Dua tahun berlalu begitu saja, membawa serta waktu yang terus berjalan dan mengubah banyak hal dalam kehidupan Rina dan keluarganya. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan bagi Rina, dua tahun itu terasa seperti perjalanan yang sangat panjang yang penuh dengan pelajaran berharga. Kini, Rina sudah berusia lima belas tahun. Gadis kecil yang dulu tampak rapuh itu kini telah tumbuh berubah menjadi seorang remaja perempuan yang cantik jelita, memancarkan sinar keindahan yang bukan hanya berasal dari wajahnya yang bersih dan manis, tetapi terutama dari hatinya yang begitu indah dan mulia. Kecantikannya tampak begitu sederhana, apa adanya, tanpa riasan sedikit pun, namun mampu menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Tubuhnya kini makin tegap dan berisi, bahunya yang dulu kecil dan kurus kini terlihat kokoh karena terbiasa memikul beban-beban berat setiap hari. Tangannya yang dulu mungil kini terasa keras, kasar, dan penuh otot kecil yang kuat, bukti nyata bahwa tangan itu sudah terlatih mengangkat beban yang bahkan terasa terlalu berat bagi orang dewasa sekalipun. Di matanya yang bening dan hitam legam itu, kini bersinar cahaya kekuatan, ketegaran, dan kematangan jiwa yang luar biasa, jauh melampaui usianya yang masih sangat muda.
Namun, di tengah pertumbuhan fisik dan kekuatan jiwa yang dimiliki Rina, takdir kehidupan kembali menguji ketabahan keluarga kecil itu dengan cobaan yang jauh lebih berat dan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Kabar buruk datang menyusup perlahan, membawa kesedihan yang mendalam. Kondisi kesehatan Ayahnya, Pak Harun, makin lama makin menurun drastis dan memprihatinkan. Penyakit yang dideritanya tidak lagi hanya sekadar kelumpuhan pada kedua kakinya saja. Penyakit itu kini telah menyebar dan menyerang seluruh tubuhnya. Kedua kakinya yang lumpuh itu kini sering kali membengkak luar biasa besar, berwarna kemerahan gelap, dan terasa sakit sekali seolah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk terus-menerus, siang maupun malam. Pak Harun sering diserang demam tinggi yang membuat badannya panas membara lalu tiba-tiba menggigil kedinginan hingga giginya beradu bunyi. Tak hanya itu, ia juga sering mengalami sesak napas yang mengerikan, membuat dadanya terasa sempit dan berat, seakan ada batu besar yang menindihnya, sehingga ia harus bernapas dengan tersengal-sengal dan susah payah.
Kondisinya kini sudah jauh berbeda dibandingkan dua tahun yang lalu. Dulu, meski kakinya tak bisa digerakkan, ia masih bisa duduk tegak di kursi kayunya, masih bisa melihat ke luar jendela, dan masih bisa mengobrol dengan keluarga. Tapi sekarang, tubuhnya yang dulu gagah itu kini tampak sangat kurus, lemah, dan tak berdaya. Ia tak lagi sanggup duduk lama, bahkan untuk sekadar memindahkan posisi tubuhnya saja ia tak mampu. Ia kini harus terbaring lemah di atas pembaringan siang dan malam, seolah tubuhnya telah menyerah sepenuhnya pada penyakit yang menyerangnya. Biaya untuk membeli obat-obatan pun makin lama makin membengkak dan menjadi sangat mahal, menelan habis sedikit uang yang ada, seolah tak akan pernah ada habisnya. Sementara di sisi lain, nasib baik pun tak berpihak pada Bu Siti. Tubuh istrinya pun kini ikut menua dan sakit. Tangan Bu Siti yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan hidup keluarga itu kini justru menjadi sumber penderitaan. Bekas kapalan yang tebal, luka lecet yang tak kunjung sembuh, dan paparan air dingin serta sabun yang terus menerus selama belasan tahun akhirnya merusak sendi-sendi tangannya. Dokter mengatakan Bu Siti terkena penyakit radang sendi yang parah, sehingga setiap kali ia menggerakkan jari atau menekapkan tangannya, rasa sakitnya luar biasa menyiksa, membuatnya mengerang kesakitan. Akibatnya, kemampuan Bu Siti untuk bekerja pun makin berkurang drastis. Ia tak lagi sanggup mencuci dalam jumlah banyak, tak lagi sanggup mengangkat ember besar, sehingga pendapatan keluarga yang memang sudah pas-pasan itu kini menjadi sangat sedikit, hampir tak cukup untuk membeli beras apalagi obat-obatan yang harganya selangit itu.
