~NOW~
Levi berusia tiga belas tahun ketika meminta tinggal lebih banyak dengan Arkan. Dia menyampaikan setelah bertengkar dengan Melody tentang nilai sekolah. Melody mengira permintaan itu hanya kemarahan sementara.
'Kita bicara lagi saat kamu tenang,' katanya.
'Mommy selalu bilang itu kalau nggak suka jawabanku.'
Levi masuk kamar dan menelepon Arkan. Arkan tidak langsung menjemput. Dia mengajak Melody mengadakan pertemuan dengan konselor pengasuhan serta mendengar alasan anak.
Dalam sesi, Levi mengatakan rumah Papa lebih tenang. Di rumah Mommy, jadwal Lody, Bayu, bisnis, dan keluarga Khawas membuatnya merasa tamu. Dia juga tidak suka Melody memeriksa nilai setiap hari.
'Kamu bukan tamu,' kata Melody.
'Tapi semua aturan berubah setelah Mommy menikah.'
Konselor meminta Melody tidak menyangkal pengalaman anak. Secara hukum jadwal dapat ditinjau sesuai usia dan kebutuhan. Tinggal lebih banyak dengan Papa bukan penolakan permanen terhadap Mommy.
Arkan bertanya apakah Levi memilih karena aturan layar di rumahnya lebih longgar. Levi mengaku sebagian. Arkan mengatakan aturan utama akan diselaraskan, jadi perpindahan bukan jalan lari dari konsekuensi.
Mereka mencoba tiga bulan: hari sekolah bersama Arkan, dua akhir pekan dalam sebulan bersama Melody, serta satu malam tengah minggu untuk makan. Rumah Melody tetap menyimpan kamar Levi.
Melody menangis setelah pertemuan. Bayu menawarkan memeluk, lalu mendengarkan rasa takutnya menjadi ibu gagal.
'Levi memilih kebutuhan, bukan menilai seluruh hidupmu,' kata Bayu.
'Kamu mudah bilang. Lody tetap ingin datang ke sini.'
'Jangan bandingkan mereka.'
Melody tersinggung, tetapi tahu Bayu benar. Dia membawa rasa kehilangan ke terapi dan menahan diri tidak memberi hadiah berlebihan agar Levi kembali.
Pada minggu pertama, kamar Levi kosong. Melody hampir mengubahnya menjadi ruang kerja agar tidak melihat kekosongan. Dia berhenti karena perpindahan masih percobaan dan ruang anak adalah janji bahwa pulang tetap mungkin.
Bayu mengurangi sebagian waktu Lody di rumah bersama agar Melody memiliki waktu khusus dengan Levi ketika jadwalnya tiba. Dia tidak mengirim putrinya pergi sebagai pengorbanan; Lody mengikuti jadwal dengan Jasmine yang memang tersedia.
Makan malam pertama Melody dan Levi canggung. Melody tidak menanyakan nilai. Mereka memasak puding mercon versi aman: Melody mengurus bagian noncokelat, Levi bagian cokelat dengan sarung tangan terpisah agar alergi ibunya tidak kambuh.
'Mommy masih simpan resep lama?' tanya Levi.
'Masih. Dulu Mommy bikin buat kamu waktu kecil.'
'Rasanya gagal.'
'Makanya sekarang kamu yang bantu.'
Mereka tertawa. Kedekatan tidak perlu dipaksa melalui pembicaraan serius setiap kunjungan.
Arkan menghadapi sisi sulit. Levi mulai menganggap apartemen Papa bebas pengawasan. Dia pulang terlambat sekali dan berbohong. Arkan memberi konsekuensi kehilangan waktu gim serta menghubungi Melody. Mereka sepakat tanpa saling menyalahkan.
'Kalau tinggal sama Papa, aturan tetap ada,' ujar Arkan.
'Berarti sama saja,' gerutu Levi.
'Rumah bukan tempat memilih orang tua paling mudah.'
Tiga bulan kemudian Levi tetap ingin tinggal lebih banyak bersama Arkan. Melody menerima perubahan resmi. Biaya pengasuhan disesuaikan; karena Levi lebih banyak bersama Arkan, Melody meningkatkan kontribusi kebutuhan harian. Tidak ada anggapan ayah harus membayar semua meski menjadi pengasuh utama.
