~NOW~
Ulang tahun pernikahan kedua puluh lima dirayakan tanpa pesta besar. Levi serta Raka mengusulkan pemutaran film keluarga. Lody serta Keira ingin membuat makan malam. Bayu dan Melody meminta satu meja dengan keluarga inti serta teman dekat saja.
Arkan dan Mira datang. Jasmine serta Damar juga hadir. Luthfi, Jinan, Symphony, Dani, Teguh, Popy, dan beberapa teman mengisi meja lain. Ana diundang sebagai ibu Dani dan memilih datang singkat.
Tidak ada pembaruan janji. Melody menilai janji tidak perlu diucapkan ulang demi penonton. Mereka menampilkan album foto yang setiap gambar sudah disetujui orang di dalamnya.
Foto pertama bukan masa pacaran lama, melainkan meja kafe saat mereka mulai berbicara setelah jeda. Foto anak dipilih Levi dan Lody sendiri. Tidak ada gambar nama Lody atau tangisan perceraian.
Levi membuat video pendek dari benda: dua kalender, kunci rumah, cangkir, cincin, kamera, dan buku resep. Narasi hanya menyebut waktu mengubah fungsi benda. Bayu serta Melody tidak dijadikan pusat setiap hubungan.
Saat makan, Teguh bercanda pernikahan ini membutuhkan dua puluh lima tahun ditambah sembilan tahun menunggu. Melody mengoreksi.
'Sembilan tahun itu bukan masa tunggu menuju pernikahan ini. Kami menjalani kehidupan lain.'
Arkan dan Jasmine mendengar. Kalimat tersebut penting. Pernikahan lama mereka bukan ruang kosong.
Bayu mengucapkan terima kasih kepada semua yang membantu, termasuk mantan pasangan, tetapi tidak meminta mereka berdiri atau menerima tepuk tangan. Arkan mengangkat gelas kecil. Jasmine tersenyum.
Lody memberi hadiah papan nama unit bertuliskan Bayu dan Melody, tanpa menyamakan nama belakang. Levi memberi dua kunci mekanis cadangan karena sistem digital sering membingungkan. Kunci disimpan dalam kotak darurat, bukan diberikan kepada anak.
Popy meminta mereka berdansa. Melody menolak karena lutut Bayu dan jantungnya sedang tidak ingin pertunjukan. Damar mengajak semua melakukan gerakan ringan dari kursi. Tawa memenuhi ruangan.
Ana menghampiri sebelum pulang dan mengucapkan selamat. Melody menjawab terima kasih. Mereka tidak mengambil foto berdua. Batas tetap ada bahkan dalam perayaan panjang.
Setelah tamu pulang, Bayu dan Melody kembali ke unit. Petugas membantu membawa hadiah sebagai bagian layanan, bukan kebaikan gratis. Mereka memberi tip sesuai aturan kompleks.
Di rumah, Bayu membuka papan nama. Melody memilih memasangnya esok hari agar tidak membuat suara malam. Mereka duduk minum air, terlalu lelah untuk romantis.
'Dua puluh lima tahun,' kata Bayu.
'Nggak semuanya bahagia.'
'Nggak. Tapi semuanya dibicarakan akhirnya.'
Melody mengingat awal ketika satu permintaan menunggu tidak dipahami. Kini mereka telah melewati ribuan belum, tidak, nanti, dan berubah pikiran. Sebagian menyakitkan, tetapi tidak lagi dijawab dengan menghilang.
Mereka membuka hadiah dari anak: surat singkat, bukan janji merawat. Levi berterima kasih karena diperbolehkan memilih rumah Papa. Lody berterima kasih karena namanya dikembalikan menjadi miliknya. Bayu dan Melody menangis atas hal yang bukan pujian romantis, melainkan bukti anak melihat perbaikan.
Sebelum tidur, Bayu bertanya apakah Melody masih memilih pernikahan itu.
'Hari ini iya,' jawabnya. 'Besok tanya lagi kalau perlu.'
'Hari ini aku juga iya.'