Karena keadaan yang begitu gelap dan berat itulah, maka beban yang kini tergantung dan dipikul di pundak Rina makin berlipat ganda, menjadi jauh lebih berat daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya. Tugas dan tanggung jawabnya kini menumpuk menjadi gunung yang tinggi. Ia tidak lagi sekadar harus mengambil air dari kejauhan, mencari kayu bakar ke hutan, membantu ibunya mencuci, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga biasa saja. Kini, tugasnya jauh lebih besar dan lebih mulia: Rina harus menjadi perawat utama bagi ayahnya. Di tangannyalah keselamatan dan kenyamanan ayah yang dicintainya itu berada. Setiap hari, Rina harus memandikan ayahnya dengan penuh kelembutan dan hati-hati, mengelap tubuh ayahnya dengan air hangat agar tidak terasa dingin. Ia harus menyuapi ayahnya makan suap demi suap, memastikan tidak ada yang tumpah dan ayahnya makan sampai kenyang. Ia harus menumbuk dan meracik obat, meminumkan obat, mengompres tubuh ayahnya saat demam tinggi, memijat lembut kaki dan tangan ayahnya yang kaku dan sakit, serta selalu ada di samping tempat tidur siang dan malam untuk memenuhi segala keperluan ayahnya. Belum lagi di tengah kesibukan merawat ayah yang menyita banyak tenaga dan waktu itu, pekerjaan rumah tangga yang berat tidak boleh terbengkalai, dan kewajibannya sebagai pelajar pun harus tetap dijaga. Nilai-nilainya harus tetap bagus, ia harus tetap sekolah, karena ia sadar, sekolah adalah jalan satu-satunya untuk mengubah nasib mereka.
Akibat pekerjaan yang bertumpuk tiada henti itu, waktu tidur Rina menjadi sangat sedikit, bahkan hampir tak ada. Malam-malamnya sering terjaga, bangun berulang kali jika mendengar ayahnya mengerang kesakitan atau jika suhu tubuh ayahnya naik menjadi panas luar biasa. Matanya yang indah itu kini kadang tampak merah dan berair, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya tanda kelelahan yang menumpuk. Tubuhnya yang kecil itu makin kurus kering karena kurang istirahat dan makanan yang dikonsumsinya pun seadanya saja, apa yang ada di meja itulah yang dimakan, tak pernah memikirkan enak atau tidaknya. Namun di tengah segala perubahan fisik yang tampak melemahkan itu, ada satu hal yang ajaib dan tak pernah berubah sedikit pun: senyumnya. Senyum yang cerah, tulus, hangat, dan penuh semangat itu masih selalu menghiasi wajah cantiknya, senyum yang sama persis seperti yang dulu pernah menghibur hati teman-temannya dan Bu Guru Ani. Senyum itu selalu ada, kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Seolah senyum itu adalah tameng pelindung yang paling kuat yang dimiliki Rina.
Pagi itu, udara di sekitar desa terasa sangat dingin, menusuk sampai ke tulang belulang. Kabut tebal turun menyelimuti seluruh pemandangan, membuat jarak pandang menjadi pendek dan suhu udara menjadi sangat rendah. Embun pagi menetes dari dedaunan bagai air hujan kecil. Di saat orang-orang masih enggan keluar dari selimut tebal mereka karena kedinginan, Rina sudah bangun jauh lebih awal dari biasanya. Semalam ia hanya tidur sekitar satu jam saja, karena harus menjaga ayahnya yang demam tinggi hingga dini hari. Wajahnya tampak sedikit pucat pasi, matanya terasa berat dan perih rasanya, tubuhnya terasa lemas luar biasa. Namun begitu kakinya melangkah keluar rumah, seolah ada tenaga ajaib yang masuk ke dalam tubuhnya, ia bergerak dengan cepat, ringan, dan penuh tujuan. Ia kembali memanggul galah bambu dengan dua buah ember besar yang kosong, bersiap berjalan jauh menuju sumur seperti rutinitas yang telah ia lakukan bertahun-tahun lamanya.
