Mereka pergi ke pemakaman itu pada hari Minggu pagi, ketika kabut masih menggantung di antara nisan-nisan dan rumput masih menyimpan embun — jam yang dipilih Nita, karena kakaknya selalu paling suka pagi, dan sudah sepantasnya kunjungan-kunjungan dilakukan pada jam yang disukai yang dikunjungi.
Batu nisannya sederhana. Nama, dua tanggal, dan di bawahnya satu baris yang dipilih ibunya setelah berhari-hari berpikir: anak yang baik, tangan yang jujur. Tidak ada pangkat di batu itu. Tidak ada korps. Hanya anak yang baik dan tangan yang jujur, dan Arenta berdiri di depannya dan berpikir bahwa dalam dua belas tahun pekerjaan ini, ia tidak pernah membaca kalimat yang lebih tepat tentang Dimas.
Mereka tidak banyak bicara pada awalnya. Nita membersihkan nisan itu dengan kain yang dibawanya — pekerjaan kecil yang sudah menjadi ritualnya setiap minggu — dan Arenta meletakkan bunga, dan kemudian berdiri di sana dengan tangan di saku jaketnya, di kabut pagi, mendengarkan kota yang mulai bangun di kejauhan: adzan yang sudah lewat, truk-truk pertama, seekor burung yang tidak tahu apa-apa tentang kuburan dan berkicau seperti dunia masih pagi.
"Aku dulu marah kepadamu karena kau tidak pernah ke sini," kata Nita akhirnya, tanpa memandangnya, dengan tangan yang terus bergerak membersihkan. "Setiap minggu aku ke sini, dan setiap minggu aku memeriksa apakah ada bunga baru, dan tidak pernah ada, dan aku membencimu sedikit lebih banyak setiap minggunya. Aku pikir kau melupakannya. Aku pikir kau pulang ke hidupmu dan meninggalkan kakakku di sini sendirian."
"Aku tidak pernah ke sini karena aku tidak berani," kata Arenta. "Bukan karena lupa. Karena setiap kali aku membayangkan berdiri di depan batu ini, aku harus menjawab satu pertanyaan yang tidak kujawab selama empat belas bulan: apa yang akan kukatakan kepadanya? Maaf terlalu kecil. Janji terlalu murah. Dan aku sudah terlalu lama menjadi orang yang hanya bicara dengan bukti — jadi aku memutuskan untuk datang ke sini hanya setelah aku membawa bukti. Hari ini aku membawanya." Ia mengeluarkan satu lembar fotokopi dari sakunya — buku catatan Dimas, halaman dengan garis bawah dua kali — dan meletakkannya di atas nisan, ditahan bunga. "Dia menulis ini sebelas hari sebelumnya. Dia sudah merasa. Dia mencatatnya. Dan catatannya sekarang ada di berkas resmi, dengan nomor, dengan nama penyidik. Tangannya masih bekerja, Nita. Dari dalam buku saku itu, tangannya masih bekerja — dan akulah yang sekarang membaca."
Nita memandang lembar itu lama, dengan kabut yang perlahan terangkat di sekeliling mereka.
"Kau tahu apa yang paling kutakutkan selama empat belas bulan?" katanya akhirnya. "Bukan bahwa pembunuhnya tidak tertangkap. Bukan bahwa kau mati juga. Yang paling kutakutkan adalah bahwa kematiannya tidak berarti apa-apa. Bahwa dia turun ke gang itu untuk sesuatu yang akhirnya hanya menjadi statistik — satu baris di laporan tahunan, satu nama di dinding, satu foto di acara tahunan yang didengarkan orang sambil mengantuk. Aku tidak tahan membayangkan itu. Aku bisa tahan segalanya kecuali itu."
"Kematiannya tidak akan menjadi statistik," kata Arenta. "Aku bersumpah kepadamu, di depan batu ini, dengan semua yang kumiliki: ketika orang itu duduk di kursi persidangan, nama Dimas akan dibacakan bukan sebagai korban nomor sekian. Nama itu akan dibacakan sebagai operator yang membaca dengan benar, yang mencatat bahaya sebelas hari sebelumnya, yang hampir menang melawan rangkaian terbaik yang pernah dibangun untuk membunuhnya. Dan aku yang akan membacakannya. Dengan kata-kataku sendiri. Sebagai saksi."
Ia berhenti, dan kemudian menambahkan kalimat yang datang dari tempat yang lebih dalam dari tempat janji-janji biasa dibuat:
"Dan satu hal lagi, yang kuketahui baru sekarang, setelah membaca bukunya: aku menghabiskan empat belas bulan merasa bersalah karena aku yang hidup dan dia yang mati. Tetapi bukunya mengubah itu. Dia sudah merasa bahayanya — dan dia tetap turun. Bukan karena aku, bukan karena tugas, bukan karena lalai. Karena itulah yang dia pilih, setiap hari, sepanjang hidupnya: dia turun. Aku tidak boleh merampas pilihan terakhirnya dengan rasa bersalahku. Itu tidak menghormatinya. Itu menghinanya — seperti mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia tahu. Dia selalu tahu. Dan dia tetap turun."
Sebelum beranjak, Arenta berlutut sebentar di samping nisan itu, dan dengan satu jari menggambar dua titik kecil di tanah yang lembap — tanpa berkata apa-apa, tanpa menjelaskan, karena kode itu bukan untuk dijelaskan. Nita memandangnya, dan mengerti, dan menambahkan satu titik ketiga di bawahnya dengan ujung jarinya sendiri: titik untuk kakaknya, titik untuk Arenta, dan titik untuk semua yang masih akan datang dan belum bernama.
Kabut pagi itu terangkat perlahan di antara nisan-nisan, dan matahari mulai masuk melalui celah-celahnya, dan batu nisan sederhana itu berdiri dalam cahaya yang berubah dengan dua tanggal dan satu baris: anak yang baik, tangan yang jujur.
Nita meletakkan tangannya di atas batu itu, sebentar, dengan cara orang menepuk pundak.
"Sampai minggu depan, Kakak," katanya. "Tamunya kubawa pulang dulu. Dia sekarang keluarga — kau sendiri yang akan menyuruhnya, kalau kau masih bisa menyuruh-nyuruh orang."
Dan mereka berjalan keluar dari pemakaman itu berdua, di pagi yang sudah selesai berkabut, dengan satu kardus yang sudah kosong, satu buku yang sudah menjadi bukti, satu gelas yang sudah berpindah rak — dan satu luka yang sudah berhenti menjadi rahasia dan mulai menjadi sesuatu yang bisa dipikul bersama, seperti semua beban yang akhirnya menemukan dua pundak.