~NOW~
Lody berusia sembilan tahun ketika pertama kali menanyakan mengapa namanya sama dengan Melody. Seorang teman sekolah menemukan unggahan lama tentang hubungan Bayu dan Melody, lalu mengatakan Lody dinamai dari pacar Ayah.
Lody pulang ke rumah Jasmine dengan wajah pucat.
'Bunda bohong soal nama Lody,' katanya.
Jasmine tidak menjawab sendirian. Dia menghubungi Bayu dan meminta percakapan dilakukan malam itu karena penundaan akan terasa seperti penghindaran. Mereka bertemu di rumah utama. Melody tidak hadir; ini tanggung jawab orang tua Lody.
Bayu mengawali dengan pengakuan.
'Ayah memilih nama Melody karena dulu mengenal seseorang dengan nama itu dan belum selesai dengan perasaan Ayah. Bunda waktu itu tidak tahu alasan lengkapnya.'
'Aunty Mel?'
'Iya.'
'Berarti Lody anak Aunty?'
'Tidak. Lody anak Ayah dan Bunda. Nama itu milik Lody sejak lahir.'
Jasmine mengatakan dirinya baru mengetahui beberapa tahun lalu dan marah kepada Bayu, bukan kepada anak. Dia meminta maaf karena tidak menjelaskan lebih awal, tetapi mereka menunggu sampai Lody cukup besar. Lody menganggap keputusan tersebut tetap bohong.
'Lody berhak marah,' ujar Jasmine. 'Kami juga siap menjawab pertanyaan, tapi ada rincian hubungan dewasa yang tetap privat.'
Lody bertanya apakah namanya dapat diganti. Bayu dan Jasmine tidak menolak. Mereka menjelaskan proses hukum dan dampaknya pada dokumen. Lody boleh memakai nama tengah Shirrina atau panggilan lain selama masa berpikir.
'Lody mau dipanggil Rina,' katanya.
Jasmine mencoba sebutan itu. Bayu pun mengikuti meski dadanya sesak. Mereka memberi tahu sekolah tanpa menjelaskan alasan kepada wali murid. Guru menggunakan Rina dan mengoreksi teman dengan tenang.
Melody mengetahui dari grup orang tua. Dia tidak menghubungi Lody. Dia mengirim pesan kepada Jasmine serta Bayu bahwa dirinya siap menjaga jarak atau menjawab jika diminta.
Jasmine mengundang Melody ke sesi bersama psikolog dua minggu kemudian karena Lody ingin bertanya langsung. Melody datang tanpa Bayu agar anak tidak merasa mereka satu tim melawan Bunda.
'Aunty tahu Ayah kasih nama Lody karena Aunty?' tanya Lody.
'Aunty baru tahu saat bertemu Bunda beberapa tahun lalu.'
'Aunty senang?'
Melody jujur bahwa awalnya dia kaget dan sebagian dirinya merasa tersentuh, lalu sadar keputusan itu tidak adil kepada Bunda dan Lody.
'Aunty nggak punya hak atas nama kamu,' katanya. 'Kalau kamu mau dipanggil Rina, Aunty akan panggil Rina.'
'Kalau Aunty nikah sama Ayah, orang bilang Lody anak Aunty.'
'Kami belum merencanakan menikah. Kalau suatu hari iya, Aunty tetap bukan ibu yang melahirkan atau menggantikan Bunda.'
Lody meminta Melody tidak datang pada kegiatan sekolah selama satu bulan. Melody menerima. Bayu juga tidak memprotes keputusan anak atau membujuk agar hubungan cepat pulih.
Selama beberapa minggu, Lody memakai Rina. Bayu tersandung beberapa kali menyebut Lody. Dia meminta maaf tanpa mengatakan nama lama lebih indah. Jasmine menyimpan benda bertuliskan Lody dan bertanya apakah anak ingin melihat atau menyimpannya. Sebagian tetap dipakai karena belum ada keputusan hukum.
Teman sekolah mulai bertanya. Lody mengatakan sedang mencoba panggilan baru. Levi membantu mengoreksi, tetapi sekali waktu dia menjelaskan rahasia kepada teman lain. Lody marah. Melody meminta Levi meminta maaf karena cerita itu bukan miliknya.
