“Baringkan Bìxià di dipan. Sekarang.”
Suara Hong Lian tidak keras, tetapi Yu Hao menurut tanpa berpikir. Ia mengangkat tubuh Kaisar ke dipan panjang di sudut ruang belajar, tempat Zhang Yuan biasa beristirahat bila bekerja sampai pagi.
Hong Lian berlutut di sisi dipan. Tangan kirinya, yang tersembunyi di balik lengan baju yang lebar, menyentuh gelang kristal giok. Dalam sekejap, kotak jarum akupuntur dari meja kecil di ruang cahaya sudah berada di genggamannya. Dari luar, kotak itu tampak seperti dikeluarkan dari balik lipatan ikat pinggang.
Ia membuka kotak itu dan memilih tujuh jarum perak.
“Niang-niang, apa yang ...”
“Yu Hao, kalau kau ingin Bìxià hidup, berdiri di pintu dan jangan biarkan siapa pun masuk kecuali Gu taiyi.”
Yu Hao menatapnya, lalu menatap Kaisar yang wajahnya semakin pucat. Lalu ia berbalik dan berdiri di pintu dengan pedang terhunus.
Hong Lian menusukkan jarum pertama di titik di atas siku kiri Kaisar, di atas garis hitam yang menjalar. Jarum kedua di bahu. Jarum ketiga dan keempat di sisi leher. Jarum kelima, keenam, dan ketujuh di dada, mengelilingi jantung seperti pagar. Setiap jarum ditusukkan dengan sudut dan kedalaman yang tepat, persis seperti yang tertulis di buku akupuntur di ruang cahaya, buku yang sudah ia baca tiga kali dalam dua bulan terakhir.
Garis hitam di lengan Kaisar berhenti menjalar.
Ia menarik napas. Itu hanya menahan. Racunnya masih ada di dalam darah, dan jarum tidak bisa menahannya selamanya.
Ia mengenali racun ini. Bukan dari ingatan pemilik tubuh, tetapi dari buku daftar racun di ruang cahaya. Getah akar ular hitam dicampur bisa kalajengking gurun, racun yang bekerja cepat pada luka terbuka dan membuat korbannya tampak seperti terkena serangan jantung. Penawarnya ada. Tidak sederhana, tetapi ada.
Ia memejamkan mata sesaat dan mengingat rak tanaman obat di ruang cahaya. Rumput Jiwa Naga yang ia petik di hutan timur desa Xu. Jamur Lingzhi merah sebesar telapak tangan. Daun teratai salju berusia seribu tahun di rak paling atas.
Pintu terbuka. Gu taiyi masuk tergopoh-gopoh dengan kotak obat di tangan dan dua tabib muda di belakangnya. Wajah tabib tua itu pucat ketika melihat Kaisar terbaring dengan jarum di dada, dan semakin pucat ketika melihat siapa yang menancapkannya.
“Niang-niang! Apa yang Niang-niang lakukan pada Bìxià?!”
“Menahan racunnya supaya tidak sampai ke jantung.” Hong Lian tidak menoleh. “Akar ular hitam dan bisa kalajengking gurun. Gu taiyi tahu penawarnya?”
Gu taiyi tertegun. Ia melangkah mendekat, memeriksa garis hitam di lengan Kaisar, menekan nadi di pergelangan, lalu menatap tujuh jarum perak itu dengan mata terbelalak. Posisi jarum-jarum itu benar. Lebih dari benar. Itu teknik yang hanya pernah ia baca di kitab-kitab tua yang setengah halamannya sudah dimakan rayap.
“Penawarnya ... membutuhkan Rumput Jiwa Naga dan Lingzhi merah berusia lebih dari seratus tahun,” ucap tabib tua itu dengan suara bergetar. “Gudang obat istana tidak punya Rumput Jiwa Naga. Terakhir kali hamba melihatnya dua puluh tahun lalu.”
“Aku punya.”
Hong Lian berdiri, berjalan ke balik rak buku seolah hendak mengambil sesuatu dari kantong di pinggangnya, dan ketika ia kembali, di tangannya ada sebuah botol porselen putih dan sebungkus kain berisi rumput kering berwarna keperakan serta sepotong jamur merah.
Gu taiyi menatap rumput itu seperti menatap hantu.
“Rumput Jiwa Naga ... dan Lingzhi merah ini ... Niang-niang, dari mana Niang-niang mendapatkannya?”
“Keluarga Li yang menolongku di desa Xu punya kebun obat di hutan timur. Nyonya Li membekaliku sebelum pulang, takut lukaku kambuh di jalan.” Kebohongan itu meluncur dengan mudah. “Botol ini ramuan penawar yang diracik Nyonya Li dari resep turun-temurun keluarganya. Aku tidak tahu persis isinya. Tapi aku yakin Rumput Jiwa Naga dan Lingzhi ini akan lebih kuat kalau direbus segar.”
