Keputusan itu datang dengan angka yang tidak bisa dibantah: uji coba desa berhasil, desa-desa sebelah mengantre, dan NetraLink—yang sudah belajar membaca nilai yang tidak langsung berbunyi uang—menawarkan perluasan. Lima desa. Lalu sepuluh. Dan program itu membutuhkan seseorang yang memimpinnya penuh waktu.
Tawarannya sampai ke Fahmi pada hari Kamis, dan kali ini tidak ada dua kolom yang menggantung semalaman. Karena jawabannya sudah lama selesai di dalam dirinya—yang tersisa hanyalah cara menerimanya dengan benar.
Yang mengejutkan dirinya sendiri adalah betapa tenangnya ia. Dua tahun lalu, tawaran seperti ini akan membuatnya tidak tidur bermalam-malam, berputar antara takut dan ingin. Kini ia membaca tawaran itu seperti membaca cuaca: memeriksa, menimbang, dan kemudian menuliskan apa yang harus ada di dalamnya sebelum satu kata pun dijawab. Ia menelepon ibunya lebih dulu—bukan untuk minta izin, melainkan untuk mendengar suaranya saat mendengar kabar itu. Ibunya diam sebentar, lalu berkata, 'Jadi anak Ibu pulang.' Bukan pertanyaan. Pengakuan. Dan dalam dua kata itu Fahmi mendengar bertahun-tahun: warung yang sendirian, malam-malam yang menunggu, seorang ibu yang tidak pernah meminta—dan yang akhirnya, tanpa pernah meminta, didengar oleh waktu. 'Iya, Bu,' katanya. 'Pulang. Tapi Jakarta tidak kulepas. Dua-duanya, seperti yang sudah-sudah.' Dan ibunya tertawa kecil dan berkata, 'Ibu tahu. Kamu itu tidak pernah bisa melepas. Makanya kamu capek terus. Tapi makanya juga kamu sampai.'
'Aku mau,' katanya pada Hendra, di kantor yang sama tempat dua tahun lalu segalanya dimulai. 'Tapi dengan syarat-syarat, seperti biasa.'
Hendra tertawa—tawa yang sebenarnya, yang sudah lebih sering muncul di tahun-tahun belakangan. 'Tentu saja dengan syarat. Kau tidak akan jadi Fahmi tanpa syarat. Baca.' Ia menyandarkan punggungnya, dan menambahkan dengan nada yang lebih pelan, 'Dan jangan khawatir bagaimana menyampaikannya. Aku sudah belajar membaca syarat-syaratmu, Mi. Mereka tidak pernah tentang kau. Mereka selalu tentang orang yang tidak ada di ruangan—dan justru karena itu mereka tidak pernah salah, tidak pernah goyah, tidak pernah perlu ditarik kembali.'
Syaratnya tidak banyak, dan semuanya sudah dipikirkan bertahun-tahun: program desa itu berjalan dengan prinsip yang sama dengan semua yang ia bangun—teknisi lokal yang dilatih, bukan bergantung; transparansi penuh pada warga tentang biaya dan isi paket; tidak ada janji yang tidak bisa ditepati; dan satu pasal yang ia perjuangkan paling keras: setiap keputusan besar program didengarkan dulu oleh warga, di musyawarah, dengan bahasa yang mereka mengerti—karena desa yang tidak pernah ditanya bukan mitra, melainkan pasar. 'Kami datang bukan untuk menjual ke desa,' tulisnya di dokumen pendirian program. 'Kami datang untuk membangun bersama desa. Bedanya adalah siapa yang memegang palu.'
Dan satu syarat pribadi, yang ia sampaikan hanya kepada Hendra dan Wulan: ia tetap menjadi auditor Asisten Suara—jarak jauh, dari Karawang, dengan jadwal yang tertulis. 'Suara itu tidak boleh kehilangan penjaganya,' katanya. 'Jabatannya bisa kuisi orang lain nanti, dengan benar, dengan latihan. Tapi selama masa peralihan, aku yang membacanya. Aku tidak meninggalkan satu rumah untuk rumah yang lain sebelum rumah yang pertama punya penjaga baru.'
Wulan membacanya dan berkata sesuatu yang akan dipegangnya: 'Kau tahu kau sedang menulis ulang cara orang keluar dari pekerjaan, kan? Orang pergi dengan perpisahan. Kau pergi dengan dokumentasi.'
'Aku pergi dengan cara yang kuharap dilakukan orang padaku kalau posisinya dibalik,' kata Fahmi. 'Itu satu-satunya aturan yang tidak pernah salah.'
Mereka membicarakannya sampai sore—tentang bagaimana dua rumah dijaga tanpa menceraikan pemiliknya: jadwal audit yang padat tapi masuk akal, perjalanan Jakarta yang terjadwal, dan satu pasal yang ditulis Wulan sendiri di catatan: 'Fahmi tidak boleh dihubungi di luar jam kerja Karawang kecuali darurat. Dan darurat didefinisikan oleh saya, bukan oleh panik orang lain.' Fahmi membacanya dan berkata pelan, 'Mbak menulis pagar untukku lagi.' Dan Wulan menjawab tanpa mengangkat muka, 'Sampai kau bisa menulisnya sendiri tanpa rasa bersalah. Itu kontrak kita yang sebenarnya.'
Malam itu, di buku kecilnya: Kontrak baru Karawang ditandatangani hari ini. Bukan sebagai akhir—sebagai perluasan. Lantai tujuh mengajariku bahwa kerja yang benar adalah kerja yang menjawab. Dan desa itu menunggu jawaban lebih lama dari siapa pun—puluhan tahun, tanpa satu pun yang datang. Sekarang jawabannya berdiri di tiang-tiang, di router-router, di kelas-kelas warung. Aku tidak pindah rumah. Aku memperluasnya—dari satu lantai di Jakarta ke satu kampung di Karawang, dengan kabel sebagai jalan pulangnya, dengan orang-orang yang sama di kedua ujungnya, dengan jeda yang sama sebelum menjawab.
Penandatanganannya sendiri berlangsung sederhana, di kantor Hendra, dengan dua saksi dan tanpa foto. Tapi ada satu momen yang menetap: ketika Fahmi menaruh penanya, Hendra mengulurkannya tangan—bukan jabatan kerja, melainkan jabatan yang lebih lama, lebih berat—dan berkata, 'Dua puluh tahun aku menandatangani kontrak untuk perusahaan. Ini pertama kalinya aku menandatangani sesuatu yang akan kubilang ke cucuku nanti.' Ia menggeleng pelan pada dirinya sendiri, seperti orang yang terkejut pada isi dadanya. 'Pergi dan bangun desamu, Mi. Dan kalau suatu hari kau ragu pada besarnya—ingat bahwa aku sudah melihat ribuan rencana lewat di mejaku, dan yang berdiri selalu yang ditulis oleh orang yang mencintai tempatnya. Rencana yang ditulis tanpa cinta bisa dibaca dari halaman pertama. Rencanamu tidak pernah punya masalah itu.'