Lorong basement membentang gelap di antara kedipan strobo merah. Setiap detik dunia menyala lalu padam: tembok beton, pipa-pipa, kabel, lalu hitam, lalu merah lagi.
Alga lari di belakang Renjana, sepatu menggesek lantai semen. Sirene menelan suara langkah mereka sendiri. Di belakang—teriakan. Wirya. Pantofel mengilapnya menggedor lantai.
"Tangga servis!" Renjana membanting bahu ke pintu darurat yang sudah setengah membuka karena alarm. "Jangan lift—lift mati saat kebakaran."
Mereka menghambur ke tangga beton sempit yang berputar naik. Bau lembap dan karat. Alga merasakan buku kulit menggosok kulit perutnya, basah keringat, dan sebagian map foto yang sempat ia jepret tadi—belasan lembar, sekarang teremas di saku jasnya.
"Gunawan—" Alga tersengal di anak tangga. "Kita tinggal dia—"
"Dia yang menyuruh kita lari." Suara Renjana keras, tapi Alga mendengar retakan di dalamnya. "Naik. Jangan menoleh."
Bunyi sepatu di bawah. Wirya, dua lantai di belakang, tertahan oleh kegelapan dan rasa takutnya sendiri.
"Renjana! Alga!" suara Wirya bergema di sumur tangga, melengking, panik. "Kalian tidak akan keluar dari gedung ini! Setiap pintu ada kamera! Setiap satpam tahu wajah kalian!"
Lantai satu. Pintu darurat yang menuju area parkir belakang. Renjana menabraknya—terkunci dari sisi sana, palang macet. Ia menggoyangnya. Tidak bergerak.
"Sekar," desis Renjana, mengeluarkan ponsel, jari menari di layar. "Dia jaga. Dia akan—"
Pintu di belakang mereka terhempas. Wirya muncul di pijakan tangga, napas tersengal-sengal, jas putihnya akhirnya kusut. Di tangannya—Alga melihatnya dalam kedip merah—sebatang besi. Pipa lepas.
"Berikan bukunya." Wirya melangkah. "Berikan, dan kalian hidup. Aku bersumpah."
"Kau tidak pernah menepati sumpah seumur hidupmu," kata Renjana.
Saat itu palang pintu darurat berbunyi klak. Dari luar. Wajah Sekar muncul di celah, mata membelalak. "Cepat!"
Renjana mendorong Alga keluar lebih dulu. Wirya melompat, besi terayun—dan Renjana memutar, menahan pintu baja dengan kakinya, menjepit lengan Wirya sesaat sebelum daun pintu terbanting menutup. Wirya menjerit kesakitan, menarik tangannya.
Mereka di luar. Udara malam. Hujan gerimis. Pintu terkunci kembali di belakang, Wirya menggedornya dari dalam, teredam.
"Mobil saya," kata Sekar, sudah berlari. "Cepat, sebelum satpam datang."
Mereka berjejal masuk sedan tua Sekar. Ban berdecit di aspal basah. Lampu gerbang belakang melintas, lalu jalan kota yang sepi, lalu gelap.
Alga gemetar. Ia mengeluarkan buku kulit, memeriksanya di bawah lampu jalan yang berkelebat. Utuh. Tiga nama tinta baru masih di sana: dr. Renjana. dr. Alga. Gunawan. DIJADWALKAN.
"Gunawan tertinggal," kata Alga, suaranya pecah.
Tak ada yang menjawab. Di kaca spion, kubah RS Bumi Sentosa surut dalam gerimis, lampu meraknya berkelip seperti tak terjadi apa-apa. Di suatu tempat di bawah tanahnya, seorang lelaki tua kurus berada di tangan orang-orang yang menulis "DIJADWALKAN" dengan tinta sedingin es.