Ia pulang pada akhir pekan yang panjang, dengan bus pagi, dan Karawang menyambutnya dengan bau yang tidak pernah berubah: sawah, minyak warung, dan debu jalan desa.
Ibunya sudah tua dengan cara yang tidak terlihat dari telepon—lebih lambat mengangkat wajan, lebih sering berhenti di tengah pekerjaan—tapi suaranya masih sama, dan pelukannya masih rumah. Dimas datang dengan motor yang akhirnya lunas itu, dan warung malam itu menjadi meja rapat keluarga: teh, gorengan, dan rencana-rencana yang selama ini hanya hidup di peta kasar di kertas bekas.
Malam pertama itu tidak ada pembicaraan besar. Ibunya memasak hal-hal yang dulu—sayur asem yang benar, tempe yang diiris tebal—dan mereka makan di lantai warung yang sudah tutup, dengan pintu setengah terbuka ke jalan kampung yang gelap. Dan Fahmi menyadari, di tengah makan itu, bahwa selama dua tahun ini ia selalu pulang dengan beban: dengan kiriman, dengan kabar, dengan peran sebagai anak yang berhasil. Tapi malam itu ia pulang tanpa beban apa pun, dan warung itu terasa seperti zaman sebelum Jakarta—tiga orang yang makan bersama, tanpa agenda, tanpa antrean yang menunggu. Ibunya bercerita tentang tetangga yang menikah, tentang harga beras, tentang kucing baru yang suka tidur di etalase—dan Fahmi mendengarkannya seperti orang minum air di siang yang panjang. Ia lupa rasanya tidak dibutuhkan oleh siapa pun selama satu jam. Ternyata rasanya seperti pulang—bukan ke tempat, melainkan ke waktu: ke tahun-tahun ketika satu-satunya antrean adalah antrean gorengan, dan satu-satunya dasbor adalah asap dari penggorengan ibunya yang naik pelan ke langit sore, ke tahun-tahun ketika waktu berjalan dengan kaki, bukan dengan detik.
Keesokan harinya Fahmi berjalan keliling kampung dengan mata yang berbeda. Ia sudah dua tahun membaca jaringan; kini ia membaca kampungnya. Rumah-rumah berdiri rapat di sepanjang jalan desa, dan di atasnya, antena-antena TV tua—tapi tidak ada satu pun yang memancarkan internet yang layak. Anak-anak mengerjakan tugas di teras dengan buku cetak; sebuah warung kelontong menulis pesanan dengan tangan; dan di ujung jalan, sekolah dasar tempatnya dulu berdiri dengan komputer-komputer yang tidak pernah menyala karena tidak ada yang bisa dibuka dengannya.
'Kok belum ada yang pasang?' tanyanya pada Dimas.
'Mau pasang pakai apa, Kang?' kata Dimas. 'Provider besar nggak masuk sini. Ngitungnya nggak masuk, katanya. Terlalu jauh, terlalu sedikit yang bayar.'
Mereka berjalan lebih jauh sore itu—ke ujung dusun, ke rumah-rumah yang lebih jarang—dan Dimas menunjukkan hal-hal yang tidak pernah masuk ke percakapan telepon: rumah Pak Lek yang anaknya jadi TKI dan hanya bisa menelepon; sekolah yang gurunya mengunduh bahan ajar di kota seminggu sekali; balai desa dengan komputer hadiah yang sudah jadi gudang. Dan di satu rumah, seorang ibu memanggil mereka dari teras—kenal Dimas, tentu saja, semua kenal Dimas—dan bertanya apakah benar anak buah Mas Fahmi sedang menghitung sambungan internet. Ketika Fahmi mengangguk, ibu itu berkata hal yang ditulis Fahmi di buku kecilnya malam itu: 'Kalau ada internet, Nak, Ibu bisa lihat cucu Ibu di Cikarang tiap malam. Sekarang setahun sekali kalau pulang.' Fahmi tidak menjawab dengan janji—ia sudah belajar—tapi ia mencatatnya, dan catatan itu terasa lebih berat dari data mana pun yang pernah masuk laporannya—karena data bicara tentang jumlah, dan catatan ini bicara tentang setahun sekali, dan setahun sekali adalah ukuran yang tidak ada di dasbor mana pun.
Fahmi berdiri di ujung jalan desa itu, memandang rumah-rumah, dan mimpi lamanya berdiri di sana bersamanya—tidak lagi sebagai khayalan remaja, melainkan sebagai masalah teknis yang bisa dihitung: berapa rumah, berapa jarak, berapa tiang, berapa biaya per sambungan per bulan. Ia mencatat semuanya di buku kecilnya, di bawah pohon, sambil anak-anak bermain bola di dekatnya—dan untuk pertama kalinya, ember bocor itu terasa seperti sesuatu yang bisa ditambal: karena kini ia punya angka lisensi di bank, punya Dimas yang lulus, punya keahlian yang diasah dua tahun di lantai yang paling keras.
Malam itu, di kamar lamanya, dengan suara jangkrik yang tidak pernah ada di Jakarta, ia menulis: Hari ini aku membaca kampungku seperti membaca dasbor. Dan hasilnya sama seperti dasbor yang merah: ada yang menunggu, dan tidak ada yang menjawab. Mereka tidak butuh donasi—mereka butuh sambungan. Anak-anak yang tugasnya tidak bisa dibuka, ibu-ibu yang dagangannya tidak bisa difoto, kakek-kakek yang anaknya merantau dan tidak pernah terlihat wajahnya. Aku tahu semua wajah mereka, karena mereka adalah wajah-wajah yang kudengar setiap hari di telepon, dari lantai tujuh—hanya saja di sini mereka tetanggaku sendiri. Aku pulang untuk mengukur mimpi, dan aku pulang membawa sesuatu yang lebih besar dari mimpi: bukti bahwa ini bisa dihitung. Dan yang bisa dihitung, bisa dibangun.
Dan di bawahnya, satu baris yang ia tulis sambil mendengar jangkrik: Aku kira pulang itu untuk melihat yang kutinggalkan. Ternyata pulang itu untuk melihat yang menungguku. Jakarta mengajariku cara bicara. Karawang yang akan mengajariku untuk apa bicara itu dipakai. Dua-duanya rumah. Dua-duanya benar. Dan besok aku kembali ke lantai tujuh dengan peta di tasku dan hitungan di kepalaku—bukan sebagai anak yang pulang kampung, melainkan sebagai orang yang baru menemukan bahwa kampungnya adalah jawaban dari pertanyaan yang selama ini salah ia ajukan.