Panggilan itu datang lewat jalur resmi, pada Selasa sore, dan nadanya membuat Fahmi berdiri sebelum ia tahu isinya: anak Pak Suryo, dari Surabaya, dengan suara orang yang sedang menjaga suaranya tetap rata.
'Pak Suryo masuk rumah sakit semalam. Bukan darurat—Bapaknya sendiri yang ketawa waktu dibawa; katanya cuma bapak-bapak masuk angin kelas berat. Tapi dokter mau observasi beberapa hari. Dan dia—' suara itu berhenti sebentar, '—dia nitip pesan. Dia bilang: tolong kabari orang-orang NetraLink, supaya tidak khawatir kalau panggilan Kamis tidak bisa. Dia pikirkan jadwalnya, Mas. Di rumah sakit, dia pikirkan jadwal teleponnya.'
Fahmi menutup panggilan dengan dada yang penuh, dan duduk sebentar untuk memikirkan apa yang benar. Bukan apa yang ingin ia lakukan—mengunjungi—melainkan apa yang benar: apakah kunjungan itu pantas, apakah diizinkan, apakah profesional. Ia menuliskannya seperti memeriksa kasus: program itu resmi, keluarganya terbuka, dan Pak Suryo bukan lagi sekadar pelanggan—ia wajah dari program ini, orang pertama yang percaya pada pintu yang benar. Ia membawanya ke Wulan, dan Wulan menjawab tanpa jeda: 'Pergi. Dengan izin keluarga, dengan batas waktu yang sopan, dan bukan sebagai petugas—sebagai tamu. Ada waktunya aturan, dan ada waktunya menjadi manusia yang sudah menulis aturannya dengan benar sehingga boleh, sekali ini, melangkah keluar dari bendanya.'
Maka Sabtu itu, Fahmi turun ke rumah sakit di Jakarta Timur dengan sekantong kecil buah dan satu benda lagi yang ia beli di toko elektronik bekas: radio kecil, sederhana, model yang masih bisa diutak-atik—karena ia tahu dari bertahun-tahun panggilan bahwa Pak Suryo tidak menginginkan hadiah mahal; ia menginginkan sesuatu yang bisa diperbaiki.
Perjalanan ke sana memberinya waktu untuk gugup—karena ia gugup, ia mengakuinya pada dirinya sendiri di angkot: dua tahun suara mereka bertemu hampir tiap pagi, dan kini ia akan melihat wajahnya. Ada ketakutan kecil yang aneh di sana: bagaimana kalau bertemu muka merusaknya? Bagaimana kalau yang dibangun dari suara ternyata tidak bertahan di udara bebas? Tapi kemudian ia teringat pelajaran dari semua yang pernah terjadi: yang dibangun dengan benar tidak takut pada cahaya. Suara mereka tidak pernah jadi tempat sembunyi—ia jadi jembatan. Dan jembatan tidak takut diseberangi.
Di lift rumah sakit, ia bertemu anak Pak Suryo lebih dulu—pria dari Surabaya itu, yang menjabat tangannya dengan dua tangan. 'Bapak sudah nanya tiga kali sejak pagi,' katanya. 'Sudah tahu kalian mau datang. Sudah mandi sendiri. Perawat bingung kenapa pasiennya segitu bersemangatnya.' Ia berhenti, dan menambahkan dengan suara yang lebih pelan, 'Terima kasih sudah datang. Bukan karena kalian wajib. Karena kalian mau. Bapak saya menghabiskan dua tahun menceritakan kalian—dan kalian datang. Itu menutup sesuatu di matanya. Saya bisa lihat itu dari pintu.'
Pak Suryo terbaring di ranjang dengan selang infus dan wajah yang justru lebih segar dari dugaan—dan ketika ia melihat siapa yang berdiri di pintu, seluruh wajahnya berubah seperti langit yang cerah: 'Mas Fahmi?!' Ia mencoba bangkit, dihalangi anaknya, tertawa, dan tertawa itu bercampur dengan sesuatu yang lain, dan ia tidak berusaha menyembunyikannya. 'Astaga, Nak. Kamu datang beneran. Bapak kira kamu cuma suara.'
'Suaranya yang datang, Pak,' kata Fahmi, meletakkan buah di meja. 'Cuma kali ini bawa badan.'
Pak Suryo menatapnya lama—terlalu lama untuk sopan, dengan mata yang bergerak dari wajah ke wajah seperti orang mencocokkan foto dengan orangnya. Lalu ia berkata, dengan nada yang akan diingat Fahmi selamanya: 'Sama. Persis sama. Bapak sudah sering bayangin mukamu, dan biasanya Bapak salah, tapi kali ini Bapak benar. Mukamu itu muka orang yang tidak buru-buru.' Dan ia menepuk tepi ranjangnya, menyuruh Fahmi duduk lebih dekat, sebagaimana kakek-kakek memerintah dengan kasih sayang—dan Fahmi duduk lebih dekat, dan satu jam itu berjalan dengan kecepatan yang benar: pelan, penuh, tanpa satu pun menit yang terbuang.
Dan mereka berbicara satu jam—batas yang ia jaga dengan hati-hati, karena pasien butuh istirahat—tentang radio, tentang cucu, tentang program yang katanya membuat hari Selasa dan Kamis 'tidak lagi hari biasa.' Sebelum pulang, Fahmi menyerahkan radio kecil itu, dan Pak Suryo memegangnya dengan dua tangan seperti memegang kitab, dan berkata, 'Ini bisa Bapak bongkar, kan?'
'Itu memang tujuannya, Pak.'
Dan kakek itu tertawa—tawa yang penuh, tawa yang sehat—dan Fahmi turun dari rumah sakit itu dengan langkah yang ringan, karena ada pertemuan yang terlambat bertahun-tahun yang akhirnya terjadi, dan tidak ada yang lebih menenangkan daripada melihat bahwa orang yang kaujaga ternyata dijaga juga oleh orang-orangnya sendiri: keluarga yang sudah pulang, tetangga yang mengetuk pintu, program yang menjaga jadwalnya. Jaring itu menahan. Itu saja yang ia inginkan selama ini. Jaring itu menahan.
Di angkot pulang, ia menulis satu halaman pendek di buku kecilnya: Hari ini aku bertemu Pak Suryo dengan mata. Dua tahun kami bertemu dengan suara, dan ternyata suaranya lebih jujur dari yang kuduga—wajahnya persis suaranya: tua, sabar, hangat, dan penuh rasa ingin tahu yang tidak pernah menua. Ada orang yang bilang hubungan di telepon itu tidak sungguhan. Mereka salah. Kedalaman tidak diukur dari mediumnya. Ia diukur dari apakah dua orang itu saling menunggu—dan kami saling menunggu, bertahun-tahun, di jam yang benar. Hari ini aku belajar bahwa suara yang dijawab dengan benar pada akhirnya akan menjadi kunjungan. Cinta yang diberi jeda pada akhirnya akan datang sendiri. Dan kerja yang dikerjakan dengan hati pada akhirnya akan memanggilmu pulang—ke kursi, ke desa, atau ke kamar rumah sakit di Jakarta Timur pada hari Sabtu yang cerah.