~NOW~
Setahun setelah Ibu Bayu meninggal, Melody mengalami nyeri dada saat mengajar. Dia mengira asam lambung dan ingin menyelesaikan kelas. Seorang peserta yang perawat memanggil ambulans.
Pemeriksaan menunjukkan penyempitan pembuluh yang perlu tindakan segera, tetapi bukan serangan besar. Bayu menerima telepon dan datang dengan daftar obat serta dokumen kuasa medis yang telah mereka siapkan.
Dia tidak menandatangani sebelum Melody diberi penjelasan. Melody memilih prosedur setelah dokter menerangkan risiko. Bayu menghubungi Levi, Lody, Luthfi, serta Arkan hanya sesuai daftar yang Melody setujui.
Prosedur berhasil. Melody bangun dengan rasa takut yang lebih besar daripada nyeri. Bayu duduk di sampingnya tanpa kamera atau kalimat bahwa semuanya pasti baik.
'Aku belum siap mati,' katanya.
'Aku juga belum siap kamu mati.'
'Itu bukan janji aku nggak akan.'
'Aku tahu.'
Levi datang bersama Raka. Lody serta Keira membawa makanan untuk Bayu, bukan mengambil alih perawatan. Arkan mengirim pesan dan menawarkan bantuan dokumen asuransi. Jasmine mengetahui dari Lody tetapi tidak datang tanpa undangan.
Pemulihan mengubah pembagian rumah. Melody tidak boleh mengangkat berat dan harus menjalani rehabilitasi jantung. Bayu menyusun jadwal terlalu ketat. Dia memeriksa denyut dan makanan sampai Melody merasa menjadi pasien di rumah sendiri.
'Aku butuh dukungan, bukan pengawas,' katanya.
Bayu tersinggung karena menganggap dirinya hanya menjaga. Dalam terapi, dia mengakui kematian Ibu membuatnya takut kehilangan orang lain. Ketakutan sah, tetapi tubuh Melody tetap miliknya.
Mereka menemui ahli gizi bersama. Menu disusun tanpa menjadikan makan sebagai hukuman. Melody boleh memilih dalam batas medis. Bayu tidak mengomentari setiap suapan.
Rehabilitasi dilakukan tiga kali seminggu. Melody malu berjalan lambat di antara pasien lain. Fisioterapis menegaskan pemulihan bukan kompetisi. Dia mencatat kemajuan berdasarkan tubuh sendiri.
Kelas menulis dihentikan dua bulan. Penyelenggara menawarkan mengganti dengan rekaman lama. Melody memeriksa persetujuan peserta sebelum materi dipakai. Penyakit tidak memberi lembaga hak otomatis menjual arsip.
Saat kembali mengajar, Melody hanya mengambil satu sesi. Dia mengatakan kepada peserta kebutuhan jeda tanpa menceritakan seluruh diagnosis. Keterbukaan tidak harus menjadi pengungkapan total.
Bayu juga meninjau kesehatannya. Tekanan darah naik dan gula mendekati batas. Dia menjalani pemeriksaan serta perubahan kebiasaan, bukan menjadikan dirinya perawat sehat yang kebal.
Mereka berjalan pagi bersama, tetapi kecepatan ditentukan Melody pada tahap awal. Jika Bayu ingin lebih cepat, dia melanjutkan satu putaran sendiri lalu bertemu kembali. Kebersamaan tidak berarti tubuh harus punya kemampuan sama.
Kejadian itu mendorong pembaruan dokumen akhir hidup. Melody memilih Bayu sebagai kuasa utama, Levi sebagai cadangan setelah menanyakan kesediaan. Dia tidak otomatis memilih anak kandung jika anak tidak siap. Levi menerima dengan syarat panduan jelas.
Lody tidak tercantum sebagai kuasa, tetapi masuk daftar orang yang diberi kabar. Dia mengatakan lega tidak harus mengambil keputusan medis atas Aunty. Hubungan kasih tidak selalu membutuhkan jabatan hukum sama.
