hari pasaran—prediksinya bisa salah jauh. Bukan meleset dikit. Salah parah. Bisa nyuruh mereka kulak banyak pas harusnya sepi, atau sebaliknya."
Arman menatap grafik itu, dan perutnya mengencang. Ini bukan bug kosmetik. Ini menyentuh inti dari janji mereka: bantu warung kecil jangan rugi. Kalau prediksi mereka menyuruh seorang pedagang kulak banyak di hari yang ternyata sepi, mereka tidak menolong—mereka justru membuat pedagang itu rugi. Persis hal yang mereka bersumpah untuk dicegah.
"Berapa banyak pedagang yang kena?" tanya Arman.
"Nggak banyak. Mungkin satu dari dua puluh. Tapi yang kena, kenanya parah, Mas. Dan kita lagi ekspansi—makin banyak pedagang musiman bakal masuk."
Saat itulah Nadia datang, dan setelah mendengar penjelasan, ruko kecil itu berubah jadi ruang perdebatan. Karena ternyata ada dua cara memperbaikinya, dan keduanya bertabrakan.
"Gampang," kata Reza, yang sebagai engineer ingin solusi yang benar. "Kita tambahin perhitungan musiman yang lebih akurat ke mesinnya. Saya udah coba, hasilnya jauh lebih bener. Tapi—" ia ragu sejenak, "—itu bikin mesinnya lebih berat. Aplikasinya bakal lebih lemot di HP murah, dan butuh ruang penyimpanan lebih banyak."
"Berapa lemot?" tanya Nadia, langsung menangkap masalahnya.
"Buat HP yang agak baru, nggak kerasa. Buat HP paling murah—yang dipakai pedagang paling miskin di pelosok—bisa kerasa banget. Mungkin nge-lag tiap buka."
Dan di situlah jebakan itu. Memperbaiki akurasi untuk segelintir pedagang musiman berarti memperlambat aplikasi untuk pedagang paling miskin—yang justru paling membutuhkan dan paling tak mampu beli ponsel baru. Akurasi melawan kecepatan. Yang sedikit melawan yang banyak. Tidak ada jawaban yang sempurna.
"Kita harus utamain akurasi," kata Reza tegas. "Aplikasi yang ngasih prediksi salah itu lebih bahaya daripada aplikasi yang lemot. Mending lemot tapi bener."
"Tapi kalau lemot, pedagang miskin malah berhenti pakai," balas Nadia. "Buat mereka, HP nge-lag itu bukan masalah kecil. Mereka bisa nyerah, balik nebak pakai feeling, terus rugi lagi. Kita malah nyelametin yang sedikit, ngorbanin yang banyak."
Suara mulai meninggi. Reza, yang biasanya tenang, terdorong oleh kelelahan dan idealisme engineer-nya. "Jadi kita biarin aja prediksi salah parah buat pedagang musiman? Itu juga ngorbanin orang, Mbak!"
Ruko itu memanas. Dan di tengahnya, Arman merasakan sesuatu yang asing dan menakutkan: ini retak pertama dalam timnya. Bukan pengkhianatan seperti Bayu—ini justru retak karena dua orang baik yang sama-sama benar, sama-sama peduli, menarik ke arah berlawanan. Dan semua mata, perlahan, beralih padanya. Menunggu keputusan bos.
Insting lama Arman menyala: ambil alih, putuskan sendiri, kunci semuanya, jangan biarkan ada konflik. Itu yang akan ia lakukan dulu—mengontrol berlebihan karena takut kehilangan kendali. Tapi ia ingat kata Nadia soal Bayu, soal Reza, soal jangan mengurung orang di kotak kecil. Memimpin bukan berarti mematikan suara orang lain.
"Stop dulu," kata Arman, dan suaranya tenang, membuat keduanya terdiam. "Reza, kamu bener. Prediksi salah itu ngerusak janji kita. Nadia, kamu juga bener. Bikin aplikasi nggak kepakai sama yang paling miskin juga ngerusak janji kita. Kalian dua-duanya bener, dan itu masalahnya."
Ia berdiri, mendekati papan tulis kecil yang baru mereka beli. "Jadi kita nggak pilih satu ngalahin yang lain. Kita cari jalan ketiga." Ia menggambar dua kotak. "Reza—mungkin nggak, mesin berat yang akurat ini cuma nyala buat pedagang yang kita deteksi musiman? Yang jualannya stabil, tetep pakai yang ringan dan cepet. Yang musiman, baru kita aktifin yang berat. Jadi yang lemot cuma yang emang butuh akurasi ekstra, bukan semua orang."
Reza terdiam, mata merahnya berkedip, lalu menatap layar. "Itu... bisa, sih. Mesinnya pilih sendiri mode mana yang dipakai, tergantung pola jualan pedagangnya. Saya butuh beberapa hari, tapi bisa."
"Dan buat pedagang paling miskin yang HP-nya bener-bener nggak kuat," tambah Nadia pelan, "kita kasih pilihan. Jujur aja ke mereka: 'mode akurat ini lebih bener tapi lebih berat, mau pakai nggak?' Biar mereka yang milih. Jangan kita yang mutusin diam-diam buat mereka."
Arman mengangguk, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ketegangan di ruko mengendur. "Itu dia. Kita jujur soal pilihannya, kita kasih kendali ke pedagangnya. Sama kayak yang kita janjiin: ini punya mereka, termasuk keputusannya."
Reza menarik napas panjang, dan tersenyum lelah. "Maaf ya, Mas, Mbak. Saya kebawa emosi. Capek mungkin."
"Nggak usah minta maaf," kata Arman, dan ia benar-benar maksud. "Kamu nemuin bug yang bisa ngerugiin pedagang, terus kamu nggak tidur semalaman buat mastiin. Itu bukan yang harus minta maaf. Itu yang harus dipertahanin."
Setelah Reza pulang istirahat dan Sinta sibuk dengan komunitas, Nadia menatap Arman dengan ekspresi yang Arman kenal—campuran bangga dan geli.
"Apa?" tanya Arman.
"Nggak," kata Nadia, tersenyum. "Cuma... dulu, kalau ada konflik kayak gini, kamu bakal ambil alih, kunci semua, mutusin sendiri, terus diam-diam takut ada yang ngkhianatin. Tadi kamu beda. Kamu biarin mereka berdebat, terus kamu cari jalan yang nggakngalahin siapa-siapa." Ia melipat tangan. "Kayaknya kamu mulai bisa mimpin orang, Man. Bukan cuma mimpin kode."
Arman menatap papan tulis dengan dua kotak yang ia gambar, lalu menatap pintu ruko tempat Reza baru saja keluar—pergi pulang untuk tidur, bukan pergi membawa rahasia mereka ke musuh. Retak pertama dalam timnya, ternyata, tidak melebar jadi jurang. Justru di tempat retak itu, sesuatu yang baru tumbuh: kepercayaan yang dibangun lewat konflik, bukan dimatikan oleh ketakutan.
"Masih banyak yang harus aku pelajarin, Nad," kata Arman pelan.
"Iya," jawab Nadia, mengambil tasnya untuk pergi ke pasar. "Tapi setidaknya kali ini kamu belajarnya bener."