Gu taiyi menatapnya, lalu menatap botol itu. Ia membuka tutupnya dan mencium aromanya. Alisnya terangkat. Ramuan itu tidak berbau seperti ramuan desa mana pun yang pernah ia kenal. Baunya bersih, pekat, dan dalam.
Namun Kaisar sedang sekarat, dan seorang tabib istana tidak punya waktu untuk berdebat dengan Permaisuri tentang asal sebotol obat.
“Rebus rumput dan jamur ini,” perintahnya kepada tabib muda. “Tiga mangkuk air menjadi satu. Cepat!”
Hong Lian membuka mulut Zhang Yuan dengan lembut dan meneteskan ramuan dari botol porselen itu ke lidahnya, sedikit demi sedikit, sambil memijat titik di bawah dagunya supaya ia menelan. Lalu ia mencabut jarum di siku, mengurut lengan Kaisar dari bahu ke arah luka, dan membiarkan darah hitam menetes keluar dari goresan itu ke dalam mangkuk yang disodorkan Gu taiyi.
Darah yang keluar perlahan-lahan berubah warna. Dari hitam, menjadi merah gelap, lalu merah.
Gu taiyi berhenti bernapas.
***
Malam itu panjang.
Kabar bahwa Kaisar terluka disembunyikan rapat. Yu Zhao menutup semua gerbang istana dan menyisir setiap atap. Para menteri yang datang untuk pengadilan pagi diberi tahu bahwa Bìxià sedang tidak enak badan. Janda Permaisuri hanya diberi tahu bahwa Kaisar terlalu lelah dan Permaisuri sedang menemaninya. Beliau tersenyum mendengarnya, dan Mama melaporkan bahwa beliau tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam dua bulan.
Hong Lian tidak meninggalkan ruang belajar. Setiap dua jam ia mengganti posisi jarum, memeriksa nadi, dan meminumkan rebusan Rumput Jiwa Naga yang disiapkan Gu taiyi. Tabib tua itu berhenti bertanya. Ia hanya mengamati setiap gerakan tangan Permaisuri dengan wajah orang yang sedang menyaksikan gurunya bekerja.
Menjelang fajar, garis hitam di lengan Kaisar sudah hilang sepenuhnya.
Ketika matahari pagi menembus jendela-jendela yang pecah, Zhang Yuan membuka mata.
Yang pertama ia lihat adalah langit-langit ruang belajarnya sendiri. Yang kedua adalah wajah perempuan yang tertidur dalam posisi duduk di bangku di samping dipannya, kepalanya bersandar di tiang, rambutnya berantakan, dan tangannya masih menggenggam kotak jarum.
Ia menatap wajah itu lama.
Lalu Hong Lian membuka mata, seolah merasakan tatapannya. Ia langsung menegakkan tubuh dan meraih pergelangan tangan Kaisar untuk memeriksa nadinya.
“Bìxià sudah bangun. Bagus. Jangan bergerak dulu.”
“Kau ...” Suara Zhang Yuan serak. “Kau yang menyelamatkan zhen.”
“Gu taiyi juga ikut.”
“Gu taiyi bilang ...” Zhang Yuan berhenti, mengumpulkan tenaga. Gu taiyi sempat berbicara padanya ketika ia setengah sadar tengah malam tadi. “Tanpa jarummu, zhen sudah mati sebelum dia sampai.”
Hong Lian tidak menjawab. Ia melepaskan pergelangan tangannya dan mulai merapikan jarum-jarum ke dalam kotak.
“Kenapa?” tanya Zhang Yuan pelan. “Selama tiga tahun zhen tidak pernah sekalipun memperlakukanmu sebagai istri. Zhen membiarkan seluruh harem menginjakmu. Zhen bahkan bersumpah akan mengikatmu. Kenapa kau menyelamatkan zhen?”
Hong Lian menutup kotak jarum. Ia menatap Kaisar dengan mata yang jernih dan dingin.
“Karena Muhou baru saja mau minum obat lagi, Bìxià. Beliau butuh putranya hidup. Hamba tidak mau melihat beliau memecahkan mangkuk obat lagi.”
Ia berdiri, membungkuk singkat, dan berjalan ke pintu.
Zhang Yuan menatap punggungnya. Ia merasa tersinggung. Ia juga merasa sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya ingin memanggil gadis itu kembali dan bertanya lagi, sampai jawabannya berubah.
Ia tidak memanggilnya. Tapi matanya mengikuti punggung itu sampai pintu tertutup.