Di tengah jalan setapak yang basah dan berkabut itu, Rina berpapasan dengan seseorang yang sangat ia hormati dan cintai, Bu Guru Ani. Ibu gurunya itu kebetulan hendak berjalan ke sekolah, namun langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok Rina yang berjalan mendekat. Hati Bu Guru Ani seakan dicengkeram kuat melihat pemandangan di hadapannya itu. Ia melihat Rina yang tampak makin kurus, wajah pucat, namun dengan tegar dan gagah tetap memikul beban yang beratnya luar biasa itu di atas bahu kecilnya. Bu Guru Ani tak kuasa menahan perasaannya, ia segera mempercepat langkahnya menghampiri Rina dan menahannya agar berhenti melangkah. Matanya seketika berkaca-kaca, basah oleh air mata haru dan rasa prihatin yang dalam.
"Rina nak..." panggil Bu Guru Ani dengan suara yang sangat lembut namun bergetar hebat. "Ibu sudah dengar kabar dari tetangga, Ibu tau keadaan Ayah kamu makin parah dan menyedihkan belakangan ini ya? Dan tangan Ibu kamu juga... Ibu dengar sekarang sudah makin sakit dan susah digerakkan sampai hampir tak bisa bekerja lagi ya? Kasihan sekali kamu nak... betapa beratnya nasib yang harus kamu pikul sendirian di usia semuda ini. Beban kamu sekarang pasti sudah beratnya bukan main, dua kali lipat, tiga kali lipat lebih berat dibandingkan waktu kamu masih kecil dulu kan? Kamu kuat benar-benar kuat menahannya nak? Kalau kamu sudah tak sanggup lagi, kalau hatimu sudah terlalu penuh dan sakit, menangislah di sini sama Ibu, ya. Keluarkan semuanya, jangan dipendam sendirian di dalam hati yang sempit itu, nanti kamu sakit nak. Ibu ada di sini buat dengerin semua keluh kesahmu."
Rina perlahan menurunkan galah bambunya, meletakkannya sejenak di atas dua batu besar di pinggir jalan agar pundaknya bisa beristirahat sejenak. Ia mengelap keringat dingin yang membasahi dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap wajah Bu Guru Ani yang tampak sangat cemas dan iba itu. Dan saat itu juga, seperti kebiasaan Rina, ia kembali mengukir senyum lebar yang paling indah, senyum yang seketika membuat suasana hati Bu Guru Ani menjadi lebih tenang, namun juga membuat rasa kagumnya makin memuncak.
"Bu Guru tercinta... terima kasih banyak ya atas perhatian dan kasih sayang Ibu sama Rina, rasanya hati Rina jadi hangat sekali mendengarnya," jawab Rina dengan suara yang jernih dan tegas, sama sekali tak terdengar lelah atau mengeluh. "Memang benar sekali yang Ibu dengar itu Bu... beban yang harus saya pikul sekarang memang makin berat luar biasa. Kadang pundak saya rasanya mau patah remuk tertindih beratnya, kadang seluruh badan saya rasanya mau roboh tak bersisa karena capeknya setengah mati. Tapi Bu... Ibu pasti belum lupa kan sama kata-kata yang pernah saya ucapkan dulu waktu saya masih kecil? Saya bilang kan sama Ibu: Semakin berat beban yang kita pikul di kehidupan ini, semakin kuat dan besar sayap yang akan tumbuh di pundak kita. Dulu saat saya masih kecil, saya cuma pikul beban yang kecil-kecil saja, jadinya sayap saya waktu itu masih kecil dan tipis sekali. Tapi sekarang? Sekarang saya diberi kesempatan memikul beban yang makin besar, makin berat, dan makin menantang... artinya Bu, sayap saya juga sedang tumbuh jadi makin besar, makin lebar, dan makin kuat luar biasa! Nanti kalau sudah waktunya saya terbang meninggalkan semua kesusahan ini... saya bakal bisa terbang jauh lebih tinggi, lebih jauh, lebih cepat, dan lebih indah daripada siapa pun yang sayapnya tumbuh dari beban yang ringan-ringan saja. Percaya deh sama saya Bu, beban berat ini sama sekali bukan penghalang atau kutukan buat saya... ini adalah pelatihan yang paling mahal harganya, ini adalah sekolah kehidupan yang sedang menempa saya biar nanti saya jadi pemenang sejati."
Bu Guru Ani tak mampu lagi menahan air matanya yang mengalir deras membasahi pipi. Ia langsung menarik tubuh Rina yang kecil itu ke dalam pelukannya yang hangat dan erat sekali. Pelukan yang penuh dengan rasa bangga yang meluap-luap.
