Di ujung wilayah desa yang terpencil, di mana hamparan tanah tidak berwarna hijau subur seperti daerah pertanian pada umumnya, melainkan tanah berbatu-batu yang keras dan berwarna merah bata yang kering, di sanalah letak sebuah kehidupan yang sederhana dan penuh perjuangan. Ini adalah tempat yang saat musim kemarau tiba, tanahnya akan pecah-pecah karena kekeringan hebat, dan air bersih menjadi barang yang paling berharga, sulit didapatkan meski harus berjalan berkilo-kilometer jauhnya. Namun saat musim hujan datang, jalurnya akan menjadi licin dan berlumpur, membuat perjalanan menjadi sangat berat. Di tengah tanah yang keras dan tak bersahabat itulah, berdiri kokoh sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana, hampir bisa dikatakan sangat rapuh jika dibandingkan dengan rumah-rumah warga lain.
Dinding gubuk itu terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai pudar warnanya, banyak bagian yang sudah mulai retak dan berlubang dimakan usia, sehingga angin malam sering kali bisa masuk dengan bebas menusuk ke dalam. Atapnya terbuat dari tumpukan daun rumbia kering yang warnanya sudah cokelat tua dan kusam. Setiap kali angin kencang bertiup atau hujan lebat turun, penghuni rumah ini pasti akan sibuk memperbaiki bagian-bagian yang roboh atau menambal bagian yang bocor. Rumah itu tidak memiliki pagar yang tinggi, hanya dikelilingi oleh semak belukar dan beberapa pohon kelapa yang tumbuh tidak beraturan. Itulah satu-satunya tempat tinggal yang dimiliki oleh Sari, gadis berusia enam belas tahun itu, tempat di mana ia tumbuh besar, tempat di mana ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh dua orang yang paling ia cintai dan ia junjung tinggi seumur hidupnya: Ayah dan Ibunya.
Udara di daerah itu terasa kering dan menyengat panasnya saat matahari sudah meninggi ke tengah langit, debu tanah merah akan beterbangan kemana-mana jika ada yang melintas. Bagi orang lain, mungkin tempat ini terlihat menyedihkan, gersang, dan jauh dari kata nyaman. Tapi bagi Sari, udara yang panas ini adalah udara kehidupan. Setiap hembusannya menjadi saksi bisu atas segala tetes keringat, lelah letih, dan kerja keras keluarganya yang tak pernah kenal menyerah. Bagi Sari, di tanah berbatu inilah akar kehidupannya tertanam kuat, dan di gubuk reyot inilah kebahagiaan sederhana selalu terasa hangat.
Pagi itu, seperti biasa, Sari sudah bangun jauh sebelum matahari menampakkan sinarnya. Ia sudah selesai melakukan semua pekerjaan rumah: menyapu halaman yang berdebu, mengambil air dari sumber mata air yang letaknya agak jauh, memasak apa saja yang ada di dapur, dan membersihkan rumah sekadar mampu. Kini, ia berdiri tegak di depan beranda gubuknya, merapikan pakaian yang dikenakannya. Ia mengenakan seragam sekolah berwarna putih dan biru yang sebenarnya sudah sangat tua dan usang. Di bagian siku lengan bajunya serta di bagian lutut celananya, terlihat jelas ada tambalan kain berwarna senada yang dijahit dengan rapi oleh tangan ibunya. Meskipun kainnya sudah tipis dan sering ditambal sana-sini, seragam itu selalu tampak bersih, sangat rapi, dan disetrika licin berkilau. Bagi Sari dan orang tuanya, pakaian yang sederhana atau bekas sama sekali bukan sebuah aib atau hal yang memalukan. Justru, cara kita merawat dan memakainya adalah cerminan harga diri dan tanda kesederhanaan yang mulia, sebuah ajaran yang sudah ditanamkan Ayah dan Ibu ke dalam hatinya sejak ia masih kecil.
Dengan tas anyaman bambu buatan tangan ayahnya yang sudah dipoles halus, dan sepatu karet yang solnya sudah mulai menipis namun tetap bersih, Sari melangkah masuk kembali ke dalam rumah untuk berpamitan.
"Assalamu’alaikum... Ayah, Ibu..." panggil Sari dengan suara yang lembut namun terdengar jelas di ruangan yang tenang itu.
