Sebelum fajar, Yu Zhao datang ke Paviliun Fengyi dengan sebuah tandu tertutup dan empat pengawal bayangan berpakaian kasim.
Hong Lian sudah menunggu. Lu Ba berdiri di sampingnya dengan tangan terikat di depan, memakai jubah kasim abu-abu yang terlalu kecil untuk tubuhnya dan topi yang ditarik rendah menutupi bekas luka di pelipisnya. Demamnya sudah turun. Luka di bahunya sudah kering.
Yu Zhao menatap laki-laki itu, lalu menatap Hong Lian. Ia tidak bertanya bagaimana seorang pembunuh bayaran bisa berada di dalam Paviliun Fengyi selama empat hari tanpa diketahui siapa pun. Tetapi dari wajahnya, jelas ia sedang menghitung ulang semua laporan penjagaan istana yang pernah ia tanda tangani.
“Niang-niang, silakan naik tandu. Dia akan berjalan di tengah para pengawal.”
“Aku berjalan.” Hong Lian merapikan lengan bajunya. “Tandu tertutup terlalu menarik perhatian. Seorang Permaisuri yang berjalan pagi-pagi ke Paviliun Xuan untuk menemani Muhou minum obat tidak menarik perhatian siapa pun.”
Yu Zhao terdiam, lalu memberi isyarat kepada pengawalnya untuk menyingkirkan tandu.
Mereka berjalan menyusuri koridor-koridor yang masih gelap. Di persimpangan menuju Paviliun Xuan, rombongan kecil itu berbelok ke arah lain, ke Imperial study. Tidak ada yang melihat, atau setidaknya, pikir Hong Lian, tidak ada yang terlihat melihat.
***
Imperial study
Ruang belajar Kaisar lebih besar daripada yang diingat pemilik tubuh. Rak-rak buku setinggi langit-langit memenuhi tiga sisi dinding. Di sisi keempat ada jendela-jendela tinggi berkisi kayu yang menghadap ke halaman dalam. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu cendana hitam, dan di belakangnya duduk Zhang Yuan dengan jubah kuning gelap.
Seorang juru tulis tua sudah duduk di meja kecil di sudut dengan kertas dan kuas. Yu Hao berdiri di sisi kanan Kaisar. Yu Zhao menutup pintu dan berjaga di depannya.
Lu Ba berlutut di tengah ruangan. Hong Lian berdiri di sampingnya, sedikit ke kiri, dekat jendela.
“Sebutkan namamu,” ucap Zhang Yuan.
“Hamba ... Lu Ba. Dari jalan selatan.”
“Apa pekerjaanmu?”
Lu Ba melirik Hong Lian. Hong Lian mengangguk pelan.
“Pembunuh bayaran, Bìxià.”
Kuas juru tulis bergerak cepat di atas kertas. Zhang Yuan mencondongkan tubuh ke depan.
“Ceritakan kepada zhen tentang hutan selatan. Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang membayarmu? Sebutkan nama-nama mereka, satu per satu, supaya juru tulis bisa mencatatnya.”
Lu Ba menarik napas panjang. Hong Lian bisa melihat bahunya menegang. Selama empat hari, laki-laki itu sudah mengulang ceritanya kepadanya berkali-kali. Tetapi mengucapkannya di depan Kaisar Ning, di depan juru tulis yang akan mengubah setiap katanya menjadi tinta yang tidak bisa dihapus, adalah hal yang berbeda. Begitu nama itu diucapkan di sini, tidak ada jalan kembali, baik untuknya maupun untuk orang-orang yang ia sebut.
“Akhir musim dingin lalu,” ia memulai, “seorang perantara datang ke rumah singgah kami. Dia pincang di kaki kiri. Namanya Fang, pengurus rumah ...”
Hong Lian mendengar bunyi itu sepersekian detik sebelum orang lain mendengarnya.
Desis halus. Seperti napas ular di antara rumput kering. Dari arah jendela.
Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya selesai.
Kisi kayu jendela di sebelah kirinya pecah. Sesuatu yang hitam dan tipis melesat masuk. Hong Lian mengibaskan lengan bajunya yang lebar, dan tenaga dalam yang mengalir di kain sutra itu membuat anak panah pertama berbelok dan menancap di rak buku dengan bunyi tuk yang keras.
Panah kedua datang dari jendela berikutnya, mengarah ke meja Kaisar.
