Pak Suryo keluar dari rumah sakit pada minggu berikutnya, dan undangan itu datang lewat jalur yang paling resmi dari semua jalur: ditelepon langsung oleh yang bersangkutan. 'Kamu belum pernah lihat rumah Bapak,' katanya. 'Kamu harus lihat rumah Bapak. Ada teh. Ada radio yang sudah Bapak bongkar—yang kamu kasih itu—dan sekarang suaranya bagus.'
Maka Fahmi datang ke Klender pada hari Minggu, menemukan rumah kontrakan kecil itu di gang yang bersih, dengan pot-pot di depan dan kursi kayu yang sudah dipersiapkan menghadap jalan—karena Pak Suryo sudah tahu, dari seminggu sebelumnya, bahwa tamunya datang. Tidak ada yang megah. Ada teh yang diseduh sendiri oleh tuan rumah dengan tangan yang masih bergetar pelan, ada dua cangkir, ada radio kecil yang Fahmi berikan—yang sudah dibongkar dan dipasang kembali, dengan satu sekrup sisa yang dibanggakan seperti luka perang.
Jalan masuk ke gang itu sendiri sudah menjadi bagian dari sore itu: Fahmi tersesat sekali, ditolong oleh anak-anak yang main bola, dan ketika ia menyebut nama Pak Suryo, anak yang paling besar langsung berkata, 'Oh, Pak Suryo yang suka ditelepon kantor?'—dan Fahmi mengangguk, dan anak itu mengantarnya sampai depan pintu dengan bangga seorang pengawal. Ternyata kakek itu terkenal di gangnya. Ternyata panggilan-panggilan itu sudah menjadi berita kecil di sana—'kantornya nelpon Pak Suryo tiap Selasa dan Kamis'—dan Fahmi menyadari bahwa program mereka telah menjadi semacam gengsi kecil bagi seorang kakek di gang itu: bukti bahwa ia diingat oleh dunia luar, di gang tempat orang-orang tua biasanya dilupakan pelan-pelan. Itu menambah satu makna lagi pada program itu yang tidak pernah mereka rancang: diingat itu bukan hanya kebutuhan pribadi. Diingat itu juga status. Dan status bagi orang tua yang dilupakan adalah oksigen.
'Jadi ini suaranya,' kata Pak Suryo, setelah mereka duduk, memandang Fahmi dengan mata yang menyipit senang. 'Dua tahun Bapak bicara dengan suara kamu. Sekarang suaranya punya muka.' Ia menyeruput tehnya. 'Bapak pernah bilang ke tetangga Bapak: Mas Fahmi itu seperti malaikat. Sekarang Bapak harus koreksi—dia bukan malaikat. Dia cuma anak muda dari Karawang yang matanya baik.'
Fahmi tertawa, dan mereka berbicara sepanjang sore itu—tanpa agenda, tanpa tiket, tanpa AHT. Pak Suryo bercerita hal-hal yang tidak pernah masuk panggilan: tentang istrinya, tentang bagaimana mereka dulu membeli rumah kontrakan ini berdua dan ia tidak pernah pindah karena semua sudutnya masih ada suaranya. Tentang bagaimana rasanya menjadi tua di kota yang ditinggalkan anak-anak—bukan dengan keluhan, melainkan dengan kejernihan orang yang sudah selesai menghitung. 'Orang kira sepi itu tidak ada orangnya,' katanya. 'Bukan. Sepi itu tidak ada yang menunggumu bicara. Dan kalian—kamu, program itu—kalian menunggu Bapak bicara. Itu bedanya hidup Bapak dua tahun terakhir dengan tahun-tahun sebelumnya.'
Menjelang magrib, tetangga yang baik hati itu mampir—dan Pak Suryo memperkenalkan Fahmi dengan kalimat yang membuat Fahmi harus berpaling ke jalan sebentar: 'Ini Mas Fahmi. Yang Bapak ceritain terus. Yang dari telepon.' Dan tetangga itu menyalami Fahmi seperti menyalami orang yang pernah menolong keluarganya—karena bagi Pak Suryo, memang begitu, dan bagi tetangga itu, cukuplah sudah.
Sebelum pulang, Pak Suryo menyerahkan sesuatu: foto lama, ia dan istrinya di depan rumah ini, puluhan tahun lalu. 'Bapak tunjukkan ke semua orang yang datang. Sekarang Bapak tunjukkan ke kamu.' Ia tidak memberikan fotonya—hanya menunjukkannya, dengan dua tangan yang hati-hati, sebagaimana orang menunjukkan pusaka. 'Almarhumah dulu selalu bilang Bapak kebanyakan ngomong. Sekarang Bapak dibayar dengan didengar. Adil, kan, akhirnya.' Fahmi tidak menjawab dengan kata-kata—ia mengangguk, pelan, dengan teh di tangan, karena ada kalimat yang bukan pertanyaan melainkan penutup, dan penutup tidak boleh dijawab, hanya boleh didengar sampai selesai bergema di udara sore.
Fahmi pulang dengan kereta malam, dan menulis di buku kecilnya: Hari ini aku duduk di rumah Pak Suryo dan minum tehnya. Tidak ada yang besar terjadi. Tidak perlu. Ada pertemuan yang besarnya justru karena tidak ada yang terjadi—hanya dua orang yang sudah lama saling menjaga dari jauh, duduk di satu teras, dengan radio yang disekrup satu kurang, dengan teh yang biasa, dengan sore yang pelan. Aku sudah melihat banyak bentuk keberhasilan: kontrak, angka, penghargaan. Tapi sore ini adalah bentuk yang paling tua dan paling benar: seseorang yang tidak lagi sendirian, membuka pintunya, dan berkata masuk—dan yang masuk adalah orang yang benar-benar datang.
Di kereta itu, ia juga menulis satu baris yang lebih pelan, setelah memandang keluar jendela lama: Aku tidak tahu berapa tahun lagi Pak Suryo ada. Tidak ada yang tahu hal-hal seperti itu. Tapi aku tahu satu hal yang bisa kutulis dengan tinta yang tidak goyang: tahun-tahun terakhirnya tidak sendirian. Program itu menjaganya, keluarganya pulang, tetangganya mengetuk pintu. Dan suatu hari nanti, ketika panggilan Kamis tidak lagi dijawab, kami akan tahu bahwa kami sudah melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia: kami ada, lebih dulu, setiap Selasa dan Kamis, tanpa pernah telat. Itu bukan penghiburan untuk kematian. Itu jawaban untuk kesepian—dan kesepian, tidak seperti kematian, adalah hal yang bisa kita menangkan. Setiap Selasa. Setiap Kamis. Dengan suara yang menunggu, dengan jadwal yang dijaga, dengan orang yang benar-benar datang.