"Ibu bangga sekali padamu nak, bangga sampai rasanya tak ada kata yang bisa menggambarkannya," ucap Bu Guru Ani di sela-sela isak tangisnya. "Kamu mengajarkan Ibu banyak hal, kamu mengajarkan Ibu arti kehidupan yang sebenarnya, arti ikhlas, dan arti ketabahan yang sesungguhnya. Teruslah tersenyum nak... jangan pernah hilangkan senyum itu. Senyum kamu itu ajaib sekali lho, bisa mengubah batu yang berat menjadi kekuatan, bisa mengubah kesedihan menjadi harapan, dan bisa mengubah beban yang menakutkan menjadi kemenangan yang indah."
Rina tersenyum dari dalam pelukan itu, lalu melepaskan diri dengan semangat yang baru. Ia kembali mengangkat galah bambu dan ember beratnya itu dengan gagah, lalu melangkah lagi menyusuri jalan berbatu yang panjang itu dengan langkah yang jauh lebih tegap dan percaya diri dibandingkan sebelumnya. Di dalam hatinya, Rina terus bersyukur dengan tulus kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Terima kasih ya Tuhan... beban ini memang berat sekali, bikin capek dan sakit. Tapi makin berat beban yang Engkau berikan, makin banyak pula kekuatan luar biasa yang diam-diam Engkau sisipkan ke dalam tulang dan darahku. Aku siap memikulnya sampai kapan pun.
Namun, ujian kehidupan seakan belum merasa cukup. Hari yang paling berat dan paling gelap pun akhirnya datang menghampiri keluarga itu, sebuah hari yang akan mengubah segalanya selamanya. Sore itu, Bu Siti pulang berjalan kaki dari rumah majikannya dengan wajah yang basah kuyup oleh air mata yang tak berhenti mengalir. Langkahnya tertatih-tatih, tubuhnya gemetar hebat, dan kedua tangannya yang dulu menjadi penopang hidup itu kini terlihat bengkak besar, merah menyala, dan tampak sangat menyedihkan. Dokter yang memeriksanya sudah memberikan keputusan yang keras dan tak bisa dibantah lagi: Bu Siti harus beristirahat total, tidak boleh lagi mengangkat beban berat, tidak boleh lagi mencuci baju, dan tidak boleh lagi terkena air dingin. Jika ia tetap memaksakan diri bekerja, tangannya akan rusak permanen, bengkok, dan cacat selamanya, sehingga ia tak akan bisa menggerakkan tangannya lagi seumur hidupnya.
Artinya... sumber penghasilan satu-satunya yang ada di keluarga itu kini telah terhenti sama sekali. Pintu rezeki yang selama ini dibuka oleh keringat dan darah Bu Siti kini tertutup rapat.
Di rumah yang sederhana itu, Pak Harun yang sedang terbaring lemah mendengar kabar itu dari tetangga yang dengan berat hati menceritakannya. Wajah Pak Harun seketika menjadi pucat pasi, napasnya terasa sesak bukan main. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Ia menangis dalam diam, air matanya merembes keluar membasahi bantal yang ia tiduri. Rasa bersalah yang luar biasa besar menghantam dadanya. Ia merasa dirinyalah penyebab semua kesengsaraan ini, ia merasa dirinyalah akibat istrinya jadi sakit, akibat anaknya jadi susah, dan akibat keluarga ini jadi menderita. Ia pun memanggil Rina mendekat ke pembaringannya, suaranya terdengar sangat lemah, parau, dan penuh kepedihan yang mendalam.
"Rina... anakku sayangku..." panggilnya lirih, matanya menatap anak tunggalnya itu dengan tatapan yang penuh rasa bersalah. "Maafin Ayah ya nak... maafin Ayah dan Ibu yang sudah memberimu hidup yang seberat dan sesusah ini. Maafin kami yang tak bisa memberi kamu kebahagiaan, malah memberi kamu beban yang menumpuk begini. Sekarang Ibu sudah tak bisa kerja lagi, Ayah cuma bisa diam terbaring tak berdaya begini... artinya semua beban berat ini harus kamu pikul sendirian ya nak? Di pundakmu sendirian? Kamu pasti capek dan lelah setengah mati kan? Kamu pasti benci dan kesal sekali sama Ayah kan? Pasti kamu sering berpikir kalau saja Ayah tidak