~NOW~
Bayu meninggal lebih dahulu pada usia delapan puluh dua, bukan ketika sedang memotret matahari atau mengucapkan kalimat yang sempurna. Ia terkena pneumonia setelah infeksi singkat. Antibiotik membantu sementara, lalu tubuhnya tidak lagi merespons seperti dahulu.
Di rumah sakit, dokter menjelaskan pilihan perawatan dengan jelas. Bayu masih mampu memutuskan dan memilih tidak masuk perawatan intensif bila napasnya semakin buruk. Melody duduk di samping, ditemani Levi dan Lody bergantian. Mereka mengikuti kehendak yang sudah ditulis, sehingga tak seorang pun harus menebak cinta dalam keadaan panik.
'Kau takut?' tanya Melody ketika anak-anak keluar membeli makan.
'Iya.'
'Aku juga.'
'Bagus. Berarti bukan aku saja yang pengecut.'
Melody tertawa kecil, lalu batuk karena menangis. Bayu meminta tirai dibuka agar terdengar suara lorong. Ia tidak meminta kamera. Penglihatannya sedang buram karena lelah, tetapi ia mengenali Melody dari suara dan sentuhan tangannya.
Arkan, Jasmine, Mira, dan Damar menerima kabar melalui jalur yang telah disepakati. Arkan mengirim pesan suara singkat. Jasmine meminta Lody menyampaikan salam tanpa datang karena kesehatannya sendiri sedang buruk. Tak ada kunjungan yang dipaksakan demi penutupan dramatis.
Levi membacakan pesan Arkan setelah Bayu mengangguk setuju.
'Terima kasih sudah menjadi ayah Lody dan orang yang akhirnya belajar menjaga batas. Aku masih kesal pada beberapa bagian hidup kita. Istirahatlah tanpa perlu menyelesaikan semuanya.'
Bayu tersenyum.
'Balas bahwa aku juga masih kesal.'
Levi merekam jawabannya. Mereka semua tahu mungkin Arkan tidak akan sempat menerima percakapan lain. Kalimat biasa itu cukup jujur.
Pada malam terakhir, Melody sempat lupa mengapa mereka berada di rumah sakit. Lody menjelaskan perlahan tanpa berkata 'sudah kubilang'. Melody menangis lagi seolah mendengar kabar baru. Beberapa menit kemudian ia ingat dan meminta duduk lebih dekat.
'Kalau besok aku lupa kau pergi, apa aku harus diberi tahu lagi?' tanyanya.
Bayu mengambil napas panjang.
'Tanya dokter dan anak-anak. Jangan biarkan aku menyakitimu berulang hanya demi kebenaran yang kaku.'
'Kau sok bijak sekali.'
'Kesempatan terakhir.'
Bayu meninggal menjelang subuh dengan Melody memegang tangannya dan Lody tidur di kursi. Levi sedang dalam perjalanan kembali setelah mandi. Ia tiba dua belas menit kemudian dan sempat merasa gagal. Perawat mengatakan kematian tidak mengikuti daftar hadir. Melody, dalam satu saat yang sangat jernih, memeluk anaknya.
'Ayahmu tahu kau datang,' katanya. 'Dan kalau tidak tahu pun, cintamu nggak berkurang.'
Pemakaman mengikuti kehendak Bayu: sederhana, tanpa pameran kilas balik yang membuat keluarga mengurus hak gambar dalam duka. Studio mengadakan pertemuan terpisah sebulan kemudian dengan karya yang sudah mendapat izin. Rekan-rekan seniman akses menjadi kurator dan dibayar dari dana warisan kerja.
Pada pertemuan studio, Sari membacakan catatan Bayu tentang akses sebagai biaya kerja. Seorang fotografer muda menceritakan bagaimana Bayu dahulu terlalu cepat memberi nasihat, lalu belajar bertanya. Kesaksian itu membuat beberapa tamu tidak nyaman karena mereka menginginkan pujian murni. Levi membiarkannya tetap ada.
'Ayah nggak perlu jadi sempurna setelah meninggal,' katanya kepada panitia.
