Bryan terhenyak, menatap tajam dan serius ke sorot mata Danty, memastikan apa Danty sungguh-sungguh menyatakan keinginannya untuk memutuskan hubungan.
Danty menoleh ke barista yang sedang bekerja membersihkan gelas-gelas dengan melap-lapnya, dan barista itu melambaikan tangan ke arah Danty.
Danty beralih ke Bryan. "Aku dijodohkan ayahku dengan duda, namanya Sunyoto."
Bryan tiba-tiba tergelak, menggeleng tak percaya. "Ada apa, Danty. Cerita dong."
"Atau kamu yang mau membayar semua utang ayahku ke pak Sunyoto sebanyak dua ratus lima puluh juta agar kita masih bisa pacaran."
Bryan terdiam. "Danty ... benarkah?"
"Iya, Bryan. Aku harus menikah dengan Sunyoto." Sebenarnya Danty muak menyebut nama pria yang disodorkan ayahnya kepada dirinya. Terbayang di benaknya laki-laki setengah baya berambut putih tersenyum menyeringai ke arahnya, dan dia yang harus tidur dengan laki-laki tua itu.
Bryan menatap wajah Danty dengan seksama.
"Aku benci berutang. Tapi ayahku malah terlilit utang." Danty menelan ludah kelu. Beberapa hal yang menghantamnya bersamaan sekaligus, persoalan utang piutang ayahnya, dia yang harus menikah dengan laki-laki yang tidak dia kenal, dan menghadapi sebuah kenyataan bahwa Bryan yang telah berselingkuh dengan temannya yang bernama Vina. Dia berharap semua persoalannya satu-satu berakhir.
"Oke, kita putus," ujar Bryan akhirnya. Dia yang tampak tenang.
Danty menatap Bryan dengan perasaan sesalnya. "Kamu dan Vina ada hubungan khusus?" tanyanya.
Bryan mengerutkan bibirnya, enggan memberi jawaban.
"Ngaku saja, Bryan. Aku oke kok." Tapi Danty yang sebenarnya kecewa dan sedih. Untungnya, dia masih mampu menguasai diri. Lagi pula, ini adalah kesekian kalinya Bryan main belakang dengan Vina, tapi Danty yang memberinya kesempatan untuk kembali bersama ketika dia yang meminta balikan. "Aku tau kamu yang bosanan jika sama aku."
"Ck, bukan begitu, Danty--"
"Kalian memang cocok, Bryan. Kalian berdua sama-sama dari keluarga berada. Aku yang sering dibilang manfaatin kamu karena kamu yang kaya."
"Aku nggak suka kata-kata seperti itu."
"Tapi itu kenyataan pahit bagiku--"
Bryan bangkit dari duduknya. "Kamu yang nggak berubah, kamu yang minderan," desaknya kesal, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Danty begitu saja dari cafe.
Danty menghela napas pendek, jengkel dengan keadaannya. Dia menatap cangkir berisi kopi hitam milik Bryan yang masih bersisa. Sayang, dia menghabiskannya dan menghabiskan minumannya sendiri.
***
"Dandan yang rapi dan cantik, Danty," tegur Dedi ke Danty yang baru saja keluar kamar, dia yang berpakaian biasa dan berdandan sangat tipis bahkan tidak terlihat riasan di wajahnya. Sore ini dia dijadwalkan bertemu Nyoto, pria yang akan dijodohkan dengannya, dan dia yang akan menikah dalam waktu dekat.
Danty kembali ke dalam kamar, membuka lemari dan memilih-milih baju dengan perasaan kesal. Dia sekuat tenaga menahan tangis, merasa kehidupan yang tidak adil baginya. Dia akhirnya memilih pakaian terbaik, pakaian yang dibelikan almarhumah ibu saat menyambut hari Lebaran beberapa tahun lalu dan masih pas di tubuhnya. Dia yang akhirnya berdandan lebih serius sambil menenangkan diri.
Dedi tersenyum puas, Danty yang menuruti sarannya. "Ayo kita pergi sekarang. Pak Nyoto juga sedang dalam perjalanan." Dedi berujar ke Danty yang sudah siap.
"Kamu persis ibumu, cantik dan bersahaja," puji Dedi saat menyalakan mesin motor, dan Danty yang bersiap naik di belakangnya.
"Sudah, Yah. Jangan bicara seperti itu lagi."
Danty sudah naik ke atas motor, dan Dedi melajukan motornya ke luar lorong rumah.
"Pak Nyoto itu seenaknya ya, Yah," ujar Danty saat sudah berada di jalan raya.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" balas Dedi bertanya.
