~NOW~
Tiga tahun setelah Bayu meninggal, Melody bangun dan tahu hari itu hari Minggu. Ia tidak tahu bulan apa. Di meja kecil ada kalender bergambar, segelas air, dan foto dua cangkir. Pendamping bernama Siska mengetuk sebelum masuk.
'Pagi, Bu Melody. Hari ini Levi datang makan siang.'
'Levi anakku?'
'Iya.'
'Yang suka film?'
'Betul.'
Melody tersenyum karena jawabannya benar. Siska tidak memujinya seperti anak kecil. Mereka memilih baju bersama, lalu berjalan ke taman. Udara hangat dan tanaman kemangi di kotak kebun perlu dipangkas.
Levi datang bersama Raka dan membawa sup buatan Maya, yang kini mengelola katering kecil. Seno mengantar bahan pagi tadi tetapi tidak ikut karena bekerja. Hubungan mereka tetap bergerak tanpa kewajiban menjadi keluarga dalam setiap acara.
Lody serta Keira bergabung melalui panggilan video dari kota lain. Jasmine sudah meninggal setahun sebelumnya setelah Damar dan Lody mendampinginya. Arkan masih hidup bersama Mira, lebih sering tidur dan jarang menerima tamu. Nama-nama itu kadang dikenali Melody, kadang hanya terasa hangat.
'Mama ingat aku?' tanya Lody, lalu segera menyesali pertanyaan itu.
Melody menatap layar.
'Kau perempuan yang suaranya bikin aku tenang.'
Lody menangis sambil tertawa. Keira memegang bahunya.
'Itu cukup, Ma,' katanya.
Seusai makan, Levi membawa satu map sesuai jadwal peninjauan arsip. Surat Medan harus dimusnahkan karena instruksi menyebut saat salah satu dari Bayu atau Melody meninggal dan yang lain tidak lagi mampu memilih secara konsisten, pengelola menjalankan keputusan yang dibuat ketika keduanya masih cakap. Notaris sudah memverifikasi syarat tersebut.
Levi tidak membuka amplop. Lody menyaksikan melalui sambungan aman. Seorang pengelola arsip independen mencatat proses. Mereka menggunakan mesin penghancur dokumen khusus, kemudian mencampur hasilnya dengan kertas lain untuk didaur ulang.
Melody berada di taman dan tidak dilibatkan dalam ritual yang mungkin membingungkannya. Keputusan itu bukan pengucilan; dirinya yang lebih muda telah meminta agar dirinya yang tua tidak dibebani memilih berulang.
Setelah selesai, Levi merasa sedih pada sesuatu yang tak pernah ia baca.
'Aku pikir bakal ada rasa lega,' katanya.
'Mungkin lega nggak selalu datang sebagai perasaan,' jawab Lody. 'Kadang cuma berarti tugasnya selesai.'
Mereka menutup catatan arsip. Tidak ada salinan digital tersembunyi. Kronologi dua halaman tetap disimpan sesuai izin. Anak-anak memiliki fakta yang membentuk hidup mereka, tetapi tidak isi hati orang tua yang bukan hak mereka.
Sore hari Melody menemukan pena Luthfi di laci dan bertanya milik siapa. Levi mengatakan pena itu diberikan abangnya. Melody mengingat Luthfi sesaat: seorang lelaki yang menyuruhnya pulang, seorang pemimpin yang sulit melepas kendali, seorang abang yang akhirnya belajar.
'Dia sudah mati?' tanyanya.
'Sudah, Ma.'
'Aku sedih?'
'Dulu Mama sangat sedih.'
Melody mengangguk. 'Sekarang aku lapar.'
Mereka membuat roti panggang. Kesedihan tidak dituntut kembali hanya agar sejarah terasa benar.
Pada minggu berikutnya, komunitas mengadakan pameran kecil karya penghuni. Siska bertanya apakah Melody ingin memasang foto dua cangkir. Melody menolak karena foto itu untuk kamarnya. Sebagai gantinya ia menulis satu kalimat dengan pena Luthfi pada kertas tebal: Aku pernah hidup di banyak rumah dan tidak semuanya perlu kubawa.
