Jawaban atas laporan itu tidak datang dua hari, dan dua hari itu Fahmi belajar bahwa menunggu jawaban adalah bentuk kerja yang paling berat—kerja tanpa panggilan, tanpa nada masuk, hanya menunggu.
Dua hari itu ia isi dengan bekerja seperti biasa, dan seperti biasa itu terasa asing: ia mengangkat panggilan, menenangkan orang, menutup tiket—dan di sela-selanya, di setiap jeda, matanya kembali ke pintu ruang kaca, menunggu Wulan keluar dengan membawa jawaban. Pram menangkapnya sekali dan berkata pelan, 'Menunggu itu juga kerja. Jangan diisi dengan gelisah. Isi dengan persiapan.' Jadi Fahmi menyiapkan: ia merapikan catatannya, menyusun kemungkinan-kemungkinan jawaban seperti menyusun pohon keputusan—kalau mereka bilang A, aku jawab apa; kalau B, aku bawa apa. Itu menenangkan tangannya, walau tidak kepalanya. Dan ia menyadari, di malam kedua, bahwa inilah bedanya menunggu dengan takut dan menunggu dengan siap: keduanya sama-sama tidak tidur, tapi yang satu pulang dengan tangan kosong dan yang satu pulang dengan map.
Wulan yang akhirnya membawanya, Rabu sore, dengan wajah orang yang sudah membaca sesuatu dua kali dan masih tidak percaya. Bukan surat resmi; belum. Yang datang duluan adalah hal-hal di sekitarnya: permintaan agar audit berikutnya 'fokus pada metrik kualitas yang sudah disepakati'—bahasa sopan untuk jangan cari yang lain—dan satu pertanyaan balik dari tim pilot NetraLink yang membuat Wulan menggeram di ruang kaca: apakah pemantau manusia tidak terlalu menafsirkan?
'Menafsirkan,' ulang Wulan, datar. 'Kau dengar itu, Mi? Kau menemukan penelepon yang bilang enak kalau semuanya berhenti, dan mereka menyebut kesimpulanmu tafsir.'
Fahmi duduk dengan dua tangan di lutut, menekannya sampai putih. 'Jadi mereka nggak akan ngapa-ngapain.'
'Mereka akan berhati-hati secara administratif,' kata Wulan, dan getirnya tidak disaring. 'Mereka akan menyelidiki selama tiga bulan dan menemukan bahwa tidak cukup data untuk menyimpulkan—dan selama itu, mesinnya jalan terus. Itu cara perusahaan besar berkata tidak tanpa mengatakannya.'
Fahmi memikirkan penelepon itu—suara lambat, kalimat yang minta diperhatikan—dan merasakan sesuatu mengeras di dadanya, sesuatu yang baru, sesuatu yang bukan takut dan bukan sedih: keteguhan. 'Berarti log saja tidak cukup.'
'Tidak. Log itu satu kejadian. Satu kejadian bisa disebut tafsir.'
'Maka aku perlu pola.' Fahmi mengangkat wajah. 'Satu kejadian adalah tafsir. Sepuluh kejadian adalah pola. Aku perlu membaca lebih banyak, Mbak—semua rekaman malam, semua yang bernada seperti itu. Kalau ada yang lewat dan tidak terbaca, mereka ada di sana, di log, menunggu dihitung.'
Wulan menatapnya lama. 'Itu ratusan jam, Mi.'
'Aku tahu.'
'Itu akan merusak matamu dan tidurmu.'
'Aku tahu, Mbak.'
Ada jeda di ruang kaca itu—jeda yang anehnya terasa seperti rumah. Wulan menyandarkan punggungnya dan memandanginya, dan kemudian berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri: 'Aku dulu pernah di posisimu. Melihat sesuatu yang tidak mau dilihat orang atas. Dan waktu itu aku memilih diam, karena takut, dan aku masih ingat rasanya sampai sekarang—rasa seperti menelan kunci.' Ia mencondongkan badan. 'Aku tidak akan memintamu menelan kunci, Mi. Tapi aku akan memastikan kau tidak menelannya sendirian. Kita kerjakan ini berdua, dengan aturan, dengan jadwal. Bukan misi rahasia satu orang. Misi rahasia satu orang itu selalu berakhir di klinik—dan kau sudah pernah ke sana, dan kita berdua tahu bagaimana rasanya.'
Dan Wulan—yang seharusnya menjaga agennya dari pekerjaan yang membakar, yang sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk itu—mengangguk, karena ia mengenali apa yang sedang berdiri di depannya: bukan semangat muda yang akan padam sendiri, melainkan keyakinan yang sudah selesai berunding. 'Baik,' katanya. 'Tapi dengan aturanku: dibagi hari, dijadwalkan, dan aku yang memantau jam kerjamu. Kau menelusuri log untuk menyelamatkan orang, bukan untuk jadi korban berikutnya. Sepakat?'
'Sepakat,' kata Fahmi. Dan malam itu juga, penyelidikan paling sunyi yang pernah dilakukan lantai tujuh dimulai: satu orang, satu headphone, ratusan jam rekaman, dan satu pertanyaan yang menuntun seperti mercusuar—berapa banyak yang lewat tanpa dibaca?
Malam-malam pertama itu mengajarinya sesuatu yang tidak ia duga: betapa mudahnya manusia berubah menjadi mesin ketika membaca mesin. Pada malam kedua, ia menangkap dirinya mendengarkan dengan kecepatan dua kali, melewatkan bagian-bagian yang 'jelas rutin', menilai dengan cepat supaya selesai—dan ia berhenti, melepas headphone, dan menatap tangannya sendiri. Aku sedang membaca orang-orang dengan cara mesin, pikirnya. Cepat. Berpola. Tanpa jeda. Dan ia menulis aturan kecil di sudut kertas kerjanya: satu kali putar, kecepatan normal, dengan dada. Kalau kau membaca penderitaan orang dengan kecepatan dua kali, kau sudah berhenti membaca. Setelah malam itu, ia tidak pernah lagi menekan tombol percepat—dan ratusan jam itu berjalan dengan kecepatan manusia, lambat, penuh, sebagaimana layaknya didengar.
Ada satu malam ketika Tari menemaninya—diam-diam, tanpa diminta, dengan dua gelas kopi. Mereka tidak bicara banyak; Tari mengerjakan suntingan videonya dengan headphone sendiri, dan kehadirannya saja cukup. Pada pukul tiga, Tari berkata tanpa melepas pandang dari layarnya, 'Aku nggak akan tanya kamu nemuin apa. Aku cuma mau kamu tahu ada yang bangun.' Dan Fahmi menyadari, di ruang audit yang dingin itu, bahwa solidaritas tidak selalu berarti ikut membaca. Kadang ia cuma berarti ada yang menjaga lampu tetap menyala sambil kamu membaca—dan lampu itu, malam itu, berbentuk seorang sahabat dengan laptop dan kopi yang mendingin.