Di sudut ruangan yang paling teduh, di atas selembar kasur tipis yang terhampar langsung di atas lantai tanah yang sudah dipadatkan, terbaring seorang wanita yang wajahnya tampak sangat pucat. Tubuhnya kurus kering, tulang-tulangnya terasa nyata jika disentuh, dan kulitnya tampak kering kerontang. Ia adalah Bu Ratna, ibunda Sari. Sudah bertahun-tahun lamanya, Ibu menderita sakit paru-paru yang parah dan tak kunjung sembuh. Penyakit itu membuat napasnya sering terasa berat, berbunyi, dan sesak, membuatnya kesulitan untuk bergerak, bahkan sekadar untuk bangun dari tidur pun ia butuh bantuan orang lain. Karena penyakit itu pula, Bu Ratna tidak mampu lagi melakukan pekerjaan rumah tangga, apalagi bekerja di ladang membantu suaminya. Seluruh hari-harinya dihabiskan dengan berbaring, menahan rasa sakit, dan berdoa.
Di samping tubuh istrinya, duduklah seorang pria paruh baya yang wajahnya penuh dengan garis-garis lelah dan perjuangan. Kulitnya menghitam terbakar sinar matahari setiap hari, tubuhnya kurus kering karena sering menahan lapar dan bekerja melampaui batas kemampuan raganya. Ia adalah Pak Joko, ayah Sari, seorang buruh tani yang setiap hari harus berjalan kaki berjam-jam menuju ladang orang lain hanya demi mendapatkan upah yang sangat kecil, sedikit, dan tidak menentu jumlahnya. Pak Joko memegang tangan istrinya yang terasa dingin, mengusapnya pelan penuh kasih sayang, berusaha memberikan kehangatan yang tersisa dari tubuhnya yang letih.
Mendengar suara putrinya, Pak Joko menoleh, lalu berusaha mengukir sebuah senyuman di wajahnya yang lelah itu. Senyum itu terasa berat sekali, menyedihkan, namun penuh dengan kasih sayang yang tulus.
"Wa’alaikumsalam, Nak... Kamu sudah siap berangkat sekolah ya?" tanya Pak Joko lembut. Ia lalu mengambil sebuah bungkusan kecil dari daun pisang yang sudah disiapkannya tadi, lalu menyodorkannya kepada Sari dengan hati-hati. "Maafkan Ayah ya, Nak... kalau bekalnya cuma ini saja. Tidak ada lauk yang enak, tidak ada sayuran segar. Hanya ada sedikit nasi sisa semalam yang dihangatkan, dicampur sedikit garam kasar dan sambal ulek buatan Ibu. Maafkan Ayah ya, Nak..." suaranya terdengar lirih, penuh rasa bersalah dan kesedihan karena tak mampu memberikan yang lebih baik bagi putri kesayangannya.
Hati Sari terasa teriris sakit sekali mendengar ucapan ayahnya, dan melihat kondisi ibunya yang begitu lemah. Rasanya dadanya sesak menahan tangis. Ia langsung berlutut di samping mereka berdua, merangkul kedua tangan kasar ayahnya dan tangan lemah ibunya, lalu menggenggamnya erat sekali seolah tak mau melepaskannya. Air mata sebenarnya sudah berkumpul di pelupuk matanya, rasanya ingin sekali meledak dan menangis sejadi-jadinya. Tapi Sari menguatkan hatinya. Ia tahu, jika ia menangis di depan mereka, Ayah dan Ibu akan jauh lebih sedih dan hancur hatinya. Ia harus menjadi kuat, ia harus menjadi tameng, ia harus menjadi penopang bagi dua orang yang sangat dicintainya ini.
"Ayah... jangan bicara begitu ya, jangan pernah bicara begitu lagi," ucap Sari dengan suara yang tegas namun tetap lembut dan penuh kasih sayang. Matanya menatap lekat wajah ayahnya yang berkerut itu. "Ini sudah cukup, ini sudah nikmat yang luar biasa besar buat Sari. Banyak teman di luar sana yang bahkan tidak punya nasi untuk dimakan sama sekali. Jadi Ayah dan Ibu jangan sedih ya, jangan merasa bersalah sedikit pun."
Sari lalu memalingkan wajahnya ke arah ibunya yang menatapnya penuh cinta. Ia tersenyum lebar, senyum yang paling indah dan paling yakin yang pernah ia buat.
