~NOW~
Telepon datang pukul empat pagi. Ibu Bayu mengalami sesak napas dan sudah dibawa ke rumah sakit oleh petugas komunitas lansia. Bayu serta Melody berangkat setelah menghubungi saudara yang tercantum pada daftar darurat.
Dokter menemukan infeksi paru serta gangguan jantung. Ibu sadar dan mampu memilih perawatan. Dia menolak dipindahkan ke rumah sakit swasta Jakarta hanya karena Bayu menganggap fasilitas lebih baik.
'Ibu mau dekat teman dan dokter yang sudah kenal,' katanya.
Bayu meminta pendapat kedua. Hasilnya mendukung perawatan di tempat. Dia menerima meski sulit.
Lody datang dari Jakarta pada sore hari. Levi sedang syuting di luar kota dan bergabung lewat video setelah Ibu menyetujui. Tidak ada keluarga yang memaksa semua cucu hadir sebagai bukti sayang.
Kondisi membaik tiga hari, lalu kembali memburuk. Dokter membahas kemungkinan perawatan intensif. Dokumen Ibu menyebut tidak menginginkan tindakan agresif jika peluang pulih rendah. Bayu telah membaca bertahun-tahun lalu, tetapi saat keputusan nyata, dia ingin menawar.
'Kalau satu malam di ICU bisa membantu?'
Dokter menjelaskan manfaat serta beban. Ibu masih sadar dan mengulang keinginannya memilih kenyamanan.
'Bayu, jangan bikin Ibu bertahan karena kamu belum siap,' katanya.
Kalimat itu mematahkan pertahanan Bayu. Dia mengangguk dan meminta tim paliatif. Oksigen, obat sesak, serta kehadiran keluarga diatur.
Melody tidak mengambil pusat. Dia membantu komunikasi saudara dan memastikan petugas komunitas yang dekat dengan Ibu mendapat kabar. Teh Rini datang setelah diundang. Ibu tersenyum melihatnya.
Ibu meminta makanan kesukaan meski hanya mampu mencicipi. Dia meminta pengajian kecil tanpa siaran langsung. Foto tidak diambil kecuali satu gambar tangan bersama atas permintaannya.
Bayu duduk di sisi ranjang. Dia meminta maaf atas masa ketika jarang pulang karena bekerja serta ketika memaksa rehabilitasi.
'Kamu anak baik, tapi suka mengira semua bisa dihitung,' jawab Ibu.
'Ibu marah?'
'Kadang. Tapi marah bukan berarti nggak sayang.'
Mereka tidak mencoba menyelesaikan seluruh hidup dalam satu percakapan. Ibu lelah dan tidur. Bayu memegang tangannya setelah memastikan genggaman tidak mengganggu infus.
Levi tiba keesokan pagi. Dia tidak membawa kamera. Lody membacakan cerita pendek yang dibuat saat kecil. Ibu sesekali membuka mata. Nama Melody disebutnya sekali, tetapi tidak jelas apakah memanggil menantu atau cucu. Keduanya tidak berebut makna.
Ibu meninggal malam itu dengan napas yang perlahan berhenti. Perawat memeriksa dan mencatat waktu. Bayu tidak langsung menangis. Dia bertanya prosedur, dokumen, dan siapa harus dihubungi. Melody mengenali cara suaminya berlindung dalam tugas.
'Aku urus sebagian telepon. Kamu boleh duduk,' katanya.
Bayu akhirnya menangis di lorong, dipeluk setelah mengangguk.
Pemakaman mengikuti keinginan Ibu. Rumah lamanya tidak langsung dijual. Notaris membuka wasiat setelah masa duka awal. Tidak ada kejutan besar: pembagian sesuai dokumen, dana komunitas dilunasi, dan sebagian kecil diberikan kepada Teh Rini sebagai penghargaan yang sudah disepakati, bukan pembayaran kasih.