Royalti karya dibagi menurut kontrak yang sudah diperbarui. Foto dengan subjek privat tidak otomatis masuk koleksi anumerta. Jasmine telah menerima arsip keluarganya jauh sebelumnya; Lody memegang hak atas foto dirinya. Melody menjadi penerima manfaat, tetapi bukan orang tunggal yang dapat membatalkan izin orang lain.
Di rumah, kursi Bayu tidak segera dipindahkan. Bukan karena dijadikan tempat suci, melainkan karena Melody masih terbiasa menaruh syal di sandarannya. Tiga bulan kemudian petugas menyarankan ruang lebih lebar bagi alat bantu jalan. Melody menyetujui kursi disumbangkan setelah ditunjukkan foto dan penjelasan. Ia memilih satu bantal untuk disimpan, lalu beberapa minggu kemudian memberikannya kepada penghuni baru yang kedinginan.
Levi melihat bantal itu di ruang bersama dan hampir mengambilnya kembali. Ia berhenti karena benda tersebut sedang dipakai. Kehidupan setelah Bayu tidak tersusun dari keputusan besar saja; ia bergerak melalui barang yang berganti tangan, jadwal yang diperbarui, dan kursi kosong yang akhirnya memberi ruang untuk berjalan.
Sebelum pemakaman, Lody menemukan satu kamera saku di laci rumah sakit. Foto terakhir di dalamnya ternyata bukan wajah Melody atau pemandangan besar. Gambar itu memperlihatkan dua cangkir di meja komunitas, salah satunya terpotong bingkai. Metadata menunjukkan foto diambil tiga minggu sebelum sakit.
Levi ingin menjadikannya gambar pengumuman. Lody bertanya kepada Melody. Setelah melihat cukup lama, Melody berkata tidak.
'Itu foto biasa milik ayah kalian. Biarkan biasa.'
Mereka memilih foto resmi Bayu yang sudah lama disetujui untuk publikasi. Foto dua cangkir dicetak satu salinan bagi Melody dan disimpan tanpa judul.
Hari-hari sesudahnya tidak rapi. Kadang Melody tahu Bayu meninggal dan berduka. Kadang ia bertanya kapan Bayu pulang dari studio. Dokter serta keluarganya membuat pendekatan berdasarkan tingkat cemas. Bila Melody tenang, mereka berkata Bayu tidak ada di rumah dan mengalihkan pada rutinitas. Bila ia meminta kebenaran langsung, mereka menjelaskan dengan lembut. Mereka tidak berbohong untuk kenyamanan sendiri, juga tidak memaksanya mengalami kejutan penuh berkali-kali.
Melody tetap tinggal di komunitas dengan tambahan layanan. Levi dan Lody bergantian berkunjung sesuai jadwal yang dapat mereka pertahankan. Raka dan Keira ikut sebagai keluarga, bukan tenaga perawat gratis. Pendamping profesional diberi informasi tentang kebiasaan Melody dan dibayar layak.
Enam bulan kemudian, Melody meminta melihat foto terakhir. Ia tidak ingat pernah menolaknya untuk pengumuman, tetapi menyukai cangkir yang terpotong.
'Bayu selalu begitu,' katanya. 'Mau menyimpan semuanya, malah ada yang keluar bingkai.'
Lody tidak mengoreksi bahwa ayahnya mungkin sengaja mengambil komposisi itu. Mereka duduk bersama. Melody menyentuh tepi cetakan dan bertanya apakah boleh meletakkannya dekat tempat tidur. Foto itu menjadi miliknya, bukan lambang publik tentang cinta abadi.
Satu foto terakhir tidak menyimpulkan hidup Bayu. Tidak ada karya yang mampu memuat semua kesalahan, keberanian, kebiasaan buruk, dan perubahan seorang manusia. Gambar dua cangkir hanya menyimpan cahaya pada satu siang. Yang berada di luar bingkai tetap pernah ada, lalu menjadi ingatan orang-orang berbeda yang tidak harus sepakat tentang maknanya.