Hari-hari baru itu punya rasa yang konsisten, dan rasa itu adalah logam.
Setiap pagi Fahmi menyalakan available dan tahu apa yang menunggunya: bukan antrean, melainkan saringan. Yang tiba di headsetnya adalah orang-orang yang sudah dua kali gagal dipahami mesin—yang sudah mengulang keluhan mereka pada kehangatan yang dijadwalkan, yang sudah menunggu, yang sudah menyerah pada menu dan menekan nol berkali-kali sampai sistem menyerah dan memberi mereka manusia. Mereka datang tidak sebagai pelanggan, melainkan sebagai puing: lelah, sinis, setengah yakin bahwa ujung sana juga bukan orang.
'Halo?' suara mereka sering dimulai dengan curiga. 'Ini manusia? Beneran?'
'Manusia, Pak,' jawab Fahmi, dan ia selalu menunggu detik itu—detik ketika bahu orang di ujung sana turun, terdengar lewat napas. 'Silakan diceritakan dari awal. Saya dengerin.'
Dari awal. Itu bagian yang tidak pernah ada di mesin: orang-orang ini butuh menceritakan ulang dari awal, karena cerita mereka sudah terpotong-potong oleh sistem. Dan menceritakan ulang butuh waktu. AHT Fahmi naik, dan naik, dan ia menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa—karena tidak ada cara cepat untuk menjadi rumah bagi orang yang sudah dua kali ditolak pintu.
Ada satu panggilan di minggu itu yang menjadi pelajarannya. Seorang ayah—suaranya lelaki paruh baya yang sudah lupa cara meminta—dengan masalah yang oleh mesin telah dicap tidak teridentifikasi dua kali. Fahmi membiarkannya bicara empat menit tanpa menyela, hal yang tidak pernah dilakukan mesin, dan dari cerita yang berputar-putar itu pelan-pelan keluar yang sebenarnya: bukan internetnya. Anaknya merantau, dan satu-satunya cara mereka bertatap muka adalah video call, dan video call-nya patah-patah, dan ayah itu tidak tahu cara mengatakannya tanpa merasa tua. Fahmi memperbaiki pengaturan jaringannya dengan sabar—ada cara teknisnya, prioritas paket video, hal yang tidak pernah ditanyakan mesin—dan di akhir panggilan ayah itu berkata, dengan suara yang berusaha keras biasa saja, 'Makasih, Nak. Nanti malem saya coba sama anak saya.' Dua belas menit. Di atas kertas: kegagalan AHT. Di buku kecil Fahmi: seorang ayah bisa melihat anaknya malam ini. Kedua hal itu benar bersamaan, dan hanya satu yang dibaca rapat.
Di situlah sumpahnya diuji, setiap hari, beberapa kali sehari.
Ia melihat Tari kewalahan dengan seorang pelanggan yang menuntut kompensasi—sudut bibir Tari mulai turun, tanda lama yang Fahmi kenal. Tangannya bergerak ke sticky note. oper ke aku, ia hampir menulis. Tangan itu berhenti di udara. Sumpah, kata sesuatu di kepalanya. Kerja tim, bukan kerja pahlawan. Dan Fahmi menarik tangannya kembali—dengan susah, dengan rasa bersalah yang fisik—dan menulis sesuatu yang lain di sticky note itu: bab ini masalah kompensasi, bukan emosi. jangan masuk ke perasaannya dulu. selesaikan dulu kasusnya, baru hibur. Ia menjulurkannya ke bilik Tari. Bukan panggilannya yang ia ambil—melainkan satu langkah kecil yang ia berikan, seperti menyodorkan alat, bukan mengambil palu.
Tari membacanya, mengangguk, dan menyelesaikan panggilan itu sendiri. Delapan menit. Berantakan di tengah. Tapi selesai, dan miliknya.
Setelahnya Tari mendatanginya dengan wajah campuran. 'Kamu nggak ngambil alih.'
'Kamu bisa,' kata Fahmi. 'Cuma perlu peta kecilnya. Kalau aku ambil, kamu nggak pernah punya petanya.'
Tari diam sebentar, lalu mengangguk pelan. 'Rasanya jelek,' katanya jujur. 'Tapi bener.'
Pram mengamati dari jauh, dan malam itu di rooftop ia berkata tanpa diminta: 'Kamu belajar.'
'Sakit,' kata Fahmi.
'Iya.' Pram menyalakan rokoknya. 'Menahan diri itu otot, Mi. Bukan kebajikan. Otot itu nyeri kalau baru dipakai. Nanti dia kuat, dan kamu bisa nolongin sepuluh kali lebih banyak orang dengan cara yang nggak bikin kamu ambruk.' Ia menatap kota. 'Aku butuh dua tahun ambruk buat belajar itu. Kamu lagi belajar dengan sticky note. Lebih murah.'
Mereka berdiri diam beberapa saat, dan angin dini hari membawa bau kota yang sudah dicuci hujan. Lalu Fahmi bertanya hal yang sudah beberapa hari menempel di kepalanya: 'Pram. Waktu kamu ambruk dulu—ada yang narik kamu? Atau kamu bangun sendiri?'
Pram tidak menjawab langsung. Ia menghisap rokoknya sampai ke ujung yang pendek, dan ketika ia bicara, suaranya lebih pelan dari angin. 'Ada. Supervisor lama ku. Dia nggak nyuruh aku kuat. Dia cuma bilang satu kalimat: kamu boleh berhenti nolongin orang, tapi jangan berhenti jadi orang. Aku nggak ngerti waktu itu. Butuh setahun.' Ia membuang puntungnya. 'Jadi kalau suatu hari kamu sampai di dasar, Mi—dan semua orang seperti kita sampai di dasar, cepat atau lambat—ingat: bukan nerakanya yang jahat. Yang jahat adalah tidak ada yang menunggu di bawah dengan satu kalimat. Sekarang kamu sudah punya kalimatnya. Simpan. Jangan dipakai kecuali perlu.'
Dan Fahmi berdiri di angin dini hari itu dengan tangan yang masih ingin menalangi, dan ia membiarkan keinginan itu ada tanpa menurutinya—seperti membiarkan tamu lama duduk di ruang tamu tanpa menyuruhnya masuk lebih jauh. Antrean masih berat. Besok masih berat. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, bebannya bukan satu orang yang memikul semua—melainkan satu tim yang masing-masing memikul bagiannya, dan ia di dalamnya, bukan di bawahnya.
Di buku kecilnya, sebelum tidur, ia menulis pendek: Sumpah hari pertama dijalani. Tangan gatal tiga kali. Tiga kali kutahan. Tiga kali orang lain selesai sendiri. Dan ia berhenti, lalu menambahkan, karena kejujuran pada buku adalah satu-satunya kejujuran yang tidak punya penonton: Ternyata menonton orang berhasil tanpa kau itu rasanya bukan kehilangan. Rasanya seperti bunga mekar di pot orang lain—tetap bungamu juga, karena kau yang menyiram tanahnya.