Di tengah keheningan malam yang masih pekat, saat bintang-bintang pun belum mau pamit dan bulan masih bertabah gagah di angkasa, di saat ayam-ayam jantan pun masih tertidur lelap di kandangnya, di sanalah Rina sudah terjaga. Jam di dinding rumah tua itu baru menunjuk angka empat pagi, namun mata gadis berusia tiga belas tahun itu sudah terbuka lebar, jernih dan penuh tekad. Tubuh kecilnya yang tampak kurus kering itu seolah memiliki tenaga yang tak akan pernah habis, sebuah tenaga yang lahir dari ketulusan hati dan cinta yang begitu besar terhadap kedua orang tuanya. Rina tidak pernah butuh dibangunkan oleh siapa pun. Sejak ia berusia sepuluh tahun, tubuh dan jiwanya sudah terlatih untuk bangun jauh sebelum matahari menampakkan sinarnya, demi menyelesaikan segudang pekerjaan berat yang menjadi tanggung jawabnya, sebelum ia mengenakan seragam sekolah dan berlari mengejar mimpinya.
Di sebuah pelosok desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, berdirilah sebuah rumah kecil yang sederhana sekali. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah mulai reyot dan lapuk dimakan usia, berwarna cokelat pudar yang dulunya mungkin pernah indah, namun kini penuh jejak waktu. Atapnya terbuat dari anyaman rumbia yang sudah tua, sehingga jika hujan turun dengan deras, air akan menetes masuk dari berbagai celah, memaksa penghuninya untuk menaruh ember dan baskom di sana-sini agar lantai tidak tergenang air. Lantai rumah itu hanyalah tanah padat yang jika sore berdebu dan jika hujan akan menjadi sedikit lembap. Perabot yang ada di dalamnya pun sangat seadanya: ada satu meja kayu pendek yang kakinya sudah tidak rata, beberapa bangku kayu tua, dan lemari pakaian yang pintunya sudah sulit dibuka tutup. Namun, di balik segala kesederhanaan dan kekurangan itu, ada satu hal yang membuat rumah itu berbeda dari rumah lainnya: rumah itu selalu bersih, sangat rapi, dan tertata indah. Tidak ada sarang laba-laba di sudut langit-langit, tidak ada debu yang menumpuk di perabot, dan halaman depan yang sempit itu pun selalu tersapu bersih. Semua itu adalah hasil kerja tangan Rina, tangan cekatan yang tak pernah kenal lelah merawat rumah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Di rumah itu, Rina tinggal bersama dua orang yang paling ia cintai di seluruh dunia: Ayahnya, Pak Harun, dan Ibunya, Bu Siti.
Pak Harun dulunya adalah sosok yang gagah, kuat, dan menjadi tumpuan harapan seluruh keluarga. Sebelum kecelakaan itu terjadi lima tahun yang lalu, ia adalah seorang pemanjat kelapa yang sangat handal, ia bekerja keras setiap hari memanjat pohon-pohon tinggi untuk mencari nafkah demi menghidupi istri dan satu-satunya anaknya. Namun takdir berkata lain. Saat itu, saat ia sedang memanjat sebuah pohon kelapa yang tinggi, tiba-tiba dahan tempat ia berpijak patah, membuat tubuhnya jatuh terhempas dari ketinggian yang sangat mengerikan. Sejak hari nahas itu, kaki Pak Harun lumpuh total. Tulang kakinya patah dan rusak parah hingga tak bisa disembuhkan lagi. Ia tidak bisa berjalan, tidak bisa berdiri tegak seperti laki-laki pada umumnya, dan tidak bisa lagi bekerja seperti dulu. Tubuhnya pun makin lama makin lemah, sering kali diserang sakit-sakitan yang datang silih berganti. Hari-harinya kini hanya dihabiskan dengan duduk di kursi kayu tua yang menjadi tempatnya bersandar sepanjang hari, di sudut ruangan yang agak gelap. Bagi seorang kepala keluarga yang memiliki harga diri tinggi, rasanya ini adalah hukuman yang paling berat. Hatinya sering sekali terasa sakit dan perih, jauh lebih sakit daripada rasa sakit di tubuhnya. Ia sering meneteskan air mata di saat sendirian, merasa dirinya tidak berguna, merasa menjadi beban bagi istri dan anaknya yang harus bekerja mati-matian demi sesuap nasi, sementara ia hanya bisa diam menatap. Meski mulutnya tak pernah mengeluh, Rina tahu betul apa yang bersembunyi di dalam hati ayahnya, dan hal itu justru membuat rasa sayang dan tekad di d**a Rina makin membara hebat.
