~NOW~
Kabar perceraian Bayu dan Jasmine muncul di grup orang tua melalui perubahan formulir penjemputan. Melody membacanya tanpa membuka profil Bayu. Dia tidak memberi ucapan, pertanyaan, atau tanda apa pun. Batas komunikasi masih berlaku.
Arkan mengetahui dari Melody malam itu. Wajahnya mengeras sesaat.
'Apa kamu senang?'
'Ada bagian diriku yang merasa pintu terbuka. Aku benci mengakuinya.'
'Setidaknya jujur.'
Mereka membawa perasaan tersebut ke konseling. Masa evaluasi tiga bulan hampir berakhir. Hubungan mereka lebih hangat, pembagian rumah membaik, dan Arkan hadir bagi Levi. Namun Melody belum dapat mengatakan memilih pernikahan tanpa keraguan.
'Saya takut kalau bertahan, saya akan terus menguji apakah Melody akhirnya mencintai saya lebih dari Bayu,' ujar Arkan.
Konselor bertanya apakah dia bersedia hidup dengan sejarah yang tidak dapat dihapus. Arkan menjawab mungkin, tetapi tidak dengan menjadi peserta perlombaan yang hanya ada di kepalanya.
Di rumah, dia membuka kotak berisi foto pernikahan. Melody duduk di sampingnya. Mereka melihat dua orang yang tampak tenang, bukan bahagia. Arkan mengingat kegugupannya; Melody mengingat harapannya agar upacara cepat selesai.
'Aku nggak mau delapan tahun dianggap palsu,' kata Arkan.
'Nggak palsu. Tapi awalnya nggak jujur.'
Arkan mengakui pernah tahu Melody belum siap, lalu menganggap pernikahan sebagai cara membuktikan dirinya lebih baik daripada laki-laki yang meninggalkan. Dia tidak pernah mengenal Bayu, tetapi berkompetisi dengan ketidakhadirannya.
'Kalau kita bertahan sekarang, aku nggak mau karena akhirnya aku menang.'
'Aku juga nggak mau kamu jadi hadiah karena Bayu gagal.'
Mereka memutuskan memperpanjang evaluasi satu bulan, bukan demi menunggu Bayu, melainkan menyelesaikan pertanyaan praktis. Mereka mencoba satu minggu hidup terpisah. Arkan tinggal di apartemen dekat kantor baru dan tetap mengasuh Levi bergantian.
Levi sudah melihat pola Lody dan bertanya apakah orang tuanya juga bercerai. Mereka menjawab belum ada keputusan, tetapi sedang mencoba dua rumah. Levi marah.
'Semua gara-gara Lody pindah sekolah ke sini!'
Melody menolak menyalahkan temannya. Dia menjelaskan masalah orang tua sudah ada sebelum mereka bertemu kembali. Arkan menambahkan bahwa Levi boleh marah kepada keadaan, tetapi tidak menyakiti Lody.
Di apartemen Arkan, Levi memiliki tempat tidur lipat, meja belajar, dan pakaian sendiri. Arkan tidak menyebutnya liburan. Mereka menjalani hari sekolah biasa. Pagi pertama roti gosong dan buku olahraga tertinggal. Arkan mencatat kekurangan tanpa menelepon Melody agar datang menyelamatkan.
Melody menjalani rumah sepi. Dia ingin mengirim pesan kepada Bayu, terutama setelah tahu laki-laki itu resmi memulai proses cerai. Sebagai gantinya dia menelepon konselor dan meminta jadwal tambahan. Dorongan tersebut bukan bukti takdir; itu pola lama mencari Bayu saat takut sendirian.
Pada akhir minggu, Arkan mengaku merasa damai di ruang sendiri, tetapi merindukan Melody dan rumah. Melody merindukan kehadirannya, bukan hanya bantuannya. Kerinduan itu nyata, meski belum cukup menjadi alasan tinggal.
Mereka akhirnya memilih bercerai melalui mediasi. Keputusan diucapkan bersama di ruang konseling. Melody menangis terlebih dulu. Arkan menggenggam tangannya setelah bertanya.
'Aku sayang kamu,' kata Arkan. 'Tapi aku nggak mau terus menunggu cinta yang bentuknya harus kupaksakan.'