Hong Lian menyambar cangkir teh dari meja juru tulis dan melemparkannya. Cangkir porselen itu menghantam batang panah di udara dan pecah berkeping-keping. Panah itu berputar dan jatuh di atas meja kerja, tepat di atas laporan pajak yang masih bernoda tinta.
“Bìxià, turun!”
Ia melompat melintasi ruangan dan menarik lengan Zhang Yuan dengan kedua tangan. Kaisar baru saja berdiri, tangannya bergerak ke pedang di pinggang. Tarikan Hong Lian membuatnya terhuyung ke samping, menjauh dari garis jendela.
Panah ketiga melesat melewati tempat Kaisar berdiri satu kedipan sebelumnya. Ujungnya menyambar lengan kiri Zhang Yuan, merobek jubah kuningnya, lalu terus melaju dan menancap di dinding.
Panah keempat tidak mengarah ke Kaisar.
Hong Lian berbalik tepat waktu untuk melihatnya. Lu Ba yang masih berlutut dengan tangan terikat di depan hanya sempat mengangkat wajah. Panah itu menancap di lehernya.
Laki-laki itu jatuh ke samping. Tubuhnya kejang sekali, dua kali, lalu diam.
“Yu Zhao! Atap!” teriak Zhang Yuan.
Yu Zhao sudah menendang pintu dan berlari keluar, diikuti teriakan-teriakan para pengawal di koridor. Yu Hao berdiri di depan Kaisar dengan pedang terhunus, matanya menyapu jendela-jendela yang pecah. Juru tulis tua bersembunyi di bawah mejanya sambil memeluk kertas-kertasnya.
Tidak ada panah kelima.
Hong Lian berlutut di samping Lu Ba. Ia menekan dua jari di sisi leher laki-laki itu, di bawah luka. Tidak ada denyut. Di sekitar luka, kulitnya sudah berubah kehitaman, menjalar seperti akar.
Racun. Racun yang bekerja dalam beberapa tarikan napas.
Ia menatap wajah Lu Ba. Mata laki-laki itu masih terbuka, menatap langit-langit dengan heran, seolah ia tidak percaya ia akhirnya mati dengan cara yang paling ia hindari, dibungkam sebelum sempat bicara.
Hong Lian menutup matanya dengan telapak tangan.
Maafkan aku, batinnya. Aku bilang tempatku yang paling aman. Aku lupa ruangan ini juga punya jendela.
Rasa marah naik dari perutnya sampai ke tenggorokan, dingin dan tajam. Bukan amarah pemilik tubuh. Ini amarahnya sendiri, amarah seorang agen yang baru saja kehilangan saksi di depan matanya karena ia meremehkan lawannya.
Wei Cheng, ular tua itu, tahu saksi akan dibawa ke Kaisar. Ia tidak tahu kapan, jadi ia pasti sudah menaruh pemanah di atap sejak semalam, sejak Kaisar keluar dari Paviliun Fengyi. Seseorang melihat Kaisar mengunjungi Permaisuri malam-malam. Seseorang menebak alasannya.
“Bìxià!”
Teriakan Yu Hao membuat Hong Lian menoleh.
Zhang Yuan berdiri bersandar di tepi meja kerja. Tangan kanannya memegangi lengan kiri. Darah merembes di antara jari-jarinya, membasahi jubah kuningnya. Luka itu tidak dalam, hanya goresan sepanjang jari. Tetapi wajah Kaisar sudah pucat, dan di tepi sobekan jubahnya, kulit lengannya mulai menghitam.
Racun yang sama.
“Hanya goresan,” ucap Zhang Yuan. Suaranya masih tegas, tetapi napasnya mulai berat. “Panggil Gu taiyi. Dan tutup semua gerbang istana. Tidak ada yang keluar sampai ...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Lututnya lemas. Yu Hao menangkapnya sebelum ia jatuh ke lantai.
Hong Lian sudah berada di sisinya. Ia merobek lengan jubah kuning itu tanpa ragu dan menatap lukanya. Garis hitam di sekitar goresan menjalar perlahan ke atas, ke arah bahu, ke arah jantung.
Racun yang membunuh Lu Ba dalam beberapa tarikan napas. Goresan Kaisar jauh lebih dangkal, jadi racunnya masuk jauh lebih sedikit. Tapi lebih sedikit tidak berarti tidak mematikan.
“Bìxià,” ucapnya. “Bìxià, lihat hamba.”
Mata Zhang Yuan yang mulai berkabut menemukan wajahnya.
“Muhou ...” bisiknya. “Jangan biarkan Muhou ...”
Lalu matanya terpejam.