Lantai tujuh tanpa Fahmi adalah lantai yang berjalan dengan satu kaki—bukan karena ia yang terbaik, melainkan karena ia adalah jenis orang yang kehadirannya baru terasa ketika hilang.
Wulan menutupinya dengan cara yang benar: log dibaca, bebannya dibagi merata, dan satu kalimat resmi ke tim—'Fahmi istirahat atas perintah dokter. Titik.' Tidak ada detail, tidak ada gosip yang dipelihara. Tapi orang-orang membaca kekosongan itu dengan cara masing-masing. Tari mengambil dua kali jumlah panggilan eskalasi tanpa mengeluh. Pram menjadi semacam mercusuar yang aneh—lebih sabar dari biasanya, lebih pelan, seolah sedang menunjukkan pada udara bagaimana seharusnya bekerja. Dan Joko, yang tidak banyak bicara, mulai menaruh sebotol air putih di meja setiap agen tiap awal shift—tidak ada yang menyuruhnya, tidak ada yang membahasnya, botol-botol itu hanya muncul, seperti bunga di makam, tapi untuk orang yang masih hidup dan akan kembali.
Para pelanggan lama mencarinya dengan cara yang membuat Wulan terdiam saat membacanya di laporan. Tidak banyak—empat, lima—tapi mereka ada: penelepon yang bertanya 'mas yang sabar yang dulu itu ada, nggak?', penelepon yang menolak diakhiri sebelum ditanya 'itu beneran manusia, kan?' Salah satu dari mereka, seorang nenek yang pernah dibimbing Fahmi memakai aplikasi, bahkan menitipkan pesan lewat agen yang bertugas: 'Bilang sama Masnya, sayur asemnya sudah jadi. Dia pasti tahu maksudnya.' Agen itu tidak tahu maksudnya; Wulan mencatat pesan itu utuh-utuh, dan mengirimkannya ke Fahmi, yang membacanya di kamar klinik dan tertawa—serak, tanpa suara, tapi tertawa.
Pesan-pesan itu dikumpulkan Wulan dalam satu berkas yang tidak resmi dan tidak pernah akan resmi—judulnya hanya tanggal—dan ia menunjukkannya kepada Hendra tanpa komentar. Hendra membacanya berdiri, dua kali, dan berkata sesuatu yang membuat Wulan tahu bahwa berkas itu sedang berjalan ke tempat yang lebih tinggi dari yang ia rencanakan: 'Klien kita selalu tanya apa nilai tambah manusia. Ini. Ini jawabannya. Pelanggan yang menitipkan sayur asem ke agennya. Coba kau tulis itu di kolom margin.' Ia mengembalikan berkas itu, dan berhenti, dan menambahkan—lebih pelan, seperti orang mengakui sesuatu: 'Dulu aku pikir pekerjaan kalian menjawab telepon. Ternyata pekerjaan kalian dijawab ketika tidak masuk. Itu bedanya. Mesin tidak pernah dititipi sayur asem.'
Dan Pak Suryo.
Pukul sepuluh lewat tiga, hari Senin, panggilannya masuk seperti biasa—dan dijalurkan, karena pengaturan Fahmi masih berdiri di sistem, ke agen manusia. Yang kebetulan, hari itu, adalah Pram.
'Selamat pagi, Pak Suryo,' kata Pram, dan sudah membaca catatan Fahmi tentang kakek ini, dan sudah mematikan seluruh kecepatan dalam dirinya. 'Ini Pram, rekan Mas Fahmi.'
Jeda panjang. 'Mas Fahmi mana, Nak?'
Pram menatap layar. Ia bisa menjawab dengan naskah—petugas sedang tidak bertugas—dan tidak ada yang akan menyalahkannya. Tapi ia ingat buku kecil itu, ingat aturan-aturan pantry, ingat bahwa kakek ini adalah seseorang yang pulau kecilnya dibangun di atas suara yang menjawab. Maka Pram melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan: ia memilih jujur, dengan dosis yang benar.
'Pak Suryo, Mas Fahmi lagi sakit. Capek sekali, kerja terlalu berat. Sekarang dia istirahat, dijagain dokter, dijagain kami.' Ia berhenti, membiarkan kalimat itu mendarat. 'Saya Pram. Saya tidak sesabar dia, Pak, saya akui itu. Tapi saya di sini, dan saya tidak buru-buru. Bapak mau cerita apa hari ini?'
Keheningan yang panjang. Lalu suara tua itu, lebih pelan: 'Sakit karena kebanyakan nolongin orang, ya, Nak?'
'...Iya, Pak.'
'Sama kayak Bapak dulu waktu muda.' Dan kemudian, dengan suara yang berubah—lebih dalam, lebih tua, lebih bijak, suara orang yang mengenali penyakit dari seberang telepon—Pak Suryo berkata, 'Kalian jagain dia, ya, Nak. Orang seperti itu harus dijagain. Bapak tahu. Bapak pernah jadi orang seperti itu.'
Pram menutup panggilan itu empat puluh menit kemudian, dan sebelum menutupnya, Pak Suryo mengatakan satu hal lagi yang akan dibawa Pram selamanya: 'Nak, Bapak nggak tahu kamu siapa. Tapi kamu baru saja jujur ke Bapak tentang Mas Fahmi, padahal kamu bisa bohong dengan gampang. Orang yang jujur waktu bohong itu gampang—itu orang yang bisa dipercaya, Nak. Bapak titip doa untuk dia. Dan untuk kamu juga.' Pram menutup panggilan dengan tenggorokan yang tidak ia akui, dan duduk diam di biliknya, dan menulis di sticky note yang ia simpan sendiri: orang-orang yang paling butuh kita justru yang paling tahu cara menjaga kita. ironi paling tua di dunia. lalu ia menempelkannya di balik laci, dan menyalakan available, dan menjawab—dengan jeda, kali ini, jeda yang benar.
Dan sebelum panggilan berikutnya masuk, Pram melakukan satu hal lagi yang tidak pernah ia lakukan: ia mengetik pesan ke klinik, ke nomor Fahmi—pesan pertama yang pernah ia kirimkan tanpa sarkasme, tanpa perisai, tanpa satu pun kalimat yang bisa dibaca dua arah: dia tanya kabarmu tiap pagi, Mi. Pak Suryo. kami semua juga, cuma kami terlalu gengsi bilangnya. sembuh yang benar. kursimu kami jaga. tidak ada yang duduk di sana. tidak akan ada. Pesan itu dibaca Fahmi di antara dua kunjungan dokter, dan orang-orang klinik itu tidak pernah tahu kenapa pasien di kamar itu tiba-tiba tersenyum pada ponselnya dengan mata yang basah—senyum orang yang baru mengetahui bahwa kursinya dijaga, bahwa ketidakhadirannya diperhatikan, bahwa di suatu tempat ada orang-orang yang menolak menggantikannya.