Pak Haji datang ke ruko pada suatu pagi yang basah, membawa rantang berisi pisang goreng yang masih hangat, dan wajah yang sama penuh rasa bersalah seperti hari ia datang ke kos Arman dulu untuk berpamitan pindah ke StokJaya.
"Le," katanya, meletakkan rantang di meja kerja, "Bapak mau minta maaf. Beneran minta maaf."
Arman mengangkat wajah dari laptop, dan untuk sesaat waktu berputar mundur. Pisang goreng. Pak Haji. Rasa bersalah. Ia ingat betul betapa hancur dirinya hari itu, betapa ia menangis setelah pria tua ini pergi membawa "yang gratis enam bulan". Tapi sekarang Arman tersenyum, dan tidak ada lagi luka di senyum itu.
"Pak Haji nggak perlu minta maaf," kata Arman. "Bapak waktu itu ambil yang terbaik buat warung Bapak. Itu hak Bapak."
"Tapi Bapak salah, Le." Pak Haji duduk, menghela napas berat, tangannya yang keriput melipat di pangkuan. "Yang gratis itu... ya gratis enam bulan. Habis itu naik, Le. Naik terus. Bulan kemarin Bapak ditagih, mahal, sama disuruh bayar tambahan kalau mau fitur yang dulunya gratis. Bapak komplain, malah dijawab robot. Nggak ada orangnya." Ia menggeleng-geleng. "Persis kayak yang Le Arman omongin dulu. Bapak nggak percaya. Sekarang Bapak percaya."
Arman dan Nadia, yang baru masuk membawa kopi, bertukar pandang. Inilah yang mereka ramalkan sejak masa paling kelam mereka—jebakan "gratis lalu dicekik" yang sama dengan kail Pak Wira, hanya berganti baju. StokJaya membakar uang untuk menggratiskan di awal, menunggu pedagang bergantung, lalu menaikkan harga ketika mereka sudah tak bisa lepas. Tapi mendengarnya langsung dari mulut Pak Haji—pria yang dulu jadi duta tak resmi mereka—tetap terasa seperti pukulan yang lama tertunda akhirnya jatuh, di tempat yang benar.
"Jadi Bapak balik?" tanya Nadia lembut.
"Kalau Le Arman sama Mbak Nadia masih mau nerima Bapak," kata Pak Haji, dan ada kelembutan tua di matanya. "Bapak udah hapus yang itu. Bapak mau yang ini lagi. Yang jujur. Yang Bapak ngerti dibayar buat apa."
"Pak," kata Arman, dan suaranya sedikit serak, "Bapak itu pengguna pertama kami. Dari Bapak semua ini mulai. Rumah Bapak di sini selamanya. Nggak ada hapus-hapusan."
Pak Haji tersenyum lebar, lega, dan menyodorkan rantang. "Makan dulu, Le. Istri Bapak yang bikin. Masih hangat."
Mereka makan pisang goreng bersama—Arman, Nadia, Reza, Sinta, dan Pak Haji—di ruko sempit dengan kipas angin yang berputar malas. Dan di sela kunyahan, Pak Haji mulai bercerita, dan ceritanya yang membuat Arman menaruh pisang gorengnya dan mendengarkan serius.
"Le, Bapak ini kan udah lama jualan. Bapak kenal banyak. Ada paguyuban pedagang di pasar-pasar, ada arisan tukang warung, ada grup-grup. Bapak ini orang tua, dipercaya orang. Banyak yang nanya ke Bapak, 'Ji, aplikasi yang bener yang mana? Yang nggak nipu yang mana?'" Pak Haji menatap Arman. "Selama ini Bapak nggak berani rekomen apa-apa karena Bapak sendiri ketipu. Tapi sekarang, kalau Le Arman izinin, Bapak mau cerita ke mereka. Bapak mau jadi... apa itu istilahnya?"
"Duta," kata Sinta, matanya berbinar. "Bapak mau jadi duta kita."
"Iya itu. Duta." Pak Haji tertawa, gigi-giginya yang tinggal sedikit terlihat. "Tapi bukan duta yang dibayar, lho, Le. Bapak nggak mau dibayar. Bapak cerita karena Bapak ngerasain sendiri ini bener. Kalau dibayar, nanti Bapak kayak iklan, orang nggak percaya."
Arman terdiam, dan di kepalanya sesuatu mulai berputar. Selama ini mereka tumbuh dari mulut ke mulut, satu pedagang merekomendasikan ke pedagang lain. Tapi yang ditawarkan Pak Haji lebih besar: pintu ke jaringan komunitas pedagang yang sudah ada—paguyuban, arisan, grup pasar—yang dipimpin oleh orang-orang tua yang dipercaya seperti dirinya. Itu bukan sekadar tambahan pengguna. Itu jalan masuk ke jantung kepercayaan akar rumput yang tidak bisa dibeli Garda dengan uang sebanyak apa pun.
"Pak Haji," kata Arman pelan, "Bapak baru aja nawarin sesuatu yang lebih berharga dari semua yang ditawarin perusahaan gede ke kami."
Pak Haji mengernyit, tidak mengerti. "Bapak cuma nawarin cerita ke temen-temen, Le."
"Justru itu, Pak." Arman tersenyum. "Perusahaan gede punya uang banyak, tapi mereka nggak punya Pak Haji. Mereka nggak punya orang yang dipercaya pedagang lain selama puluhan tahun. Itu nggak bisa dibeli."
Setelah Pak Haji pulang—dengan rantang kosong dan janji akan mengajak Arman ke pertemuan paguyuban pedagang minggu depan—Arman dan Nadia berdiri di depan ruko, menatap gang yang basah sehabis hujan.
"Lucu ya, Man," kata Nadia. "Garda nawarin kita dua juta pengguna lewat menara kaca, kita tolak. Pak Haji nawarin kita ratusan pedagang lewat pisang goreng, kita terima."
"Karena yang Pak Haji tawarin nggak minta jiwa kita sebagai bayaran," jawab Arman. "Dia cuma minta kita tetap jujur. Itu harga yang sanggup kita bayar."
Nadia tersenyum, dan menatap rantang kosong yang masih tertinggal di meja lewat pintu kaca. Pisang goreng yang sama, dari tangan yang sama, di hari yang dulu menandai titik terendah mereka—kini menandai sebuah pintu yang terbuka lebar ke depan. Lingkaran itu menutup, dan menutupnya dengan manis.