Fahmi sampai di lantai tujuh pukul tujuh kurang sepuluh, dan hal pertama yang menyambutnya bukan orang, melainkan suara. Bukan satu suara, tapi puluhan, mengambang rendah di atas bilik-bilik abu-abu seperti dengung lebah yang sopan. Selamat pagi, dengan siapa saya berbicara. Baik, Bapak, saya bantu cek dari sini. Mohon ditunggu sebentar ya. Kata-kata itu diulang-ulang di seluruh ruangan oleh mulut yang berbeda, sampai terdengar seperti doa bersama yang tak pernah selesai.
Ia berdiri di pintu kaca dengan tas selempang yang terlalu rapi dan kemeja yang disetrika ibunya semalam sebelum ia berangkat dari Karawang. Di kampung, Fahmi bisa membongkar router, menyambung kabel LAN sambil merem, menjelaskan pada tetangga kenapa sinyal mereka jelek. Tapi di sini, di antara orang-orang asing yang mengetik sambil bicara, lidahnya seketika terasa terlalu besar untuk mulutnya.
"Fahmi, ya? Anak baru?" Seorang perempuan menghampirinya dengan lanyard yang menggantung dan gelas kopi sachet di tangan. Wulan, tulisan di kartunya. Supervisor. Rambutnya diikat asal, matanya punya kantung tipis yang tampak permanen, tapi senyumnya cepat dan terlatih. "Telat satu menit. Nggak apa-apa hari ini. Besok jangan."
"Ma-maaf, Mbak. Tadi halte penuh." Suaranya keluar tersendat, dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.
Wulan tidak menggubris kegugupannya. Ia menarik Fahmi melewati barisan bilik, menyebut nama-nama yang langsung lupa, sampai ke sebuah ruang briefing kaca di pojok. Di dindingnya, menghadap seluruh lantai, tergantung papan elektronik raksasa. Angka-angka berdetak di sana. Antrean: 24. AHT rata-rata: 6 menit 12 detik. Sebuah baris panjang berwarna merah membentang seperti luka.
"Itu napas kita," kata Wulan, mengikuti arah pandangnya. "Merah artinya pelanggan nunggu lama. Hijau artinya kita menang. Hari ini kita lagi kalah." Ia mengetuk kaca pelan. "Tugasmu cuma satu: bikin yang merah jadi hijau, tanpa bikin pelanggan benci kita. Gampang, kan?"
Fahmi mengangguk meski tidak yakin itu gampang.
Briefing pagi berlangsung sepuluh menit. Wulan membacakan target hari itu dari kertas, tapi ia tidak benar-benar membaca; ia hafal. Kata-katanya mengalir tanpa jeda, sopan santun yang sudah dipakai ribuan kali sampai aus. SLA, CSAT, FCR. Singkatan-singkatan itu berjatuhan di kepala Fahmi seperti hujan yang tak ia bawakan payung. Saat Wulan menyuruhnya memperkenalkan diri, Fahmi berdiri, membuka mulut, dan yang keluar cuma, "Saya... Fahmi. Dari Karawang. Saya... bisa jaringan."
Seseorang di belakang menahan tawa. Fahmi duduk lagi dengan telinga panas.
Ia ditempatkan di bilik nomor empat puluh tiga. Kursinya masih hangat, dan itu membuatnya bergidik kecil; nanti ia tahu kursi-kursi di sini memang tak pernah dingin, ditumpangi tiga orang dalam tiga shift, hangat yang berpindah tangan seperti utang. Seorang teknisi memasangkan headset di kepalanya, mengatur mik di depan bibirnya, lalu pergi tanpa banyak bicara. Di layar, sebuah jendela kecil bertuliskan AVAILABLE menyala hijau.
"Tarik napas dulu," bisik seseorang dari bilik sebelah. Laki-laki, sekitar dua puluh lima, wajahnya datar seperti orang yang sudah tak punya tenaga untuk terkejut. "Begitu kamu klik available, dia langsung lempar panggilan. Nggak ada ampun. Tarik napas dulu sebelum angkat. Tiga detik. Itu satu-satunya jeda yang sistem ini kasih ke kamu gratis."