Saudara mempersoalkan pemberian itu. Bayu menegaskan keputusan Ibu dibuat saat mampu. Teh Rini sempat ingin menolak agar tidak dituduh mengambil keuntungan. Pendamping hukum menyarankan dia berhak menerima tanpa meminta maaf.
Bayu mendapat kamera ayahnya dan satu kotak surat keluarga. Lody memperoleh syal rajut, Levi papan foto lama. Melody menerima buku resep yang sudah diberikan sebelumnya, sehingga tidak ada benda tambahan.
Setelah empat puluh hari, Bayu kembali ke komunitas untuk mengambil barang terakhir. Kamar sudah akan ditempati penghuni baru. Dia merasa marah karena tempat bergerak cepat, lalu sadar antrean lansia membutuhkan ruang.
Petugas memberi waktu satu jam. Bayu memeriksa lemari, mengembalikan kunci, dan mengucapkan terima kasih. Dia tidak meminta kamar dipertahankan sebagai kenangan.
Telepon dari komunitas lansia mengakhiri satu hubungan fisik, tetapi tidak mengubah Ibu menjadi tokoh suci. Bayu mengingat teguran, masakan, tuntutan, penerimaan yang terlambat, serta tawa. Duka tidak merapikan manusia. Ia hanya membuat semua percakapan berikut harus berlangsung di dalam dirinya sendiri.
Masa duka setelah pemakaman tidak berlangsung lurus. Bayu beberapa kali menelepon nomor Ibu lalu baru sadar tak akan dijawab. Dia menyimpan rekaman suara terakhir, tetapi berhenti mendengarkan setiap malam ketika tidur mulai terganggu.
Terapis duka menyarankan bukan menghapus rekaman, melainkan menentukan waktu mendengar. Bayu memilih satu kali bersama keluarga pada ulang tahun Ibu. Rekaman tidak menjadi obat yang dipakai sampai melukai.
Rumah lama akhirnya dijual setelah seluruh ahli waris setuju. Sebelum penjualan, barang komunitas yang dipinjam Ibu dikembalikan. Beberapa kerabat ingin mengambil perabot lebih dulu. Notaris meminta daftar serta persetujuan agar orang yang paling cepat datang tidak mendapat semuanya.
Bayu memilih tidak membeli rumah itu. Dia tahu keinginannya mempertahankan berasal dari takut kehilangan tempat asal, bukan kebutuhan. Pembeli adalah keluarga yang ingin membuka usaha jahit. Mereka meminta izin mengubah halaman. Bayu mengatakan setelah penjualan keputusan menjadi milik mereka.
Uang warisan masuk aset pribadi sesuai dokumen. Bayu menyisihkan bagian untuk dana kesehatan, memberi sumbangan anonim ke komunitas lansia, dan tidak membuat yayasan memakai nama Ibu tanpa persetujuan yang tidak pernah diberikan.
Levi menyelesaikan rekaman cerita nenek hanya untuk keluarga. Setiap orang yang suaranya muncul diberi pilihan. Satu bibi meminta bagian pertengkaran dihapus. Levi memenuhi, meski secara artistik adegan itu menarik.
Lody menggunakan syal Ibu pada satu pertunjukan setelah meminta keluarga. Dia tidak menjelaskan asalnya di panggung. Benda warisan boleh memiliki hidup baru tanpa menjadi konten.
Pada hari ulang tahun Ibu, keluarga makan masakan dari buku resep. Hasilnya berbeda dan beberapa bagian terlalu asin. Bayu tertawa untuk pertama kali tanpa segera merasa bersalah.
'Ibu pasti ngomel,' katanya.
Melody menjawab, 'Terus dimakan juga.'
Duka tidak selesai, tetapi mulai memiliki ruang di antara hari lain. Bayu tidak lagi menunggu telepon komunitas. Dia tetap menyimpan nomor petugas sebagai teman yang pernah menjaga Ibu, lalu menghubungi hanya ketika benar-benar ingin bertanya kabar, bukan untuk meminta masa lalu dikembalikan.
Dia tetap anaknya selamanya.