Lalu ada Bu Siti, sosok wanita yang luar biasa hebat dan tangguh, bagai sebuah pohon besar yang tak pernah goyah meski diterpa badai sekeras apa pun. Setiap hari, matahari belum terbit pun Bu Siti sudah berangkat meninggalkan rumah, berjalan dari rumah ke rumah warga yang lebih mampu untuk bekerja sebagai buruh cuci. Tangannya adalah bukti nyata betapa beratnya perjuangan yang ia lakukan setiap hari. Kedua telapak tangannya kasar sekali, penuh dengan kapalan yang tebal, penuh dengan luka-luka kecil yang lecet, dan kulitnya retak-retak kering karena terus-menerus berhadapan dengan sabun keras dan air dingin yang menusuk tulang. Ia bekerja dari pagi buta hingga senja mulai turun, menggosok pakaian tumpukan demi tumpukan, membungkuk berjam-jam lamanya hingga punggungnya terasa kaku dan pegal linu luar biasa. Sering kali di malam hari, saat semua orang sudah tertidur lelap, Bu Siti masih terjaga menahan sakit di seluruh tubuhnya, mengelus pinggang dan kakinya yang terasa nyeri sekali. Namun, wanita itu tak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata keluhan dari mulutnya. Ia selalu tersenyum, selalu berkata "saya kuat", dan selalu bekerja lebih giat lagi demi masa depan anak kesayangannya.
Dan di tengah kedua sosok pahlawan itu, berdiri Rina. Satu-satunya anak mereka, harta paling berharga yang tak akan pernah bisa ditukar dengan emas atau permata seharga apa pun. Rina bukan sekadar anak bagi mereka, Rina adalah penopang hidup, adalah tongkat yang menguatkan langkah mereka, dan adalah sumber cahaya yang menerangi hari-hari kelam keluarga itu. Sejak kecelakaan yang menimpa ayahnya, di usianya yang masih sangat belia itu, Rina seketika mengerti satu kebenaran besar: tak ada lagi orang lain yang bisa diandalkan selain dirinya dan ibunya sendiri. Ia tidak boleh menjadi anak yang manja, ia tidak boleh menjadi anak yang hanya tahu minta, dan ia tidak boleh menjadi anak yang lemah. Sejak saat itu, Rina tumbuh menjadi dewasa jauh sebelum waktunya. Ia mengerti betul arti kata susah, ia paham rasanya berkorban demi orang yang dicintai, dan ia hafal betul rasanya harus berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup.
Pekerjaan pertama yang harus dilakukan Rina setiap pagi adalah mengambil air bersih. Di kampung itu, sumur penduduk letaknya lumayan jauh dari rumahnya, sekitar lima ratus meter, dan untuk ke sana harus melewati jalan setapak yang naik turun, berbatu-batu tajam, dan saat musim hujan akan menjadi sangat licin serta berlumpur. Rina memikul dua buah ember besar yang terbuat dari seng, digantungkan di kedua ujung sebatang galah bambu yang panjang dan kuat. Galah itulah yang akan diletakkan di atas pundak kecilnya. Saat ember-ember itu sudah terisi penuh oleh air sumur yang dingin dan jernih, beratnya luar biasa. Rasa berat itu menekan kuat ke pundak kanan dan kirinya, membuat kulit di sana menjadi merah padam, lalu membiru, hingga lama-kelamaan terbentuk kapalan tebal yang tak lagi terasa sakit. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat sekali, seakan ada batu besar yang ditariknya dari belakang. Keringat sebesar biji jagung bercucuran deras dari dahinya, mengalir turun membasahi wajah dan lehernya yang ramping, hingga menetes jatuh ke tanah kering. Napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal, dadanya naik turun berusaha menyalurkan oksigen yang cukup bagi tubuhnya yang sedang bekerja keras.
Sering kali, teman-teman sebayanya yang berjalan beriringan menuju sekolah akan bertemu dengan Rina di jalan. Mereka berjalan dengan tangan kosong atau hanya membawa tas punggung yang terisi buku tulis, lalu melihat Rina yang sedang memikul beban yang bahkan mungkin akan berat jika dipikul oleh orang dewasa sekalipun. Wajah-wajah polos mereka akan terlihat penuh rasa kasihan dan iba.