Fahmi belum sempat bertanya siapa namanya. Jarinya menyentuh tombol. Hijau berubah. Di telinganya berbunyi nada masuk, sekali, dan kemudian ada manusia di ujung sana.
Ia lupa menarik napas tiga detik.
"Halo? Halo, ini NetraLink, ya? Aduh, Mbak, Mas, siapa pun ini, tolong, ini WiFi saya mati total dari tadi pagi!" Suara perempuan, paruh baya, panik dan tergesa. Di latar belakang terdengar denting sendok dan suara orang lain. "Saya lagi arisan online, Mas! Sekarang ini! Ibu-ibu sekomplek nungguin saya buka kamera buat narik nama! Malu saya, gilirannya saya yang ngilang!"
Sesuatu yang aneh terjadi di dalam dada Fahmi. Karena tidak ada wajah yang menatapnya, tidak ada mata yang menilai bibirnya yang gemetar, kegugupannya seperti diisap keluar lewat kabel. Yang tersisa hanya masalah, dan masalah adalah hal yang ia mengerti.
"Selamat pagi, Ibu," katanya, dan suaranya keluar tenang, rata, hangat. Ia sendiri terkejut mendengarnya. "Tenang dulu, ya, Bu. Arisannya nggak akan ke mana. Sekarang Ibu lihat kotak hitam kecil yang lampunya kedip-kedip, biasanya deket TV. Ketemu?"
"I-iya, ketemu. Lampunya merah satu, Mas."
"Nah, itu dia ngambek dikit aja, Bu. Bukan mati. Kita bangunin pelan-pelan." Ia menuntun perempuan itu mencabut kabel, menghitung sampai sepuluh, memasangnya lagi. Sambil menunggu lampu menyala, ia tidak diam. Ia bertanya arisannya dapat berapa, apakah hari ini gilirannya menang. Perempuan itu tertawa, panik tergantikan obrolan, dan ketika lampu di kotak itu akhirnya berubah hijau, ia memekik gembira seolah memenangkan undian.
"Mas! Nyala! Aduh, makasih, Mas, ganteng deh suaranya. Siapa namanya?"
"Fahmi, Bu."
"Fahmi! Nanti Ibu doain dapet jodoh, ya!"
Panggilan ditutup. Di layar, sebuah angka muncul: durasi tujuh menit empat puluh detik. Fahmi tidak tahu itu terlalu lama. Ia hanya tahu jantungnya berdebar dengan sesuatu yang belum pernah ia rasakan: ia baru saja menyelesaikan sesuatu, dan seseorang berterima kasih.
Laki-laki di bilik sebelah melongok, alisnya naik sedikit. "Tujuh menit lebih buat reboot modem," katanya, antara mengejek dan kagum. "Tapi dia ketawa di akhir. Jarang." Ia kembali ke layarnya. "Pram, namaku. Selamat datang di neraka ber-AC."
Fahmi melepas headset sebentar, dan begitu benda itu lepas dari telinganya, ruangan kembali bising, orang-orang kembali asing, dan kegugupannya merayap pulang. Ia memandang headset di tangannya, benda murah dari plastik dan busa, dan untuk pertama kalinya menyadari sesuatu yang akan ia simpan diam-diam berbulan-bulan. Di balik benda itu, ia bukan Fahmi yang gagap dari Karawang. Di balik benda itu, ia jadi seseorang yang lebih berani, seseorang yang suaranya bisa menenangkan orang asing yang sedang ketakutan. Ia memasang headset itu kembali. Tangannya bergerak ke tombol available. Hijau menyala lagi, dan antrean di dinding masih merah, masih memanggil, dan Fahmi menarik napas — kali ini ia ingat — satu, dua, tiga, lalu menjawab.