"Sari janji sama Ayah, sama Ibu... Sari akan belajar sekeras tenaga, akan membakar semangat setiap hari, dan akan bekerja sekuat raga ini sampai tetes darah penghabisan. Suatu hari nanti, pasti akan Sari wujudkan janji ini. Akan Sari bangunkan rumah yang indah, rumah yang kokoh berlantai semen yang halus dan bersih. Rumah yang dingin dan sejuk buat Ibu istirahat tenang tanpa digigit nyamuk atau diterpa angin malam yang dingin. Rumah yang luas dan nyaman buat Ayah beristirahat setelah lelah bekerja, tempat Ayah duduk santai tanpa harus khawatir atap bocor. Kita akan punya sumur sendiri di halaman, jadi gak perlu jauh-jauh ambil air. Kita akan punya kebun sendiri yang subur penuh sayuran dan buah-buahan. Kita akan punya segala yang kita butuhkan untuk hidup sehat dan bahagia... Ayah, Ibu tunggu aja ya, percayalah pada Sari. Sari pasti wujudkan mimpi itu, demi Ayah dan Ibu."
Suara Sari terdengar begitu mantap, begitu penuh keyakinan, seolah-olah ia sudah melihat rumah indah itu berdiri nyata di depan matanya. Di matanya terpancar api semangat yang menyala hebat, api yang takkan bisa dipadamkan oleh angin badai apa pun.
Bu Ratna mengangguk pelan, air matanya menetes perlahan membasahi pipi pucat dan keriputnya. Dengan tangan yang gemetar lemah, ia mengusap pipi putrinya yang bersih dan segar itu.
"Anakku sayang... Ibu dan Ayah sebenarnya tidak pernah minta harta yang banyak, Nak. Tidak pernah minta rumah mewah atau makanan enak. Kami cuma minta satu hal saja sama kamu: jadilah anak yang baik hati, anak yang jujur, anak yang punya akhlak mulia, dan jadilah anak yang bahagia. Kalau kamu sudah begitu, hati kami sudah puas dan senang sekali." Bu Ratna menarik napas panjang yang agak berat, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, "Tapi kalau itu memang keinginan hatimu yang paling dalam, kalau itu yang membuat semangatmu menyala... Ibu akan selalu berdoa untukmu, Nak. Setiap detik napas Ibu yang tersisa, akan Ibu gunakan untuk berdoa. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mendengar doa anak yang berbakti ini, dan mempermudah setiap langkah kakimu menuju mimpi itu."
Jam dinding tua yang tergantung di dinding berbambu itu berdetak pelan, menunjukkan pukul enam pagi. Sari pun sadar, ia harus segera berangkat sekolah agar tidak terlambat. Ia mencium tangan ayahnya yang kasar penuh kapalan, lalu mencium tangan ibunya yang dingin dengan penuh rasa hormat dan cinta.
Jarak dari rumahnya menuju gedung sekolah cukup jauh, sekitar tiga kilometer yang harus ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Jalannya pun bukan jalan beraspal yang mulus, melainkan jalan setapak yang berbatu tajam, berdebu merah, dan penuh lubang. Sepatu Sari memang sudah sangat tipis solnya, kadang jika sepatu itu rusak parah dan belum ada uang untuk memperbaikinya, ia terpaksa harus berjalan t*******g kaki melewati batu-batu tajam itu hingga kakinya lecet dan berdarah. Tapi Sari tak pernah mengeluh sedikit pun. Baginya, setiap langkah kaki yang sakit itu bukan beban, melainkan latihan mental dan perjuangan. Setiap langkah itu adalah bagian dari perjalanan panjang menuju cita-cita dan janji sucinya.
Di tengah perjalanan yang berdebu itu, Sari harus melewati kawasan perumahan warga yang jauh lebih mampu dan makmur dibandingkan keluarganya. Di sana rumah-rumah berdiri kokoh, berlantai keramik, berpagar tinggi, dan halamannya luas. Salah satu rumah yang paling besar dan paling megah di sana adalah milik keluarga Pak Made, orang terkaya dan paling berkuasa di desa itu. Pagar rumahnya tinggi berwarna hijau, di halamannya terparkir dua buah sepeda motor yang mengkilap, dan suasananya tampak sangat mewah.
