Pagi datang kelabu. Alga tidak tidur.
Ia duduk di lantai kamar kos Renjana—tempat persembunyian sementara yang mereka pilih karena bukan kamar Alga sendiri—menatap buku kulit dan setumpuk foto yang teremas. Setengah buram. Sebagian terpotong cahaya. Bukti yang mereka pertaruhkan nyawa, dan separuhnya tak terbaca.
Renjana berdiri di jendela, menelepon dengan suara rendah. Saat ia menutup ponsel, wajahnya yang biasa datar tampak lebih tua sepuluh tahun.
"Sekar baru saja dari rumah sakit," kata Renjana. "Pengumuman pagi tadi di apel pegawai." Ia diam sejenak. "Pak Gunawan, petugas kebersihan malam, ditemukan jatuh dari tangga servis sekitar pukul empat dini hari. Kepala terbentur. Sekarang koma di ICU."
Alga merasa lantai miring.
"Jatuh dari tangga," ulang Alga. Mati rasa. "Sama seperti—"
"Sama seperti Larasati 'kecelakaan tunggal'." Renjana menutup matanya sebentar. "Mereka tidak membunuhnya langsung. Terlalu banyak yang lihat alarm semalam. Jadi mereka membuatnya jadi kecelakaan kerja. Resmi. Tercatat. Ada laporan internalnya."
"Dia menahan pintu supaya kita lolos." Alga berdiri, lalu jatuh lagi ke kursi karena lututnya tak kuat. "Dia tua. Kurus. Dan kita—aku—membiarkannya di sana."
"Kau tidak membiarkannya." Suara Renjana tajam sekarang, melintasi kamar. "Dia memilih. Dia tahu persis apa yang dia lakukan saat menarik tuas itu. Dua puluh tahun dia menyapu darah orang-orang yang mereka buang. Larasati pernah menyelamatkan anaknya gratis. Semalam dia menebusnya."
"Dengan koma." Mata Alga panas. "Dengan kepala pecah."
Renjana berjalan mendekat, berlutut di depan kursi Alga, hingga mata mereka sejajar. Untuk pertama kalinya sejak Alga mengenalnya, dr. Renjana yang dingin itu memegang bahunya.
"Dengar baik-baik," kata Renjana. "Aku pernah duduk persis di kursi itu. Dua tahun lalu. Setelah Larasati 'jatuh'. Aku menyalahkan diriku karena membiarkannya bertanya sendirian. Aku hampir berhenti. Aku hampir pulang dan diam selamanya." Cengkeramannya menguat. "Kalau aku berhenti waktu itu, Bu Sulastri sudah mati. Kau dengar? Orang yang masih hidup sekarang ada karena aku memilih bertahan. Bukan karena aku tidak sedih."
Alga menelan. "Aku tidak tahu apa aku bisa."
"Gunawan tidak butuh kau hancur. Dia butuh kau utuh." Renjana berdiri. "Dia masih hidup. Koma, tapi hidup. Dan dia di ICU Bumi Sentosa—di bawah Wirya."
Sesuatu dingin menjalar di tengkuk Alga. Ia mengangkat wajah.
"Di bawah Wirya," ulang Alga pelan.
"Kau mengerti sekarang." Renjana menatap keluar jendela, ke arah kota. "Status 'DIJADWALKAN' di buku itu tidak batal hanya karena dia sudah koma. Justru sebaliknya. Sekarang dia di ranjang mereka sendiri. Diam. Tak bisa bicara. Tak ada saksi."
Alga bangkit. Tangannya, yang gemetar semalaman, tiba-tiba berhenti gemetar. Ia genggam buku kulit itu erat-erat.
"Kalau begitu kita harus mengeluarkan dia dari sana," kata Alga, "sebelum mereka menyelesaikan apa yang gagal mereka lakukan semalam."
Renjana menoleh, dan untuk sekejap, di balik wajah datarnya, ada sesuatu yang mirip harapan.