"Rina... kasihan banget sih kamu setiap pagi," kata salah seorang temannya, Sari, dengan nada yang sedih dan mata yang berair melihat pundak Rina yang tertekan. "Tiap hari harus bolak-balik bawa air berat begini terus ya? Pundak kamu pasti sakit sekali rasanya ya? Kamu pasti capek setengah mati dan sedih banget kan harus hidup berat begini terus-terusan?" tanya Sari lagi, mewakili perasaan teman-teman lainnya yang juga mengangguk setuju.
Rina pun perlahan berhenti melangkah, menurunkan sedikit galah bambunya untuk mengatur napasnya yang tersengal, lalu menoleh menatap wajah-wajah teman-temannya itu. Dan saat itu juga, sebuah pemandangan indah terlihat oleh mereka. Rina tersenyum. Senyum yang begitu lebar, begitu tulus, begitu cerah, dan begitu penuh semangat, seolah-olah saat itu ia sedang tidak memikul beban berat sama sekali, melainkan sedang memegang sebuah kado ulang tahun yang sangat indah dan mahal harganya. Senyum itu memancarkan cahaya yang hangat, menghapus rasa iba yang ada di hati teman-temannya, dan menggantinya dengan rasa kagum yang luar biasa.
"Nggak kok! Nggak sakit sama sekali, nggak capek apalagi sedih!" jawab Rina dengan suara yang lantang dan ceria, matanya berbinar-binar menatap mereka satu per satu. "Malah aku senang banget lho kalian tau? Kalian belum ngerti aja rasanya. Setiap kali aku angkat dan pikul beban berat begini, rasanya aku lagi ngangkat kekuatan buat masa depanku. Semakin berat yang aku pikul hari ini, semakin kuat badan dan hatiku jadi nanti. Semakin berat beban yang aku angkat sekarang, semakin tinggi aku bisa terbang melesat nanti kalau sudah besar. Percaya deh sama aku, beban ini sama sekali bukan penghalang atau siksaan kawan... beban ini adalah SAYAP yang lagi tumbuh perlahan-lahan di pundak aku!"
Teman-temannya terdiam serentak, mulut mereka menganga takjub mendengar ucapan itu. Mereka merasa malu sendiri, karena sering kali mereka sudah mengeluh dan merajuk hanya gara-gara tas sekolah yang terasa sedikit berat atau gara-gara disuruh mengambilkan gelas air oleh ibu mereka. Kata-kata Rina terdengar begitu sederhana, keluar dari mulut seorang anak kecil, tapi maknanya begitu dalam dan tajam, langsung menembus masuk sampai ke dalam hati sanubari mereka.
Setelah selesai mengisi penuh semua bak air di rumah hingga melimpah, Rina langsung bergegas masuk ke dapur yang sempit dan berasap. Di sana ia memasak nasi dan sayur seadanya, memanfaatkan apa saja yang ada di kebun belakang rumah mereka. Ia memasak dengan cekatan, menyiapkan piring dan sendok, lalu menyuapi ayahnya yang tak mampu makan sendiri dengan rapi. Ia memastikan ayahnya makan sampai kenyang, minum sampai puas, dan merasa nyaman sebelum ia pergi. Baru setelah semua pekerjaan rumah selesai, barulah Rina membersihkan tubuhnya, memakai seragam sekolahnya yang sederhana namun selalu bersih dan disetrika licin, lalu berjalan cepat bahkan kadang berlari kecil menyusuri jalan setapak menuju sekolahnya agar tidak terlambat.
Di sekolah, tidak ada seorang pun yang akan menduga beratnya kehidupan yang sedang dijalani oleh gadis bernama Rina ini. Di sekolah, Rina selalu menjadi murid yang paling rajin, paling pintar, paling disiplin, dan paling ceria sepanjang masa. Ia selalu duduk di barisan paling depan, matanya selalu menatap guru dengan penuh perhatian, tangannya selalu mengacung paling tinggi saat ada pertanyaan, dan nilainya selalu berada di urutan teratas meski ia tidak punya lampu yang terang untuk belajar di malam hari. Ia tidak pernah membedakan diri, berteman dengan siapa saja, kaya maupun miskin, dan selalu menjadi tempat curhat teman-temannya. Di sana, Rina selalu tersenyum, selalu tertawa renyah, dan selalu bersedia membantu siapa saja yang membutuhkan uluran tangannya. Tak ada satu pun teman atau bahkan guru yang bisa melihat bayangan kesedihan atau kelelahan di wajah cantik Rina.