'Aku juga sayang. Aku minta maaf menerima pernikahan ketika hatiku belum siap.'
Mereka sepakat kasih yang ada dapat berubah menjadi hubungan orang tua dan keluarga, bukan dipaksa menjadi romansa. Tidak ada tuntutan perselingkuhan dalam dokumen karena keduanya ingin menyelesaikan tanpa mempermalukan pihak lain. Pertemuan rahasia Melody tetap diakui dalam konseling dan menjadi bagian pertanggungjawaban pribadi.
Luthfi menerima keputusan dengan sedih. Dia menawarkan pengacara keluarga; Melody serta Arkan memilih mediator independen. Ana menuduh Arkan menyerah setelah semua keuntungan diperoleh. Arkan menunjukkan laporan aset dan mengembalikan benda perusahaan yang masih tersisa.
'Saya nggak mengambil Melody dari siapa pun dan nggak kalah dari siapa pun,' katanya kepada Ana.
Kepada Levi, mereka menjelaskan keputusan final di rumah. Anak itu menangis, membanting pintu, lalu menolak makan. Mereka tidak memaksa dia menerima. Arkan tetap tinggal malam itu di kamar tamu dan esoknya mengantar sekolah.
Perceraian tidak membuat Arkan pemenang atau pecundang. Dia kehilangan bentuk keluarga yang diinginkan, tetapi memperoleh hak berhenti membuktikan diri. Melody pun tidak langsung bebas menuju Bayu. Mereka berdua berdiri di tepi perubahan dengan satu kewajiban yang tidak berakhir: memastikan Levi tidak mengira dirinya hadiah yang dibagi setelah perlombaan selesai.
Mediasi mereka juga mengungkap kemarahan yang selama ini rapi. Arkan bertanya mengapa Melody baru mau mengenalnya setelah Bayu kembali. Melody tidak punya jawaban yang meringankan. Dia mengakui ancaman kehilangan sering membuat orang memperhatikan sesuatu yang dianggap pasti.
'Jadi kalau Bayu nggak muncul, kita terus hidup begini sampai tua?'
'Mungkin. Dan itu juga menyedihkan.'
Arkan marah karena pertemuan rahasia menjadi pemicu perubahan yang kini dianggap baik. Konselor mengatakan manfaat setelah pelanggaran tidak membenarkan pelanggaran. Melody tetap bertanggung jawab, sementara Arkan berhak memakai pengetahuan baru untuk menentukan hidupnya.
Mereka menyusun surat kepada Levi yang akan disimpan sampai dewasa, menjelaskan keputusan tanpa menyalahkan pihak lain. Surat itu bukan untuk dibaca sekarang. Ia mencegah ingatan mereka kelak mengubah sejarah sesuai rasa sakit terbaru.
Pada sidang, hakim menanyakan pengasuhan serta nafkah. Arkan dan Melody menyerahkan kesepakatan terperinci. Karena penghasilan Melody lebih besar dari usaha dan aset keluarga, biaya Levi dibagi proporsional, bukan otomatis dibebankan penuh kepada ayah. Arkan tetap bertanggung jawab, tetapi konsep kepala keluarga tidak digunakan untuk menutupi perbedaan kemampuan.
Hari putusan, Melody memakai pakaian sederhana. Arkan datang sendiri. Mereka duduk berjarak dan menunggu beberapa perkara lain dipanggil. Mendengar pasangan lain saling menyerang membuat keduanya semakin yakin menjaga proses mereka.
Setelah resmi, Arkan mengajak Melody minum kopi di kantin pengadilan. Bukan perayaan, hanya penutup.
'Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik buat Levi,' katanya.
'Terima kasih sudah tetap jadi ayah yang hadir.'
Mereka tidak berjanji selalu akur. Mereka berjanji konflik berikutnya dibahas melalui jalur yang tidak menyeret anak. Ketika keluar, Melody menuju toko dan Arkan ke kantor. Pernikahan selesai, tetapi delapan tahun tidak dibuang sebagai kesalahan tunggal. Ia menjadi bagian hidup yang menghasilkan kasih, luka, pertumbuhan, dan seorang anak yang tidak boleh dipaksa memilih versi siapa yang paling benar.