Ibu datang dua hari kemudian, dan Fahmi tidak tahu siapa yang meneleponnya—Pram, kemudian ia tahu, dengan izin yang tidak sempat ia berikan dan tidak akan ia sesali.
Ia mendengar langkah ibunya di lorong sebelum pintu terbuka, dan sesuatu di dadanya sudah runtuh sebelum perempuan itu masuk. Ibunya tidak menangis. Ibunya berdiri di sisi ranjang, memandanginya dari atas ke bawah dengan mata yang membaca seluruh riwayat—kurus, pucat, suara hilang—dan berkata, dengan nada yang biasa dipakainya untuk harga minyak, 'Jadi begini kantor yang lancar itu.'
Fahmi menutup matanya. Dan menangis. Tanpa suara, karena suaranya masih disita—hanya bahu yang bergerak, hanya air yang jatuh—dan ibunya menarik kursi plastik klinik dan duduk dan memegang tangannya, dan tidak berkata apa-apa sampai tangis itu selesai dengan sendirinya, sebagaimana orang menunggu hujan.
Lalu ibunya bicara, dan kalimat-kalimatnya masuk tanpa perlawanan karena tidak ada satu pun yang mencoba menghibur:
'Kamu tahu kenapa Ibu nggak pernah nyuruh kamu pulang?' katanya. 'Karena Ibu bangga kamu di sana. Anak Ibu membantu orang-orang. Itu pekerjaan yang bersih.' Ia menggenggam tangan Fahmi sedikit lebih kuat. 'Tapi sekarang Ibu lihat kamu begini, dan Ibu mau tanya satu hal. Kalau Dimas yang kerja sampai jatuh kayak gini—kalau adikmu yang kamu lihat di kasur ini—kamu bilang apa padanya?'
Fahmi memandangnya, dan jawabannya sudah ada sebelum pertanyaan itu selesai, dan mereka berdua tahu itu.
Malam pertama itu ibunya menginap di kamar klinik, di kursi yang dibaringkan seadanya, menolak pulang dengan alasan yang tidak bisa dibantah: 'Ibu jaga. Ibu yang punya.' Dan di malam yang sunyi itu, dengan lampu yang diredupkan, Fahmi menulis di buku kecilnya hal-hal yang tidak bisa ia ucapkan dengan suara yang hilang—dan ibunya membacanya, dan menulis jawabannya di sebelahnya, dan buku kecil itu menjadi percakapan dua tangan di atas kertas. Fahmi menulis: Aku takut kalau aku berhenti, semua runtuh. Ibunya menulis: Warung Ibu juga dulu Ibu kira gitu. Ternyata yang runtuh cuma gengsi. Fahmi menulis: Ada banyak orang yang butuh aku. Ibunya menulis, lebih lambat, hurufnya lebih besar: Orang-orang itu juga butuh kamu sepuluh tahun dari sekarang. Kalau kamu habis sekarang, mereka dapat kamu cuma setahun. Hitung mana yang lebih banyak, anak pintar. Fahmi membaca itu berkali-kali di bawah lampu yang redup, dan sesuatu yang sudah lama tegang di dadanya mengendur sedikit—bukan lepas, hanya mengendur, seperti simpul yang mulai dibuka dari sisi yang benar.
'Kamu akan bilang: berhenti dulu. Kamu akan bilang: rumah lebih penting dari pekerjaan. Kamu akan bilang—' suara ibunya turun pelan, '—baik itu bukan berarti kamu habis, Dimas. Baik itu berarti kamu masih ada besok.' Ia menatap anak sulungnya dengan mata yang basah tapi suara yang rata. 'Kenapa untuk Dimas kamu tahu jawabannya, dan untuk dirimu sendiri kamu pura-pura tidak tahu?'
Fahmi tidak menjawab dengan tulisan. Ia hanya memandang ibunya, dan pertanyaan itu mengendap, bekerja seperti air pada batu—pelan, tanpa suara, tanpa ampun. Karena memang begitulah selalu: untuk orang lain, ia punya seluruh kamus belas kasih; untuk dirinya sendiri, hanya satu halaman tipis berisi perintah. Ibunya tidak mendesak. Ibunya menyeduh teh dari termos yang dibawanya—dilarang aturan klinik, diizinkan oleh perawat yang ternyata punya ibu juga—dan mereka duduk dalam diam yang hangat, dua orang yang tidak perlu banyak kata untuk mengatakan yang besar. Di luar jendela klinik, Jakarta bergerak seperti biasa, tidak tahu apa-apa, dan untuk sekali ini ketidaktahuan kota itu terasa seperti kemurahan hati.
Malam itu mereka bicara panjang—atau lebih tepatnya, ibunya bicara dan Fahmi menulis di buku kecilnya, karena suaranya masih pergi. Tentang Karawang. Tentang warung. Tentang bagaimana ibunya dulu juga pernah jatuh sakit karena memikul warung sendirian di tahun-tahun pertama, dan belajar, dengan harga yang sama, bahwa badan adalah modal yang tidak bisa diganti. 'Warung Ibu sekarang bisa tutup kalau Ibu sakit, karena Ibu latih Mbak Yuni dari sebelah. Kamu tahu kenapa warung Ibu nggak pernah tutup lagi? Karena Ibu akhirnya percaya orang lain bisa. Percaya orang lain bisa itu bukan menyerah, Mi. Itu membangun.'
Sebelum pulang, ibunya menulis sesuatu di halaman buku kecil Fahmi—meminta izin dulu, dengan gerakan menunjuk—dan Fahmi membacanya setelah ibunya pergi, di kamar klinik yang sunyi, dan membaca halaman itu tiga kali: tulisan tangan ibunya yang besar-besar dan miring, kalimat seorang perempuan yang tidak bersekolah tinggi tapi tahu segalanya tentang bertahan:
Anakku. Kamu lahir tidak untuk dipakai habis. Kamu lahir untuk dipakai lama. Ibu tidak butuh kiriman yang besar. Ibu butuh anak yang utuh. — Ibu.
Di bawah halaman itu, malam itu juga, dengan tangan yang masih lemah, Fahmi menulis jawabannya—bukan untuk dibaca siapa pun, melainkan untuk ditandatangani oleh dirinya sendiri: Aku dengar, Bu. Aku tidak janji langsung bisa. Tapi aku janji mulai. Dan janji mulai, kau sendiri yang mengajarkannya, adalah satu-satunya janji yang tidak pernah berbohong—karena ia tidak mengaku sudah selesai. Ia hanya mengaku sudah mulai. Lalu ia mematikan lampu, dan untuk pertama kalinya sejak malam migrasi itu, ia tidur tanpa mendengar nada masuk di kepalanya—tidur yang dalam, tidur yang seperti air, tidur orang yang akhirnya menyerahkan pikulannya kepada malam.