"Masa kita naik motor ke sana. Kayak apa aja, kita nggak dihargai--"
"Bukan begitu, Danty. Tadinya pak Nyoto nawarin Ayah untuk dijemput sopir pribadinya. Tapi Ayah menolak."
Danty mengerlingkan mata malas, ayahnya yang sering "tidak enakan". "Jangan terlalu sering nggak enakan, Yah. Jadi sengsara begini."
"Ayah tuh khawatir kamu menolak. Ayah masih kasih kamu kesempatan untuk berpendapat tentang pernikahan ini. 'Kan nggak enak kalo kita sudah dijemput, tapi kamunya yang menolak. Lebih baik Ayah yang antar kamu ... kamu bisa berprinsip di depan pak Nyoto nanti."
Kata-kata ayahnya membuat hati Danty terenyuh. Dia mengeratkan pelukannya, menyanderkan kepalanya di punggung kecil ayahnya.
Dedi tersenyum kecut, dia yang merasa sangat bersalah dengan situasi yang sedang dia hadapi sekarang, mau tidak mau mengorbankan masa-masa bahagia putrinya.
Tak lama kemudian, gedung kantor milik Sunyoto sudah terlihat, dan Dedi melajukan motornya lebih cepat ke arah gedung. Seorang satpam menunduk hormat ke arah Dedi, seolah tahu akan ada pertemuan penting antara Dedi dan atasannya.
"Silakan menunggu di ruangan kerja pak Nyoto, Pak Dedi," sapa resepsionis yang bertugas di bagian depan kantor. Resepsionis itu cantik dan ramah, juga tubuhnya yang semok dan sintal.
Dedi langsung mengajak Danty mengikutinya.
"Kenapa pak Nyoto nggak kawin sama resepsionisnya saja, Yah," ujar Danty bertanya, dia dan ayahnya sudah berada di dalam lift setelah diarahkan resepsionis kantor.
"Hush, apa-apaan kamu?" Dedi tentu saja jengah dengan ucapan Danty barusan.
"Cantik dan semok."
"Pak Nyoto maunya sama kamu."
"Ah, iya ... utang itu." Danty tersadar akan situasinya.
Tak lama kemudian, Danty dan ayahnya sudah masuk ke dalam ruangan kerja Nyoto, tepatnya di bagian ruang rapat. Keduanya duduk di kursi rapat.
Danty mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. "Pak Nyoto ini usahanya apa ya, Yah?" tanyanya.
"Banyak, tapi dia fokus ke jasa keuangan dan perhotelan."
"Ayah kenal di mana?"
"Sudah Ayah bilang, pak Nyoto ini temannya teman Ayah. Saat Ayah butuh uang, ya pinjamnya ke pak Nyoto."
Danty lagi-lagi memperhatikan ruangan kerja Nyoto yang mewah dan nyaman. "Kenapa Ayah nggak minta aku kerja di sini saja."
"Ayah sudah bilang sama kamu, kamu masih punya pendapat tentang perjodohan ini."
"Jadi ada opsi itu?"
"Bisa juga, tapi ya ... Ayah nggak mau kamu kerja nggak digaji."
Danty berdecak sebal, dia tidak punya pilihan.
Tak lama kemudian muncul seorang laki-laki setengah baya dan berjalan tergesa-gesa menuju Dedi, menyapa Dedi dan menyalaminya. Danty yang melihat laki-laki itu bergidik ngeri, sudah menduga penampakan sosok Nyoto. Tapi, dia yang tidak mau mengecewakan ayahnya yang sudah berjuang sejauh ini.
"Jadi ... ini ... Danty Kusuma Ningsih," ujar bapak itu, menatap wajah Danty penuh kagum. "Ah, persis sekali seperti wajah Sumarni." Dia menyebut nama almarhumah ibu Danty.
Danty berdiri dari duduknya, dan mendekati laki-laki itu dan menyalaminya penuh hormat, juga mencium punggung tangannya yang berkerut karena usia.
"Ah, sopannya." Pria itu memuji. "Saya Mukhlas, bawahannya pak Nyoto."
"Oh," desah Danty kaget, mengira laki-laki berambut putih itu Nyoto. Dia pun ingat kata-kata ayahnya mengenai Nyoto yang berusia tiga puluh tiga, sedangkan penampakan Mukhlas lebih dari usia itu.
Sikap Danty yang kaget dan bingung ini sepertinya tidak disadari Dedi.
"Duduklah, Danty. Pak Nyoto masih dalam perjalanan." Mukhlas melirik arloji di tangan kanannya. "Sedang menuju kemari," ujarnya kemudian. Dia yang lagi-lagi memperhatikan Danty. "Saya yakin pak Nyoto ... pasti suka."
Bersambung