~NOW~
Luthfi meninggal dalam tidur pada usia tujuh puluh delapan. Jinan menemukannya pagi hari setelah alarm obat tidak dimatikan. Dokumen medis sudah jelas; petugas memastikan kematian tanpa membawa tubuh ke tindakan yang tidak diinginkan.
Melody menerima telepon sambil sarapan. Gelas terlepas dari tangannya. Bayu mematikan kompor dan menunggu instruksi, bukan langsung menghubungi seluruh keluarga.
'Aku mau ke rumah Bang Luthfi,' kata Melody.
'Aku ikut?'
'Iya.'
Di rumah, Jinan duduk dekat ranjang dengan Dani. Symphony sedang dalam perjalanan. Ana diberi tahu oleh Dani dan datang setelah mendapat izin Jinan. Tidak ada yang mengusir, tetapi dia tidak mengambil tempat pasangan.
Pemakaman mengikuti surat Luthfi: sederhana, tanpa spanduk perusahaan, pidato politik, atau penamaan gedung baru. Farida hadir mewakili Khawas Group dan menutup kantor beberapa jam bagi pekerja yang ingin datang, bukan mewajibkan.
Melody ingin berbicara di pemakaman, lalu berubah pikiran. Symphony membaca doa keluarga. Dani menceritakan Luthfi sebagai ayah yang pernah salah dan belajar. Jinan memilih diam.
Ana berdiri jauh. Setelah acara, dia meminta izin kepada Jinan untuk menaruh bunga. Jinan mengangguk. Keduanya tidak membahas masa pernikahan.
Wasiat Luthfi dibuka beberapa minggu kemudian. Saham mengikuti struktur yang sudah disiapkan, sehingga kematian tidak mengguncang operasional. Jinan menerima rumah serta aset pasangan sesuai hukum. Dani memperoleh bagian sebagai anak. Melody dan Symphony menerima porsi keluarga yang tidak memberi kursi direksi otomatis.
Luthfi menyumbangkan sebagian koleksi bisnis ke arsip universitas dengan syarat dokumen rahasia ditutup selama periode tertentu. Arsip pribadi tetap pada keluarga. Tidak ada surat tersembunyi yang mengubah sejarah.
Satu benda diberikan khusus kepada Melody: pena yang dibawa Luthfi dari hari terakhir kantor. Catatannya berbunyi singkat, gunakan untuk menulis pilihanmu sendiri. Melody menangis dan menyimpan pena tanpa menjadikannya benda suci yang tak boleh dipakai.
Perselisihan kecil tetap muncul. Seorang kerabat ingin nama Luthfi dipasang pada gedung utama. Farida menunjukkan surat penolakan. Pemegang saham menghormati. Dana yang direncanakan untuk papan nama dialihkan ke beasiswa pekerja melalui komite independen.
Khawas Group mengadakan acara mengenang enam bulan kemudian. Melody hadir dan menolak duduk di kursi ketua. Farida menyampaikan laporan tata kelola serta kegagalan yang masih ada, tidak mengubah pendiri menjadi manusia sempurna.
Gina memamerkan arsip proses delegasi. Para pekerja menceritakan Luthfi pernah membantu dan pernah membuat pembayaran terlambat karena ingin menyetujui semua. Keluarga mendengar tanpa memotong kritik.
Setelah kematian, Ana lebih jarang muncul. Dani mengatakan ibunya berduka dengan cara sendiri. Melody tidak menghubungi untuk berbagi duka bersama. Mereka memiliki hubungan berbeda dengan orang yang sama.
Jinan memilih pindah ke rumah lebih kecil setelah satu tahun. Rumah Luthfi dijual sesuai kehendaknya, bukan dipertahankan sebagai museum. Melody mengambil beberapa buku setelah Jinan menawarkan. Barang lain disumbangkan atau dibagi melalui daftar.
Bayu membantu mengangkut, tetapi tidak mengambil alih. Dia mengenali rasa kehilangan Melody mirip dukanya sendiri, namun tidak menyamakan.
'Aku selalu pikir Bang Luthfi akan ada buat menyuruhku sesuatu,' kata Melody.