Bayu mengikuti sesi pengasuhan khusus. Dia mengakui selama ini mengira nama adalah pemberian orang tua, sehingga maknanya menjadi hak pemberi. Psikolog menjelaskan anak tumbuh menjadi pemilik identitas sendiri. Orang tua boleh membawa niat, tetapi tidak menuntut anak memikul cerita mereka.
Setelah tiga bulan, Lody memutuskan mempertahankan nama resmi tetapi ingin keluarga memanggil Lody lagi. Dia mengatakan nama tersebut sudah berisi teman, sekolah, dan hidupnya, bukan cuma Aunty Mel.
'Ayah jangan pernah bilang nama Lody bukti Ayah cinta Aunty,' katanya.
'Ayah janji.'
'Bunda boleh marah kalau Ayah lupa.'
Jasmine tersenyum tipis. Bayu menerima.
Hubungan Lody dengan Melody pulih lambat. Pertemuan pertama setelah jeda hanya berlangsung setengah jam di kafe. Melody membawa buku, bukan hadiah mahal. Lody memanggilnya Aunty dan tidak memeluk. Melody tidak menuntut kehangatan lama.
Nama Melody Shirrina Aksara tetap tercetak di dokumen. Namun makna yang menempel padanya berubah melalui pilihan pemiliknya. Bayu tidak dapat menarik keputusan masa lalu, tetapi dia dapat berhenti menjadikan anak sebagai tempat penyimpanan kenangan. Lody memilih namanya bukan karena memaafkan seluruhnya, melainkan karena tak seorang pun berhak mengambil sembilan tahun hidup yang sudah dia isi sendiri.
Bayu juga menemui guru kelas setelah mendapat izin Lody. Dia tidak meminta sekolah menghapus catatan nama lama atau menjelaskan gosip. Dia hanya memastikan panggilan pilihan anak dihormati tanpa menjadikannya tontonan.
Guru mengusulkan tugas tentang asal nama bagi seluruh kelas ditunda. Tugas yang tampak sederhana dapat menyulitkan anak adopsi, keluarga bercerai, atau siapa pun dengan sejarah sensitif. Sebagai gantinya siswa menulis nama yang ingin dipakai dalam cerita fiksi.
Lody memilih nama Rina untuk tokoh penjelajah. Tokoh itu tidak meninggalkan nama Lody; keduanya hidup dalam satu cerita. Psikolog melihat tugas tersebut sebagai cara aman mencoba identitas tanpa keputusan permanen.
Jasmine memproses kemarahannya sendiri. Setiap kali mendengar Melody memanggil anaknya Lody, ada rasa seolah perempuan itu memakai sesuatu yang dahulu dicuri dari dirinya. Dia tidak meletakkan emosi itu pada anak. Dalam terapi, Jasmine menulis surat yang tidak dikirim kepada Bayu tentang masa kehamilan, persalinan berat, dan kebahagiaan yang kini tercemar informasi baru.
Bayu membaca surat hanya setelah Jasmine memilih memberikannya pada sesi mediasi pengasuhan. Dia tidak mengoreksi ingatan atau mengatakan dirinya juga hadir di rumah sakit. Dia mengakui keputusannya telah merampas kesempatan Jasmine memberi persetujuan pada makna nama.
'Aku nggak butuh kamu membenci nama itu,' kata Jasmine. 'Aku butuh kamu tahu kenapa aku sempat nggak sanggup mengucapkannya.'
'Aku tahu sekarang, walau terlambat.'
Mereka sepakat semua dokumen masa depan yang menyangkut identitas Lody dibahas bersama anak sesuai usia. Tidak ada nama panggilan, foto, atau cerita kelahiran yang dipublikasikan tanpa persetujuan.
Saat kembali memakai Lody, anak itu meminta teman-teman tidak bertanya alasan. Sekolah mendukung. Levi menjadi terlalu protektif dan hampir memarahi teman. Lody menghentikannya.
'Aku bisa jawab sendiri,' katanya.
Levi mundur. Nama itu akhirnya benar-benar menjadi milik Lody ketika orang-orang yang mencintainya belajar tidak berbicara atas namanya tanpa diminta.