Hari terakhirnya sebagai agen tidak diumumkan sebagai hari terakhir—itu permintaannya, dan Pram menghormatinya: satu shift biasa, dengan panggilan-panggilan biasa, di kursi yang sudah belajar bentuknya.
Ia datang pagi seperti biasa—angkot yang sama, jalan yang sama, pintu kaca yang sama. Tapi ada momen kecil di pintu itu: ia berhenti sebentar, seperti hari pertama dulu, dan mendengarkan dengung dari dalam. Bedanya, kali ini lidahnya tidak terlalu besar untuk mulutnya. Kali ini ia masuk dengan langkah orang yang pulang ke rumahnya sendiri. Resepsionis menyapanya dengan nama. Petugas kebersihan mengangkat tangannya. Dan di tangga, ia melewati dua agen baru yang berbisik gugup—dan salah satunya, melihatnya, menegakkan badan seperti melihat legenda, dan Fahmi menundukkan kepala dengan senyum, karena ia tidak pernah tahu cara menjadi legenda; ia hanya tahu cara menjawab telepon dengan benar.
Tapi lantai itu tahu, karena lantai itu selalu tahu. Dan sepanjang hari, hal-hal kecil terjadi tanpa dibicarakan: Tari muncul dengan kamera (untuk sekali ini, dengan izin semua orang, untuk satu bingkai yang akan mereka simpan), Joko menaruh botol airnya dengan ketukan yang lebih pelan dari biasanya, dan Wulan datang dari site sebelah hanya untuk berdiri di lorong pada jam istirahat, tidak melakukan apa-apa, hanya ada.
Panggilan-panggilan hari itu seperti hari-hari lainnya—dan Fahmi menjalankannya dengan perasaan yang aneh: bukan sedih, melainkan penuh perhatian, seperti orang yang membaca halaman terakhir buku yang dicintainya dengan pelan-pelan. Seorang ibu dengan router ngambek. Seorang pemuda dengan tagihan yang salah hitung. Seorang pelanggan yang marah dan pergi lebih tenang. Setiap panggilan terasa seperti perpisahan kecil, dan ia menanganinya satu per satu dengan jeda yang benar, dengan sabar yang penuh, dengan kehadiran yang utuh.
Ada satu jam di tengah hari itu yang tidak direncanakan siapa pun: jam istirahat ketika orang-orang bergantian lewat di dekat biliknya dengan alasan yang transparan. Seorang agen baru datang dan berdiri canggung sampai Fahmi menarik kursi untuknya, dan agen itu berkata, 'Aku cuma mau bilang makasih. Modulmu yang bikin aku bertahan bulan pertama.' Lalu datang yang lain, dengan hal yang sama dalam kata-kata yang berbeda, dan Fahmi menerima semuanya dengan canggung yang tidak pernah hilang—karena ia tidak pernah belajar cara menerima terima kasih; ia hanya belajar cara memberikannya. Pram menonton dari kejauhan dan akhirnya mengusir mereka dengan gaya satpam: 'Kerja! Dia bukan pindah ke bulan!' Tapi kemudian ia sendiri datang, dan berdiri, dan berkata dengan gaya datar yang sudah menjadi cintanya: 'Kau tahu apa yang paling aneh? Aku tidak sedih. Aku sudah menontonmu tumbuh dua tahun, dan hari ini aku menontonmu pergi—dan yang kurasakan bukan kehilangan. Rasanya seperti panen. Seperti semuanya yang kami tanam akhirnya berdiri dan berjalan keluar pintu dengan kakinya sendiri.' Ia menepuk partisi bilik itu. 'Tapi kalau kau ceritakan ini ke orang lain, akan kusangkal.'
Dan kemudian, pukul tiga sore, satu panggilan masuk yang tidak bisa direncanakan oleh siapa pun.
Suara perempuan, paruh baya, dengan keraguan yang sudah akrab: 'Halo? Ini NetraLink? Saya mau tanya soal WiFi saya yang—' lalu berhenti, dan ada jeda, dan jeda itu berubah menjadi sesuatu yang lain. 'Tunggu. Saya kenal suara ini. Kamu... kamu yang dulu itu, ya? Yang nanganin saya waktu arisan? Dua tahun lalu? Yang bilang arisannya nggak akan ke mana?'
Fahmi tertawa—tertawa yang lepas, yang penuh. 'Iya, Bu. Masih ingat.'
'Astaga.' Suara ibu itu berbinar melewati kabel seperti hari itu dua tahun lalu. 'Saya masih ceritain kamu ke ibu-ibu, lho! CS yang sabar! Waktu itu saya lagi panik, dan kamu bilang tenang dulu, arisannya nggak akan ke mana—dan sampai sekarang kalau saya panik saya ingat itu. Tenang dulu. Nggak akan ke mana.' Ia berhenti. 'Kamu baik-baik aja, Nak?'
'Aku baik, Bu. Baik sekali.'
'Bagus. Orang kayak kamu harus baik-baik.' Dan masalah WiFi-nya selesai dalam empat menit, dan panggilan itu ditutup dengan doa yang sama seperti dua tahun lalu—'nanti Ibu doain dapet jodoh, ya!'—dan Fahmi melepas headset dengan mata yang basah dan hati yang utuh, karena lingkaran itu telah menutup dengan sempurna: panggilan pertamanya dan panggilan terakhirnya adalah orang yang sama, dengan masalah yang sama, dengan kebaikan yang sama—dan di antara keduanya terbentang dua tahun yang mengubah segalanya dan tidak mengubah satu pun hal yang penting.
Di akhir shift, ia melakukan satu hal terakhir yang tidak direncanakan: ia membuka log hari pertamanya—tersimpan di arsip pribadinya, dua tahun lebih yang lalu—dan membaca ulang entrinya yang pertama: durasi tujuh menit empat puluh detik, catatan tentang ibu arisan, satu baris tentang takut yang berhasil. Ia membaca tulisan tangannya sendiri yang dulu—rapi tapi ragu—dan tersenyum, dan menulis satu baris di bawahnya dengan tinta hari ini: Dua tahun kemudian. Masih takut kadang-kadang. Masih menjawab. Itu satu-satunya perubahan yang penting: takutnya tidak hilang, hanya berhenti memegang setir. Setirnya sudah lama kembali ke tangannya sendiri. Lalu ia menutup log itu untuk terakhir kalinya sebagai agen, dan menyerahkan headsetnya ke meja supervisor—bukan sebagai pengembalian, melainkan sebagai penyerahan—dan Pram menerimanya dengan dua tangan, dengan anggukan, tanpa satu pun kata yang berlebihan, karena beberapa benda memang harus berpindah dalam keheningan.