Suatu hari, Bu Guru Ani yang menjadi wali kelas Rina memanggilnya masuk ke ruang guru. Bu Guru Ani adalah sosok yang sangat perhatian, ia sudah lama memperhatikan gerak-gerik Rina, ia sudah mengetahui latar belakang keluarga mereka yang sedang tertimpa musibah, dan ia paham betul betapa berat jalan kehidupan yang harus dilalui oleh anak didiknya itu. Di ruangan yang sepi itu, Bu Guru Ani mempersilakan Rina duduk di hadapannya. Ia menatap wajah Rina yang masih memancarkan senyum ceria itu dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan kekaguman.
"Rina... Ibu bangga sekali padamu Nak, bangga sampai rasanya Ibu ingin menangis," kata Bu Guru Ani lembut, tangannya terulur mengelus kepala Rina dengan penuh kelembutan. "Ibu tau semua lho, Ibu tau betapa berat hidup yang kamu jalani, betapa banyaknya pekerjaan berat yang harus kamu selesaikan di rumah, betapa besarnya beban yang harus kamu pikul sendirian di pundak kecilmu ini. Nak, jujur sama Ibu... kamu nggak pernah merasa capek sampai ingin menyerah? Nggak pernah merasa sedih sampai ingin menangis seharian? Dan yang paling berat... kamu nggak pernah merasa marah atau kecewa sama takdir Tuhan yang memberi kamu nasib hidup yang begini?" tanya Bu Guru Ani dengan suara yang bergetar menahan haru, matanya mulai berkaca-kaca.
Rina menundukkan kepalanya sejenak, memainkan ujung jarinya yang kasar dan penuh kapalan. Ia diam sebentar, seolah sedang mengumpulkan kekuatan dan menyusun kata-kata yang indah. Lalu perlahan namun pasti, ia mengangkat wajahnya kembali menatap Bu Guru Ani, dan tersenyum lagi. Senyum yang sama cerahnya, senyum yang sama tegar dan tulusnya.
"Iya Bu... jujur saja, emang kadang capeknya luar biasa banget sampai rasanya tulang-tulangku ini mau patah remuk semua," jawab Rina dengan tenang. "Kadang aku juga ingin sekali menangis, ingin sekali meratap, rasanya kok berat sekali ya hidup ini. Tapi Bu... aku sadar satu hal penting ini. Kalau aku memilih untuk menangis, mengeluh, dan marah, beban yang sedang aku bawa itu rasanya bakal jadi dua kali lipat lebih berat, lebih menyakitkan, dan lebih menyusahkan. Tapi kalau aku memilih untuk tersenyum, memilih untuk ikhlas, dan menganggap semua ini sebagai latihan kekuatan... beratnya itu perlahan-lahan jadi hilang Bu, malah rasanya jadi enak dan menantang. Ibu tau nggak perumpamaannya? Beban berat yang kita pikul hari ini itu ibarat tumpukan batu bata Bu. Kalau kita bawa sembarangan, itu cuma jadi batu yang berat. Tapi kalau kita simpan, kita susun, dan kita rawat baik-baik... nanti batu bata itu lama-lama bakal menjadi sebuah rumah yang indah, kokoh, dan megah buat kita tinggali nanti. Aku percaya banget sama itu Bu... di balik setiap beban berat yang aku angkat hari ini, tersimpan sebuah senyum keberhasilan yang paling indah, yang bakal aku rasakan nanti pas aku sudah sukses, pas aku sudah bisa bahagiakan Ayah dan Ibu."
Bu Guru Ani tak mampu lagi menahan air matanya. Ia langsung berdiri dan memeluk tubuh kecil Rina itu dengan sangat erat dan penuh kasih sayang. Di pelukan itu, Bu Guru Ani merasa begitu kecil di hadapan anak didiknya. Ia sadar sepenuhnya, anak kecil yang berdiri di hadapannya ini memiliki jiwa yang sebesar raksasa, jauh lebih besar dan jauh lebih kuat daripada tubuh mungilnya yang tampak lemah itu.
Sore harinya, tepat setelah bel pulang sekolah berbunyi, Rina tidak pernah langsung pulang untuk beristirahat atau bermain seperti teman-temannya yang lain. Ia langsung berlari ke rumahnya, mengganti seragamnya dengan baju yang sederhana dan agak usang, lalu segera bergerak membantu ibunya. Kadang ia ikut ibunya ke rumah orang