"Kamu harus menerima perjodohan ini, Danty. Ayah sudah tidak sanggup lagi menanggung beban utang ini. Menikah dengan pak Nyoto adalah jalan satu-satunya. Nggak ada jalan lain lagi." Dedi, ayah Danty berujar dengan penuh harap dan wajah pasrah ke putri sulungnya yang bernama Danty Kusuma Ningsih. Dia adalah ayah tunggal yang bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan dua anaknya, Danty yang baru saja lulus kuliah dan diterima bekerja di swalayan terdekat, dan Daus, yang baru saja lulus SMA dan masih bingung melanjutkan terkendala biaya. Sementara istrinya sudah lama meninggal dunia.
Wajah Danty masam mendengar ucapan ayahnya. Baru kali ini ayahnya mengaku kepadanya bahwa dia yang memiliki utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kamu kuliah selama ini juga memakai uang pak Nyoto," aku Dedi akhirnya.
Mendengar nama laki-laki yang akan dijodohkan dengannya saja sudah membuat Danty mual, Nyoto? Nyolot kawin maksudnya? Dia yang berdecak kesal berulang kali. Apalagi ternyata pak Nyoto adalah seorang duda tanpa anak, dan dia tidak tahu alasan perceraiannya.
"Ayah mau aku kawin sama pak Nyoto? Sudah tua begitu."
"Pak Nyoto itu nggak tua-tua amat, Danty. Usianya tiga puluh tiga."
"Ya, beda sepuluh tahulah dari aku, Yah. Tua itu namanya. Mana duda lagi."
Dedi menghela napas panjang, raut wajahnya terlihat cemas dan ketakutan. Dia tertunduk lesu di depan putri sulungnya, dia benar-benar tidak berdaya.
"Kenapa Ayah sampai minjam uang banyak sih? Perasaan aku juga kerja sejak SMA, dan Ayah nggak terlalu banyak menghabiskan biaya sekolah aku dan keseharianku. Menikah begituan bukan jalan satu-satunya. Emangnya berapa sih utang Ayah sama ... Nyoto?" Danty geli menyebut nama laki-laki yang hendak dijodohkan dengannya.
"Dua ratus lima puluh juta, Danty--"
"Ya ampun, Ayaaah. Itu uang semua? Buat apa uang segitu banyak? Rumah aja kita ngontrak dan nggak kebeli. Makan pas-pasan. Aku nggak hidup mewah dengan uang sebanyak itu--"
"Danty. Iya, Ayah yang salah. Ayah tergiur dengan kerjasama bisnis property. Ayah pikir Ayah akan mendapatkan keuntungan besar dengan ikut proyek dan menanam modal. Ternyata developer yang terlibat ... menipu Ayah dan Ayah nggak sendirian, masih banyak korban penipuan. Tapi kondisi Ayah paling parah karena Ayah meminjam uang dari pak Nyoto."
"Ayah kenal pak Nyoto dari mana? Aku aja nggak pernah mendengar nama itu."
"Temannya teman Ayah."
"Trus, Ayah punya perjanjian kalo aku nikah sama si ... ck ... Nyoto itu, utangnya jadi lunas?"
"Nggak begitu ceritanya, Danty. Ayah nggak membuat perjanjian itu. Jadi, Utang Ayah sudah jatuh tempo dan Ayah berterus kepadanya bahwa Ayah nggak bisa bayar. Gaji Ayah juga nggak seberapa sebagai ojol. Kamu tau sendirilah, Ayah kerja serabutan selama ini. Apapun Ayah kerjakan."
Danty mengerlingkan mata malas, sebenarnya dia sama sekali tidak malu memiliki Ayah yang bekerja sebagai ojol dan memiliki kerjaan serabutan, tapi dia yang malu Ayahnya yang terlilit utang dan ditipu. Ayahnya sebenarnya terlahir dari keluarga kaya raya, tapi bangkrut karena penipuan. Danty berdecak sebal, kini ayahnya mengalami hal serupa, ditipu dan bahkan memiliki utang banyak.
"Ayah gadaikan jam tangan warisan almarhum kakekmu, hape dan motor Ayah, lalu Ayah tunjukkan dompet kosong Ayah ke pak Nyoto. Dia sekilas melihat foto kamu di dompet dan tanya-tanya soal kamu. Dia ... tertarik, dan mengatakan jika dia menikah denganmu, utang Ayah lunas."
Danty menelan ludah kelu mendengar penjelasan ayahnya, dan dia yang mengakui baru kali ini ayahnya yang sungguh-sungguh memohon kepadanya.
