~NOW~
Pertanyaan tentang anak bersama kembali muncul ketika Melody terlambat menstruasi. Usianya mendekati empat puluh dan siklusnya mulai berubah. Tes kehamilan menunjukkan negatif, tetapi dua hari menunggu hasil membuat Bayu serta Melody membayangkan kemungkinan yang belum pernah benar-benar mereka tutup.
'Kalau positif, kamu mau bagaimana?' tanya Melody.
'Aku takut, tapi mungkin bahagia. Kamu?'
'Aku lebih banyak takut.'
Mereka menemui dokter. Perubahan hormon dinilai wajar, tetapi kehamilan masih mungkin. Dokter menjelaskan risiko sesuai usia, pilihan kontrasepsi, dan pemeriksaan. Keputusan tidak dibuat dari satu tes.
Dalam terapi, mereka mengurai alasan ingin anak: pengalaman bersama yang tidak dimiliki dari pernikahan lama, keinginan Bayu merawat sejak bayi dengan orang yang dicintai, dan rasa Melody bahwa keluarga baru belum memiliki simbol sendiri.
Alasan terakhir membuat keduanya berhenti. Anak tidak boleh dilahirkan sebagai simbol yang menyatukan.
Mereka juga mencatat alasan tidak: kesehatan Melody, energi, karier, dua anak yang masih membutuhkan perhatian, dan jaringan keluarga yang sudah kompleks. Bayu mengakui sebagian keinginannya adalah memperbaiki kesalahan nama Lody melalui anak baru.
'Itu nggak adil buat dua anak,' kata Melody.
'Aku tahu.'
Mereka tidak bertanya kepada Levi dan Lody apakah ingin adik. Anak dapat menyampaikan perasaan jika rencana ada, tetapi tidak memutuskan tubuh Melody. Sebelum keputusan, informasi tetap privat.
Jasmine mengetahui kemungkinan dari jadwal medis yang memengaruhi penjemputan. Dia tidak memberi pendapat. Arkan pun hanya menawarkan membantu Levi jika diperlukan.
Melody berbicara kepada Symphony dan Jinan. Symphony mengingatkan dirinya tidak harus membuktikan cinta melalui kehamilan. Jinan membicarakan dampak operasional usaha tanpa menjadikannya alasan melarang.
Bayu berkonsultasi sendiri tentang sterilisasi. Dia tidak mau seluruh kontrasepsi terus menjadi beban Melody. Dokter menjelaskan prosedur, permanensi, serta masa pemeriksaan setelahnya.
Mereka memberi waktu enam bulan. Selama itu, Melody mencatat perasaannya ketika melihat bayi, ketika rumah sepi, dan ketika anak remaja membutuhkan krisis. Bayu melakukan hal sama.
Levi mengalami masalah di sekolah karena memotret teman lalu mengunggah tanpa izin. Melody, Arkan, dan Bayu membahas konsekuensi. Bayu sebagai mentor fotografi mengakui dirinya harus lebih jelas mengajarkan persetujuan. Mereka meminta foto dihapus, permintaan maaf diberikan, dan akses akun dibatasi sementara.
Lody menghadapi kecemasan membaca di depan kelas. Jasmine, Bayu, dan Damar membantu mencari strategi. Dua kebutuhan anak yang ada mengingatkan bahwa pengasuhan tidak berkurang saat mereka membesar; bentuknya berubah.
Pada akhir enam bulan, Melody mengatakan tidak ingin hamil atau memiliki anak lagi. Bayu mengaku sedih, tetapi keinginannya juga tidak cukup kuat untuk menjadi ayah bayi sekali lagi.
'Aku pilih nggak menambah anak,' katanya. 'Bukan cuma ikut kamu.'
Mereka membiarkan kesedihan ada. Kehidupan yang tidak dipilih tetap dapat diratapi tanpa menjadi penyesalan.
Bayu menjalani vasektomi setelah masa tunggu dan konsultasi. Dia menegaskan itu keputusan tubuhnya untuk mendukung pilihan hidup bersama, bukan hadiah yang dapat ditagih. Melody menemaninya dan mengikuti petunjuk medis sampai hasil memastikan efektif.
