Ibu datang tanpa memberitahu, pada Jumat siang, dengan tas anyaman dan bau warung yang tidak hilang oleh dua jam perjalanan—dan Fahmi mengetahuinya dari resepsionis lantai bawah yang menelepon ke atas: 'Ada ibu-ibu nyari Mas Fahmi. Bilangnya ibunya.'
Ia turun dengan jantung yang jatuh—karena ibu tidak pernah datang tanpa kabar, dan kabar tanpa kabar di keluarga mereka selalu berarti sesuatu. Tapi ibunya berdiri di lobi dengan senyum biasa, membawa rantang, dan berkata, 'Ibu liat-liat aja. Dimas yang nyuruh. Katanya kakakmu kurus.'
Maka terjadilah hari yang kemudian menjadi salah satu hari terpenting tahun itu: Fahmi cuti setengah hari—pertama kalinya—dan membawa ibunya berkeliling. Ibu melihat lantai tujuh dari balik kaca ('ramai, ya, kayak pasar, tapi kok sopan'), melihat dasbor ('itu lampu merah apa, Mi?' 'Antrean, Bu. Orang nunggu.' 'Kok banyak. Kamu yang angkat semua?' Dan Fahmi tertawa, dan ibunya mengangguk-angguk seperti mengerti, dan mungkin memang mengerti dengan cara ibu-ibu: terlalu banyak, selalu terlalu banyak, dan anaknya di tengahnya).
Mereka makan di warteg dekat gedung, dan di sanalah percakapan itu terjadi—bukan karena Fahmi bercerita, melainkan karena ibunya membaca, sebagaimana ibu membaca: dari jeda, dari sendok yang berhenti, dari cara anaknya berkata 'lancar' terlalu cepat.
Sebelum warteg, ada satu jam yang kelak diingat Fahmi sebagai salah satu jam paling janggal dan paling hangat tahun itu: ibunya bertemu lantai tujuh. Pram menyapanya dengan sopan yang tidak biasa—'jadi ini Ibu yang warungnya enak itu'—dan ibu, yang tidak tahu apa-apa tentang sinisme Pram, langsung menyukainya karena 'matanya jujur walau judes'. Tari menunjukkan video-videonya dengan bangga seorang keponakan, dan ibu menonton dengan serius, dan berkomentar satu hal yang membuat Tari terdiam lama: 'Bagus, Nak. Kamu nggak jual muka orang. Kamu jual kabar. Itu bedanya dagang yang halal sama yang enggak.' Dan ketika ibu berdiri di balik kaca ruang pantau dan melihat barisan bilik dengan orang-orang yang bicara pada udara, ia diam cukup lama sebelum berkata pelan, 'Jadi kayak gini ya kerjanya. Sendirian, tapi bareng-bareng.' Fahmi tidak pernah memikirkannya begitu, dan kalimat itu—sendirian tapi bareng-bareng—menempel di kepalanya sebagai deskripsi paling tepat yang pernah ia dengar tentang lantai itu, dari perempuan yang tidak pernah memakai headset seumur hidupnya.
Mereka makan di warteg dekat gedung, dan di sanalah percakapan itu terjadi—bukan karena Fahmi bercerita, melainkan karena ibunya membaca, sebagaimana ibu membaca: dari jeda, dari sendok yang berhenti, dari cara anaknya berkata 'lancar' terlalu cepat.
'Kerjaanmu berat sekarang, ya,' kata ibunya. Bukan pertanyaan.
Fahmi menyerah. Ia menceritakannya—mesin itu, suaranya yang ditiru, lantai yang ketakutan, auditnya, semuanya, dengan bahasa yang ia sederhanakan tanpa merendahkan, karena ibunya tidak bersekolah tinggi tapi memahami manusia lebih dalam dari siapa pun yang ia kenal. Ibunya mendengarkan sambil mengaduk tehnya, tidak menyela, sampai Fahmi selesai, dan kemudian ia berkata sesuatu yang akan diingat Fahmi selamanya:
'Dulu warung Ibu hampir tutup. Ada waralaba buka di sebelah, harganya lebih murah, tempatnya lebih bagus. Ibu takut setengah mati.' Ia menyeruput tehnya. 'Terus Ibu perhatiin. Orang tetap ke warung Ibu. Bukan karena lebih murah—nggak akan pernah lebih murah. Tapi karena Ibu tahu Si Mbah suka sayur lodeh yang nggak pedes, dan Ibu tahu Si Ujang lagi ngutang sampai panen, dan Ibu ingat anaknya Si Warti yang alergi udang.' Ia menatap Fahmi. 'Waralaba itu nggak bisa gitu, Mi. Dia bisa lebih murah. Dia nggak bisa inget. Kalau mesinmu itu bisa inget orang satu-satu, baru kamu takut. Selama dia cuma bisa cepat—kamu aman. Tapi kamu harus tetep jadi yang inget. Begitu kamu jadi cepat, kamu selesai.'
Fahmi duduk diam dengan nasi yang mendingin, dan merasakan seluruh strateginya diatur ulang oleh seorang perempuan pemilik warung. Bukan melawan mesin dengan kecepatan. Melawan dengan ingatan. Dengan yang tidak bisa dihitung.
Ia bertanya pelan—hati-hati, karena jawaban ini penting: 'Tapi Bu, kalau waralaba itu lama-lama bisa juga ingat? Kalau mereka nyimpen catatan langganan, misalnya?'
Ibunya mengunyah, berpikir, dan menjawab dengan tenang petani menghadapi cuaca: 'Ya sudah. Kalau bisa ingat, berarti mereka jadi warung juga. Yang Ibu takutkan bukan saingan yang bisa ingat, Mi. Yang Ibu takutkan itu kalau Ibu sendiri berhenti ingat—karena sibuk, karena takut, karena ngejar murah terus.' Ia menunjuk Fahmi dengan sumpitnya. 'Selama kamu tetap jadi yang ingat, kamu tidak akan pernah tergantikan. Orang bisa niru suaramu. Orang tidak bisa niru kamu ingat Si Mbah nggak bisa pedas. Itu ditanam bertahun-tahun. Itu tidak bisa diunduh.'
'Dan satu lagi,' kata ibunya, menutup rantangnya dengan bunyi klik yang tegas. 'Kurang makan itu bukan prestasi. Pulang bulan depan. Ibu masak.'
Fahmi mengantarkannya ke halte sore itu, dan sebelum naik, ibunya berhenti, menatap gedung tinggi itu dari bawah ke atas, dan berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah: 'Gedungnya besar, Mi. Tapi yang bekerja di dalamnya orang-orang kecil kayak kita. Jangan biarkan gedungnya yang membesar di matamu. Orangnya yang besar. Gedung cuma atap.' Lalu ia naik, dan lambaian tangannya dari jendela bus kecil dan kuat seperti segala hal tentang dirinya, dan Fahmi berdiri di trotoar sampai bus itu hilang, membawa pulang dua kalimat yang akan ia pegang lebih erat daripada nasihat mana pun dari ruang rapat mana pun: tetap jadi yang ingat. Orangnya yang besar. Gedung cuma atap.