'Sekarang siapa yang menyuruh?'
'Aku sendiri. Lebih menyebalkan.'
Mereka tertawa di tengah kotak.
Melody menggunakan pena Luthfi untuk menandatangani surat penjualan saham kecil yang ingin dilepasnya. Tinta sempat macet. Dia menggoyang dan melanjutkan. Benda terakhir abangnya tidak memberi jawaban; hanya alat.
Beberapa bulan pertama sesudah pemakaman, kesedihan Melody tidak datang dengan jadwal yang sopan. Ia bisa tenang saat melihat foto, lalu menangis hanya karena mendengar seseorang memanggil adiknya dengan kata 'Dek' di pasar. Pada malam-malam semacam itu Bayu tidak menuntut penjelasan. Ia membuat teh, duduk di ujung sofa, dan membiarkan Melody memutuskan apakah ingin bicara atau tidur.
'Aku bahkan masih marah sama dia,' ujar Melody suatu malam. 'Orang mati mestinya bikin yang ditinggal cuma sedih. Kenapa aku masih ingin memarahinya?'
'Karena dia tetap abangmu yang sama. Mati nggak otomatis mengedit hubungan kalian.'
Melody membawa kalimat itu ke pertemuan dukacita keluarga. Dani mengaku lega karena tak lagi menunggu telepon ayahnya yang sering terdengar seperti evaluasi. Symphony merindukan suara Luthfi, tetapi juga tidak merindukan kebiasaannya mengatur. Jinan mendengarkan, lalu mengatakan cinta mereka tidak memerlukan kesaksian yang seragam. Pertemuan itu berakhir tanpa keputusan besar, hanya dengan makan siang yang sebagian terlalu asin.
Di perusahaan, kematian Luthfi menguji hal yang selama ini mereka sebut delegasi. Seorang klien lama menolak menandatangani perpanjangan sebelum berbicara dengan keluarga pendiri. Farida meminta Dani dan Melody tidak hadir sebagai simbol. Ia mengirim tim yang memang memegang pekerjaan tersebut. Kontrak sempat tertunda, lalu selesai tanpa nama keluarga ikut campur. Melody melihat berita internal itu dengan campuran bangga dan kehilangan.
'Dulu dia pasti turun tangan,' katanya.
'Dan sekarang sistem yang dia bantu siapkan justru bekerja karena dia nggak bisa turun tangan,' jawab Farida melalui telepon.
Melody meminta agar evaluasi tahunan mencatat proses itu apa adanya. Tidak ada kalimat bahwa visi pendiri menyelamatkan keadaan. Yang menyelamatkan keadaan adalah orang-orang yang diberi wewenang, data yang rapi, serta keberanian untuk tidak menunggu restu orang yang sudah tidak ada.
Pada ulang tahun pertama kematian Luthfi, keluarga tidak membuat acara resmi. Jinan mengundang mereka makan di rumah barunya. Ana datang hanya pada sesi doa setelah memastikan kehadirannya tidak mengganggu. Dani membawa satu rekaman suara lama, tetapi bertanya sebelum memutarnya. Jinan mengatakan tidak hari itu. Rekaman disimpan kembali dan tak seorang pun memaksanya demi suasana haru.
Melody membawa pena. Symphony membawa resep makanan kesukaan Luthfi dan gagal membuat teksturnya sama. Mereka tertawa ketika kuahnya terlalu kental. Di meja itu, Luthfi hadir bukan sebagai pusat yang mengatur tempat duduk, melainkan sebagai kumpulan ingatan yang boleh diterima, diperdebatkan, atau dibiarkan lewat.
Abang yang tidak lagi menjaga semua meninggalkan perusahaan yang dapat berjalan, keluarga yang tidak harus berkumpul di bawah perintahnya, dan adik yang sudah lama memilih hidup sendiri. Kematian tidak membatalkan kesalahan atau pelajaran. Ia menutup kesempatan Luthfi berubah lagi, tetapi perubahan yang sempat dilakukan tetap hidup dalam pintu yang kini dapat dibuka orang lain tanpa menunggu tangannya.