Keluarga besar diberi jawaban singkat ketika bertanya: mereka tidak merencanakan anak. Ibu Bayu kecewa ingin cucu dari Melody, lalu dikoreksi bahwa Lody sudah cucunya. Luthfi menerima tanpa komentar.
Levi dan Lody diberi tahu setelah keputusan final karena pertanyaan kerabat mulai sampai kepada mereka. Melody menjelaskan tidak akan ada bayi yang diharapkan menyatukan rumah.
'Berarti kita sudah cukup?' tanya Lody.
'Kalian bukan ukuran cukup atau kurang,' jawab Bayu. 'Kami memilih berdasarkan hidup dan kemampuan kami.'
Anak yang tidak mereka tambahkan tidak menjadi lubang dalam keluarga. Rumah tetap penuh oleh jadwal, pertengkaran, kunjungan, kerja, dan kasih yang bentuknya tidak selalu manis. Bayu serta Melody tidak memperoleh bayi untuk menulis ulang awal. Mereka memilih merawat manusia yang sudah ada dan hubungan yang tetap membutuhkan kehadiran.
Keputusan tanpa anak juga memengaruhi rencana rumah. Mereka tidak lagi menyimpan satu kamar sebagai calon kamar bayi. Ruang itu diubah menjadi kamar tamu dan ruang belajar bergantian bagi anak, dengan lemari terkunci untuk dokumen.
Keluarga besar masih mengirim nasihat. Seorang bibi menyarankan adopsi seolah pilihan tersebut jalan mudah. Melody menjelaskan adopsi bukan cara memperoleh simbol keluarga tanpa kehamilan; ada hak, sejarah, dan kebutuhan anak yang harus menjadi pusat.
Ibu Bayu butuh waktu lebih lama menerima. Dia mengatakan garis keluarga Bayu hanya diteruskan Lody, seolah anak perempuan kurang mampu membawa warisan. Bayu menegaskan nama keluarga dan harta bukan alasan melahirkan manusia.
'Lody sudah cukup menjadi dirinya, bukan petugas meneruskan nama,' katanya.
Mereka mengubah sebagian tabungan kemungkinan bayi menjadi dana pendidikan anak serta dana perawatan orang tua. Pembagian tidak otomatis sama karena kebutuhan berbeda, tetapi aturan transparan dibuat dengan Arkan dan Jasmine.
Melody juga memeriksa kesehatannya. Perubahan hormon ternyata awal perimenopause. Dokter menjelaskan gejala, pilihan terapi, dan risiko. Bayu ikut hanya setelah diundang. Dia tidak menganggap perubahan tubuh sebagai akhir feminitas atau kehidupan seksual.
Saat gejala membuat tidur Melody terganggu dan emosinya berubah, mereka menyesuaikan jadwal serta kembali berkonsultasi. Melody tidak memakai hormon sebagai alasan semua konflik; Bayu tidak memakai label emosional untuk menolak keluhan yang sah.
Vasektomi Bayu menjadi bahan lelucon seorang kerabat. Bayu menghentikan. Keputusan medis tidak mengurangi kelelakian dan bukan topik makan keluarga. Dia juga menolak pujian berlebihan seolah prosedur sederhana membuatnya pahlawan.
Levi sempat khawatir keputusan itu berarti Bayu tidak menganggap dirinya dan Lody cukup baik untuk punya adik. Arkan membantu menjelaskan orang dewasa memilih kapasitas, bukan menilai anak yang sudah ada. Lody justru lega karena takut bayi akan mengambil kamar.
Setahun setelah keputusan, mereka meninjau tanpa kewajiban berubah. Kesedihan Bayu berkurang, kepastian Melody tetap. Keduanya menandatangani pembaruan wasiat dan menutup rekening berlabel bayi.
Mereka merayakan bukan ketiadaan anak, melainkan akhir masa tunggu dengan makan bersama Levi serta Lody. Tidak ada pengumuman alasan. Rumah dipenuhi dua remaja yang sibuk pada ponsel dan nyaris tidak berbicara. Bayu tertawa melihat ironi. Keluarga mereka tidak kurang ramai; keramaiannya hanya tidak datang dalam bentuk bayi baru.