Di teras rumah besar yang sejuk itu, duduklah seorang gadis seumuran Sari. Namanya Eka, anak tunggal Pak Made. Ia duduk dengan santai di kursi goyang yang empuk, mengenakan pakaian sekolah yang terlihat mahal dan baru, rambutnya tersisir rapi wangi disemprot minyak wangi yang harumnya semerbak sampai ke jalan. Di sebelahnya duduk dua orang temannya, anak-anak dari keluarga terpandang juga di desa itu. Eka terkenal sebagai gadis yang sombong, sangat manja, dan selalu suka meremehkan serta menghina orang-orang yang kurang mampu atau tidak seberuntung dirinya.
Saat Eka melihat sosok Sari yang berjalan sendirian di jalan berdebu itu, dengan pakaian tambalan dan tas anyaman bambunya yang sederhana, ia langsung tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat keras, sengaja agar terdengar sampai ke telinga Sari. Teman-temannya pun ikut tertawa mengejek sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sari.
"Wihihii... lihat tuh teman-teman! Ada si anak buruh tani mau berangkat sekolah lagi rupanya!" seru Eka dengan nada suara yang sinis dan tajam, matanya menyipit penuh penghinaan. "Buat apa sih sekolah sampai jauh-jauh dan capek-capek begitu, hah? Bukannya nanti kalau sudah besar, ujung-ujungnya tetap jadi buruh juga kan sama persis kayak bapaknya? Menggali tanah, menanam padi, dapat uang sedikit. Atau jangan-jangan kamu mau jadi orang pintar terus nanti lupa diri dan sombong? Dasar orang miskin harta, miskin pikiran, dan miskin masa depan juga pasti!" cibir Eka dengan wajah yang dibuat-buat jijik.
Kata-kata itu melesat tajam bagaikan anak panah yang menembus tepat ke ulu hati Sari. Rasanya perih sekali, sakit sekali, dan membuat darahnya mendidih menahan amarah. Ia ingin sekali berhenti, ia ingin sekali membalas dengan kata-kata yang sama pedasnya, ia ingin sekali membela dirinya dan ayah ibunya yang sangat dicintainya. Tapi di saat itu juga, ia teringat pesan bijak ayahnya yang selalu terngiang di telinganya: "Nak, diam itu jauh lebih mulia daripada meluapkan amarah yang tak berguna. Dan bukti nyata lewat perbuatan kelak, adalah jawaban yang paling keras, paling indah, dan paling memalukan bagi orang yang suka menghina."
Sari menarik napas panjang dan dalam sekali, menghembuskannya perlahan untuk menenangkan detak jantungnya yang kencang. Ia menguatkan hatinya sekuat tenaga, membuang jauh rasa malu dan marah itu. Perlahan, ia berbalik badan, menatap Eka dan kedua temannya yang masih tertawa itu dengan tatapan yang sangat tenang, namun tajam dan penuh dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Di mata Sari tidak ada rasa takut, tidak ada rasa rendah diri, yang terpancar hanyalah keteguhan hati yang membara hebat.
"Kau boleh tertawa dan merasa menang sekarang, Eka," ucap Sari dengan suara yang tidak keras namun jelas, tegas, dan terdengar berwibawa sekali. "Kau boleh bangga dengan apa yang kau pakai, apa yang kau makan, dan apa yang kau punya hari ini. Tapi ingatlah satu hal yang paling penting, jangan sampai kau lupa seumur hidupmu: Tanah yang berbatu dan keras pun, kalau diolah dengan rajin, disiram dengan keringat, dan dirawat dengan sabar, lama-kelamaan bisa berubah menjadi tanah yang paling subur, paling hijau, dan paling berharga di dunia ini. Tapi sebaliknya, tanah yang dari sananya sudah sangat subur dan kaya, kalau dibiarkan saja, ditelantarkan, dan tidak dirawat, lama-kelamaan tanah itu akan menjadi tandus, penuh rumput liar, dan tak ada gunanya lagi."
Sari berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap masuk ke dalam telinga mereka yang terdiam kaget.
"Lihat saja nanti, Eka... sepuluh tahun lagi kita bertemu, kita lihat siapa yang akan tinggal di rumah indah yang megah dan damai, dan siapa yang akan tetap hanya puas dengan kemewahan pemberian orang tua saja. Sampai jumpa di masa depan, dan terima kasih sudah mengingatkan aku untuk berjuang lebih keras lagi."