Dua puluh lima tahun tidak memberi jaminan hari berikut. Ia hanya kumpulan hari ketika pilihan diperbarui, kadang dengan bahagia, kadang sambil marah, sakit, atau lelah. Perayaan berakhir tanpa sumpah selamanya. Di kamar unit lansia dengan dua pintu, mereka beristirahat sebagai dua orang yang masih memiliki hak tinggal dan hak pergi, sehingga kata pulang tetap memiliki arti.
Hari berikutnya mereka memasang papan nama bersama teknisi kompleks. Bayu ingin posisi namanya di atas karena urutan alfabet nama keluarga. Melody memilih sejajar. Teknisi membuat dua baris dengan ukuran sama tanpa memperdebatkan simbol.
Mereka lalu membuka kembali album dan menemukan satu foto acara parenting tempat pertemuan terjadi, diambil dari jauh oleh panitia. Bayu serta Melody tampak sebagai dua orang asing di sisi berbeda aula. Foto itu tidak dimasukkan dalam tayangan perayaan karena ada wali murid lain tanpa izin.
Melody menyimpan salinan privat. Dia tidak menyebutnya foto takdir, hanya dokumentasi hari ketika masa lalu muncul dan semua orang belum tahu akibatnya.
Pada minggu setelah perayaan, Bayu serta Melody bertengkar soal jadwal kontrol. Bayu memasukkan waktu tanpa bertanya; Melody sudah punya kelas. Mereka menaikkan suara, berhenti dua puluh menit, lalu kembali. Ulang tahun panjang tidak membuat pola lama mustahil muncul.
Kontrol dijadwal ulang dan kalender diperbaiki. Mereka menertawakan betapa cepat perayaan romantis kembali menjadi urusan waktu. Justru itu kehidupan yang ingin mereka pertahankan: bukan panggung, melainkan kemampuan kembali setelah suara keras.
Arkan mengirim pesan bahwa Levi tampak bahagia di acara. Jasmine menulis Lody pulang dengan tenang. Kedua pesan tidak meminta balasan panjang. Mantan pasangan ikut menyaksikan tonggak tanpa dijadikan bukti semua luka selesai.
Malam berikutnya Bayu bertanya apakah Melody ingin mendengarkan rekaman Ibu. Melody menjawab iya. Mereka memutar suara tentang bawang, cuaca, dan keluhan lutut. Setelah selesai tidak ada pidato.
Dua puluh lima tahun berisi orang yang datang, pergi, serta tetap berada dalam bentuk lain. Bayu dan Melody tidak berdiri sendirian di akhir perjalanan. Mereka berada di tengah jaringan yang dihormati justru karena tidak dipaksa menyatu menjadi satu cerita cinta.
Sebelum tidur, Melody membuka jendela dan mendengar musik dari ruang bersama. Bayu menawarkan turun. Melody terlalu lelah. Mereka memilih mendengar dari unit, masing-masing di kursi sendiri.
Papan nama baru terpasang di luar. Petugas mengetuk untuk memastikan posisinya benar. Melody serta Bayu melihat dua nama sejajar dan mengangguk. Tak ada satu nama menelan yang lain.
Pada pagi hari, rutinitas kembali: obat, sarapan, kelas, dan jadwal kontrol. Ucapan selamat masih masuk tetapi tidak segera dibalas. Mereka tidak berutang pertunjukan bahagia setelah perayaan.
Bayu mencuci dua cangkir. Melody menyimpan surat anak dalam kotak. Lalu keduanya berjalan ke kebun kompleks dengan kecepatan berbeda dan bertemu di bangku yang sama.
'Masih pilih aku hari ini?' tanya Bayu sambil bercanda.
'Tanya setelah aku dapat kopi.'
Bayu tertawa dan membeli dua minuman. Jawaban kadang membutuhkan waktu sesingkat antrean, kadang setahun, kadang datang dalam tindakan tanpa kata. Dua puluh lima tahun mengajarkan mereka tidak perlu takut pada jeda selama ada waktu kembali yang jelas.