"Dan ... Ayah nggak perlu menggadaikan motor dan jam warisan kakekmu," lanjut Dedi.
Danty terdiam.
Dedy menghela napas panjang, lega telah mengutarakan segalanya, dan dia yang pasrah seandainya Danty menolak.
"Kalo boleh tahu kenapa pak Nyoto bercerai?" tanya Danty yang mulai luluh.
"Mantan istrinya nggak bisa punya anak, dan nggak bisa diajak berhubungan badan."
Danty bergidik.
"Ayah tahu, Ayah nggak seharusnya menceritakan ini kepadamu, ini persoalan manusia dewasa --"
"Aku juga sudah dewasa, Yah."
"Maksud Ayah ... yah ... kamu yang mengerti."
"Kalo aku yang nggak bisa punya anak juga ... atau nggak bisa berhubungan."
"Utang Ayah tetap lunas."
"Dan aku jadi ... diceraikan juga, begitu?"
"Itu seandainya kamu yang menginginkan perceraian. Mantan istri pak Nyoto dulu yang meminta cerai."
Danty berdecak dalam hati, dia yang mengakui bahwa dia yang belum sepenuhnya mengerti permasalahan manusia dewasa yang rumit lagi pelik.
"Ayah tau kamu sudah punya kekasih, tapi...." Dedi menggantungkan ucapannya, wajahnya menunjukkan kebingungan. "Yah ... Ayah nggak maksa," ujarnya pasrah, lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang tengah.
"Aku ingin bertemu pak Nyoto!" seru Danty tiba-tiba.
Dedy berbalik arah, menatap Danty yang masih duduk. Dia mengangguk dan berlalu.
***
Danty yang sedang bersiap-siap pulang dari supermarket tempatnya bekerja, menghubungi Bryan, kekasihnya. "Aku sudah mau jalan, kamu langsung saja ke cafe," ujarnya sambil berjalan tergesa-gesa menuju luar supermarket, tangannya langsung melambai ke arah angkot yang hendak melintas.
Danty sudah duduk di dalam angkot yang penuh dengan penumpang. Dia berencana akan memutuskan hubungan asmaranya dengan Bryan, menyinggung perjodohannya untuk menyelamatkan keluarga dari jerat utang piutang.
Cafe tempat Danty dan Bryan bertemu sudah terlihat, Danty dengan cepat meminta sopir angkot untuk berhenti. Dia turun dari angkot setelah memberi sejumlah uang, tapi tidak melihat mobil Bryan. Sepertinya kekasihnya itu masih dalam perjalanan.
Danty memutuskan untuk langsung masuk ke dalam cafe dan menunggu kedatangan Bryan.
"Biasa, Mas." Danty berujar ke barista yang biasa melayaninya.
"Sendirian, Mbak Danty?"
"Nanti juga dia ke sini."
"Oh. Soalnya dua hari lalu pacarnya Mbak datang ke sini sama ... cewek."
"Rambut keriting?"
"Ya ya."
"Itu temannya ... teman aku juga."
"Oh, tapi ... mesra lo, Mbak."
Belum selesai barista mengadu, Bryan muncul dan perhatian Danty pun teralihkan.
"Dua," ujar Danty ke barista saat Bryan sudah duduk di posisi yang biasa mereka tempati di cafe.
Danty dan barista saling tatap beberapa saat. "Aku juga mau putusan dia kok," ucap Danty setelah menyodorkan ponselnya ke barcode di depan kasir. "Thanks," ucapnya kemudian.
"Terima kasih apa, Mbak?" tanya barista itu, dia tersenyum sinis sambil melirik ke arah Bryan.
"Semuanya," ujar Danty dan berlalu.
Bryan tersenyum melihat kedatangan Danty ke mejanya, lalu duduk di depannya. "Capek banget hari ini, Yang?"
"Iya. Gudang sedang penuh-penuhnya, dan nggak ada yang bantu beresin." Danty berdecak sebal mengingat lelahnya bekerja di supermarket dan dia yang lebih sering bekerja di bagian gudang.
Tak lama kemudian, barista yang melayani Danty datang membawa pesanan.
"Thanks, Mas," ucap Danty, matanya dan mata barista itu saling tatap dan ekspresi wajah mereka yang sama-sama sebal. Tampaknya Bryan tidak menyadarinya.
Bryan menyesap kopi panas pahitnya dan berdecak nikmat. "Jadi, apa yang mau kamu omongkan?"
"Sebaiknya kita putus."
Bersambung