Penelusuran itu memakan dua minggu dan mengubah cara Fahmi melihat malam-malam mesin.
Ia membaca log panggilan malam percontohan dari minggu pertama sampai minggu terakhir, dan memetakannya dengan cara yang sudah menjadi tulang punggungnya: bukan mencari yang salah—mencari yang terlewat. Setiap panggilan dengan nada yang mengganjal ia beri tanda; setiap tanda ia verifikasi dengan telinga dan dengan transkrip; setiap yang lolos verifikasi ia tuliskan dengan tanggal, jam, dan kutipan, tanpa satu pun kata penghakiman. Keras kepala tentang fakta. Dingin tentang makna. Seperti yang diajarkan semua orang yang membesarkannya di lantai itu: kau tidak menuduh, kau mendokumentasikan.
Hasilnya berdiri perlahan seperti bangunan dari bata yang tidak bisa dibantah: tujuh belas panggilan dalam delapan minggu yang seharusnya dinaikkan ke manusia. Tujuh belas. Bukan seribu—Fahmi menuliskannya dengan jujur, bahkan menghitung persentasenya yang kecil—tapi tujuh belas orang, di jam-jam paling gelap, yang membuka pintu sedikit dan menemukan formulir di baliknya. Tiga di antaranya berbahasa tentang berhenti. Empat berbahasa tentang sendirian. Sisanya: kabut, nada datar, kata-kata yang orang ucapkan ketika sedang menguji apakah dunia masih mendengar.
Dan satu hal lagi yang ditemukannya, yang membuat laporan itu tidak bisa lagi dibaca sebagai serangan pada mesin: dalam tujuh belas itu, lima menelepon kembali—dan dari lima itu, empat akhirnya sampai ke agen manusia, dan tercatat, dan tertangani dengan benar. Empat nyawa yang berbelok ke orang yang tepat bukan karena sistem, melainkan karena keberuntungan peneleponnya sendiri mencoba lagi. Yang kelima tidak menelepon kembali. Tidak ada yang tahu apa-apa tentang yang kelima. Fahmi menuliskannya apa adanya: Yang kelima tidak tercatat kembali. Saya tidak tahu apa artinya. Itulah masalahnya—tidak ada yang tahu, karena sistem tidak bertanya.
Penulisan laporan itu sendiri adalah pelajaran tentang kekerasan kepala. Wulan membacanya dengan pensil merah yang tidak berperasaan—dan Fahmi belajar mencintai pensil merah itu, karena setiap coretan adalah satu titik yang tidak bisa diserang nanti. Kalimat 'mesin gagal total' dicoret, diganti Wulan dengan 'tidak ada mekanisme deteksi'. Kalimat 'orang-orang yang membutuhkan' dicoret, diganti 'penelepon dengan indikator A, B, C'. 'Perasaanmu benar,' kata Wulan sambil mencoret, 'tapi perasaan tidak bisa dipertahankan di rapat. Indikator bisa. Kita tidak menyembunyikan hatinya, Mi. Kita menerjemahkannya ke bahasa yang tidak bisa mereka tolak.' Dan Fahmi menulis ulang, dan menulis ulang, sampai laporan itu berdiri tanpa satu pun kata yang bisa diserang sebagai emosi—dan justru karena itu, ketika orang membacanya, emosinya mengalir sendiri dari fakta-fakta yang diam. Ia belajar malam-malam itu bahwa prosa yang paling menghancurkan adalah prosa yang tidak pernah meminta simpati: tujuh belas baris, tanggal, jam, kutipan. Titik.
Ada satu malam ketika ia hampir menghapus kasus kesembilan—panggilan yang paling samar, paling bisa dibantah—karena ingin laporannya tak tertembus. Dan ia menghapusnya, lalu menuliskannya kembali, lalu menelepon Wulan tengah malam untuk menanyakannya. Wulan menjawab dengan suara ngantuk tapi tegas: 'Masukkan. Dengan tandanya. Tulis bahwa kasus ini meragukan. Keraguan yang kauakui sendiri adalah benteng, bukan lubang—karena membuktikan bahwa sembilan belas yang lain kau pilih dengan ketat.' Kasus kesembilan masuk dengan tandanya, dan menjadi—sebagaimana selalu—bagian yang paling dipercaya pembacanya.
Laporan itu disusunnya seperti ia belajar menyusun segalanya: metodologi dulu, batasan dulu, baru temuan. Wulan membacanya dalam diam yang panjang, dan ketika ia selesai, ia tidak berkata 'bagus.' Ia berkata, 'Ini sudah bukan laporan agen. Ini laporan audit. Dan laporan audit tidak boleh dibawa oleh agen.' Ia menatap Fahmi. 'Kau tahu apa yang kumaksud? Kalau kau yang membawa ini ke atas, kau jadi masalahnya—kau jadi agen yang menyerang proyek klien. Tapi kalau ini naik sebagai temuan supervisi, dengan namamu di lampiran sebagai analis, maka yang diserang bukan orang. Yang diserang angka.'
'Kamu mau jadi perisainya, Mbak.'
'Aku memang perisai. Itu job description yang tidak tertulis.' Wulan menutup map itu. 'Kau yang menyalakan alarmnya, Mi. Biar aku yang berdiri di depannya waktu bunyi. Sudah biasa.'
'Terima kasih, Mbak,' kata Fahmi pelan. 'Tapi satu hal: kalau alarm ini bunyi terlalu keras, aku mau tetap di sebelahmu. Bukan di belakangmu. Aku capek dilindungi dari belakang.'
Wulan memandanginya, lalu mengangguk kecil—anggukan yang ia simpan untuk hal-hal yang tidak bisa ia bantah. 'Deal. Di sebelah. Tapi tetap dengan namaku di depan, sampai tidak ada pilihan lain.' Ia berdiri, menyampirkan blazer-nya. 'Sekarang pulang. Tidur. Besok kita mulai membunyikannya pelan-pelan—seperti orang yang menyalakan alarm di rumah yang benar, bukan melempar batu ke rumah yang salah.'
Sebelum laporan itu naik, ada satu malam lagi yang tidak tercatat di mana pun. Fahmi membacanya sekali terakhir di kamarnya—bukan untuk memeriksa, melainkan untuk mendengar. Tujuh belas nomor tiket. Tujuh belas suara. Ia mengenali beberapa tanpa membaca labelnya: yang ini bicara tentang berhenti, yang ini tentang sendirian, yang ini tertawa di tempat yang salah. Dan ia menulis satu halaman penutup yang tidak masuk laporan resmi—halaman untuk dirinya sendiri, yang ia simpan di buku kecilnya: Malam ini aku menyerahkan tujuh belas orang ke kertas. Semoga kertas itu cukup kuat. Semoga esok, di rapat yang dingin, angka-angka ini berdiri dan bicara dengan suara yang tidak bisa dibantah—karena aku sudah tidak bisa membawa mereka lebih jauh dengan suaraku sendiri. Sisanya adalah pekerjaan sistem. Dan sistem, aku masih percaya, bisa diperbaiki oleh orang-orang yang menolak berhenti menulis yang benar.