Luthfi datang membawa buah dan mulai memberi nasihat panjang. Melody mengingatkan dia juga pernah menjadi pasien yang membenci kendali. Luthfi tertawa malu dan berhenti.
Enam bulan kemudian hasil kontrol baik. Melody tidak menyebut sembuh total. Obat dan pemeriksaan tetap ada. Bekas tindakan kecil tidak terlihat, tetapi rasa takut sesekali datang saat dada terasa aneh.
Suatu malam dia membangunkan Bayu karena panik. Mereka mengikuti rencana: menilai gejala, menghubungi layanan medis, dan pergi jika perlu. Ternyata bukan keadaan darurat. Bayu tidak mengejek atau mengatakan kecemasannya berlebihan.
Jantung Melody tidak menjadi simbol cinta akhirnya pulang. Ia adalah organ yang menua, sakit, dan membutuhkan perawatan. Bayu tidak dapat menjaganya dengan rasa rindu. Dia hanya dapat mendengar, mengikuti ilmu, serta menerima bahwa mencintai seseorang tidak memberi kuasa menahan detaknya selamanya.
Penyakit juga membuat Melody meninjau cara dirinya mengajar. Kelas panjang empat jam diubah menjadi dua sesi dengan istirahat. Peserta difabel dan lanjut usia mengatakan format baru lebih mudah. Akomodasi yang awalnya dibuat untuk pengajar ternyata memperbaiki akses banyak orang.
Dia mengurangi perjalanan, tetapi tidak menyerahkan semua undangan kepada Bayu untuk diputuskan. Setiap tawaran dinilai berdasarkan energi, fasilitas medis, serta keinginan. Dokter memberi batas, bukan larangan total.
Pada perjalanan pertama setelah pulih, Bayu ingin ikut. Melody memilih pergi bersama penyelenggara dan satu teman. Dia perlu membuktikan kepada diri sendiri dapat bepergian aman tanpa suami menjadi penjaga. Bayu mendapat jadwal darurat dan menahan diri tidak menelepon berulang.
Perjalanan berjalan baik sampai penerbangan terlambat. Melody mengirim kabar satu kali dan menggunakan obat sesuai jadwal. Bayu mengelola kecemasan bersama terapis melalui telepon, bukan membanjiri istrinya.
Kedekatan fisik berubah sementara karena Melody takut denyut meningkat. Mereka berkonsultasi dengan dokter, yang menjelaskan batas aktivitas. Bayu menunggu Melody memulai dan menerima jika berhenti. Tidak ada target kembali normal.
Dalam satu malam, Melody menangis karena merasa tubuhnya telah menjadi proyek medis.
'Aku rindu nggak memikirkan jantung setiap kali tertawa atau marah,' katanya.
'Aku nggak bisa mengembalikan itu,' jawab Bayu. 'Tapi aku bisa berhenti membuat setiap kegiatan jadi pemeriksaan.'
Mereka menyimpan alat ukur di tempat yang mudah dijangkau tetapi tidak di meja makan. Waktu pemeriksaan mengikuti anjuran, bukan kecemasan.
Levi dan Lody ikut pelatihan dasar keadaan darurat bersama keluarga, tetapi tidak diminta memantau. Raka, Keira, Arkan, Jasmine, Damar, serta Luthfi menerima ringkasan kontak sesuai peran. Jaringan dibuat berlapis sehingga satu orang tidak menjadi satu-satunya penyelamat.
Setahun kemudian Melody menyelesaikan jalan santai lima kilometer. Bayu berjalan di samping pada kecepatan yang disepakati. Mereka tidak mengunggah medali atau menyebut penyakit berhasil dikalahkan. Jantungnya masih memerlukan obat. Hari itu hanya menunjukkan tubuh yang terluka tetap mampu membawa Melody sejauh yang dipilihnya sendiri.
Pada kontrol berikut, dokter mengatakan angka-angkanya stabil. Melody tersenyum, tetapi tidak meminta sertifikat bahwa bahaya selesai. Dia serta Bayu pulang naik kendaraan umum, berhenti membeli buah, lalu beristirahat. Kesehatan kembali menjadi bagian hidup, bukan seluruh isi hidup.