Sekolah memperbarui alamat utama. Melody tetap menerima laporan dan hadir pada pertemuan sesuai jadwal. Arkan tidak memakai status pengasuh utama untuk mengecilkan suaranya.
Luthfi merasa malu karena keponakannya memilih rumah apartemen daripada rumah besar Melody. Melody menghentikan komentar.
'Levi memilih ketenangan dan kedekatan dengan Papa, bukan ukuran bangunan.'
Bayu pun menjaga batas. Dia tidak mencoba mengisi kekosongan sebagai anak laki-laki atau menjadikan Lody lebih sering hadir. Hubungannya dengan Levi berlangsung lewat kegiatan yang dipilih anak, terutama fotografi, tanpa mengambil fungsi Arkan.
Pada akhir tahun sekolah, nilai Levi stabil dan emosinya lebih terbuka. Dia meminta satu minggu liburan bersama Melody. Permintaan itu datang bukan karena hadiah atau tekanan.
Levi memilih tinggal dengan Papa, tetapi tidak berhenti menjadi anak Mommy. Melody belajar keibuan bukan diukur dari jumlah malam anak tidur di bawah atapnya. Kadang mencintai berarti membiarkan anak mencari ruang yang lebih sesuai dan tetap menyalakan lampu kamar saat dia memutuskan pulang.
Perubahan tempat tinggal juga menguji hubungan Melody dengan Arkan. Dalam satu pertemuan sekolah, Melody menyalahkan aturan apartemen yang menurutnya terlalu longgar. Arkan menanggapi bahwa rumah besar Melody pun tidak otomatis lebih teratur. Mereka mulai berdebat di depan guru.
Guru meminta keduanya berhenti dan menjadwalkan pembicaraan terpisah. Di mediasi, mereka menggunakan data: waktu layar, tidur, tugas, dan kejadian terlambat. Ternyata aturan dasar hampir sama, tetapi pelaksanaannya berbeda karena jadwal kerja.
Arkan menyewa pendamping belajar dua sore dalam seminggu saat harus lembur. Melody awalnya menganggap itu bukti dia tidak mampu menjadi pengasuh utama. Konselor mengingatkan meminta bantuan bukan kegagalan. Melody sendiri memakai Mbok Hartik serta staf rumah selama bertahun-tahun.
Dia meminta maaf kepada Arkan. Mereka menuliskan standar pendamping, akses rumah, dan pelaporan agar keselamatan jelas. Biaya dimasukkan dalam kebutuhan Levi secara proporsional.
Levi juga diberi lebih banyak tanggung jawab. Dia mengatur pakaian dan buku di dua rumah, tetapi orang tua tetap menyediakan kebutuhan dasar. Ketika lupa seragam di rumah Melody, Arkan tidak selalu meminta kurir. Levi harus mengambil setelah sekolah dan kehilangan sebagian waktu bermain.
Pada bulan keenam, Melody menemukan dirinya menikmati hari tanpa tugas penjemputan. Rasa lega memicu rasa bersalah. Terapis mengatakan orang tua boleh menikmati waktu sendiri. Cinta tidak diukur dari keinginan selalu ditemani anak.
Dia menggunakan ruang tersebut untuk mengikuti pelatihan usaha, bertemu Symphony, dan sesekali tidak melakukan apa-apa. Saat Levi datang, Melody lebih mampu mendengar tanpa menjadikan setiap kunjungan proyek memperbaiki hubungan.
Arkan pun belajar tidak menjadikan status pengasuh utama sebagai seluruh identitas. Dia kembali berkencan perlahan dengan seorang arsitek bernama Mira. Setelah enam bulan, dia memberi tahu Melody sebelum memperkenalkan kepada Levi. Aturan pasangan baru yang pernah diminta Arkan dari Bayu kini berlaku pada dirinya.
Levi menerima Mira dengan hati-hati. Melody merasakan cemburu, bukan kepada Arkan sebagai pasangan, melainkan pada perempuan lain yang hadir di keseharian putranya. Dia membawa rasa itu ke terapi dan tidak menuntut laporan setiap interaksi.
Pilihan Levi membuka ruang bagi seluruh orang dewasa tumbuh. Rumah Papa menjadi alamat utama tanpa menghapus rumah Mommy. Melody berhenti melihat perpindahan sebagai vonis. Anak tidak meninggalkan ibunya; dia sedang menyusun kedekatan dalam bentuk yang lebih sesuai bagi dirinya.