Tulisan tangannya goyah. Ia lupa menaruh titik. Panitia tidak memperbaikinya. Kertas ditempel pada tinggi yang dapat dibaca pengguna kursi roda, ditemani nama Melody dan tahun, tanpa biografi tentang kisah cintanya.
Arkan meninggal beberapa bulan kemudian. Mira memberi kabar kepada Levi dan Lody, lalu mereka memutuskan cara memberi tahu Melody. Pada hari yang jernih, Lody menyampaikan bahwa ayah Levi telah pergi. Melody terdiam lama.
'Dia baik sama Levi,' katanya.
'Iya. Mereka saling sayang.'
'Aku pernah menyakitinya.'
'Iya, Ma. Kalian juga sudah membicarakannya dulu.'
Melody tidak meminta pengampunan baru dari orang yang sudah mati. Ia mengirim bunga atas namanya sendiri setelah Mira menyetujui, lalu kembali menyiram kemangi.
Waktu menyederhanakan lingkaran mereka, tetapi tidak mengubahnya menjadi cerita dengan pemenang. Jasmine bukan penghalang menuju cinta Bayu. Arkan bukan suami yang harus gagal agar Melody benar. Damar, Mira, Raka, dan Keira bukan tokoh tambahan. Levi serta Lody bukan bukti bahwa semua luka menghasilkan kebaikan. Mereka masing-masing menjalani hidup yang tidak sepenuhnya dapat disimpan dalam arsip keluarga.
Pada suatu senja, Melody duduk di bangku taman bersama Levi. Ia menunjuk seorang lelaki tua yang berjalan jauh di jalur setapak.
'Itu Bayu?'
Levi mengikuti arah jarinya. Lelaki itu bukan Bayu.
'Bukan, Ma.'
'Oh.' Melody tampak kecewa, kemudian menatap foto dua cangkir yang dibawa dalam tasnya. 'Bayu siapa?'
Levi menarik napas. Ia tidak menguji, tidak menceritakan sembilan tahun dalam satu ceramah, dan tidak memaksakan duka.
'Seseorang yang sangat berarti buat Mama. Ayahnya Lody. Dia suka memotret.'
'Dia baik?'
'Kadang. Kadang dia membuat kesalahan. Dia belajar.'
Melody tersenyum. 'Berarti manusia.'
Mereka mendengar burung yang tidak bisa dinamai Melody. Cahaya turun di antara daun. Levi bertanya apakah ibunya ingin pulang. Melody mengatakan sebentar lagi.
Di dalam tas, foto itu tidak berubah. Dua cangkir tetap berada di meja, satu utuh dan satu keluar bingkai. Namun hidup tidak tinggal di sana. Hidup ada pada napas Melody sekarang, tangan Levi di bangku, suara Lody yang akan menelepon malam nanti, dan orang-orang yang memilih hadir tanpa menuntut masa lalu mengulang dirinya.
Bayu dan Melody pernah mengira kenangan adalah petunjuk arah. Lalu mereka mengira kenangan adalah beban yang harus diselesaikan. Pada akhirnya kenangan tidak menjadi keduanya. Ia boleh indah, memalukan, tajam, atau tidak lengkap. Ia boleh disimpan, dibagikan dengan izin, ditutup, bahkan dilupakan.
Ketika Siska datang membawa jaket, Melody berdiri pelan. Ia tidak menoleh mencari lelaki di jalur setapak. Ia berjalan pulang sambil menggandeng Levi, menuju makan malam yang menunggu dan hari esok yang mungkin tak akan ia kenali.
Yang tertinggal bukan janji bahwa cinta mengalahkan waktu. Cinta sendiri berubah, kehilangan nama, dan memerlukan bantuan. Yang tertinggal adalah cara mereka akhirnya memperlakukan satu sama lain: sebagai manusia, bukan milik; sebagai kehidupan, bukan bukti.
Dan semua yang telah lewat—sembilan tahun, dua pernikahan, anak-anak, kesalahan, pertemuan kembali, rumah, foto, serta perpisahan—boleh tinggal sebagaimana mestinya.
Just memories.
TAMAT